Firman seorang petani berusia 28 tahun kadang-kadang ia menjadi buruh lepas.
Seperti siang itu Firman mendapat tawaran borongan membuka lahan di hutan milik tetangganya.
"Man!" Pak Hasan menepuk bahu Firman. "Ada lowongan tuh, mau ikut nggak?" tanya Pak Hasan.
Pak Hasan dan Firman sedang istirahat di saung.
"Lowongan apa?" Firman tanya balik. Ia sembari melahap singkong rebus di mulutnya.
"Itu loh, buka lahan di tempatnya, Dadang," balas Pak Hasan.
Pak Hasan mengipas wajahnya dengan caping. Peluh bercucuran membasahi wajah rentanya.
"Wah, ikut dong lumayan buat beli beras di rumah." Bagai mendapatkan rezeki nomplok.
"Kalau mau ikut besok pagi ngumpul di rumahnya, Pak Dahlan. Kalau kamu ikut berarti 5 orang yang akan membuka lahan."
"Sip lah, kalau gitu."
*
*
*
Besok paginya Firman ke rumah Pak Dahlan di sana sudah berkumpul empat orang yang akan bekerja membuka lahan.
"Udah siap, Man?" tanya Pak Hasan.
Firman mengangguk. "Siap dong."
"Nanti kalau sudah sampai sana, jangan sembarangan bicaranya." Pak Yus mengingatkan.
"Enggeh, Pak." Serempak menyahut.
Setelah semua bersiap lima orang tersebut naik ke kendaraan pick up untuk menuju lahan tersebut. Lalu, dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar satu jam.
Pak Yus adalah ketua rombongan tersebut ia membagi-bagikan menjadi dua kelompok. Firman dan Pak Hasan menebas di sebelah utara sedangkan Pak Yus dan Pak Dahlan juga Narto di sebelah barat.
Kelimanya pun mulai menebas memotong dahan-dahan dan menebas ilalang serta rerumputan yang menjalar. Hingga terik matahari mereka pun beristirahat.
Firman tengah asyik menebas rimbunan kemudian kedua matanya menangkap satu batang pohon pepaya yang subur. Tinggi pohon tersebut kira-kira ada setengah meter. Pohon pepaya tersebut terdapat buah yang sangat lebat. Buah yang besar dan juga panjang ukuran lengan orang dewasa. Warna kulitnya hijau jingga. Buah-buah pepaya itu berurutan dari bawah ke atas sesuai ukuran dan kematengannya.
Firman sangat senang dan ia pun mendekati pohon pepaya itu. Ia memetik satu buah yang warna jingga di bagian bawah terlebih dulu.
Kemudia membelahnya dengan parang milik Firman lalu, dipotong-potong menjadi beberapa bagian.
"Wah!" seru Firman. Kemudian ia memakan pepaya yang sudah dipotong itu dengan lahap.
Setelah setengah buah ia makan Firman teringat teman-temannya.
"Hu!" Firman melambai-lambaikan tangan ke arah teman-temannya.
Aneh keempat temannya tidak melihat dan mendengar seruan Firman padahal jarak mereka hanya 10 meter.
"Narto! Ke sini. Nih, pepayanya seger banget," ucap Firman nyaring.
Tetap saja keempat temannya tidak ada yang mendengarkan seruan Firman.
Sementara keempat temannya mencari keberadaan Firman.
"Firman ke mana, Pak Hasan? Kok dari tadi nggak kelihatan?" tanya Pak Yus. Sambil celingukan mencari Firman.
"Entahlah. Padahal tadi masih sama saya." Pak Hasan juga celingukan.
"Pak Yus, ke sini. Ini ada buah!"
Firman merasa aneh kenapa keempat temannya tidak mendengar panggilan Firman. Ia berdiri hendak menghampiri teman-temannya.
Lalu, tak lupa dibawanya buah pepaya itu.
Firman berjalan ke arah teman-temannya . Tapi, perasaan Firman tidak juga sampai. Justru Firman balik lagi ke tempat semula.
"Loh, kok, bisa?" Firman membatin Ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
Firman pun mencoba berjalan ke arah temannya lagi. Nihil! Ia tetap saja kembali ke tempat semula di mana ia menemukan pohon pepaya itu.
"Aneh ...,"
"Pak Hasan!" Tangan Firman melambai-lambai.
Keempat temannya justru berpindah tempat sambil mencari Firman.
Firman merasa lelah karena bolak-balik ia tak juga sampai ke tempat temannya. Ia pun duduk kembali dan membelah separuh pepaya sisa tadi.
"Firman, kamu dimana?!"
"Man pulang yuk, sudah sore!"
Firman tak mendengar yang ia tahu teman-temannya kembali menebas. Dan dari penglihatan Firman waktu masih sama yaitu siang hari.
"Coba saya ke tempat tadi barangkali Firman tertidur di sana," kata Pak Hasan.
Pak Hasan berjalan kearah Firman. Firman melambaikan tangannya karena melihat Pak Hasan menghampirinya.
"Pak, saya di sini!" teriak Firman.
Akan tetapi Pak Hasan tidak mendengarkan teriakan Firman ia memutari Firman yang duduk di bawah pohon pepaya.
"Bagaimana, Pak Hasan. Ada tidak?" Narto menghampiri Pak Hasan.
"Tidak ada, Nar. Padahal tadi nebasnya sama saya kok, bisa nggak, ada ya." Pak Hasan bingung.
"Yuk, kita cari ke tempat lain!"
Narto dan Pak Hasan meninggalkan Firman yang sedikit linglung.
Firman berdiri dan berusaha mengejar Narto dan Pak Hasan. Aneh, ia berputar-putar di tempat semula. Kembali lagi ke pohon pepaya begitu seterusnya sampai Firman merasa lemas dan kelelahan.
Karena merasa haus dan lapar Firman memetik kembali buah pepaya yang ranum itu.
Dia memakan lagi dibelah-belah menjadi beberapa bagian. Begitu manis dan banyak kandungan airnya.
"Hem. Wangi manis lagi," ucap Firman.
"Man, di mana kamu!" teriak Pak Yus.
"Ke mana itu orang ya," kata Pak Dahlan.
"Sudah jam 7 malam kok, Firman belum balik-balik, ya. Jangan-jangan tersesat, Pak Yus."
"Kita cari besok lagi. Kita pulang dulu, besok pagi ajak warga ke sini." Saran Pak Hasan.
Keempat orang tersebut pun kelelahan mencari Firman maka mereka memutuskan dilanjutkan besok lagi mencari Firman. Jika dipaksakan mencari mereka nanti akan tersesat juga. Karena hari sudah gelap dan tak membawa alat penerangan.
Firman berusaha keluar dari tempat itu akan tetapi tubuhnya semakin lemas tak berdaya sedikit-sedikit ia merasa haus dan lapar.
Kemudian ia membelah lagi buah pepaya itu yang ketiga kalinya.
Rombongan temannya sudah pergi meninggalkan Firman seorang diri.
"Jangan tinggalkan, aku. Tolong Pak Hasan Aku disini." Firman putus asa. Tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak.
*
*
*
Besok paginya pencarian berikutnya Pak Hasan dan beberapa warga mencari Firman.
"Firman kamu dimana!"
"Man pulang!"
Warga berpencar mencari Firman karena pandangan tak kasat mata warga tak bisa melihat Firman di tengah-tengah mereka.
"Ada yang nggak, beres ini," celetuk salah satu warga.
Pencarian dihentikan sementara karena hujan deras.
Mereka akan mencari Firman di hari berikutnya.
Hari ketiga pencarian Firman ....
Sebelum mencari Firman ketua RT dan dan ustadz menghimbau warganya untuk berdoa dan semaksimal mungkin mencari Firman sampai ketemu.
Mereka pun berkeliling dan berpencar mencari Firman.
Firman masih duduk di bawah pohon pepaya dengan tubuh lemas tak berdaya ia telah menghabiskan lima buah pepaya untuk mengganjal rasa lapar dan hausnya.
Warga putus asa karena merasa janggal maka Ustadz Khalid memerintahkan salah satu warganya untuk adzan.
"Pak RT kayanya ada yang nggak, beres." Pak Ustadz menduga.
"Betul. Saya rasa juga begitu," sahut Pak RT.
"Coba salah satu diantara kalian adzan di tengah-tengah situ!" Pak RT memberi perintah.
Pak Ustadz berkomat-kamit di tangannya ada tasbih. Kemudian ia memejamkan kedua matanya.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar!"
Azan berkumandang ....
Tidak ada yang mustahil bagi Allah ketika adzan dikumandangkan nampaklah Firman duduk di dekat tunggul besar. Dengan posisi tatapan matanya kosong.
"Itu Firman!" Pak Hasan berteriak dan menunjuk ke arah Firman.
"Alhamdulillah, Man. Akhirnya kamu ketemu!"
Pak ustad dan RT disusul pula dengan warga menghampiri Firman yang linglung.
"Jangan ditanya dulu tolong berikan air ini." Ustad memberikan sebuah botol yang berisi air putih air tersebut sudah diberi doa-doa.
"Alhamdulillah, Firman ketemu."
"Tolong dipapah Firman-nya."
Sekian
Pelajaran apa yang bisa kita petik dari cerita di atas?