Meiza adalah seorang siswi di sekolah menengah atas, dia duduk di kelas dua. Seorang gadis yang sangat gemar membaca, setiap waktu istirahatnya dia habiskan di perpustakaan. Selain di perpustakaan sekolah, Meiza juga akan menghabiskan waktu di perpustakaan kota.
Tiap akhir pekan ia akan menghabiskan seharian membaca di sana. Seperti saat ini, Meiza sudah bersiap hendak pergi ke pepustakaan kota. Namun hendak mengeluarkan sepeda motornya, dia dicegat oleh adiknya.
“Kak, Kenan ikut, ya?” pinta Kenan, sang adik.
“Tumben mau ikut.”
“Yaaa, nggak apa- apa. Boleh, ya?”
“Ya udah boleh. Bantuin Kakak keluarin motornya dulu.”
Kenan mengangguk dan segera membantu sang Kakak mengeluarkan motor dari dalam rumah. Lalu mereka pun berangkat menuju perpustakaan kota yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja hingga mereka sampai.
Meiza dan Kenan berjalan bersama masuk ke dalam perpustakaan yang ternyata cukup ramai oleh pengunjung. Memang tidak seperti biasanya perpustakaan ini ramai. Begitu masuk, Meiza sudah melupakan Kenan. Dia asyik sendiri memilih buku yang hendak di bacanya. Gadis itu menyusuri rak demi rak buku untuk mencari buku yang menurutnya menarik.
Meiza menghentikan langkahnya ketika mendengar suara sesuatu seperti terjatuh. Netra bening gadis itu pun menyusuri untuk mencari benda apa yang barusan jatuh. Di rak paling pojok, Meiza menemukan sebuah buku yang tergeletak di lantai. Meiza berjongkok untuk mengambil buku itu.
“Buku apa ini?” tanya Meiza pada dirinya sendiri.
Tangannya membolak- balik buku itu. Buku tersebut terlihat seperti buku lama dengan warna sampul coklat, begitu juga kertas di dalamnya. Meiza membaca judul buku yang tertulis di sampulnya ‘Myajik Pustaka’.
“Bahasa mana?” gumam Meiza.
Meiza pun mulai membuka halaman per halaman buku itu. Bahasa yang digunakan dalam buku itu bukan bahasa yang dimengertinya. Akhirnya Meiza menggunakan ponselnya untuk menerjemahkan tulisan itu.
“Buku Ajaib? Genrenya fantasi, ya?”
Rasa penasaran yang tinggi membuat Meiza membawa buku itu pulang. Malam ini, Meiza membaca buku itu, setelah dirinya belajar untuk esok. Dengan bantuan ponselnya, dia berhasil membaca tulisan di buku tersebut.
“Hmm, ternyata biasa aja.”
“Eh? Ramuan cinta?”
Gadis itu mulai tertarik setelah menemukan cara membuat ramuan. Sebenarnya Meiza tidak percaya pada takhayul seperti itu. Namun, ada rasa penasaran juga yang mulai muncul. Akhirnya dia membaca kata demi kata yang ditulis di sana.
“Apa beneran bisa berhasil, ya?” gumam Meiza yang merasa sangsi.
“Sebut namanya sebanyak tiga kali sebelum tidur dan ucapkan mantra di bawah ini,” ucap Meiza membaca tulisan tersebut.
“Nānu yāvāgalū eduru nōḍuttiruva ātma saṅgāti nīnu. Nanna baḷi bandu koneyavaregū nannondige iru."
Meiza mengernyit membaca tulisan itu. Lalu dia membalik ke halaman selanjutnya, ada gambar botol kecil. Tangan Meiza menyentuh gambar itu. Namun, yang terjadi selanjutnya mampu membuat mata gadis itu membulat sempurna. Gambar botol itu menjadi nyata dan terjatuh di pangkuan Meiza.
“Benar- benar buku yang aneh,” gumam Meiza.
Meiza menyimpan buku serta botol yang entah berisi cairan apa. Lalu dia memutuskan untuk tidur karena sudah sangat larut malam. Namun sebelum tidur, Meiza iseng mencoba apa yang dikatakan buku itu. Dia menyebutkan sebuah nama yang sudah Meiza damba sejak lama. Seorang siswa kelas tiga yang berhasil mencuri perhatian gadis itu.
Setelah menyebut namanya, Meiza mengucapkan mantra tadi dan segera memejamkan matanya. Tanpa Meiza tahu, buku itu bersinar terang. Hanya sebentar, lalu sinar terang itu secara ajaib menghilang.
Keesokkan harinya, Meiza beraktivitas seperti biasanya. Sempat bingung karena tidak ada yang terjadi, semuanya biasa saja. Meiza pun meragukan kebenaran apa yang tertulis di buku itu. Dia mendengus dan berencana untuk segera mengembalikan buku itu ke perpustakaan kota.
“Mei, lo dicari Kak Arman tuh,” panggil seorang teman Meiza.
“Kak Arman? Mau apa?” tanya Meiza bingung.
“Mana gue tau,” jawab anak itu mengedikkan bahunya.
Meiza pun keluar dari kelas untuk menemui Arman. Tentu dia merasa heran karena bahkah Arman belum pernah mengenal Meiza. Hanya Meiza yang memperhatikan cowok itu. Langkah Meiza terhenti ketika tiba- tiba dia teringat sesuatu.
“Ah, masih ada ini,” gumamnya mengeluarkan botol kecil berisi sebuah cairan. “Ternyata ini parfum. Coba pakai sebelum ketemu Kak Arman deh.”
Meiza pun menuangkan parfum itu di pergelangan tangannya dan mengusapkannya di lehernya. Bau harum menguar dari tubuh Meiza. Ada sebuah senyum terbit dari bibir Meiza.
Meiza segera melangkah menuju tempat bertemu mereka, yakni di depan gedung A. Namun, gadis itu sedikit heran dengan anak- anak yang dilewatinya. Mereka kompak menutup hidung serta menatap Meiza yang kebetulan melewati mereka.
“Mereka kenapa sih? Padahal gue udah pakai parfum, wanginya juga enak,” gumam Meiza mencium tubuhnya sendiri.
Meiza pun mengabaikan tatapan para siswa itu dan segera menuju gedung A. Sesampainya di sana, Meiza mencari keberadaan Arman.
“Apa belum datang, ya?” gumam Meiza.
Sebuah teriakan histeris mengagetkan Meiza juga beberapa orang yang ada di sana. Seorang siswi tengah menunjuk ke atas gedung. Meiza yang penasaran pun mendongakkan kepalanya melihat apa yang sedang terjadi.
Kajadian itu terjadi begitu cepat, bahkan Meiza belum sempat berkedip. Seorang siswa melompat dari gedung berlantai empat dan tubuhnya seketika menghantam tanah yang keras. Meiza terdiam membisu, bahkan ketika wajahnya terciprat darah anak itu.
“Arman! Anak tadi si Arman!” pekik sebuah suara.
Mendengar pekikan itu, Meiza memberanikan diri melihat tubuh yang telah tergeletak tak jauh darinya. Tubuh dengan posisi terlentang itu memudahkan Meiza mengenali siapa anak itu.
“Kak Arman?” gumam Meiza menutup mulutnya. Dia jatuh terduduk dan seketika semuanya gelap.
📖📖📖