Sudah jam sebelas malam, tapi Frans masih bekerja lembur di kantornya, wajahnya terlihat sangat letih dan pakaian nya juga sudah berantakan. Dia melepaskan jasnya dan dasinya sudah tidak rapi lagi.
Beberapa bulan ini dia memang sengaja mengambil banyak lembur agar bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga nya. Istrinya beberapa bulan ini sakit, dan dirinya juga masih punya tanggung jawab pada ibunya yang sekarang tinggal seorang diri di rumah nya.
Frans sudah sangat mengantuk, dia merasa tidak mampu lagi menyelesaikan pekerjaan nya. Jika di selesai kan malam ini pun hasilnya tidak akan maksimal.
"Lanjutkan besok saja, aku akan telepon Nilam dan bertanya dia mau aku bawakan makanan atau tidak?" gumam Frans lalu meraih ponsel dari kantong kemeja nya.
Setelah menemukan nama 'Istriku tercinta' Frans ingin menekan tombol panggil, tapi dia menarik tangannya lagi setelah melihat jam yang berada di ujung atas ponselnya.
"Astaga! jam sebelas lewat. Dia pasti sudah tidur. Aku tidak akan mengganggu nya istirahat!" ucapnya lagi lalu menyimpan kembali ponselnya ke kantong kemejanya.
Frans merapikan pakaian nya dan merapikan tas kerjanya, dia pun berjalan keluar dari ruangannya dan menuju ke parkiran.
Frans masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya menuju ke rumah.
Bram berhenti di sebuah lampu merah, dia melihat sebuah papan besar tang biasanya berisi banyak iklan.
Dia melihat iklan sabun bayi, melihat bayi tersenyum dan menggemaskan itu Frans tersenyum. Dia juga ingin memiliki seorang anak, tapi dia tidak akan memaksakan diri karena memang kondisi Nilam sangat lemah.
Setibanya di rumah, Frans membuka pintu dan betapa terkejutnya dia melihat Nilam sedang tergeletak di lantai dan tidak sadarkan diri.
Frans segera menggendong Nilam dan membawanya ke dalam mobil lalu menuju ke rumah sakit.
Frans melajukan mobilnya dengan sangat cepat, dia terus menoleh ke arah Nilam yang masih pingsan.
Tiba di rumah sakit Frans segera menggendong istrinya dan meminta bantuan para perawat.
Satu jam kemudian, setelah di tangani oleh dokter. Nilam sadar. Frans tersenyum saat melihat istrinya itu sudah melewati masa kritisnya.
Keesokan harinya, Frans bermaksud untuk pergi bekerja jadi dia ingin meminta ibunya untuk menemani Nilam. Frans pun menghubungi ibunya.
"Jadi dia harus dirawat lagi?" tanya Ambar ibu Frans.
"Ya ampun Frans, ibu dari awal tidak setuju kamu menikah dengan perempuan penyakitan itu. Lihat sekarang kamu harus bekerja keras siang dan malam demi mengobati perempuan yang sakit-sakitan itu. Belum lagi kamu harus membiayai adiknya yang masih sekolah. Ibu tidak habis pikir!" ceramah Ambar panjang lebar pada Bram ketika dia mengabari bahwa Nilam istrinya kembali masuk rumah sakit karena kondisinya drop lagi.
Nilam dan Frans menikah tiga tahun yang lalu, awalnya kehidupan mereka sangat bahagia tapi Nilam mengalami kecelakaan dan mengakibatkan ginjalnya bermasalah.
Sejak saat itu Nilam sering sekali keluar masuk rumah sakit. Sedang kan dia dulu juga bekerja membiayai sekolah adik laki-laki nya yang masih SMA. Karena Nilam sakit dan berhenti bekerja, semua tanggung jawab itu menjadi tanggung jawab Frans.
Nilam mendengar sekilas percakapan suaminya itu di telepon, hatinya merasa sangat sedih. Ibu mertua nya itu benar, dirinya dan adiknya hanya menjadi beban bagi Frans.
"Mas..." panggil Nilam yang sedang berusaha untuk duduk.
"Iya sayang .." jawab Frans lalu duduk di sebelah Nilam.
"Maafkan aku, aku dan Tio hanya menjadi beban bagimu!" lirih Nilam.
Frans menarik Nilam ke pelukannya.
"Jangan pernah bicara begitu, sejak aku memutuskan untuk mencintaimu dan menikah denganmu sejak saat itu aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan lakukan apapun demi dirimu." ucap Frans yang membuat air mata Nilam tak bisa terbendung.
Nilam memeluk suaminya itu sangat erat.
"Terimakasih mas.." ucap Nilam.