Malam ini, Wina yang tengah hamil muda seperti biasa menunggu suaminya Rangga yang sedang bekerja karena jatahnya masuk sore, harusnya jam 12 malam sudah berada di rumah.
"Kamu belum tidur Win..?" tanya bunda saat melihat ku yang belum tidur, sedang asik menonton tv sambil tiduran.
"Belum bun,, Wina mau tunggu Rangga pulang."
"Memang jam berapa Rangga pulang.?" Bunda duduk di pinggir ranjang tempat ku merebahkan badan.
"Harusnya sih sudah pulang bun.. Coba aku telpon dulu deh bun.."
Aku pun langsung menghubungi nomor telepon suamiku Rangga, " Kamu lagi dimana?" tanyaku saat panggil telpon tersambung.
"Aku masih di tempat kerja. Temen aku pada ngajakin ke monas, cumat (cuci mata)." suara Rangga.
"Terus kamu mau ikut teman-teman kamu,, gitu?" kataku jutek.
"Ya gak lah. Aku di suruh lembur sama Pak Dadang.. Temanku ada yang gak masuk. Jadi aku harus lembur." Rangga menjelaskan alasannya yang belum pulang.
"Tapi bener kamu lembur?" Tanya ku selidik dan tidak percaya.
"Iya benar sayang, masa aku bohong.." ucap Rangga serius, "Aku kerja lagi ya,, biar cepat pulangnya."
"Awas kamu kalo bohong, aku lagi hamil nih.." kata ku marah.
"Iya gak bener,, udah kamu tidur aja dulu, nanti kalo aku udah di depan pintu, aku telpon kamu." kata Rangga berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku tetap tunggu kamu pulang. Dah.." aku pun langsung memutuskan sambungan telepon. Menaruh ponsel dengan kasar di atas kasur.
"Jangan gitu Wina,, suamimu itu lagi kerja, cari nafkah buat kalian berdua. Do'ain biar pekerjaannya cepet selesei dan bisa pulang dengan selamat." kata bunda menasehatiku.
Bunda menghentikan langkahnya saat di depan pintu kamar dan berkata, "Kalo udah ngantuk,, kamu langsung tidur aja Win."
"Iya bun.." Setelah mendengar jawaban ku, bunda langsung pergi tidur ke kamarnya.
"Bener gak sih Rangga lembur,," Gerutu ku sambil mengganti cannel televisi.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.
Aneh sih, ko belum pulang juga. Biasanya kalo lembur gak nyampe jam segini.
Aku pun memutuskan untuk menelpon Rangga lagi, untuk memastikan keberadaannya.
"Kamu lagi dimana?" Tanyaku to the poin saat sudah tersambung dengan Rangga.
"Aku masih lembur, dikit lagi pulang.." Kata Rangga lewat sambungan telepon.
"Itu suara apa?" Tanyaku curiga..
"Itu suara mesin mob, penghisap debu." jawab Rangga.
"Awas kamu kalo bohong." ancamku.
"Iya gak."
"Hati-hati kerjanya, cepet pulang." aku pun langsung mematikan sambungan telepon saking keselnya, udah tau bini lagi hamil di tinggal lembur mulu.
Awas aja luh kalo bohong, aku sumpain jatoh, nabrak tembok, nabrak polisi tidur, nabrak apa ke, jatoh dari motor, aaaaaah keseel, gak ngertiin bini banget si.
Kekesalan dan sumpah serapah itu hanya terucap di hati, diam di bibir. Gondok segondok gondoknya.
Malam itu aku tidak bisa tidur karena memikirkan Rangga yang belum juga pulang. Hanya di temani televisi aku terus menunggu Rangga pulang.
Jam menunjukkan pukul 5 subuh. Suara motor Rangga yang berhenti di depan rumah.
"Assalamualaikum,, aku pulang yank.." Ucap Rangga sambil mengetuk pintu.
"Iya tunggu..." Aku langsung turun dari tempat tidur dan --
Aaaaau,, teriakku menahan rasa sakit di bokon*
Aku terjatuh di dekat tempat tidur,
"Wina,, astaghfirullah,, kamu kenapa sayang.." bunda yang melihatku terduduk di lantai, langsung membantu ku berdiri.
"Yaah,, ayaah.. Panggil bunda..
Ayah yang mendengar teriakan bunda langsung menghampiri suara bunda dan..
"Kenapa?" Ayah langsung membantuku untuk duduk di pinggir ranjang tanpa bertanya lagi.
"Kamu lagi mau kemana si Win? Sampe kaya gini.." Tanya bunda khawatir, saat aku sudah duduk dengan berselonjor kaki di atas tempat tidur.
"Itu bun, di luar ada Rangga. Rangga baru pulang bun." jawabku.
Ayah langsung berjalan meninggalkan aku dan bunda di kamar.
"Kamu baru pulang Rangga?" tanya ayah saat sudah membuka pintu, dan Rangga sudah berdiri di depan pintu.
"Iya yah,, Rangga lembur." Rangga mencium punggung tangan kanan ayah mertuanya.
"Kamu gak apa-apa yank?" tanya Rangga khawatir, dengan mencium punggung tangan kanan bunda.
Bunda masih duduk sambil memijat kaki Wina.
"Kamu yakin udah gak apa-apa kan yank?" kata Rangga lagi dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Udah gak. Makanya jadi orang itu gak usah bohong. Dikata aku gak tau kamu apa, heh." kata ku kesal.
"Iya maaf, gak lagi-lagi."
"Au,, aku mau tidur, ngantuk." aku pun langsung tidur memunggungi Rangga,
"Maafin aku yank." ucap Rangga sambil memelukku.
"Insting istri itu kuat tau gak, apa lagi kamu. Udah tau aku lagi hamil malah pake bohong." kataku kesal.
"Aku janji gak gini lagi."
"Nasi uduh jadi bubur. Mau kamu bilang apa juga, tetep aja kamu dah bohong."
🌹 sulit untuk bisa percaya jika hati sudah terlanjur terluka karna seringnya bohong.🌹