Bagaimana bisa tiba- tiba Freya berada di dunia sihir yang hanya ada di dongeng? Tidak pernah terbesit dalam pikirannya sedikit pun hal itu akan terjadi padanya. Freya seorang wanita lajang berusia 28 tahun yang seharusnya sudah menikah ini masih betah dengan statusnya sekarang.
Status yang hendak dipertahankannya harus berakhir hari ini.Freya yang tidak tahu apa- apa dan seorang pendatang yang datang entah darimana, tiba- tiba dipaksa menikah dengan makhluk di dunia ini.
“Gue harus kabur,” ucap Freya panik.
Dia tidak tahu tempat seperti apa ini juga makhluk apa yang tinggal di sini. Sejak kedatangannya Freya sudah dikurung di sebuah ruangan yang mirip seperti kamar tidur. Namun, desain ruangan ini terlihat sangat aneh. Gelap, pengap, dan menyeramkan. Freya pun berjalan menuju pintu. Wanita itu mencoba memutar kenop pintu. Terkejut, karena ternyata pintu tersebut tidak dikunci. Ferya berjalan mengendap- endap keluar dari ruangan tempatnya berada tadi.
Suara langkah kaki membuat Freya waspada. Dia kocar- kacir mencari tempat persembunyian agar tidak ketahuan. Freya berlindung dibalik dinding yang lembab, diam- diam memperhatikan beberapa sosok yang melewatinya. Mereka semua mengunakan jubbah hitam dengan topi kerucut mirip seperti tokoh penyihir yang sering ditontonnya. Tunggu! Penyihir? Apakah ini dunia seperti itu?
“Siapa kau?” tanya sebuah suara mengagetkan Freya yang sedang asyik memperhatikan sosok tadi.
Hampir saja Freya menjerit melihat seseorang dengan kulit putih bersih berdiri di depannya. Bahkan, posisi mereka sangat dekat. Freya berjalan mundur hingga punggungnya membentur tembok di belakangnya. Dia menelan ludah susah payah, tapi matanya tidak dapat beralih pada sosok itu.
“Kau… siapa?” tanyanya lagi.
“Freya, nama gue Freya,” jawab Freya cepat.
Seseorang didepannya ini masih menatap intens pada Freya, entah apa yang sedang dipikirkan oleh orang itu.
“Sepertinya kau bukan bagian dari kami,” ucapnya tersenyum miring.
Senyuman itu membuat Freya bergidik ngeri. Lalu hal selanjutnya yang terjadi adalah Freya dibawa paksa oleh orang itu. Tentu dia tidak hanya pasrah dibawa begitu saja. Freya memberontak berusaha melepas cekalan ditangannya.
Namun, anehnya usaha Freya tidak membuahkan hasil. Malah Freya tak dapat berkutik, ingin melontakan kata- kata juga tidak bisa. Mulutnya seperti tengah dibungkam oleh sesuatu yang tak kasat mata. Freya menjadi takut, memikirkan bagaimana nasibnya sekarang dan yang terpenting adalah, apakah dirinya bisa kembali ke rumahnya?
“Siapa dia?” tanya sebuah suara, membuat Freya mendongak.
Mata mereka bertemu, Freya terdiam beberapa saat menatap mata biru jernih itu. Tatapan yang terasa menangkan bagi Freya, untuk beberapa saat dia merasa terhipnotis oleh tatapan itu.
“Calon istri anda,” jawab suara yang berada di sebelah Freya.
Jawaban dari orang itu membuat Freya memutus kontak dan langsung menoleh. Membulatkan matanya terkejut. Namun, kepala Freya kembali menoleh saat suara langkah kaki mendekat.
“Jadi, seperti ini rupa calon istriku?”
Ada sebuah senyuman muncul dari bibirnya, membuat Freya sempat terpesona sebentar. Namun, cepat- cepat menggelengkan kepalanya.
‘Jangan ketipu sama wajah gantengnya, Frey!’ batin Freya.
“Baik, cepat persiapkan pesta pernikahan untukku.”
“Hah?” ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Freya. Mmebuat dua pria itu menoleh padanya.
“Kau bisa meninggalkan kami.”
Ternyata nama sosok di depan Freya ini adalah Nostradamus, seorang penyihir terkuat di tempat ini. Kabarnya memang Nostradamus sedang mencari pendamping hidup. Namun, siapa sangka jika Freyalah yang notabene hanya manusia biasa yang akan menjadi calon istrinya.
“Siapa namamu?” tanya Nostradamus.
“Freya,” jawab Freya menundukkan kepalanya, merasa salah tingkah juga ditatap seintens itu.
“Nama yang cantik,” gumam Nostradamus.
Mata mereka kembali bersibobrok, lagi- lagi Freya kembali terhipnotip. Sebuah senyum dengan lesung pipi tercipta dari bibir Nostradamus.
“Apa kau bersedia menikah denganku?” tanyanya.
“Bagaimana jika aku menolak?”
Sebuah pertanyaan dari Freya membuat senyum itu luntur. Ekspresi Nostradamus menjadi tak bersahabat. Freya menelan ludahnya, apakah dia telah membuat kesalahan?
“Kau bisa kembali ke duniamu,” jawab Nostradamus tanpa senyum sedikit pun.
“Benarkah?” tanya Freya dengan mata yang berbinar.
“Ya, dalam keadaan tak bernyawa.”
🧹🧹🧹
Upacara pernikahan baru saja selesai dilaksanakan. Hati Freya merasa tidak tenang. Bagaimana dia bisa berakhir seperti ini? Menikah dengan pria yang tidak dikenalnya. Batin Freya menangis meratapi nasibnya yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. Bagaimana hidupnya setelah ini? Berbagai macam pikiran seperti itu membayangi dirinya. Hingga sebuah sentuhan di pipinya mengejutkan Freya.
“Kau cantik, istriku,” ucap Nostradamus tersenyum menatap intens Freya.
🧹🧹🧹