Buku Ajaib dan Ramuan
Namaku Charlotte seorang penyihir agung. Tidak disangka seorang gadis desa yang miskin memiliki mana sekaya mana seorang putri. Walaupun aku menjadi penyihir agung masih banyak bangsawan yang terang-terangan menentang posisiku. Wajar sih, karena dari beberapa abad yang lalu penyihir agung adalah keturunan para bangsawan.
"Bagaimana anak berumur 17 tahu menjadi penyihir agung? Apakah mereka sudah tidak waras," maki seorang pria bangsawan.
"Tapi kami sudah memberikan semua tentang kepada nona Charlotte, semua tentangan itu dilakukan sebelum tenggat waktu," sahut ketua penyihir.
Karena tidak mau mendengar pembicaraan mereka aku bergegas untuk kembali ke asrama. Sebelum pergi aku melewati Hutan Mana yang menghubungkan menara sihir dan asrama. Saat di perjalanan aku tak sengaja bertemu anak laki-laki dan seorang pria dewasa yang bertengkar. Terlihat anak laki-laki itu di pukul laki-laki dewasa.
"Hey kau! Cepat singkirkan ceceguk sialan ini," perintah seorang pria dengan membawa sebilah pendang.
"Anda berbicara kepada saya?" tanyaku menghampiri mereka.
"Siapa lagi kalau bukan kamu perempuan cantik," jawabnya angkuh.
"Memangnya dia melakukan kesalahan apa sehingga anda memukulnya berkali-kali?" tanyaku dengan suara mengancam.
"Budak ini tidak kompeten sama sekali, lebih baik aku membunuhnya daripada menjadikan dia beban," sahutnya enteng.
Saat aku mendengarnya aku begitu marah. Apakah manusia pantas diperlakukan seperti hewan? Meskipun budak mereka itu manusia yang sangat menyedihkan. Aku berjalan dan menyentuh pundak laki-laki kecil itu. "Kalau anda tidak mau merawatnya dengan baik saya akan membeli budak ini".
"Tidak ada gunanya aku memberikannya untukmu, aku akan menghidangkannya ke anjing-anjing gila milikku," jawab orang itu enteng.
"T-tidak tuan saya akan berusaha untuk menjadi lebih baik, tolong jangan memasukkan saya ke kandang anjing," laki-laki itu menjawab dengan rasa takut yang teramat dalam.
"Cih, jangan menangis di hadapanku," ucapnya sambil memukul laki-laki itu.
"Tuan! Saya akan membelinya," sahutku sambil menyerahkan sekantor emas dan segera membawa laki-laki ini pergi.
"Hey berani-beraninya kau mengambil budak ku," teriaknya tanpa malu.
"Saya sudah membayar lebih, lantas apa masalahnya," jawabku tanpa memperdulikannya.
"Cih, awas kau". Pria itu berlari ke arah kami dan ingin menghunuskan pedang ke arahku. Namun usahanya tentu tidak akan berhasil. Saat aku membawa anak laki-laki ini pergi, aku sudah menyiapkan jebakan sikir untuk laki-laki tak tahu malu itu.
Saat dia menginjak jebakan sihir tubuhnya terpental dan beberapa lebah mulai menghampirinya. Dengan ketakutan dia berlari menjauh. Sungguh pemandangan yang mengasikkan.
Sesampai di menara sihir semua orang menyambut kami dengan hangat. Karena lelah aku memutuskan untuk langsung tidur. Saat berada di aula Duke Nathan menghampiriku dia ingin membahas sesuatu yang penting tentang monster yang menyerang wilayah utara.
"Tolong tunjukkan kamar untuk anak itu," sahutku sambil mendorong kecil laki-laki itu.
"Sebentar, kamu membawa orang asing? Siapa dia?," Tanya Duke curiga.
"Nama saya Ansel, budak dari nona penyihir," jawabnya lirih.
"Kamu membeli budak untuk apa?" ucap Duke masih curiga.
"Tadi aku bertemu laki-laki brengsek dan membelinya," jawabku enteng.
"Astaga Charlotte, kau tidak pernah berubah," jawab Duke frustasi.
"Kalau begitu kita menuju balkon," sahutku sambil membuat lingkaran sihir.
Setelah sampai di balkon aku memanggil Eleanor untuk membawakan teh dan makanan ringan. Tak lupa aku merapalkan sihir kedap suara.
"Jadi apa yang terjadi?" tanyaku penasaran.
"Kamu tahu monster di wilayah utara begitu membludak dari bulan sebelumnya, para bangsawan menyuruhmu untuk melakukan pembasmian dan pemurnian di hutan utara".
"Para bangsawan itu tidak bosan-bosannya menyuruhku melakukan hal-hal kecil sekalipun. Bukankah ada kesatria suci?" sahutku sambil memakan cemilan.
"Saintess dan kesatria suci sudah melakukan pembasmian dan pemurnian tapi hasilnya tidak bisa dikatakan bagus," ucapnya sambil mendengus kesal.
Yah aku sudah tahu akan hal itu, aku sengaja tidak memberitahu mereka karena orang-orang kuil akan merasa direndahkan. Padahal kami ingin agar menara sihir dan kuil suci bersatu.
"Aku akan melakukan pembasmian".
"Aku senang mendengarnya".
"Tapi, kami para penyihir akan fokus untuk pemurnian," jawabku paten.
"Hah, baiklah," sahut Duke.
Satu hari setelah kami bersiap untuk membuat beberapa ramuan penyembuhan tingkat menengah. Saat aku mencoba beberapa mantan tak sengaja aku melihat Ansel dan Alice menungguku di depan pintu. "Ada apa?" tanyaku yang masih membaca beberapa perkamen sihir.
"Nona saya ingin belajar sihir,' sahut Ansel.
Aku meletakkan semua perkamen dan menggunakan sihir untuk merapikan semua buku yang berserakan.
"Eleanor," ucapku di ikut oleh kilauan cahaya.
"Anda memanggil saya nona?" sahut seekor burung elang.
"Kenapa kamu tidak memakai wujud manusia mu?" tanyaku heran sekaligus marah.
"Karena saya merasa tidak nyaman," sahutnya enteng.
"Hah yasudah, oh benar tolong ajari kedua anak ini sihir. Aku sangat kerepotan mencoba berbagai macam ramuan kelas tinggi," sahutku sambil membaca beberapa perkamen.
"Padahal anda sudah merapikan semua perkamennya kenapa masih ada lagi?" ucap Eleanor sebal.
"Yasudah sana pergi, jangan ada satu orangpun yang masuk kesini kalau tidak mau menjadi manusia panggang," sahutku yang langsung dimengerti oleh Eleanor.
Saat mereka pergi aku langsung membaca beberapa perkamen dan menggabungkan untuk menciptakan serum terbaru. Setelah beberapa kali percobaan dan kegagalan akhirnya di percobaan ke 10 ramuan awet muda dan beberapa ramuan untuk pengobatan berhasil dibuat. "Oke sekarang kita lihat bagaimana perkembangan anak-anak kecil itu," ucapku menuju arah mereka.
"Nona akhirnya anda keluar dari kamar anda setelah satu minggu berlalu," sahut Eleanor membuatku tersentak.
"Hah, apa? Aku kira aku akan menghabiskan 1 bulan di kamar," ucapku senang "Lalu bagaimana perkembangan mereka?" tanyaku sambil melihat aliran mana mereka teratur.
"Anda bisa melihat bahwa mereka berdua memiliki pontensi untuk menjadi penyihir yang hebat," ucapnya membuatku bangga.
"Apakah saya bisa seperti nona Eleanor?" ucap Ansel penuh semangat.
"Saya juga ingin seperti Anda," sahut Alice.
"Tantu saja, besok aku akan mengetes kehebatan kalian," sahutku membuat Eleanor marah.
"Apa anda akan membawa mereka ke tempat yang berbahaya? Saya tidak setuju dengan rencana anda. Bagaimana kalau mereka terluka?...." Aku tidak mendengar ucapan Eleanor dan menghilang menuju pasar.
"Nona!!!".
"Hah, akhirnya aku bisa bebas".
Keesokkan harinya hari pembasmian sekaligus pemurnian di lakukan. Banyak kesatria suci yang terluka karena monster di hutan kebanyakan monster kelas atas. Para penyihir membantu mereka dengan ramuan yang kami buat.
Aku masih memandang Saintess yang dari tadi mengucapakan mantra. Aku sangat kesal karena mantra yang ia rapalkan sangat panjang. Bagaimana kalau dia langsung di serang monster.
"Ayolah kenapa sangat lambat," sahutku sambil membelah tubuh monster.
"Aku benar-benar kesal," teriakku membuat mereka semua takut.
"Hey kalian para penyihir, jangan menyembuhkan mereka tapi hancurkan monster menjijikkan itu," teriakku yang di ikuti oleh sorakan para penyihir.
"Nah kalian berdua juga ikutlah, kalau ada monster yang lebih kuat aku akan membantu kalian," ucapku menyakinkan Ansel dan Alice.
"Baik nona," sahut mereka penuh semangat.
Karena penyihir lebih unggul daripada kesatria suci kami dengan cepat membunuh semua monster yang ada di hutan utara. Setelah semua sudah memastikan hutan telah aman aku membuat lingkaran sihir dan melakukan pemurnian. Untuk pemurnian itu tidaklah sulit namun dibutuhkan banyak mana untuk membuatnya.
Dalam beberapa detik hutan yang awalnya memiliki energi kegelapan berubah menjadi lebih baik. Semua orang yang berada di dalam hutan lukanya sembuh dan bertenaga. Karena tugasku sudah selesai aku memutuskan untuk kembali ke menara sihir.
"Tenyata benar, monster dari menara sihir akan mengalahkan monster," ucap salah satu kesatria suci.