"Jika bayi ke-7 ku adalah laki-laki, aku rela mati jika ia lahir nanti. Sumpahku berlaku untuk tujuh keturunanku!"
*
*
*
Konon di sebuah Desa Panca Kubu tinggallah sepasang suami-istri yang memiliki anak banyak. Anak-anak tersebut berjenis kelamin perempuan.
Lintang ingin sekali memiliki anak laki-laki ia berdoa dan berusaha agar jika ia hamil lagi dianugerahi bayi laki-laki.
Unik memang, di dalam keluarga Lintang semua saudaranya hanya memiliki anak perempuan.
Lintang sangat mendambakan anak laki-laki. Tak heran ketika anak keempatnya yang masih kecil ia berencana ingin memiliki momongan.
"Kamu nggak, kerepotan kalau punya bayi lagi?" tanya Agung. Ia memeluk Lintang sambil rebahan. Keduanya kelelahan karena bertarung di atas kasur.
"Nggak, Mas. Aku sudah siap menerima resikonya," balas Lintang. Wanita 35 tahun itu ingin berencana hamil lagi.
"Apa tidak kasihan sama Yuni, Dek? Dia kan masih kecil," kata Agung. Ia membelai lembut rambut Yuni bocah berusia 2 tahun.
"Bisa, Mas. Mas tolong hargai keputusanku." Lintang melepas pelukan Agung.
"Baiklah. Kalau itu kemauanmu."
Lintang bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Agung melepas napasnya dengan kasar.
*
*
*
Dua bulan kemudian Lintang pun hamil anak ke-5. Ia merasa bahagia. Dan memanjakan bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Aku harap bayi ini laki-laki." Lintang mengelus perutnya.
"Laki-laki atau perempuan kita terima saja, Dek. Asalkan kalian selamat, sehat dan panjang umur." Agung menanggapi ucapan istrinya.
"Ya, bedalah, Mas. Pokoknya aku mau bayi ini laki-laki. Perempuan kan sudah banyak!" ucap Lintang sedikit meninggi.
Lintang berlalu meninggalkan Agung. Agung menjadi serba salah.
Suatu hari Lintang berkumpul di rumah tetangga sebelah.
"Kamu hamil lagi?" tanya Bu Tatan.
"Kaya kucing beranak terus," seloroh Bu Tian.
"Palingan perempuan lagi, Lin."
Lintang hanya menanggapi dengan senyuman. Biar apa kata orang.
*
*
*
Sembilan bulan kemudian Lintang pun menantikan kelahiran bayinya. Ia sudah tak sabar.
Hari yang ditunggu pun tiba Lintang akan melahirkan ia ditemani Agung.
Oek ... Oek ... Oek ...
Telah lahir bayi ke-5 berjenis kelamin perempuan.
"Lagi-lagi anak perempuan. Kapan aku bisa punya anak laki-laki!" pekik Lintang. Ia baru saja melahirkan bayinya.
Ditatap bayi mungil itu di sebelahnya. Ia enggan menyentuh ataupun memberikan ASI.
Agung menggendong bayi mungil itu dan mendekati Lintang yang memunggunginya.
"Susui dulu, Dek. Kasihan dia menangis terus," ucap Agung. Ia penuh kasih sayang menggendong bayi cantik itu.
Lintang menatap enggan. Wajahnya muram tak mau tersenyum. Kekecewaannya teramat dalam.
"Aku tak mau menyusui bayi itu!"
"Astaghfirullah, Dek. Jangan seperti itu, ini sudah rezekinya diberikan bayi perempuan lagi." Agung mengiba demi bayi dalam dekapannya.
Oek ... Oek ... Oek ...
Bayi perempuan itu tak berhenti menangis.
"Ayolah, Dek. Susui bayi ini kasihan." Agung meletakkan bayinya di sebelah Lintang.
Lintang hanya melirik sekilas.
"Mas mohon demi anak kita."
Lintang luluh ia pun menyusui bayinya.
Keesokan harinya tetangga bergantian menjenguk Lintang dan bayinya.
"Perempuan lagi?"
"Kan, apa kubilang."
"Sudah nggak, usah bersedih, Lin. Besok kalau sudah besar bikin anak lagi. Ups!"
Lintang bersedih mendengar ejekan tetangganya. Untungnya Agung bisa menenangkan Lintang.
Bayi perempuan itu diberi nama Tasya.
*
*
*
Satu tahun kemudian Lintang kembali hamil anak ke-6. Ia tak jera dan pantang menyerah.
Tak peduli apa kata orang. Lintang terus saja berencana ingin hamil lagi jika bayi keenam ini perempuan.
Menjelang persalinannya ia gugup dan takut kalau-kalau bayi yang ia lahirkan perempuan.
Lintang pun mendapatkan bayi perempuan lagi. Pikirannya kacau ia tergila-gila pada bayi laki-laki. Keinginan Lintang terlalu kuat dan berambisi.
Lintang menangis di pelukan Agung sang suami.
"Sabar, Dek. Sudah suratan takdir." Agung menepuk-nepuk punggung Lintang.
Dua tahun kemudian Lintang pun hamil kembali anak ke-7.
Ia sangatlah berharap kali ini bayi yang ada di dalam kandungannya berjenis kelamin laki-laki.
"Apa tidak capek, Lin? Hamil terus-terusan. Kasihan anak-anak,"
"Alah! Palingan anak perempuan lagi. Hahaha!"
Lintang merasa panas ubun-ubunnya. Ia pun berdiri di depan orang-orang. Dan berkata, "Jika bayi ke-7 ku adalah laki-laki, aku rela mati jika ia lahir nanti. Sumpahku berlaku untuk tujuh keturunanku!"
Lintang berlari meninggalkan orang-orang yang mengejeknya. Air mata mengalir di pipinya.
*
*
*
Tiba saatnya Lintang melahirkan anak ke-7.
Oek ... Oek ... Oek ...
"Alhamdulillah! Bayinya laki-laki, Bu." Dukun beranak girang.
Sayang sungguh sayang belum sempat melihat bayi laki-lakinya. Lintang sesak napas dan tak sadarkan diri.
Dukun dan anggota keluarganya berusaha membangunkan Lintang tapi, tak juga Lintang sadar.
Agung menempelkan jari telunjuknya ke hidung Lintang. Tak ada tanda-tanda Lintang bernapas.
Sontak Agung berucap, "Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Lintang bangun! Jangan tinggalkan, Mas. Huhuhu ...."
Genap usia 40 tahun Lintang menghembuskan napas terakhirnya dan meninggalkan bayi laki-laki mungil itu.
Agung memberi nama Untung Selamet.
Malam semakin mencekam meninggalnya Lintang bersamaan dengan turun hujan sangat deras disertai angin kencang dan petir menyambar.
Agung meratapi kepergian istrinya memeluk jasadnya.
*
*
*
Dua puluh tahun kemudian anak-anak Lintang tumbuh dewasa dan sudah menikah.
Anak sulungnya pun sama memiliki keturunan anak perempuan yang banyak berakhir meninggal setelah melahirkan anak laki-laki. Begitu terus sampai 7 keturunan Lintang.
Berbicara dan berdoalah yang baik-baik.
Karena ucapan adalah doa.
Semoga bisa diambil hikmahnya.
Tamat