“Jadilah temanku, maka aku akan mengembalikan penglihatanmu!” ucap sebuah suara yang terdengar seperti bisikan.
Tanganku berusaha meraba- raba, ingin tahu siapa yang tadi berbicara denganku. Duniaku terasa hancur sejak dua tahun yang lalu. Akibat kecelakaan yang menimpaku, aku kehilangan penglihatanku. Dokter berkata jika aku mengalami buta permanen, itu artinya aku sudah tidak dapat melihat lagi. Namun, suara bisikan tadi mengatakan jika dia bisa membuatku kembali melihat.
“Siapa kamu?” tanyaku masih mencari keberadaannya.
“Aku temanmu,” jawabnya.
“Teman? Siapa?”
“Rosi,” ucapnya menyebutkan sebuah nama.
Aku mengernyitkan dahi, merasa asing dengan nama itu. Sebenarnya aku ragu dengan tawarannya tadi, dia bilang jika dapat mengembalikan penglihatanku. Namun, dokter sudah berkata jika aku buta.
“Apa kamu benar- benar bisa membuatku melihat kembali?” tanyaku. Tidak ada salahnya untuk mencoba, begitu pikirku.
Hidup dalam kegelapan sangat menyiksaku. Warna- warna yang dulu kulihat, sekarang tergantikan dengan kegelapan. Hanya hitam kelam yang dapat aku lihat. Beberapa kali aku hampir celaka akibat mataku buta. Aku sudah lelah dengan keadaanku saat ini, aku ingin segera mengakhirinya.
“Aku mau menjadi temanmu,” ujarku.
“Baiklah.”
Sebuah tangan dingin mengagetkanku. Tangan itu meraih tanganku dan menuntunku ke suatu tempat. Entah kemana aku akan dibawa. Aku hanya berjalan sesuai intruksinya. Ada rasa bahagia karena sebentar lagi aku akan bisa melihat. Pikiranku sudah melayang memikirkan berbagai hal yang hendak kulakukan ketika sudah bisa melihat lagi, juga banyak tempat yang ingin kukunjungi.
“Ulurkan kedua tanganmu ke depan dengan mata terpejam,” ucap suara itu lirih.
Aku menurut dan mengulurkan kedua tanganku ke depan, lalu kupejamkan mataku. Tanagn dingin itu kembali membuatku terkejut. Ada sebuah tarikan pelan yang dilakukannya. Jantungku berpacu dengan cepat ketika merasakan tubuhku seperti terbang. Ada suara tawa yang melengking terdengar.
“Selamat datang, teman,” ucap Rosi. “Sekarang kamu adalah temanku. Bukalah matamu!”
Perlahan aku membuka mataku, samar- samar aku melihat sebuah cahaya putih yang sangat menyilaukan mata. Namun, lama- kelamaan semuanya menjadi jelas. Aku memperhatikan sekitar, saat ini aku seperti berada di jalanan. Aku mencari keberadaan Rosi. Spontan aku menjerit melihat sosok Rosi yang mengaku menjadi temanku itu. Rupa Rosi benar- benar mengerikan, wajahnya dipenuhi dengan darah serta luka.
“Ka… kamu Rosi?” tanyaku terbata.
Rosi tersenyum lebar, senyum yang sangat mengerikan. “Lihatlah ini!”
Tubuh Rosi menyingkir dari sana dan apa yang kulihat selanjutnya benar- benar membuatku kehilangan kata- kata juga akal. Aku jatuh terduduk melihat tubuhku sendiri tergeletak tidak jauh dari tempatku dengan kondisi yang mengenaskan.
😈😈😈