Adrian Hadi, pria berusia 27 tahun itu baru saja pulang setelah seharian lelah bekerja di sebuah kantor surat kabar.
Pekerjaan yang tidak terlalu menguras tenaga, tetapi begitu menguras pikiran.
Sambil membuka pintu rumahnya nya, Adrian memijat kepalanya yang terasa nyeri karena kebetulan dia juga habis kehujanan.
Adrian melemparkan kunci motornya di atas meja, dia bersiap untuk mandi. Tapi baru dia memegang handle pintu kamar mandi ponselnya berdering.
Adrian segera mencari dimana ponselnya karena bunyi dering itu dia setel khusus hanya saat Marina, seorang gadis yang sudah menjadi sahabatnya selama lebih dari lima tahun memanggil.
Marina adalah wanita muda berusia 26 tahun dan merupakan teman Adrian sejak mereka kuliah. Wanita yang tidak pernah tahu jika Adrian sangat mencintai nya.
Namun sayangnya wanita itu sudah menjatuhkan pilihannya pada seorang pria arogan dan keras kepala namun tampan, seorang pengusaha kaya bernama Yulius.
"Halo!" jawab Adrian setelah menemukan ponselnya dan menggeser tombol hijau.
"Uhuk..Uhuk... Adrian, kepala ku pusing. Bisa kah kamu mengantarkan aku ke dokter?" tanya Marina di ujung telepon.
"Tunggu aku!" jawab Adrian lalu menutup panggilan teleponnya.
Tanpa perduli rasa lelahnya Adrian segera meraih jaketnya dan mengambil kunci motornya.
Beberapa menit kemudian, Adrian sudah tiba di rumah Marina, gadis itu memang tidak tinggal sendiri tapi ayah dan ibunya sedang pergi keluar kota karena ada saudara mereka yang menikah.
Adrian segera membuka pintu dan bergegas menuju kamar Marina, Adrian sudah sangat hafal seluk beluk rumah itu. Bahkan sudah sangat akrab dengan orang tua Marina.
Adrian membuka pintu dan melihat Marina sudah pingsan di dekat ranjang.
Adrian segera menggendong Marina dan membawanya ke mobil Marina yang terparkir di luar rumah.
Adrian segera membawa Marina ke klinik dekat rumah Marina. Setelah beberapa waktu Marina tersadar, dan dia tersenyum pada Adrian yang terlihat cemas di sampingnya.
"Hai..." ucap Marina lemah.
"Apa yang terjadi?" tanya Adrian.
"Kita pulang saja ya, akan ku ceritakan di rumah." jawab Marina.
Adrian menemui dokter, dan setelah menebus obat untuk Marina, Adrian membawa Marina pulang kerumahnya.
"Apa kamu mau aku menemani mu?" tanya Adrian.
Marina tersenyum, dia tidak menjawab dan hanya melangkah menuju sofa panjang di depan ruang televisi dan merebahkan dirinya disana.
"Dimana Yulius?" tanya Adrian.
Marina tidak menjawab dan Adrian melihat air mata keluar dari sudut mata Marina.
"Kalian bertengkar lagi?" tanya Adrian.
"Aku lelah, aku ingin tidur!" jawab Marina memejamkan matanya.
"Baiklah, aku akan membelikan mu bubur agar kamu bis minum obat!" ucap Adrian yang langsung mendapat anggukan kepala dari Marina.
Adrian keluar untuk membeli bubur, Marina menangis. Pulang kerja tadi dia melihat Yulius mencium sekertaris nya. Marina bukan cuma sekali melihat hal itu tapi dia coba bertahan karena mereka sudah bertunangan.
Adrian kembali dengan membawa sebungkus bubur di tangannya.
"Marina bangunlah, makan dulu setelah itu minum obat!" seru Adrian.
Adrian tak kunjung mendengar jawaban Marina, Adrian mendekati Marina yang tidur meringkuk seperti bayi.
Adrian masuk ke kamar Marina dan mengambilkan selimut untuk wanita yang dia cintai itu.
Marina juga bukan tidak tahu Adrian mencintainya, tapi Marina tidak ingin membuat masalah bagi keluarga nya.
Saat menyelimuti Marina, Adrian memeriksa suhu tubuhnya dan sangat panas. Adrian pun ke dapur dan mengambil sebuah kain bersih dan baskom berisi air untuk mengompres Marina.
Sepanjang malam Adrian menahan letih nya dan tidak tidur untuk mengganti kompres Marina. Dia menjaga selimutnya agar tidak turun. Adrian memastikan Marina tidak kedinginan dan memastikan kompres nya sampai pagi menjelang.