Melodi Irama ialah nama pemberian orangtua untukku. nama itu terkesan aneh, memang. Tapi... Aku menyukainya.
Sebab, nama itu sangat cocok disematkan dalam diriku.
Aku suka sekali menyanyi, menari dan bermain alat musik. Sampai bakat itu pun kujadikan sebuah penghasilan demi memenuhi kebutuhanku dan kedua adikku yang masih mengenyam bangku sekolah dasar.
Ya, gadis malang sepertiku memilih profesi menjadi pengamen jalanan demi melanjutkan pendidikan yang berada di sekolah menengah pertama.
Walaupun hidupku serba kekurangan. Tapi pendidikan adalah hal yang sangat penting bagiku.
Aku hanyalah gadis SMP biasa yang bernasib malang.
Ibuku sudah meninggal dua tahun yang lalu penyebabnya karena penyakit lambungnya sudah sangat parah. Sementara, ayah... memutuskan untuk melarikan diri meninggalkan kami bertiga. Kemana perginya? Entahlah Aku tak tahu. Mungkin saja Ia menikah lagi.
***
Malam hari di rumah.
Aku memijat kedua kaki yang terasa sakit, karena terjatuh siang hari saat mencoba melarikan diri dari kejaran satpol pp yang ingin menangkap pengamen kecil sepertiku untuk diamankan.
Untunglah, Aku berhasil lari dari mereka, kalau tidak, aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
"Kak!" panggil Riri adik tengahku.
"Ada apa?" sahutku. Masih memegangi kaki yang sakit tanpa menoleh ke arahnya.
Ia duduk di lantai yang beralaskan tikar purun tepat di sampingku.
"Guruku di sekolah sudah nanyai terus uang spp yang udah nunggak tiga bulan, kapan dibayar katanya." Wajah Riri tampak lesu dan sedih.
Aku benar-benar tidak tega padanya. Tapi, bagaimana lagi. hasiku pagi tadi saja hanya cukup untuk membeli satu bungkus nasi dibagi tiga yang baru saja kami santap tadi sore.
"Kak! Apa aku berhenti sekolah saja dan bekerja di pabrik," usulnya.
"Jangan Ri! Kakak enggak mau. Kita semua harus sekolah sampai perguruan tinggi. Jangan ada yang berhenti," ucapku.
"Tapi kak-"
"Kamu tenang saja, nanti kakak akan giat lagi ngamennya. Kamu do'akan saja ya! dan kamu ngomong sama gurumu untuk memberi waktu lagi untuk melunasi sppmu ya!"
"Emm... Iya," ucapnya menghela napas.
"Sudahlah kamu tidur saja dulu ya, jangan dipikirkan biar kakak saja yang cari jalan keluarnya,"
Riri mengangguk dan bangkit melangkah ke kamarnya dan Indri adikku yang bungsu.
Sementara aku... masih tetap memijat kaki sembari memikirkan bagaimana caranya melunasi spp Riri.
***
Aku memilih untuk bolos sekolah hari ini.
Walau rasanya berat bila ketinggalan pelajaran. Tapi, apa daya. Aku harus mengumpulkan uang melunasi spp Riri.
Aku menapaki jalanan seorang diri, sambil merenungi bagaimana mendapatkan uang. Kalau mengandalkan mengamen saja akan sulit terkumpul dengan cepat.
Hingga, Aku menemukan selebaran yang jatuh tepat di hadapanku.
''Selebaran apa ini," batinku.
"Selebaran tentang keajaiban hidupmu," sahut lelaki asing. Ia berdiri tepat di hadapanku.
Pakaiannya serba hitam. ia memakai kacamata hitam serta mulutnya tertutupi sebuah masker.
Darimana asalnya pria ini. Kemunculannya secara tiba-tiba membuatku terkejut.
"M-maksudnya?" ucapku.
"Bacalah selebaran itu, aku yakin kau akan tertarik," ucapnya. Setelah itu dia berbalik badan melangkah pergi dari hadapanku.
"Tunggu." Suaraku tampaknya berhasil membuat langkahnya terhenti.
Ia berbalik ke arahku. "Ada apa?" tanyanya
"Anda siapa?"
"Perkenalkan namaku Bagas. profesiku adalah produser. Aku ingin kau mengikuti event itu. Dan kuyakini suatu saat "Gadis multitalent" akan menjadi julukanmu," ucapnya.
Kemudian, lelaki itu pergi meninggalkanku sendirian.
"Produser? konyol. Aku tidak bisa percaya begitu saja siapa tahu dia seorang penipu," pikirku.
Tapi, rasa penasaran ingin tahu tentang selebaran itu membuatku mengamatinya perlahan. Ternyata, itu adalah selebaran tentang event menyanyi, menari serta memainkan alat musik.
"Woah! Sepertinya ini cocok denganku." batinku.
Mataku berbinar setelah membacanya. Juara pertama akan mendapatkan hadiah lima ratus juta. Serta berkesempatan untuk menjadi penyangi, pemusik terkenal dan handal.
Rasanya ingin ikut Tapi, Bagaimana pendidikanku yang sekarang? Dilema kini menghantuiku.
Tiba-tiba saja terbayang wajah Riri dan Indri. Mereka pasti butuh pendidikan yang tinggi dan hidup yang layak.
***
Setelah memutuskan mengikuti ajang itu dan berjuang cukup lama akhirnya akulah pemenangnya.
Kini kehidupanku bersama kedua adikku makin membaik.
Aku dapat memberikan uang yang banyak untuk kebutuhan makan serta sekolah kedua adikku.
Julukan gadis multitalent pun kini tersemat kepada diriku. Setelah memenangkan ajang itu.
Namun, sayangnya aku harus memutuskan berhenti sekolah demi karir yang saat ini akan kujalani.
***
Aku kini berdiri di atas panggung seorang diri. Semua penonton menyorakiku. Mungkin mereka tak sabar menyaksikan penampilan perdana dari idolanya. Betapa senangnya kini aku memiliki banyak fans.
Aku menyanyikan sebuah lagu yang kuciptakan sendiri.
"Pelangi setelah badai."
Mereka hanyut dalam petikan gitarku, lantunan suaraku. Setelah penampilan ke dua. Aku sambut mereka dengan licahnya jari jemariku memainkan piano.
Setelah menatap bangku istimewa yang disediakan untuk orang yang spesial. Kulirik kedua adikku wajah bahagia dan senyum yang lebar mereka tunjukkan padaku.
"Ini semua demi kalian berdua," batinku.
.
END