"Juara satu Olimpiade Sains Nasional adalah... Selamat, untuk ananda Erlita Zavinna..!!!" seru seorang MC.
"Untuk ananda Erlita Zavinna dipersilahkan untuk maju ke depan.." sambung MC tersebut.
Seorang gadis remaja berdiri dari duduknya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke atas panggung. Riuh tepuk tangan menyertai langkah kakinya hingga ia sampai di atas panggung...
**Erlita Zavinna, atau biasa dipanggil Vivin, merupakan gadis berusia lima belas tahun yang sangat terkenal di SMP nya. Tak hanya cantik, namun ia sangatlah berprestasi. Ia selalu mendapat peringkat satu di sekolahnya. Tak hanya prestasi akademik, bahkan ia pun selalu memenangkan kejuaraan olahraga basket yang sangat ia sukai.**
.......................................................................
Tiga gadis remaja dengan seragam putih birunya tampak sedang berjalan menyusuri jalanan komplek. Mereka tak lain adalah Vivin dengan kedua sahabatnya, yaitu Icha dan Rere, yang baru saja pulang sekolah.
"Oh iya, sampai lupa kalo mau nanya.. Vin, kudengar kau memenangkan OSN lagi??" tanya Rere kepada Vivin. Menanggapi pertanyaan Rere, Vivin hanya menganggukkan kepalanya.
"Benarkah?? Wah.. jahat kau Vin,, menang tapi nggak traktir kita.." timpal Icha, pura-pura merajuk.
Vivin langsung terkekeh. "Iya iya.. Nggak usah marah dong. Mau es krim?? Aku traktir deh.." bujuk Vivin pada kedua sahabatnya.
"Pake nanya,, ya mau lah..!" Icha langsung merangkul pundak Vivin dan Rere, menggiring mereka ke toko es krim.
Setelah mendapat es krim yang mereka mau, mereka pun kembali melangkahkan kaki mereka. Di sepanjang jalan, Vivin tak henti-hentinya bersenandung kecil. Terdengar sangat merdu dan menenangkan hati.
"Wah, Vin, tak ku sangka kau pandai menyanyi.. Suara kau bahkan merdu sekali..!" komen Icha sambil menjilat es krim nya.
"Iyakah??" Vivin terkekeh kecil. Kemudian, ia pun mulai menggerakkan tubuh dan kakinya dengan sangat indah dan lincah.
"Kau juga bisa nge-dance?? Vin, aku heran.. Apasih yang tak bisa kau lakukan?? Sudah pandai, jago basket, jago nyanyi dan nge-dance. Ckckckck.. kau membuat aku jadi iri.." keluh Rere.
"Setidaknya kalian punya uang untuk membayar sekolah. Sedangkan aku? Aku tentu harus menjadi pandai agar beasiswa ku tidak dicabut.." jawab Vivin santai. Membuat Icha dan Rere terdiam merasa bersalah.
Melihat kedua sahabatnya terdiam, Vivin langsung terkekeh. "Pfft.. Kenapa kalian diam saja?? Kalian tak mau pulang??" ledek Vivin. Ia pun langsung merangkul kedua sahabatnya.
Saat mereka tengah asik bersenda gurau, tanpa mereka sadari terdapat sebuah mobil hitam yang mengikuti mereka sedari tadi.
Ciitt...
Mobil itu berhenti di depan mereka bertiga. Sontak ketiganya merasa ketakutan, takut jika mobil itu adalah penculik. Mereka bertiga pun langsung lari terbirit-birit. Namun mobil itu kembali mengejar mereka. Dalam sekejap, mobil itu kini sudah mencegat mereka lagi.
Ketiganya sudah gemetar ketakutan. Pintu mobil pun terbuka. Menampilkan sosok wanita berumur sekitar 30 tahun. Wanita itu pun langsung turun dari mobil.
"An-anda siapa??" tanya Vivin ketakutan.
"Eh, nggak usah takut dek.. Saya cuma mau menawarkan sesuatu kepada adek!" ujar wanita itu ramah.
Dahi Vivin berkerut, ia pun melempar pandang pada Icha dan Rere.
"Menawarkan apa ya kak??" tanya Rere memberanikan diri.
"Gini.. Jadi tadi itu saya nggak sengaja dengar adek ini nyanyi dan nge-dance di dekat toko es krim, saya lihat adek ini punya bakat. Jadi saya mau menawarkan pekerjaan buat adek," papar wanita itu menunjuk Vivin.
Vivin langsung menunjuk dirinya sendiri, dan wanita itu mengangguk. Wanita itu pun memberikan kartu namanya.
"JEY Entertainment!!!" seru ketiganya tak percaya.
"Vin, kau akan jadi terkenal!!" teriak Icha heboh.
Sedangkan Vivin, ia tampak bingung. "Gini tante, sebaiknya tante bicara saja dengan ibu saya.. Karena saya juga tidak paham dengan hal seperti ini.." ucap Vivin sopan.
"Baiklah,, kalau begitu antar tante untuk bertemu ibumu.." pinta wanita itu.
Mereka pun menuju ke rumah Vivin. Tak besar, namun juga tak kecil. Hanya rumah sederhana. Itulah rumah Vivin.
"Maaf ya tante, kalo rumah Vivin jelek.." Vivin tertawa nyengir menampilkan gigi putihnya. Wanita itu hanya tersenyum mengangguk.
Setelah lama bercakap dengan ibu Vivin, akhirnya ibu Vivin pun setuju dengan tawaran dari JEY Entertainment.
"Tapi, bu, bagaimana dengan sekolah Vivin??" tanya Vivin ragu.
"Kau kan sudah pandai,, tak usah sekolah juga tak apa.." jawab ibu Vivin. "Yang penting, kebutuhan keluarga kita bisa terpenuhi,, kau mau kan membantu ibu??" mohon ibu Vivin.
Vivin tampak terdiam. Berhenti sekolah?? Tentu ia masih ingin sekolah! Ia masih ingin menuntut ilmu. Namun, demi membantu ibunya mencari nafkah, akhirnya ia pun mengangguk pasrah.
"Kalau kau masih ingin melanjutkan belajar, kau bisa melakukan home schooling.. Biaya akan kami tanggung, jadi kau tak perlu khawatir." papar wanita itu.
"Wah.. Jadi kau akan benar-benar jadi artis terkenal, Vin?! Hebat!!" Icha lagi-lagi heboh sendiri.
"Vin, kalo sudah terkenal, jangan lupa sama kita ya.." lirih Rere sendu.
Vivin langsung mengangguk. "Pasti!".
.......................................................................
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan.
Di sebuah ruang tunggu, seorang gadis cantik tengah menunggu dirinya dipanggil. Ia tampak memejamkan kedua matanya sambil mendengarkan sebuah lagu. 'Vin' begitulah orang-orang memanggilnya. Setiap harinya selalu disibukkan dengan rekaman, syuting iklan, maupun variety show.
"Vin, ingat! Jaga image mu,, bersikaplah polos dan anggun. Jangan-"
"Iya.. iya! Aku tahu! berhenti menceramahiku!" Vin memotong ucapan manager nya. Ia langsung melangkah keluar, menuju ke tempat syuting.
**Di tempat syuting live**
"Kita sambut, bintang utama kita kali ini,, VIN..!!"
Vin dengan langkah anggunnya memasuki tempat syuting. Ia pun duduk di sebuah sofa.
Percakapan demi percakapan terjalin antara Vin dengan pembawa acara tersebut. Sampai akhirnya sesi tanya jawab pun dimulai.
"Vin, apa kau tahu, bahwa kau telah menjadi trending di twitter selama beberapa bulan ini??" tanya pembawa acara tersebut.
Dengan polosnya, Vin pun tersenyum. ""Iyakah? Aku bahkan tidak tahu itu.." jawabnya tersenyum polos.
"Apa?! Kau tidak tahu? Astaga, Vin.. Vin.." pembawa acara tersebut geleng-geleng kepala. "Oh, ya. Baru-baru ini, kami membuat forum untuk para ViNers (penggemar Vin), bagi mereka yang ingin bertanya, ataupun berbagi cerita tentangmu. Apakah kau ingin melihatnya??"
Vin tampak diam sejenak. Setelah meminta persetujuan dari sang manager, ia pun mengangguk setuju.
Pembawa acara kemudian menampilkan sesuatu di layar besar yang ada di belakang mereka. Ia pun membuka forum yang tadi ia maksud. Didalamnya, tampak banyak sekali pesan-pesan yang ditulis oleh para ViNers. Lalu ia pun memilih secara acak pesan-pesan tersebut.
"Nah, ini merupakan salah satu pesan dari penggemarmu, apa kau ingin membacanya??" tanya pembawa acara tersebut.
"Tentu, dengan senang hati.. Mereka adalah orang-orang yang sangat berharga untukku. Karena dukungan merekalah aku bisa menjadi seperti sekarang ini.." papar Vin tersenyum ramah.
Pembawa acara itu pun memilih secara acak, dan membuka pesan dari ViNers yang terpilih.
"Hmm,, ini pengirimnya anonim ya.. Baiklah langsung saja mari kita baca!" seru pembawa acara itu semangat.
**Teruntuk Vivin, sahabatku..
Hai, Vin! Apa kau masih mengingat aku?? Aku tahu aku tak lebih penting dari para penggemarmu yang berjuta-juta itu. Tapi apa kau tahu? Semenjak kau pindah, kami selalu merasa ada yang hilang,, kami merindukanmu.. Aku tau, kami bisa melihatmu setiap saat di TV, namun itu belum cukup untuk mengobati kerinduan kami.. Rindu saat kau memenangkan lomba, Rindu melihat kau bermain basket,, dan.. Rindu saat-saat kebersamaan kita..
Hai, Vin.. Aku tak bermaksud mengganggumu,, Ku tulis surat ini tulus dari hatiku, karena aku tak bisa langsung menyampaikannya padamu.. Semangat dan sukseslah selalu.. Dan,, Ku harap kau tak melupakan kami.. Sahabat kecilmu..**
Tes..
Setetes air keluar dari mata Vin. Dirinya langsung terisak, mengusap pipinya yang sudah basah.
Pembawa acara itu pun langsung terdiam bingung setelah membaca surat tersebut.
Mulut Vin gemetar, ingin mengatakan sesuatu. "Ma-Maafkan aku.. Maaf karena telah mengingkari janjiku.. Asal kalian tau, aku juga sangat merindukan kalian.. Aku ingin bertemu kalian,, namun pekerjaan ku melarang ku melakukan itu.. Maaf.. Maafkan aku.." air mata terus mengucur dari kedua matanya.
Semua anggota kru langsung bingung dengan penuturan Vin. Akhirnya syuting pun dihentikan. Vin yang masih terisak, tak menyadari kedatangan manager nya yang sudah berasap-asap.
"Apa yang kau lakukan, VIN?!!" bentak managernya marah. "Kau tahu, karena penuturanmu, kau bisa saja kehilangan semua kepopuleranmu!! Kau-"
"Aku hanya ingin bebas!!" bentak Vin tak kalah. "Aku hanya ingin menjadi seperti dulu! Bersama dengan teman-teman ku, belajar,, Apa itu salah?!!" sambungnya berderai air mata.
"Apa maksudmu? Kau sudah memiliki banyak teman baru,, kau selama ini juga belajar, bukan?!" ucap managernya masih dengan nada tinggi.
"Aku ingin teman-teman ku yang dulu,, dan bukan belajar seperti itu yang kuinginkan! Aku ingin bersekolah seperti mereka..!" Vin berteriak.
"Kau bahkan melarangku melakukan apa yang ku mau.. Kau juga melarangku menemui teman-teman ku!!" Vin terus berteriak.
Semua kru yang ada di sana hanya terdiam, tak berani ikut campur. Ditengah-tengah keributan antara Vin dan managernya, tiba-tiba datanglah seorang pria paruh baya.
Langkah nya begitu tegas, dengan sorot mata tajam.
"Apa yang kau lakukan Vin?!" ucap pria itu yang tak lain Jey, pemimpin JEY Entertainment.
Vin dan managernya langsung diam.
"Apa kau mau kehilangan semua popularitas mu? Ucapan mu tadi-"
"Aku hanya ingin bebas! Aku tak ingin terjebak popularitas..! Apa itu salah??" ucap Vin memelas.
"Bukankah kau juga senang mendapat semua ini?" tanya Jey datar.
"Ya.. Aku memang senang,, tapi aku lebih baik melepaskan karir ku daripada harus melepas sahabatku.." lirih Vin.
Jey tampak diam. Menatap Vin dengan tatapan dingin. "Kalau begitu, pergilah temui teman-teman mu itu.. Lakukan semua yang kau mau.. Kembalilah ke sekolahmu dulu!" tegas Jey dingin.
Sontak semua orang yang ada di sana langsung terkejut, menatap Jey tak percaya. Vin telah dikeluarkan dari Jey Entertainment, itulah yang ada di pikiran mereka semua. Termasuk dipikiran Vin dan managernya.
"Pak, saya mohon maafkan Vin, Pak! Tadi itu ia melakukannya secara tak sadar,, ia tak bersungguh-sungguh dengan semua ucapannya.." mohon manager Vin pada Jey.
Jey tak bergeming, ia langsung melangkahkan kakinya. Baru lima langkah, Jey langsung berhenti.
"Dan.. Jangan pernah berpikir untuk melepas karirmu! Karena aku tak mau menyia-nyiakan GADIS MULTITALENT sepertimu!!" tegas Jey tanpa berbalik, tetap memunggungi Vin dan managernya. Ia pun kembali melangkahkan kakinya, meninggalkan mereka semua yang masih terdiam.
Vin sontak menatap penuh tanya managernya.
"Apa sekarang kau senang?? Sekarang kau diizinkan untuk kembali bersekolah, termasuk bertemu dengan teman-teman mu.. Dan kau tidak akan diputus kontrak oleh Jey Entertainment!" jelas manager Vin dingin.
Mata Vin langsung berbinar. Terharu.. Ia pun langsung memeluk managernya.
"Terima kasih, kak.." gumamnya.
.
.
Selepas kejadian itu, Vin kembali bersekolah di sekolahnya dulu. Melakukan apa yang ia mau, juga bermain bersama teman dan juga sahabatnya. Walau sesekali ia harus sibuk dengan karirnya sebagai seorang idol. Namun ia tetap bahagia, karena setidaknya, ia tak lagi TERJEBAK dalam POPULARITAS nya.
**The End**
(Halo guyss.. jangan lupa untuk like dan juga komen yahh🤠 Terus dukung author supaya author tambah semangat dalam berkarya dan jadi lebih baik lagi..)
See You😘😘