Hana dipanggil ke ruang guru. Ia belum melunasi uang sekolah. Padahal sebentar lagi ia ujian. Dan salah satu syarat untuk mengikuti ujian adalah uang sekolah harus sudah lunas.
"Hana ... Kapan uang sekolahnya dibayar?" tanya wali kelas Hana.
"Saya usahakan secepatnya, Bu." Hana berkata sopan.
"Untuk sekarang sekolah memberi toleransi. Jadi, kamu masih bisa mengikuti ujian."
"Terima kasih, Bu. Saya kembali ke kelas dulu." Hana kembali ke kelasnya dengan tertunduk lesu.
Ayah Hana hanya pegawai biasa dan ibunya hanya penjual gorengan di depan rumah. Penghasilan mereka hanya cukup untuk hidup sehari-hari karena Hana masih mempunyai tiga adik yang juga sudah bersekolah.
Saat Hana pulang ke rumah. Hana mengganti seragamnya dan membantu ibunya mengurus rumah serta adik-adiknya.
Ada pesan masuk di ponsel ibunya.
Hana senang sekali. Selama ini ia selalu gagal mengikuti audisi.
Keesokkan harinya Hana datang ke lokasi syuting. Ia akan menjadi figuran. Hana menunggu dan menunggu. Tetapi gilirannya belum tiba.
"Maaf ... Kapan saya syutingnya?" Hana bertanya ke asisten sutradara.
Asisten sutradara itu melihat lembar catatan jadwal syuting.
"Sepertinya besok." Asisten sutradara yang sibuk pergi meninggalkan Hana.
Keesokkan harinya Hana datang lagi. Untunglah ia bisa syuting. Walau tidak mendapatkan dialog, setidaknya ia muncul di layar TV. Itupun kalau tidak dipotong adegannya oleh sutradara. Hana mendapatkan honor Rp 50.000 untuk syuting pertamanya.
Lumayan ...
Untuk tambahan bayar uang sekolah.
Dari sana peran Hana semakin besar. Dari figuran menjadi figuran yang mendapatkan dialog.Walau hanya satu kalimat tapi Hana terus berlatih dan berlatih. Sampai-sampai ketiga adiknya ikut menirukan dialog Hana.
Dari situ karir Hana mulai naik menjadi aktris pemeran pendamping. Dan untunglah sinetronnya booming. Hana semakin dikenal. Jobnya ikut bertambah banyak.
Hana juga menjajal dunia rekaman. Ia akhirnya menjadi penyanyi.
Hana senang uangnya menjadi banyak.
Keluarga ayah dan ibunya yang dulunya menjauh, sekarang mendekat.
"Ayah ingin membuka usaha?" Hana bertanya ke ayahnya. Uangnya sudah cukup banyak untuk bisa membuka usaha.
"Ayah akan memikirkannya lagi. Ayah takut usaha yang ayah lakukan nanti gagal. Dan uang Hana jadi terbuang sia-sia."
"Ayah dari dulu bercita-cita ingin membuka bengkel," ucap Ibu Hana.
"Tidak apa-apa, Yah. Hana akan kasih uangnya."
Ayah Hana sangat senang.
🌼🌼🌼
Hana semakin sibuk dan sibuk. Dalam sebulan ia hanya bisa datang ke sekolah tiga hari saja.
Sampai akhirnya Hana memutuskan untuk berhenti sekolah demi karirnya.
"Ayah ... Ibu ... Hana mau berhenti sekolah." Hana memberitahu orang tuanya.
"Tapi pendidikan itu penting, Hana."
"Hana juga tahu, Yah. Tapi saat ini karir Hana cukup bagus. Mumpung Hana masih populer, Hana mau memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Nanti bila Hana sudah tidak populer lagi Hana akan sekolah lagi." Hana tahu masa kepopuleran seseorang di dunia keartisan bisa lama atau singkat. Tidak bisa diprediksi.
Hana juga tidak ingin hidup susah lagi. Hana ingin bisa membelikan ayah dan ibunya pakaian yang layak. Hana juga ingin adik-adiknya bisa membayar uang sekolah tepat waktu. Memakai seragam, tas dan sepatu baru saat hari pertama masuk sekolah.
"Baiklah bila itu yang ingin kau lakukan. Ayah dan Ibu hanya bisa mendukungmu."
"Ingat ... Tetap rendah hati. Jangan sombong." Itulah pesan yang selalu Hana dengar dari kedua orangtuanya. Mereka tak ingin Hana menjadi sombong hanya karena punya banyak uang.