Happy Reading...
"Huhuhuhuhuhu....."
Suara tangis terisak membuat bulu kuduk Liz meremang seketika. Apakah 'hantu' yang tengah menangis? Ataukau manusia? Itulah yang sedang dipikirkan oleh Liz kini. Ia pun meraba dinding guna mencari saklar lampu. Kenapa rumah menjadi gelap bagai hidupnya Soni? Ia kembali berpikir yang mungkin saja akan membuat patah hati temannya itu jika Soni mendengarnya.
Klek
"Dek!?" seru Liz terkejut. Ia melihat adiknya sedang duduk meringkuk masih dengan menangis terisak, adiknya pun mendongak, memperlihatkan mata dan hidungnya yang sudah memerah.
Liz berjalan cepat menghampiri adiknya itu dan menanyainya apa yang membuatnya menangis sampai terisak, namun adiknya hanya diam belum mampu menjawab, ia menarik baju kaos yang dikenakan Lis dan mengusap air mata serta ingusnya.
"Ehhhh.... Nangis sih nangis, tapi ngelapnya jangan pakai baju Kakak juga kali, lepas ihhh... Jorok kamu" Liz menarik ujung kaosnya yang sudah basah.
"Pangeran Air... Pangeran Air di cerita Adek... Dia... Huhuhu... Dia kena penyakit, Kak. Dia nggak akan bertahan lama lagi jika penawarnya belum juga ditemukan sampai empat puluh dua hari. Huhuhuhu... Adek sedih, Kak. Kalau Pangeran Air sampai meninggal bagaimana? Dia idola Adek di cerita 'Obat Untuk Pangeran', nggak seru ceritanya kalau sampai dia meninggal... Huwaaaaa..." jelas Adek Liz, namanya Sintri.
"Salah kamu, ngapain kamu baca".
"Kok salah aku sih?!".
"Iya! Salah kamu! Berdoa aja sana biar hati authornya terketuk untuk nggak buat Pangeran Air kamu itu meninggal, daripada nangis-nangis nggak jelas!" Liz meninggalkan Adiknya di ruang tamu, sedangkan ia pergi ke kamarnya.
Klekk... Kriett...
Deritan pintu kamar Liz ketika terbuka membuat Liz ngeri sendiri.
"Gimana caranya biar nggak bunyi lagi nih ya pintu?" gumam Liz seraya memasuki kamarnya lalu menutup pintu, ia duduk di tepi ranjang dan tanpa sengaja ia melihat sebuah buku tebal dengan sampul berwarna coklat yang memiliki ukiran sedemikian rupa. Liz berdiri dan mengambil buku tersebut lalu mengamatinya.
Saat ia membukanya, tiba-tiba sebuah cahaya muncul di depannya dan menarik dirinya.
Dalam hitungan detik ia berpindah tempat.
"Di-di mana aku?" gumamnya heran sekaligus khawatir.
"Hei.. Penyusup!" seru seseorang, suaranya terdengar berat seperti laki-laki. Saat Liz lihat, memang benar seorang laki-laki dengan pakaian yang terlihat dari kayu yang memiliki ukiran sedemikian rupa, jika diperhatikan baik-baik, ukiran dan warna kayu yang digunakan sangat persis dengan ukiran dan warna kayu di buku yang Lis lihat. Laki-laki tersebut juga memegang sebuah tombak, beberapa laki-laki juga berdiri dibelakangnya dengan pakaian dan senjata yang sama dengannya.
"Sa-saya bu-bukan penyusup!" sahut Liz gagap.
"Jangan berbohong!".
"Serius!".
"Bawa saja dia ke hadapan Pangeran, Panglima" ucap laki-laki yang berdiri tidak jauh dari lelaki yang berkata Liz adalah penyusup.
"Baiklah".
Mereka kemudian membawa Liz kehadapan Pangeran.
"Maaf menganggu, Pangeran. Kami tadi menemukan seorang wanita yang mengenakan pakaian kain di perbatasan kerajaan" ujar lelaki yang dipanggil panglima tadi.
"Kalian boleh pergi" para lelaki yang ternyata adalah prajurit itupun keluar kamar yang luasnya mungkin hampir lima kali lipat luas kamar Liz sendiri.
"Siapa namamu? Apa kau mata-mata dari kerajaan lain? Apa kau tidak tahu hukuman apa yang akan diberikan pada penyusup atau mata-mata?".
"Na-nama saya Liz, sa-saya bukan pe-penyusup ataupun mata-mata. Serius!" Liz menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
"Kalau bukan penyusup ataupun mata-mata... Lalu kau siapa?".
"Sa-saya dari... Dari... Dari... Dari mana yah. Saya dari masa depan!".
"Masa depan?" Liz mengangguk. Ia berucap demikian karena ia merasa sedang masuk ke masa lalu, di mana kerajaan masih berdiri, corak-corak yang mengacu pada zaman kerajaan pun nampak disesisi ruangan.
"Ja-jadi begini, tadi saya sedang di kamar, lalu tanpa sengaja melihat sebuah buku yang... Sampulnya dari kayu terus ada ukirannya, lalu waktu saya buka, tiba-tiba ada cahaya yang narik saya. Waktu saya buka mata lagi, tiba-tiba saya disangka penyusup sama laki-laki yang bawa saya ke sini, Panglima ya?".
Pangeran nampak berpikir dengan ucapan Liz.
"Kau serius?" Liz mengangguk.
"Buku seperti apa yang kau maksud?" Liz menunjukkan buku yang ia pegang.
"Buku ajaib?" Liz mengernyit.
"Maksud anda?".
"Ini... Ini buku ajaib! Buku yang terdapat di hutan terlarang, buku ini berisi ramuan-ramuan ajaib yang berfungsi untuk menyembuhkan penyakit langka.. Seperti penyakitku. Kenapa buku ini bisa ada padamu?".
"Sudah saya bilang tadi, saya tanpa sengaja melihatnya lalu mengambilnya. Memang penyakit anda apa?"
"Penyakit kerajaan".
"Hah? Penyakit kerajaan? Boleh saya pinjam bukunya?" Raja memberikan buku tersebut pada Liz, Liz pun menerimanya dan mulai membukanya, ia mencari tentang penyakit kerajaan, gejalanya, dan bagaimana cara mengobatinya.
"Apa aku terkirim ke sini untuk membantu dia ya? Jangan-jangan dia yang disebut Pangeran Air sama Adek?".
"Maaf, apa anda Pangeran Air?" Pangeran mengangguk.
"Wahhhh.... Nggak nyangka, ternyata ganteng banget" batin Liz.
"Apa saya boleh mencoba mengobati penyakit Pangeran?" tanya Liz. Pangeran mengangguk.
Liz pun mengatakan kepada Pangeran apa saja yang diperlukan, setelah itu Pangeran menyuruh para dayang untuk mengambil apa yang Liz minta. Setelah semuanya disiapkan, Liz memulai meracik bahan-bahan yang disediakan sesuai dengan panduan buku yang dipegangnya. Ia merawat Pangeran selama beberapa bulan hingga Pangeran sembuh total.
"Terima kasih, Liz" Liz mengangguk dengan perasaan senang. Sebuah cahaya yang sama saat ia tertarik ke dunia Pangeran Air muncul dan menariknya kembali ke dunianya.
"Tangannya gerak.. Tangannya gerak" seru seorang anak kecil seraya menunjuk tangan Liz yang bergerak perlahan, disusul mata dan badannya.
"Kamu sudah sadar, Nak?" tanya ibu Liz.
"Sadar? Maksud Ibu apa?".
"Kamu pingsan selama beberapa minggu terakhir, Ibu bawa kamu ke dokter, tapi katanya nggak kenapa-napa, jadi Ibu mutusin buat rawat inap aja kamu di rumah sakit".
Beberapa hari kemudian setelah Liz di bawa pulang, ia mendapat cerita dari adiknya bahwa Pangeran Air di dalam ceritanya sudah sembuh dengan bantuan seorang perempuan dari masa depan. Adiknya juga menceritakan bahwa Pangeran Air mencintai perempuan tersebut sejak ia mulai merawat Pangeran Air dan Pangeran Air berharap dia bisa bertemu dengan perempuan yang sudah menyembuhkannya.
"Oh iyah.. Aku hampir lupa, katanya Pangeran Air. Perempuan tersebut juga merupakan salah satu obat yang membuat Pangeran Ais sembuh dari penyakitnya" sambung Sintri.
"Ini mimpi... Atau nyata?".
*Hemofilia atau 'penyakit kerajaan' merupakan kelainan pendarahan genetik yang menyebabkan darah kesulitan membeku secara normal karena kekurangan protein pembekuan darah. Hemofilia tidak akan berbahaya jika luka yang terjadi hanya luka kecil saja, namun akan cenderung berbahaya jika terjadi pendarahan di dalam tubuh. Hemofilia sebagian besar terjadi pada laki-laki. Disebut 'penyakit kerajaan' karena keturunan Ratu Victoria menderita Hemofilia.
End.
-Jangan lupa like!
-Jangan lupa komentar!