Aku hanyalah seorang gadis biasa yang memiliki keinginan yang sangat tinggi dan tidak masuk akal bagi kebanyakan orang. Sangat banyak yang kuinginkan, salah satunya adalah dapat menjadi kekasih seseorang yang sedang duduk seorang diri di kedai kopi ini. Tiap hari aku memperhatikannya, tanpa tahu siapa namanya. Belum ada keberanian diriku untuk mengajaknya berkenalan. Hanya memandangnya dari jauh yang bisa kulakukan.
“Padahal gue pengen tau namanya,” gumamku menghembuskan napas.
Pandanganku tidak pernah lepas dari sosoknya yang sedang asyik membaca buku. Jika aku berada di dalam komik pasti ada banyak bunga disekitarnya dengan terpaan cahaya matahari yang lembut. Beruntung saat ini hanya ada dia sebagai pelanggan di sini. Dia memang pelanggan tetap yang sering datang di waktu- waktu tertentu.
Seringnya dia datang kemari membuatku sudah hapal di luar kepala jadwalnya berkunjung di kedai ini. Kedatangannya selalu sangat pas dengan shift kerjaku di tempat ini. Sudah cukup lama aku bekerja di kedai ini, gajinya lumayan untuk menambah uang saku. Orang tuaku cukup mampu untuk membiayai semua hidupku, tapi sudah menjadi keputusanku untuk mulai hidup mandiri. Kepala yang sejak tadi kurebahkan di atas meja seketika kuangkat ketika melihat si dia bangkit dari duduknya.
Gerak- geriknya tidak lepas dari netra hitamku. Dia keluar dari kedai dengan membawa barang- barangnya. Setelah pelanggan pergi dari kedai, tugasku adalah membersihkan meja. Dengan berbekal cairan pembersih dan lap, aku berjalan ke meja tempat dia meminum kopi sembari membaca tadi. aku mengangkat cangkir yang telah kosong itu. Namun, gerakanku terhenti kala melihat sebuah kartu terselip di antara cangkir dan vas bunga. Aku memungut kartu itu, membolak- balikkannya. Spontan aku menutup mulut dengan tangan kiri dan mataku membulat.
“Black card,” pekikku.
“Eh? Ada namanya,” ujarku saat melihat sebuah nama terukir di kartu itu.
“Re… Renald,” ucapku membaca nama itu. “Namanya aja bagus. Renald,” kataku sambil senyum- senyum, seketika sebuah bayangan ngawur melintas dibenakku.
“Maaf, itu milik saya,” ucap sebuah suara membuyarkan semua lamunanku.
Terkejut. Aku spontan menoleh dan tepat di depanku cowok itu berdiri dengan tangan terulur. Dengan tangan gemetar aku memberikan kartu itu padanya.
“Terima kasih,” ucapnya dan melangkah pergi keluar dari kedai.
“Renald!”
“Ya?” tanya Renald menoleh.
Aku membuatkan mata, dalam hati aku merutuk. Kenapa mulut ini memanggil namanya? Lalu sekarang apa yang harus kulakukan?
☕☕☕