Pagi ini kendaraannya begitu ramai berlalu lalang di jalan aspal hitam, aku yang memang belum terlalu pandai mengendarai motor agak waswas. Takutnya terserempet ataupun jatuh.
Jalanan yang licin karena habis terguyur hujan kemarin malam, membuat semua pengendara motor mau pun mobil harus berhati-hati, begitu pun denganku. Jemari yang menggenggam stang motor semakin mengerat.
“Semoga enggak macet,” monologku sambil masih terus melajukan motor matic.
Pandangan mataku bolak balik menatap arloji yang selalu menempel sempurna di pergelangan tangan putihku. Sudah menunjukkan pukul 07.12, masih ada waktu delapan belas menit lagi untuk sampai di sana. Jujur, selama pandemi di Indonesia belum juga reda, jadwal masuk sekolah dipercepat. Jadi, aku harus ekstra cepat juga.
Alhamdulillah, sudah tak jauh lagi. Mungkin akan sampai sekitar lima menit lagi, aku bersiap-siap ketika gerbang sudah terlihat. Sambil menyetir, merapikan rokku yang sempat berembun.
“Pagi, Pak,” sapaku pada pak satpam yang sedang berdiri tak jauh dari gerbang. Beliau memang selalu begitu, mengawasi para murid yang akan masuk.
“Pagi juga, Neng Alia,” sapa balik beliau, aku hanya tersenyum seraya terus melajukan motorku.
Halaman sekolah yang menjadi tepat parkir, lebar dan luas. Aku memberhentikan motorku di dekat mobil Sedan keluaran terbaru, yang aku tahu siapa pemiliknya. Tak ingin membuang waktu lagi, aku bergegas pergi menuju kelasku.
Walaupun ada sedikit hambatan di lorong sekolah. Nina—teman sekelasku, memberhentikan aku, dia meminta uang padaku. Tak ada pilihan lain, aku memberikan separuh uang jajanku padanya. Bukan untuk yang pertama kalinya, tapi entah yang ke berapa kalinya.
“Kamu kok mau sih, diporoti Nina terus?” Dapat kulihat wajah Anggi, sahabatku sejak kecil, terlihat kesal. Dia terus mendumal atas sikapku yang terlalu baik pada Nina.
“Bagaimana lagi, aku tidak ingin ribut dengan dia, lagian berbagi juga indah kok.” Aku tersenyum sambil berkata kembali, “Aku tidak apa, tenang saja.”
“Aku beruntung memiliki teman sepertimu,” ucap Anggi, dia berhambur di pelukanku. Hangat. Aku merasakan kehangatan dari pelukan Anggi.
Kami tidak bisa berlama-lama pelukan, sebab pak Gunawan—guru Matematika sudah datang. Baru kusadari, jika ternyata aku juga tak mendengar bel berbunyi.
Syukurlah pagi ini pak Gunawan hanya memberikan catatan. Entah bagaimana botaknya kalau sampai guru yang terkenal killer itu memberikan soal yang beranak pinak seperti Minggu kemarin.
Selesai mencatat semua catatan yang disuruh pak Gunawan, aku beranjak menghampiri meja guru yang berada di depan—dekat papan tulis.
“Pak, permisi ke toilet ya,” ucapku pada guru itu. Bapak Gunawan hanya mengangguk, lalu lekas menyuruhku untuk cepat.
Hasrat untuk membuang air kecil sudah tak tertahankan lagi. Aku menutup pintu kamar mandi dengan tergesa, lalu membuang hajatku dengan perasaan lega.
Sebelum kembali ke kelas, aku menikmati pemandangan indah di dekat toilet dulu. Ada taman kecil di sana, yang lumayan banyak juga bunga berjejeran. Aku mengambil rumput liar, lalu mulai merangkainya menjadi sebuah cincin yang indah, tak lupa kutambahkan bunga di tengah-tengahnya.
“Kamu menyukainya?” Suara berat yang selalu mampu menggetarkan hatiku kini terdengar lagi. Alunannya yang indah semakin membuatku terbang melayang jauh di sana.
Aku tersenyum menatap dirinya. Tinggi, putih dan tampan. Kulitnya seputih susu, wajahnya sangat khas keturunan Korea, sedangkan tubuhnya, kelihatan lebih tegap. Harum vanila yang selalu menjadi canduku, kini menyeruak masuk ke indra penciumanku. Sudah lama, aku merindukannya.
“Iya. Aku menyukainya,” jawabku cepat tanpa mengalihkan pandang sedikit pun.
“Kalau gitu. Nanti aku chat, kamu harus datang ke tempat yang aku minta.” Aku berbalik, dan pria tampan itu sudah tidak ada. Ah, padahal aku masih rindu denganmu Bisma. Kita sudah jarang bertemu.
**
Sepulang sekolah, aku tak langsung pulang ke rumah. Memilih pergi ke tempat yang Bisma minta tadi. Setelah membaca kembali pesan di WA nya, aku langsung cus ke tempat tujuan.
Danau? Bisma memintaku datang ke danau. Tak ramai orang di sini, hanya ada beberapa saja. Aku segera memilih tempat yang nyaman. Terlalu dekat dengan bibir danau, mungkin menyenangkan.
Satu jam, dua jam, belum juga datang. Aku menekuk wajahku, lesu. Sudah lama aku berada di sini, bahkan hingga hari menjelang sore. Tetapi Bisma belum juga datang, ke mana pria itu, kenapa tak menepati janjinya?
Ke mana kamu Bisma?
Tak dapat kupungkiri, senyum ini kembali mengembang tak kalah melihat langit biru perlahan berubah menjadi jingga, sinarnya begitu terang di ufuk barat. Senja aku menyukaimu.
Bukankah kamu juga menyukainya Bisma?
“Ya. Aku menyukainya.” Lagi-lagi aku tersenyum, menatapnya yang juga tersenyum begitu manis.
Namun, sedetik kemudian, tubuh itu menghilang seiring desiran angin menerpa tubuhku. Aku menatap ke sekeliling, mencari-cari sang pujaan hati. Tapi nihil, dia tidak ada.
Dengan gerakan secepat kilat, aku mengambil hpku, membuka aplikasi berlogo gagang telepon. Mencari nama sang pujaan hati di sana, membaca ulang kembali pesan yang dia kirim.
“Tidak!”
Tubuhku lunglai, jatuh terduduk di tanah. Pesan itu, sudah setahun yang lalu. Ditanggal yang sama, bulan yang sama, hanya tahun yang berbeda. Aku menangis sejadi-jadinya, meratapi senja yang semakin menampakkan sinarnya, seolah-olah menguatkan aku untuk tetap bangkit dan berdiri di atas rindu yang menyeruak lama didada.
Ternyata, semuanya hanya ilusi, dia sudah pergi. Lama sekali, bahkan hari ini ternyata tepat satu tahun kepergiannya.
Riau, 25 September 2021