Di negeri ini adalah surga bagi para penguasa dan neraka bagi sekumpulan jelata. Tidak ada ampun untuk mereka yang tak memiliki apa-apa. Segala jenis kelayakan pun diukur dari seberapa banyak materi yang mereka punya.
Segala bentuk kesombongan terlihat di seluruh penjuru. Mengatas namakan kekuasaan. Menindas semua yang berada di bawah kaki mereka. Dunia sudah bukan tempat yang damai lagi.
Asha, sudah bukan hal tabu baginya melihat kepongahan yang seperti tontonan umum. Di sepanjang jalan, ia mengamati beribu-ribu manusia dengan kesombongan yang sama.
Di perempatan jalan, sebuah mobil sport hijau metalic melintas tanpa peduli situasi. Genangan air hitam sisa hujan semalam, terciprat ke arah pengguna sepeda yang telah renta, dengan sekarung barang bekas hasil pencariannya.
Asha menaikkan alis tinggi-tinggi. Kesal dengan pengemudi besi mengkilat yang telah jauh di depan sana. Sang kakek yang terkejut dengan deru kendaraan tersebut, seketika hilang keseimbangan. Sepeda yang dikendarainya oleng, dan kakek tua itu jatuh beserta barang bekas yang dibawanya. Semuanya menjadi berantakan.
Asha pun berlari menghampiri si kakek. Ia berniat menolongnya disana.
"Astaga, kakek mari saya bantu," ucap Asha ramah. Ia segera membereskan beberapa botol bekas yang berserakan dan kembali memasukkannya dalam karung yang dibawa kakek.
"Terima kasih ya, Nak. Tapi tidak usah, nanti seragam kamu kotor." Disaat pria renta itu kesusahan, ia masih bisa berkata lembut dengan senyum tulus yang tercipta untuk Asha.
"Jangan khawatir, Kek. Saya akan hati-hati," jawabnya ramah dengan sedikit memaksa.
Saat ini Asha merasakan bagaimana menjadi sesuatu yang kecil, berada di tengah-tengah kepongahan dan ketidak pedulian orang lain. Banyak pasang mata menyaksikan, namun tak ada satupun kecuali dirinya yang peduli dengan penghinaan yang dialami sang kakek.
Tiba-tiba, muncul pemuda yang mendekati mereka berdua disana. Kilat matanya menampakkan kekhawatiran yang sama persis dengan Asha.
"Kakek, kenapa duduk di jalan?" Pemuda itu lantas meraih sepeda kakek yang roboh dan di sandarkannya pada tiang lampu lalu lintas.
Asha mengerutkan kening. Tidak sampai menebak siapa pemuda yang berparas tampan di depannya.
"Tidak papa ...."
Gadis itu lantas melirik si kakek dengan kedua netranya yang melebar. Ia tak habis pikir, manusia senja itu masih memiliki kesabaran untuk tidak memperpanjang masalah yang baru saja di hadapinya. Ia berbohong, padalah jelas-jelas pakaiannya menjadi basah dan ada luka lecet di dekat mata kaki sebelah kiri.
Pemuda yang menggunakan seragam sama dengan Asha kini meliriknya. Baru kali ini tatapan gadis itu tunduk dengan orang yang menatapnya. Selama ini Asha tak penah menundukkan pandangan, terlebih jika yang menatapnya adalah orang-orang sombong. Meski dengan hati bergetar karena merasa sekecil debu, ia berusaha tetap menegakkan wajah. Memperlihatkan bahwa kesombongan tak akan dapat mengalahkan apapun.
"Terimakasih sudah membantu kakekku. Aku Zio." Uluran tangan Zio menyambut Asha yang masih terpaku menatapnya.
"Ah, ya. Tidak masalah. Namaku Asha." Asha menjabat tangan Zio. Irama jantungnya semakin tak beraturan kala Zio tersenyum manis, bersamaan dengan jabatan erat pada tangan keduanya.
"Kakek pergi dulu, kalian berangkatlah sekolah." Si kakek bersiap mengayuh kembali sepedanya dengan kondisi tubuh bergetar. "Oh ya, Nak Asha, terimakasih sudah membantu kakek. Zio, jaga Asha di sekolah ya."
Asha menundukkan kepalanya memberi hormat, "Sama-sama, Kek. Hati-hati."
"Baik, Kek. Kalau begitu Kakek juga hati-hati."
Kakek tersenyum menatap Asha dan Zio. Ia pun mengayuh pelan sepeda tua yang dibawanya. Asha menatap punggung kakek yang kian menjauh. Meski usianya tak lagi muda, postur kakek itu masih terlihat tegap. Hanya kerutan wajahnya yang membuat ia nampak sangat tua.
"Kita berangkat sekarang?" ujar Zio bertanya.
Asha pun terkejut dari lamunannya memikirkan kakek Zio. "Oh, ya, tentu."
Mereka berdua berjalan menuju halte. Tak lama kemudian bus sekolah datang menjemput. Keduanya masuk dan duduk di kursi bus paling belakang, karena barisan kursi depan sudah penuh.
Zio melirik ke sisi Asha. Gadis itu sibuk memandangi suasana di luar bus yang nampak dari balik kaca jendela. Wajah cantiknya tetap terpancar meski dari samping.
Zio lantas bertanya kejadian sebenarnya yang menimpa sang kakek. Asha pun menoleh ke sisi Zio. Ia menghembuskan napas, lalu menceritakan kejadian sebenarnya. Zio semakin mengagumi wajah gadis itu. Dari obrolan dan perkenalan keduanya di dalam bus, ia mengetahui bahwa Asha adalah adik kelas satu tingkatnya. Ini adalah tahun pertama gadis itu di bangku menengah atas.
Tidak hanya cantik, bagi Zio wajah gadis itu seperti puzle yang penuh teka-teki. Ekspresinya datar, bibirnya tak bergerak tapi seperti terus tersenyum, dan matanya seperti menyimpan ketakutan dan kebencian dalam waktu yang bersamaan.
Zio tak dapat menebak apa yang ada di pikiran Asha sekarang.
•••
Zio dan Asha tiba di depan sekolah. Mewah dan megah, itulah yang terlihat sekilas mengenai gedung ini. Namun kemewahan dan kemegahan bangunan ini turut membangun kesombongan orang-orang yang berada di dalamnya.
'Tidak salah lagi. Ternyata dugaanku benar, mobil hijau itu milik Isbeth,' batin Asha yang tak sengaja melihat para gadis yang termasuk dalam geng Isbeth, keluar dari mobil hijau itu.
"Hati-hati pada mereka. Gadis berambut merah itu adalah sang ketua geng. Jangan sampai kau berurusan dengannya." Zio berucap penuh peringatan.
"Aku tau, mereka semua sekelas denganku. Huh, aku sungguh tidak beruntung," ledek Asha pada dirinya sendiri. "Dan, mobil itu yang hampir mencelakai kakekmu juga," sambungnya.
Zio terperangah. Ucapan Asha sungguh mengejutkannya. Amarah hampir membuat pemuda itu menciptakan keributan pagi ini. Beruntung Asha segera mencegahnya, dan menahan tangan Zio.
"Mereka harus diberi peringatan." Zio emosi.
"Ya, aku tau. Tapi tidak sekarang. Lihatlah, sebentar lagi masuk." Asha mengarahkan matanya, menunjuk jam dinding besar yang terletak di ketinggian tembok bangunan, yang menghadap luar sekolah. Gadis itu kemudian berjalan mendahului Zio yang mati-matian menahan emosi.
•••
Perkenalan Asha dan Zio sudah berjalan hampir satu tahun. Zio mulai mengenal Asha sebagai gadis yang unik. Dirinya diliputi kebencian dengan orang-orang yang penuh kesombongan. Itulah mengapa tatapan Asha terlihat selalu mematikan bagi Zio. Tapi gadis itu juga telah menularkan pesonanya, sehingga pemuda itu merasa tertarik.
Asha sendiri mulai terbiasa dengan kehadiran Zio di sisinya. Ya, hanya sebatas terbiasa tanpa ada yang lainnya.
"Bagaimana persiapanmu menghadapi ujian praktek nanti? Bagaimana dengan tantangan dari Isbeth?" tanya Zio.
Asha mendengus. Hampir satu tahun berjalan, selama itu pula nama Isbeth dan kawan-kawannya telah terpatri di hati Asha, sebagai musuh bebuyutan. Putri salah satu pemilik nama besar di kota ini, selalu memandang rendah dan jijik pada Asha. Terlebih saat gadis itu tau bahwa Asha adalah salah satu penerima beasiswa penuh, minimal jika nilainya selalu stabil tanpa celah.
Isbeth merasa kelasnya dinodai oleh seorang jelata beruntung. Pergaulan yang dia sebut tidak 'balance' mengarah pada Asha. Gadis berambut merah itu hanya benci, dan sangat ingin mendepak Asha keluar dari lingkaran putra-putri sosialita di kelasnya. Ya, walaupun bukan Asha seorang yang menjadi penerima beasiswa. Tapi setidaknya, Asha adalah salah satunya yang beruntung, namun sial karena ada di kelas yang sama dengan Isbeth.
"Aku tidak peduli pada tantangannya. Lagi pula aku memang harus berlatih untuk lulus. Setidaknya nilaiku tidak turun satu poin pun untuk mempertahankan beasiswa sampai 2 tahun kedepan." Asha mengeluarkan biolanya. Benda itu adalah pemberian orangtua angkatnya, yang merupakan teman dekat mendiang orangtua kandung Asha. Semenjak remaja, Asha memutuskan tinggal terpisah dengan orangtua angkatnya.
"Baguslah, kalau begitu coba mainkan di hadapanku."
Asha mengangkat sedikit sudut bibirnya tanda setuju. Ia menaikkan biolanya di atas tulang selangka dan menahannya dengan dagu, lalu menggesekkan bow biola pada string.
Ia mulai memainkan dengan memejamkan mata. Gadis itu merasa lebih menjiwai saat kedua matanya tertutup.
Dido's Lament karya Henry Purcell (Disarankan mendengarkan komponen musik tersebut). Komponen klasik yang bercerita tentang kasih tak sampai sepasang kekasih. Namun bagi Asha rasa kasih yang tak sampai bukan untuk kekasihnya, karena gadis itu belum pernah memilikinya sekalipun. Kasih yang tak sampai itu ia tujukan pada kedua mendiang orangtuanya, yang belum sempat ia tau. Asha kehilangan mereka sejak berusia 4 tahun. Bahkan bagaimana rupa keduanya adalah gambaran bayangan abu di benak Asha. Beruntung orangtua angkatnya memiliki foto lama yang bisa ditunjukkan pada gadis itu.
"Bagus. Permainanmu sangat mengagumkan, Sha. Aku sampai merinding mendengarnya." Zio memujinya sungguh-sungguh.
Asha tersenyum senang, sesaat setelah ia menghapus setitik air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Namun ia belum bisa bangga karena penilaian sebenarnya masih beberapa jam lagi. Tapi setidaknya, pendapat Zio bisa memberinya sedikit keyakinan. "Terimakasih, Zio." Asha tersenyum.
Senyum Zio ikut merekah. Sangat jarang Asha memanggil namanya, apalagi dengan wajah se-ceria itu. Asha yang Zio kenal seperti gurun pasir yang tandus, panas, dan gersang. Melihat senyum dan kemurahan hatinya bagai melihat mata air biru di tengah gurun. Sungguh sebuah keberuntungan yang langka.
"Kita ke kantin dulu, supaya kau ada tenaga di medan perang nanti. Hehe." Zio terkekeh, begitupun Asha. Ia merasa lucu menyebut panggung aula tempat penilaian praktek musik sebagai medan perang.
Asha dan Zio keluar kelas dengan meninggalkan alat musiknya. Lengah, mereka tak menyadari ada empat pasang mata mengawasi sedari tadi. Ya, Isbeth and the geng.
Mereka menutup pintu kelas rapat-rapat dan membuka tas biola milik Asha. Dari kilatan mata dan seringai di wajah para gadis itu, sudah diketahui apa niatan mereka.
"Asha, gadis itu! Bagaimanapun caranya aku akan mendepakmu dari sini. Kau tidak pantas berada di sisi Zio." Isbeth menutar-mutar sembarang penyetel senar biola milik Asha.
"Kau jangan mau kalah dengannya, Beth. Kejar Kak Zio sekarang." Ketiga remaja itu tergelak.
"Tidak sekarang, tapi saat dia kembali kaya seperti dulu." Isbeth menyeringai. Sedikit melempar biola ke dalam tempat semula lalu menutupnya rapi.
•••
Inilah saatnya, moment yang ditunggu-tunggu atau bahkan paling ditakuti oleh para siswa penerima beasiswa. Ujian praktek yang akan menentukan lanjut atau tidaknya beasiswa mereka.
Satu persatu siswa telah menunjukkan kebolehannya di atas panggung. Dan yang lain menunggu giliran sembari menyaksikan penampilan teman mereka dari tempat duduk yang tersedia.
Mereka terlihat mahir dalam permainan komposisi yang dipilihnya. Membuktikan bahwa tidak hanya bangunan sekolahnya yang megah, namun kualitas para siswa juga tak akan kalah.
Kini giliran Asha. Gadis itu membelalak sesaat ketika namanya dipanggil. Ia memejamkan mata lalu beranjak dari posisinya. Asha berjalan dengan percaya diri saat mengingat pujian dari Zio.
Gadis itu pun melangkah naik ke atas panggung. Sebelum memulai, ia menunduk sopan memberi hormat kepada para guru penilai dan teman-temannya yang lain.
Saat ia menatap lurus ke depan, netranya menangkap tubuh Zio yang berdiri di ambang pintu masuk aula. Gerakan tangan yang memberi Asha semangat turut membuat gadis itu tersenyum dan semakin percaya diri.
Satu hembusan nafas terakhir sebelum permainan. Asha mengangkat biolanya kokoh di atas bahu. Menahannya kuat dengan dagu yang telah terlatih. Matanya lalu terpejam seiring dengan bow biola yang digesek perlahan.
Srak!
Mata Asha terbuka mendadak. Bunyi biolanya berubah. Seluruh temannya menatap sinis dan menertawakan.
Asha mulai gugup. Ia kemudian meminta maaf karena raut kecewa mulai tergurat di wajah para guru penilai. Ia membungkukkan badannya sekali lagi, dan memposisikan biolanya kembali.
Srak!
Benar-benar berubah. Suara alat musik itu menjadi kacau. Bahkan kedua netranya tak bisa terpejam karena tak bisa menjiwai.
Asha memaksa terus bermain. Emosi dirinya menjadi tak stabil, hingga salah satu senar biola putus dan bridge biola terlepas.
"Asha, stop!" potong salah seorang guru penilai.
Tubuh gadis itu melemas. Ia yang terbiasa tegak di hadapan para penyombong, kini menjadi layu. Di hadapan teman-teman yang berbisik sarkas, Asha menangkap gelagat berbeda dari Isbeth dan kawan-kawannya. Dia, menemukan pelakunya.
•••
Asha yang se-miterius dasar lautan dan sekeras batu hitam, kini lenyap. Yang ada di dekapan Zio saat ini adalah Asha yang berbeda. Untuk pertama kalinya gadis itu menangis di hadapan orang lain.
"Sha, jangan menangis lagi. Aku sudah melihat kemampuanmu yang sebenarnya. Aku tau kau mahir," hibur Zio.
"Tapi mereka belum melihatnya." Asha sedikit emosi.
"Seharusnya kau tadi tidak gugup saat diberi kesempatan kedua."
"Aku gugup karena mereka. Zio, cukup! Kau tidak mengerti perasaanku."
Asha berlari meninggalkan Zio. Gadis itu telah salah paham. Ya, tadinya Asha mendapat kesempatan kedua dengan menggunakan biola lain. Namun rasa gugup dan marah membuatnya tak dapat menahan emosi. Kedua lutut dan tangannya bergetar saat di atas panggung. Permainannya menjadi tidak maksimal dan mendapat nilai C.
Kejadian itu tentu saja membuat nilainya turun, dan sekolah otomatis mencabut beasiswa yang didapatnya. Asha terpaksa berhenti karena bisa dipastikan ia tak akan sanggup membayar.
Gadis itu tau, menjadi seorang Violinis akan membuat karirnya cemerlang. Namun ia tak ingin melewati jembatan hutang untung menuju puncak kejayaan.
Ia teringat cerita orangtua angkatnya yang menyebutkan bahwa, kedua orangtua Asha meninggal diyakini oleh ulah para lintah darat. Mereka tak sanggup membayar dalam tenggat waktu yang ditentukan. Akhirnya jumlah bunga berlipat, dan hutang mereka semakin berat.
Hingga suatu ketika, kedua orangtuanya mendatangi rumah seorang kawan dan menitipkan Asha disana. Karena tak kunjung dijemput, Asha diantarkannya pulang. Namun naas, saat dia membuka pintu rumah, kedua orangtua Asha telah tak bernyawa dengan tali yang melilit leher. Ya, mereka tewas dengan cara gantung diri.
Sejak mendengar kisah itu, kebencian terhadap orang-orang kaya sudah mendarah daging dalam diri Asha. Terlebih jika orang itu memiliki sifat tinggi hati.
•••
2 Tahun berlalu, Asha berhasil menyembunyikan dirinya bak ditelan bumi. Tak ada yang mengetahui dimana gadis itu berada, termasuk orangtua angkatnya sendiri.
Kegagalan membuat Asha memberontak pada semesta. Memanipulasi keberadaannya sendiri yang sudah dianggap tiada. Itulah yang gadis itu inginkan.
Asha melangkah menyusuri jalanan yang lumayan sepi. Outfit full hitam serta kaca mata hitam tak terlalu mencolok. Setidaknya dia telah membuka tudung hoodinya dan membiarkan rambut panjangnya menari diterpa angin.
Dari kejauhan, kedua hazel kembar miliknya berhasil membidik seorang gadis yang menjadi target malam ini. Oh, tidak! Lebih tepatnya target sejak 2 tahun silam. Ya, dialah Isbeth. Dia menangkap gerak-gerik Isbeth yang terlihat sedang menunggu seseorang. Yang ditunggunya tak lain adalah Asha sendiri.
Asha dengan susah payah mendapat nomor musuhnya itu. Dia menyamar menjadi seorang pria romantis yang salah sambung. Lalu perkenalan halu itu berlanjut hingga sekarang. Tak disangka, Isbeth begitu mudah dibodohi.
"Halo, aku ada sedikit kendala dengan mobilku. Bisakah kau kesini?" Asha menelepon Isbeth. Tentu saja dengan mode pengubah suara di ponselnya. Benda pipih itu mampu mengubah suara Asha menjadi suara berat khas lelaki yang terdengar seksi bagi wanita.
"Baiklah, kau dimana sekarang?" tanya Isbeth agak gugup.
"Belakang club, tepatnya di gang Santos no.56."
"Baiklah, aku kesana."
Sambungan telepon terputus. Asha terus mengawasi Isbeth yang berjalan menuju tempat yang ia sebut tadi. Seringainya sungguh menakutkan. Asha, telah dibutakan oleh dendam.
Rintik kecil turun bagai embun, hampir tak terasa di atas kulit manusia. Isbeth berjalan dengan tatapan awas. Gelap, sunyi, sepi, membuatnya sedikit merinding dan menciut. Gang Santos no.56, bekas gang khusus untuk pemulihan para eks ODGJ. Tempat itu ditinggalkan karena dirasa kurang cocok untuk pemulihan mantan pasien kejiwaan. Alhasil yang tersisa hanyalah bangunan berpetak yang dibiarkan kosong di sepanjang jalan Gang Santos.
Isbeth berdiri di kegelapan gang, ia tak menemukan sebuah mobil pun disana. Gadis itu tersentak saat sekelebat bayangan hitam melintas di hadapannya dari jarak yang lumayan jauh.
"Siapa itu?" Nyalinya menciut drastis. Jantungnya berdetak melampaui batas normal.
Isbeth membalikkan badan hendak kabur. Namun di hadapannya telah berdiri sesosok yang tidak begitu jelas. Yang terlihat hanyalah hitam.
"Arrkkh!"
Belum sempat gadis itu berlari, sebuah pukulan mendarat mengenai perutnya. Nyeri yang menyerang membuatnya seketika lemas dan tak sadarkan diri.
Balok kayu itu dilempar sembarang, lalu ia membuka tudung hoodinya. Sebuah senter ponsel menyala dan menampakkan seringai Asha yang tercetak jelas, saat memandangi Isbeth yang tak sadarkan diri.
Asha menyeret kaki gadis itu hingga memasuki salah satu rumah petak bekas disana. Ia mengeluarkan tali dari dalam hoodi-nya dan mengikat kuat tubuh Isbeth di lantai.
Gadis itu lantas menyalakan lagu Dido's Lament, sebuah komponen klasik yang harusnya ia mainkan dengan sukses dua tahun silam.
Tak lama kemudian, Isbeth tersadar. Yang dilihatnya hanya gelap namun sebuah lagu kesedihan menggema di sana.
"Tolong! Siapa kau? Tolong jangan main-main denganku!" Teriak Isbeth ketakutan.
Sontak Asha menyalakan senter ponsel yang di arahkan di bawah wajahnya. "Boom!" Asha mengagetkan Isbeth dengan menampakkan wajahnya secara tiba-tiba tepat di dekat wajah gadis itu.
"Aaarkh!" Isbeth menjerit ketakutan. Ia pikir yang dilihatnya adalah hantu.
"Kau terkejut? Haha," ledek Asha puas.
"Kau?" Isbeth memelototkan matanya. Yang ia tau selama ini adalah Asha menghilang, kemungkinan ia bunuh diri karena putus asa.
"Ya, ini aku. Kau masih ingat aku? Amazing!" Asha menepuk tangannya sembari mengelilingi tubuh Isbeth yang terikat dan tersungkur di lantai. "Kau juga ingat lagu ini? Harusnya ini yang aku tunjukkan pada kalian dua tahun silam."
"Apa hubungannya denganku jelata? Lepaskan aku sekarang, atau ..."
"Atau? Atau apa?" Asha menarik paksa tubuh Isbeth hingga dalam posisi duduk. "Kau masih ingin menggertakku lagi, hem?" Ia mencengkram dagu Isbeth hingga membuat wanita itu meludahi wajah Asha.
PLAK!
"Itu adalah peringatan terakhir. Setelah ini aku tidak akan ragu lagi padamu." Asha telah menampar wajah mulus sang musuh. Rasanya ia ingin berbuat yang lebih lagi.
"Hiks ... hiks ... lepaskan aku! Dasar kau gadis gila, stupid! Kau memang tidak berbakat, kau tak pantas!" Isbeth menangis ketakutan, namun lidahnya masih tidak ragu mengeluarkan bisa yang justru akan berbalik menyerangnya.
"Kau bicara bakat? Tentu saja aku berbakat. Tapi kau ... telah merusak semuanya!" Asha menatap tajam pada Isbeth. "Oh ya, aku ingin memberi tahumu sesuatu. Tapi ini rahasia kita, kau mengerti?" Tatapan mata Asha berubah. Seperti binatang buas yang siap menerkam.
Perasaan Isbeth menjadi tidak nyaman mendengar ucapah Asha. Perkataan itu terdengar seperti sebuah peringatan bahaya.
"Selama aku menghilang, aku mendapat bakat baru. Kau tau apa itu?" Asha lalu mengeluarkan sebilah pisau dari balik bajunya. Ia mengacungkan benda itu pada Isbeth seraya menyeringai penuh kemenangan. "Bakatku ini akan memancing adrenaline-mu. Bersiaplah!"
Isbeth membelalak. Tubuhnya memberontak dalam ikatan tali yang begitu kuat. Gadis itu menjerit sekuat tenaga. Namun hujan tiba-tiba turun dengan deras. Teriakan terakhirnya tak mampu menandingi gemuruh kilat yang menyambar.
•••
"Kakek, Putri Salfador telah meninggal dunia."
"Apa motifnya?"
"Balas dendam!"
Kakek Zio menoleh kearah cucunya yang basah kuyup. Zio gemetar kedinginan, namun tak tahan ingin segera memberi tau hal itu.
"Kau tau pelakunya, Zio?"
"Ya, Kek. Aku tau. Pelakunya adalah ..."
Daun pintu rumah Zio bergerak dan terbuka. Asha muncul dibaliknya dengan kondisi yang sama basah. Ia berjalan masuk ke dalam, mendekati Zio dan sang kakek yang pernah ditemuinya beberapa tahun lalu. Kakek Zio menyeringai, seakan puas dan takjub dengan kehadiran Asha.
"Kau sudah melakukan tugasmu, Zio?"
"Ya, Kek. Aku sudah menghilangkan semua barang bukti yang mengarah pada Asha."
Asha, gadis itu penuh seringai kemenangan. Ia tak menyangka akan bertemu kembali dan bersatu dengan dua orang dengan misi yang sama.
Dendam keluarga Zio pada keluarga Isbeth sangatlah besar. Persaingan yang keras membuat orangtua Zio dijebak dan mengalami kerugian besar, hingga membuat perusahaan mereka bangkrut.
Terbiasa bergelimang harta membuat orangtua Zio frustasi. Mereka memilih mengakhiri hidup dari pada harus melanjutkan hidup dengan kondisi miskin.
"Selamat datang kembali, Asha," sambut pria tua itu.
"Terimakasih, Kakek." Asha tersenyum pada Kakek, juga pada Zio. Ia pun telah mengetahui semua cerita yang menjadi rahasia selama ini.
Sebuah kebetulan Zio telah mengetahui persembunyian Asha dan diam-diam telah memata-matainya selama beberapa hari terakhir. Ia mengendap-endap mengikuti Asha saat akan melancarkan aksinya.
Beruntung, keadaan saat itu sedang gelap. Sehingga Isbeth tak mengenali bayangan hitam yang melintas jauh di depannya adalah Zio.
Zio menyaksikan sendiri saat Asha mengeksekusi gadis itu. Pemuda itu tak menyangka Asha benar-benar bagai bongkahan puzle hidup yang penuh teka-teki juga se-misterius dasar lautan.
Namun Zio paham, semua itu terbentuk atas dasar dendam. Dan dendam telah membangkitkan jiwa iblis yang seharusnya tak boleh tersentuh.
"Thank you, Zio."
"You're welcome, Honey!"
-TAMAT-