Hubungan yang selaras dan seimbang adalah impian setiap individu manusia.
Begitupula dengan apa yang diharapkan oleh Dito kepada Anggita, kekasihnya.
Awalnya semua terasa baik-baik saja. Namun perlahan, Anggita jarang memberi kabar.
Sibuk dan banyak urusan, itulah alasan yang selalu dilontarkannya ketika Dito bertanya.
Dito mulai curiga akan sikap Anggita yang mendadak berubah.
Oleh sebab itu, pada satu hari yang cerah, ia mendatangi rumah Anggita untuk sekedar berkunjung.
Tok, tok, tok.
Dito mengetuk pintu.
“Anggi, sayang. Aku bawain kamu makanan enak nih.” Ucap Dito.
Sunyi dan senyap, Anggita sama sekali tidak membalas sapaannya. Bahkan membukakan pintu juga tidak.
Tiba-tiba Handphone Dito berdering.
“Halo? Anggita? Aku udah di depan pintu nih, bukain dong.”
“Dito, aku tidak dirumah. Ada begitu banyak hal yang harus aku lakukan. Malam ini aku lembur. Jadi, kau pulanglah.”
Kata-kata tersebut langsung membuat emosi Dito meluap-luap.
“Anggi?! Kamu makin hari makin cuek ya sama aku. Kenapa tiap kali minta ketemuan, kamu selalu nolak?! Kamu punya laki-laki lain kan, Anggi?” Ucap Dito penuh amarah.
Anggita tidak menjawab.
Hiks.
Meski hanya lewat sambungan telepon, Dito jelas tau bahwa saat ini Anggita sedang menangis.
“Anggi, aku sudah sebulan tidak bertemu denganmu. Aku hanya sedang merindukanmu, kau tau?” Lanjut Dito dengan nada lembut.
“Aku juga merindukanmu Dito. Tapi, jika aku menjelaskan tentang apa yang terjadi padaku yang sebenarnya, kau tidak akan percaya.” Sahut Anggi yang masih tersendat-sendat akibat menahan tangisnya.
“Maksudmu?” Tanya Dito.
“Semua pekerjaanku akan selesai pada pukul 12 malam. Tolong, kau tunggulah sampai aku pulang.” Jawab Anggita.
“Baiklah.” Ucap Dito.
Berjam-jam menunggu, akhirnya Anggita pulang.
Tapi anehnya, pakaian dan penampilannya tidak seperti biasa.
Ia juga muncul bukan dari arah depan, melainkan lewat belakang rumah.
Anggita terlihat lusuh dan raut wajahnya sangat datar tanpa senyuman.
Sesaat Dito merasa, dia bukan Anggita.
“Aku merindukanmu, Anggita.” Ucap Dito yang sudah memeluk tubuh mungil Anggita dengan erat.
Anggita masih diam membisu tanpa sepatah kata pun.
“Dito, kau tidak merasa aneh?” Tanya Anggita, melepaskan pelukan Dito.
“Aku rasa kau sedang kedinginan.” Jawab Dito.
Anggita menyeringai lebar. Ia berkata kepada Dito, “Kau percaya kalau aku adalah Anggita?”
“Ya, kau adalah Anggita yang kukenal.” Jawab Dito, mengerutkan keningnya.
“Apakah kau ingat kejadian sebulan yang lalu, Dito?” Tanya Anggita.
“Kejadian sebulan yang lalu? Maksudmu?” Dito balik bertanya.
“Dito, sadarlah. Aku sudah lama meninggal.”
Dito membelalakkan kedua mata seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Anggita.
“Tidak mungkin! Kau pasti bercanda!”
“Kalau begitu, pejamkan matamu. Maka kau akan mengetahui kebenarannya.”
Apa yang Dito inginkan tidak sesuai dengan yang dilakukannya. Mata yang seharusnya tidak di pejamkannya, tiba-tiba tertutup rapat.
Lalu semua menjadi begitu gelap dan menakutkan.
*
*
*
*
*
“Anggita!”
Selesai.