Stevani meremas kertas berisi tunggakan pembayaran uang sekolah dan juga kertas tagihan listrik. Ia membuang remasan kertas itu ke pojok kamar. Dadanya sesak memikirkan nasibnya. Semua berubah ketika kedua orangtuanya meninggal akibat kecelakaan. Dan kakak satu-satunya sebagai tulang punggung kini entah kemana.
Stevani harus memutar otaknya agar ia bisa bertahan di salah satu sekolah bergengsi. Tapi sayang, saat keluarganya tertimpa musibah keadaan berbalik. Kini untuk makan saja ia harus mengamen sepulang sekolah. Untunglah rumah peninggalan ayah dan ibunya kini bisa dijadikan tempat berteduh. Jika tidak, ia akan benar-benar menggelandang.
Stevani mengganti baju sekolahnya, menyambar jaketnya dan ia pergi sedikit jauh dari tempat tinggalnya. Sudah beberapa bulan ini ia ikut seorang anak laki-laki seumuran dirinya mengamen. Namanya Sandy. Sandy akan memainkan gitarnya sambil bernyanyi terkadang duet dengan Stevani. Terkadang mereka membawa speaker berukuran kecil untuk memamerkan bakat tari mereka.
Hari ini keberuntungan mereka berdua. Saat mereka sedang melakukan tarian rumit seorang pencari bakat menemui mereka dan menawarkan kerja sama. Awalnya Stevani menolak, baginya bekerja bukanlah tujuannya saat ini. Tapi Sandy mendesaknya ditambah lagi mereka diiming-imingi uang dua ratus ribu per orang untuk tampilan hari ini. Mungkin juga besok jika mereka mau bekerja sama. Akhirnya, Stevani mengambil uang tersebut mengingat tunggakan sekolah dan listriknya saat ini.
"Nih, pakai aja dulu. Aku belum perlu," Sandy menyerahkan penghasilannya sebagian pada Stevani. Lagi-lagi ia menolak, ia tahu Sandy pasti memiliki kebutuhan lain.
"Nggak usah,"
"Bayar kebutuhan kamu, kalau kamu nggak mau nerima ini, jangan ikut aku lagi," ancam Sandy.
Akhirnya Stevani menerima uang lembaran seratus ribuan dan beberapa uang recehan. Bila digabung dengan miliknya mungkin ia bisa membayar sebagian tagihannya.
"Terimakasih, anggap aja ini hutang. Suatu saat aku akan membayarnya," kata Stevani. Sandy mengangkat jempolnya.
***
Stevani kini sukses menjadi penyanyi. Suaranya merdu dan tariannya membuat siapa saja kagum. Ditambah musik yang kekinian membuat namanya semakin melambung. Dia tidak sendiri tapi ia selalu duet dengan Sandy. Tahun telah berganti dan kini mereka meraih kesuksesan bersama. Siapa yang menyangka bahwa bakat mereka di jalanan membuat mereka sesukses sekarang.
Stevani menghempaskan tubuhnya di salah satu ruangan yang di sediakan panitia untuk konser mereka.
"Ada masalah?" tanya Sandy saat melihat partnernya murung di sela konser.
"Aku dapat panggilan dari sekolah karena terlalu banyak libur,"
"Lalu?"
"Entahlah, jika aku berhenti saat ini semua akan berakhir. Entah bagaimana aku akan melanjutkan hidupku dan sekolahku seterusnya. Kalau aku melanjutkan ini, sepertinya aku harus berhenti sekolah,"
"Sayang sekali, apa tidak ada kompensasi?" tanya Sandy. Stevani menggeleng. Seharusnya ada tapi ia kembali ditipu orang kepercayaannya untuk urusan sekolah. Dan kini orang tersebut menghilang setelah membawa banyak barang Stevani. Ia mencuri perhiasan dan uang tunai milik Stevani. Dan ternyata selama ini ia tak menyampaikan urusan perijinan Stevani ke sekolah.
"Aku berhenti sekolah," kata Stevani.
"Sayang sekali, kamu tahu banyak orang yang ingin sekolah sepertimu. Tapi tak banyak yang seberuntung kamu,"
"Perijinanku tidak keluar. Dan ternyata sudah hampir setahun aku absen sekolah. Sekarang di sekolah penuh gosip tentang tentangku. Aku belum sanggup untuk sekolah. Aku akan meraih mimpiku terlebih dahulu. Jika aku sudah mendapatkan segalanya, bukankah nanti mereka sendiri yang akan merasa berteman denganku. Untuk saat ini aku jamin, semua akan menatapku sinis. Setahun tidak sekolah lalu tiba-tiba masuk di saat konser kita sukses, kamu pasti tahu pemikiran mereka,"
"Ya, jadi kamu akan berhenti? Yakin? Pikirkanlah sekali lagi,"
"Aku sudah memikirkan ini sejak lama. Pilihanku tetap melanjutkan karirku,"
"Oke, asal jangan nanti kamu menyesal," kata Sandy.
"Tidak akan, ayo persiapan lagu berikutnya!" kata Stevani. Mereka berjalan menuju bawah panggung dan siap menampilkan yang terbaik bagi penggemar.
***
"Stevie yang karirnya sedang berada di puncak akhirnya tersandung kasus pemalsuan. Seperti berita yang kami dengar dari pihak kepolisian terkait bahwa benar saudari Stevie sedang dalam masa menjalani pemeriksaan karena kasus pemalsuan ijasah miliknya. Kami juga sudah beberapa kali meminta keterangan dari orang-orang terdekatnya tapi mereka semua bungkam. Dan kini rumah kediamannya pun sepi seperti tidak berpenghuni sedangkan di luar sini banyak sekali wartawan yang ingin mengetahui kebenaran kasus tersebut. Demikian kami sampaikan dari TKP. Selanjutnya kami kembali ke studio," Laporan seorang wartawan mewarnai pemberitaan di televisi. Bukan hanya satu tapi sebagian besar pemberitaan di televisi adalah mengenai berita pemalsuan ijasah milik Stevi yang dikenal sebagai Stevani.
Sandy mematikan televisi. Ia menyugar rambutnya, merasa frustasi dengan pemberitaan. Ia kini tak dapat menghubungi Stevani dan ia juga berkali-kali harus ke kepolisian untuk ditanyai perihal sekolahnya.
Dulu ia sempat menentang keputusan yang diambil sahabatnya. Mereka seringkali bertengkar tentang hal itu. Dan kini semua terkuak. Stevani benar-benar tak mendengar nasehatnya dan dengan gegabah membuat ijasah palsu. Ia tak habis pikir. Dulu Stevani berjanji akan menyelesaikan sekolahnya bila mereka telah sukses. Tapi ia dibutakan oleh kekayaannya hingga menggampangkan semua masalah. Dan kini ia benar-benar dalam masalah.
Stevani gadis yang sangat berbakat. Ia serba bisa. Ia kini mencalonkan diri untuk menjadi anggota dewan. Ia memiliki kepintaran, ia memiliki bakat sebagai pembicara, apalagi bakat menyanyi dan menari yang telah ditempa sejak dulu. Tak diragukan lagi. Tapi sayang, kini ia tersandung masalah pendidikannya yang belum selesai tapi telah memiliki ijasah kelulusan.
Kini Sandy pun tak bisa membantu apa-apa. Ia hanya menunggu berita apakah penyelidikan kepolisian itu benar atau Stevani hanya di jebak?
Ya, bisa saja. Karena sejak mereka memutuskan untuk solo karir Sandy tidak sepenuhnya berada di dekat Stevani. Mereka masih bersahabat dan bertanya kabar. Namun karena kesibukan tentang pemilihan kepala daerah dan Sandy juga sibuk meluncurkan album terbarunya membuat mereka jarang berkomunikasi.
Sandy bangkit dari duduknya. Ia akan mencari tahu kebenaran ini. Stevani tidak punya siapa-siapa selain dirinya. Ia harus membantu gadis itu. Gadis dengan bakat luar biasa itu tidak harus berakhir di penjara. Tapi jika benar ia melakukan kesalahan, ia harus mempertanggung jawabkan semuanya. Dan Sandy akan tetap menjadi sahabatnya, tak peduli bagaimana keadaan gadis itu sekarang.