Untaian doa terucap untukmu, ku panjatkan syukur atas kehadiranmu walau tak seindah perjalanan hidup ini. Kasih ibu tak akan pernah luntur untukmu nak, ibu akan selalu menyayangimu.
Gadis kecil yang selalu bermain riang gembira, yang masih tidak mengerti arti hidup. Menunggu kepulangan ibunya yang bekerja setiap sore didepan rumah, selalu menyambut kepulangan ibunya dengan penuh tingkah menggemaskan. Teriakannya dari kejauhan dan tentangan tangannya seolah-olah ingin pelukan hangat dari seorang ibu membuat ibu yang tadinya kelelahan sehabis pulang kerja menjadi bersemangat melihat senyum manis dari putri kecilnya. Seorang ibu tunggal yang membesarkan putrinya.
Kala itu dia memiliki pekerjaan diluar kota yang mengharuskan meninggalkan putri semata wayangnya dirumah bersama neneknya. Dia mau tidak mau harus mengorbankan waktunya, tumbuh kembang masa kecil seorang anak usia 3 tahun yang membutuhkan waktu lebih banyak bersama orang tuanya. Harus dia korbankan hanya untuk pekerjaan.
"Kring...kring...Kring...kring..."
Suara telfon berbunyi seketika tersirat senyum tipis mulai muncul.
"Assalamualaikum sayang." Ucapnya
"Waallaikumsalam." Sapa neneknya.
"Waallaikumsalam ibu....." Menyaut sambil tersenyum manis membuka mulutnya bermanja-manja didepan panggilan video call.
"Ibu kapan pulang." Merintih meminta ibunya pulang.
"Anakmu ini dah mengharap kami cepet pulang ini." Ucap neneknya menyelak.
"Masih lama sayang." Sautnya
"Kok ibu gak pulang-pulang." Gerutu gadis kecil itu.
"Kan ibu lagi cari uang buat kamu sayang, nanti uangnya bisa buat beli tas, sepatu, hp sama baju. Buat kamu sekolah nanti." Tuturnya menjelaskan pada putrinya.
"Bu aku gak butuh sepeda, kemarin dah di beliin pak Dhe imam sepeda, pak Dhe Aska sepatu, sama Bu Dhe baju. Aku mau ibu pulang, aku gak mau hp Bu. Aku mau kayak dulu sama ibuk, tidur dipeluk ibu. Naik motor sama ibu, jalan-jalan kayak dulu Bu. Kapan ibu pulang ajak aku renang lagi sama mbak Marwa." Ucapan anak umur 3 tahun dalam pangilan telepon seketika membuat runtuh hati yang tadinya tegar, air mata pun mengalir sendiri tanpa henti. Tapi dia mencoba tegar dan tersenyum didepan video call anaknya itu dan berkata.
"Nanti ibu pasti pulang sayang, sayang jangan nakal ya dirumah sama si Mbah, Bu Dhe, sama mbak Wawa." Dia mencoba menenangkan hatinya dan anaknya.
"Iya buk, ibu cepet pulang ya. Aku gak jajan banyak kok gak nakal juga." Celotehnya.
Panggilanpun berakhir
Setelah panggilan berakhir, dia menutup telfonnya dan menangis menggeru-geru, semakin lama semakin kencang hingga Isak tangisnya seperti menguras semua tenaganya. Runtuh sebuah gunung dingin yang tadinya diteguhkan oleh pengorbanan dan tekat besar, runtuh hanya karena ucapan seorang anak usia 3 tahun bisa berbicara seperti itu. Bahkan nenek dan Bu Dhe nya saja bingung, mereka tidak pernah mengajarkan anaknya berbicara sedewasa itu.
"i am a woman. i am a mother.
i am not perfect. i make mistake.
i choose the wrong path.
i stress, i cry, i laugh, i smile.
at the end of day, even though i'm not the perfect 10
i know i'm happy and my Kids are happy, and that's the best thing to have in life.....
("Saya seorang wanita, saya seorang ibu.
Aku tidak sempurna. saya membuat kesalahan.
saya memilih jalan yang salah.
saya stres, saya menangis, saya tertawa, saya tersenyum.
pada akhirnya, meskipun aku bukan yang sempurna 10
saya tahu saya bahagia dan anak-anak saya bahagia, dan itu adalah hal terbaik untuk dimiliki dalam hidup.....)
Gadis kecilku, tunggu ibu pulang sayang. kita pasti akan dipertemukan kembali, ibu selalu berdoa untukmu. Doakan ibu juga nak, supaya ibu sehat selalu dan bisa pulang secepatnya.
Ibu ingin melihat senyum manismu lagi, ingin memelukmu dan mencium kedua pipimu.
Malaikat kecil ibu sabar ya sayang, kita pasti kuat melewati semua cobaan ini.
Tuhan...
tolong jaga malaikat kecilku
Tuhan...
tolong buatlah senyum cerita tetap ada
jangan biarkan senyumannya itu pudar tergerus waktu yang terulur panjang.
i love you my little guardian Angel.
terimakasih banyak sudah mampir membaca karya tulis aku ☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️
jangan lupa like dan komentarnya