Berfantasi sejenak...
Sebuah pinta yang tak seharusnya terucap, mengubah segalanya. Akankah kembali seperti sebelumnya...
🍁🍁🍁
Langkahnya terlihat berat, wajahnya menunduk dengan hati yang gelisah. Rasanya ingin menangis kembali saat teringat dengan berita yang tak sengaja ia dengar pagi tadi sebelum dirinya berangkat ke sekolah.
Hana, gadis sederhana yang tengah menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama. Keadaan ekonomi orang tuanya tak baik. Ayahnya baru saja diberhentikan dari pekerjaannya. Ya.. orang tuanya sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahnya, itu adalah berita yang tak sengaja ia dengar.
Saat berfikir sepanjang langkah, terasa tepukan di salah satu pundaknya. Hana terkejut dan menengok segera ke arah seseorang yang telah hadir sejajar tanpa disadari kedatangannya. Ayu sahabat karibnya yang tengah datang menghampiri.
"Han, kamu kenal Sisilkan?" Tanyanya tiba-tiba.
"Ya, kenapa?
"Dia sekarang udah tenar loh, jago nyanyi, nari. Bakatnya luar biasa ya. Baru SMP udah punya banyak uang."
"Ya." Jawab Hana singkat sambil melanjutkan langkahnya.
"Kita ke kantin yuk." Ajak Ayu kemudian.
"Enggak deh, aku bawa bekal Yu. Mau ke perpustakaan aja, mau balikin buku." Tolak Hana halus sambil menunjuk sebuah buku yang ada di genggamannya.
Mereka pun berpisah, Ayu ke kantin dan Hana ke perpustakaan.
Setiap jam istirahat, Hana memang selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan. Hana menatap sekelilingnya kemudian, ia melangkah masuk ke dalam. Mengembalikan buku dan mencari sebuah kursi kosong untuk ia duduki. Di perpustakaan sekolah ia kembali termenung.
Tiba-tiba ia teringat dengan kata-kata Ayu sahabatnya tadi. Bekerja sebuah kata yang terlintas dari pikirannya. Namun ia kembali berpikir, pekerjaan apa yang bisa ia lakukan, lulus sekolah saja belum. Lalu Ia menggeleng dengan cepat, menghapus lamunannya segera. Bangkit dari duduknya menuju rak buku.
Hana pun mulai sibuk mencari buku. Namun tanpa disengaja ia menjatuhkan sebuah buku, dan buku itu terbuka tepat di hadapannya.
Hana sedikit membungkuk hendak meraih buku yang terjatuh itu. Sebuah buku tampak polos, terlihat kusam sudah berada di genggamannya. Sampulnya pun terlihat kuno berwarna coklat dengan judul BAKAT.
Membaca judul yang tertulis di buku itu, terlintas kembali di pikiran Hana tentang bakat menyanyi yang sempat dibahas oleh Ayu, bakat yang dimilki oleh temannya. Sebuah bakat yang menghasilkan uang.
"Hemm.. andai aku bisa menjadi Sisil." Ucapnya tiba-tiba.
Beberapa detik kemudian, terasa hembusan angin yang cepat dan kuat. Membolak-balikkan buku yang masih di genggamannya. Buku itu bergerak dengan cepat dan berhenti seketika di halaman kosong tanpa tulisan apapun.
Hana terkejut dengan apa yang terjadi. Ia tatap sekelilingnya. Semua tampak biasa, seolah tak ada yang terjadi. Lalu ia terkejut kembali saat menatap kembali buku yang masih di genggamannya. Sabuah kalimat tertulis tiba-tiba.
"PINTAMU DIKABULKAN."
"Ahhhhh..." Teriak Hana dan melepaskan buku itu segera.
Semua pengunjung perpustakan menatap dirinya. Teriakannya mengagetkan semuanya. Jantungnya berdetak begitu cepat, ia masih tampak tak percaya, sebuah tulisan muncul secara tiba-tiba. Hana raih kembali buku itu, meletakkannya di atas rak, dan berlalu pergi dengan cepat.
Semenjak kejadian itu, ia tak pernah berani untuk ke perpustakaan.
.
.
.
.
Sebuah getaran handphone terdengar malam itu. Hana yang tengah duduk sambil mengerjakan tugas sekolah, meraih dengan cepat handphone miliknya dan mengangkatnya. Ia sempat terdiam saat menatap layar handphone dengan tulisan nomor tidak dikenal.
"Selamat Hana, kamu terpilih menjadi pembawa lagu soundtrack film "TENTANG KAMU", besok tolong datang ke tempat latihan ya. Alamatnya sudah saya kirim lewat whatsapp."
"Tunggu.. terpilih bagaimana maksudnya?" Tanya Hana bingung.
"Kamu menang audisi."
"Tapi aku tak pernah ikut audisi apapun, sepertinya salah orang."
"Hemm.. jangan bercanda kamu Hana. Namamu Hana Nindyakan, lahir di Jakarta tanggal 14 Desember 2007. Golongan darah O, hobby membaca dan memasak." Ucapnya menjelaskan.
"Bagaimana bisa tau?" Tanya Hana heran.
"Ini data yang kamu isi, So saya tidak salah orang, besok pagi ditunggu kehadirannya."
Percakapan pun terhenti, meninggalkan kebingungan sepanjang malam.
"Kapan aku ikut audisi itu." Ucap Hana dan beranjak bangkit dari duduknya menuju kasur akhirnya.
Pagi pun tiba, sebuah ketukan terdengar dari balik pintu rumah Hana. Hana melangkah menuju pintu dan membukanya. Seorang wanita dewasa dan terlihat modis berdiri tengan tersenyum menatapnya.
"Pagi Hana." Ucap Wanita itu.
Hana terkejut, ia menyadari bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah wanita yang telah menghubungunya kemarin malam, suaranya sangat mirip sekali.
"Siapa ya?" Tanya Hana memastikan.
"Ingatanmu buruk banget sih Han." Protesnya.
"Kakak yang menghubungiku semalam?"
"Ya.. yuk kita pergi." Ajaknya dan langsung menarik tangan Hana menuju sebuah mobil dan mengajaknya pergi bersama.
"Tunggu, aku harus ke sekolah."
"Tenang saja, sudah ada izin dari pihak sekolah bahwa hari ini kamu tidak masuk."
"Hah.."
"Apa yang terjadi, kenapa bisa begini." Gumam Hana sendiri sepanjang jalan.
Hal-hal mengejutkan terjadi dengan sendirinya. Tiba-tiba saja Hana memiliki suara yang bagus. Ia dapat menyanyi dengan merdu, dapat menari dengan indah. Semua orang mulai mengenal dirinya. Hana MENDADAK TENAR begitu cepat.
Kehidupan ekonomi pun membaik, banyak tawaran menyanyi yang hadir kepadanya. Lagu yang ia bawakan untuk sebuah film, menjadi sangat terkenal. Banyak yang mengenalnya dan banyak yang menyukainya sekarang.
Namun sekolahnya tak berjalan dengan baik, banyak pelajaran yang tertinggal, nilainya pun merosot jauh. Akibatnya ia harus mengambil sebuah keputusan, tetap melanjutkan sekolah atau memilih pekerjaannya sekarang ini.
Pagi itu, Hana berangkat ke sekolah. Ia tersenyum sepanjang langkah. Menikmati kebahagian yang sudah dua bulan ini ia rasakan. Seseorang hadir tiba-tiba menepuk pundaknya. Ayu sahabatnya, sepertinya sudah lama sekali ia tak bersama sahabatnya ini.
"Apa kabar Han?" Tanyanya.
"Kabarku baik."
"Syukurlah." Ucapnya dan tampak sedih.
"Kenapa?"
"Sisil, kamu inget Sisil?"
"Ya.."
"Dia kecelakaan dua bulan yang lalu, sampai sekarang belum sadarkan diri."
"Apa, dua bulan." Teriak Hana begitu terkejut.
"Ya.. tiba-tiba saja ia tak bisa menyanyi, tiba-tiba saja ia tak bisa menari. Bakatnya hilang dalam semalam, ia frustasi dan akhirnya kecelakaan."
"Di mana Sisil sekarang?" Tanya Hana sambil menggerakkan pundak Ayu secara tergesa.
"Di rumah sakit Harapan, rencananya sore ini mau dipulangkan saja ke rumah." Jawab Ayu terkejut saat melihat reaksi Hana.
Hana berlari setelah mendengar itu semua, otaknya berpikir keras sepanjang langkahnya. Dua bulan itu adalah waktu di mana ia mengalami perubahan secara tiba-tiba. Perubahan yang juga dialami Sisil secara tiba-tiba. Ia mendadak memilik bakat menyanyi, menari seperti bakat yang dimilik Sisil.
Rasanya tak adil, ini sesuatu yang salah. Ini harusnya milik Sisil, Hana telah merebutnya.
Sesampainya di rumah sakit, ia tampak terkejut melihat Sisil yang terbaring lemah cukup lama. Hana menangis di sampingnya, berucap maap disetiap detiknya.
Ya.. buku itu, buku yang tengah mengubah takdirnya secara tiba-tiba. Sebuah permintaan yang tak sengaja terucap, dan merebut bakat seseorang.
"Bagaimana cara mengembalikannya kesemula?" Teriak Hana dengan air mata yang sudah sangat membasahi pipinya.
Hana pun kembali melangkah, secepat yang ia bisa. Kembali ke sekolah menuju perpustakaan. Mencari buku yang pernah ia temukan di sana. Namun ia tak berhasil menemukannya.
Kembali menangis dan menjatuhkan diri dengan kaki bertekuk di lantai.
"Tolong kembalikan kesemula. Aku tak ingin ini.. TOLONG.. " Ucap Hana dengan mata terpejam.
Sesaat kemudian, terdengar suara benda yang terjatuh. Yah.. buku yang ia cari sejak tadi, hadir di hadapannya kembali.
Seperti awal menemukan buku itu, hembusan angin tiba-tiba saja terasa begitu cepat dan kuat. Membolak-balikkan buku itu dan kembali sebuah kalimat tertulis di dalamnya.
"PINTAMU DIKABULKAN."
Hana membacanya, dan ia tampak terkejut kembali. Menatap tak percaya hingga suara seseorang hadir tanpa disadari.
"Ada apa?" Tanya orang itu dan berhasil membuat Hana menatapnya.
Seorang pria dan tampak cemas menatap Hana dengan wajah yang penuh dengan air mata.
"Buku.. buku.." Tunjuk Hana pada sebuah buku yang ada di hadapannya.
"Buku apa?"
"Buku.. i...tu." Jawab Hana, dan ia begitu terkejut saat menyadari buku yang tadi di hadapannya lenyap tanpa jejak.
Hanapun bangkit dari duduknya, dan langsung berdiri begitu takut. Namun kakinya tampak lemah, nafasnya begitu sesak, rasanya tak kuat untuk bangkit dan akhirnya terjatuh.
.
.
.
.
Hana membuka matanya, ia tatap sekelilingnya perlahan. Ia tengah berbaring saat ini dengan selimut putih menutupi sebagian tubuhnya. Suasana terasa sepi sekali. Hanya suara dentingan jarum jam yang terdengar. Rasa takut masih menyelimuti Hana saat ini. Beberapa detik kemudian, suara pintu terbuka. Seseorang masuk melangkah ke dalam.
Seorang pria yang tengah melangkah menghampiri Hana, pria yang ia temui di perpustakaan sekolah. Pria ini pasti yang telah menolongnya.
Rian, pria yang saat ini sudah duduk tepat di sampingnya. Tampak menatap Hana dengan raut wajah yang jelas terlihat cemas.
"Terima kasih." Ucap Hana lalu bangkit dari tidurnya dan duduk kemudian.
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Percuma, tak akan ada yang percaya jika ku ceritakan."
"Aku percaya, katakanlah." Ucapnya dan sontak membuat Hana menatap tak percaya. Matanya kembali berkaca-kaca dan akhirnya menangis kembali.
Rian mengusap punggung Hana perlahan, dan akhirnya memeluknya. Membiarkan Hana menangis meluapkan kegelisahannya selama ini.
Semua yang dialami Hana, sudah semua diceritain ke Rian. Rasa tenang sudah dirasakan Hana kembali. Ada seseorang yang percaya, itu yang membuatnya tenang.
"Rasanya memang aneh, tiba-tiba saja kamu bisa menyanyi." Ucap Rian.
"Ya.., seharusnya aku tak asal ucap."
"Sudahlah, sekarang waktunya kamu bersiap."
"Bersiap untuk apa?"
"Kamu akan kehilangan ketenaranmu."
"Aku siap, dan aku harus siap." Ucap Hana dan mencoba tersenyum.
"Tenanglah, kamu enggak sendiri Han." Ucap Rian dan keduanya tersenyum akhirnya.
Setelah kejadian itu, terdengar bahwa Sisil telah sadar kembali. Perlahan bakatnya yang hilang, telah menjadi miliknya kembali. Sedangkan Hana memulai hidup barunya.
Tabungan yang sudah ia kumpulkan selama dua bulan, ia gunakan untuk membuka usaha kuliner yang dikelola oleh ke dua orang tuanya. Kehidupannya pun membaik.
Bersama Rian, ia menemukan bakatnya sendiri. Hana suka sekali memasak, dan sebenarnya ia memiliki bakat itu sejak dulu.
TAMAT
Selamat membaca, semoga SUKA dan MOHON DUKUNGANNYA🤗
Terima kasih