“Aku akan mengambil kembali batu naga yang ada di dalam tubuh anak kalian saat dia berusia 25 tahun,” ucap sesosok makhluk yang sangat mengerikan.
Sementara sepasang suami istri itu tertunduk dengan tubuh yang gemetaran, dalam gendongan sang istri ada sesosok bayi mungil yang belum memahami apa yang akan terjadi padanya. Nama bayi tersebut adalah Anneth, bayi itu baru berusia satu bulan. Namun, nasib malang harus menghampiri bayi itu.
Anneth harus berjuang melawan maut sejak bayi, ada kelainan dalam tubuhnya. Hal itulah yang menyebabkan kedua orang tuanya menyerahkan nyawa mereka dengan imbalan sebuah batu yang dapat menyelamatkan hidup Anneth.
“Baik, kami akan menepati janji itu,” ucap sang ayah dengan suara bergetar.
Tidak ada yang terucap dari sosok dengan jubbah hitam itu, tiba- tiba dia menghilang dari sana. Menghilangnya sosok itu membuat pasangan suami istri itu bernapas lega. Keringat mengucur deras membahasi tubuh mereka.
“Kita harus segera menyelamatkan bayi kita. Aku tidak mau menyerahkannya pada naga jahat itu.”
Pikiran licik dari kedua orang tua Anneth diketahui oleh sosok yang merupakan siluman naga. Dia adalah manusia separuh naga yang hidup berdampingan dengan para manusia. Namanya Naga, sesuai dengan wujudnya. Seorang pria tampan yang tidak akan menua dan hanya bisa mati bila batu naganya rusak.
Namun dibalik sosok tampannya itu, Naga bukanlah makhluk yang ramah. Keberadaannya yang tersembunyi tidak aka nada seorang pun yang mengetahuinya. Hanya Anneth seorang yang mengetahui keberadaan Naga. Setelah membunuh kedua orang tua Anneth, Naga mengambil Anneth untuk dibesarkan.
Bukan kasih sayang selayaknya orang tua yang diberikan untuk Anneth. Hanya perilaku kasar yang Naga berikan. Hari berganti hari, hingga tahun berganti tahun. Tidak terasa Anneth sudah menginjak usia 22 tahun. Anneth tumbuh menjadi seorang gadis dengan paras cantik. Namun sayang, dia seorang yang pemurung dan tidak mengenal dunia luar.
“Ayah, apa aku boleh keluar hari ini?” tanya Anneth, dia sangat berharap Naga mengizinkannya untuk keluar.
“Aku tidak mengizinkanmu keluar,” jawab Naga yang tidak mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya.
Raut wajah Anneth menjadi murung, dia pun berjalan keluar dari ruangan milik Naga dengan langkah lesu. Naga mendengus melihat tingkah Anneth yang kian lama kian berani membangkangnya.
Sementara Anneth merasa benar- benar kesepian di rumah besar ini. Di rumah ini hanya ada dirinya dan Naga, tidak ada orang lain lagi. Gadis itu duduk di balkon kamarnya, memandang keluar sana di mana banyak orang berlalu- lalang tanpa menyadari keberadaan rumah ini. Entah bagaimana Naga menggunakan sihirnya hingga keberadaan mereka tidak terlacak.
“Aku sangat ingin pergi keluar,” gumam Anneth menidurkan kepalanya pada pembatas balkon.
“Cepat ganti bajumu, aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” ucap Naga yang tiba- tiba sudah berada di dalam kamar Anneth.
Anneth menoleh dan dengan mata berbinar berlari menghampiri Naga. Namun, gerakan gadis itu harus terhenti kala Naga menahan tubuh Anneth. Pria itu menyentuh perut Anneth, memastikan kondisi batu naganya aman hingga saat ini. Kernyitan di dahi Naga terlihat, dia merasakan hal yang aneh dengan kondisi batu naga itu.
“Ada apa?” tanya Anneth mengernyitkan dahinya.
Dia sebenarnya tidak paham apa yang sedang dilakukan oleh Naga yang seringkali memegang perutnya seperti sedang memastikan sesuatu. Memang Naga tidak pernah memberitahu Anneth perihal batu naga yang tertanam dalah tubuh gadis itu, bahkan dia juga tidak menceritakan perihal kedua orang tua Anneth yang dibunuhnya.
“Tidak apa- apa, cepat ganti bajumu sekarang!”
Anneth benar- benar merasa bahagia saat ini, matanya terus berbinar melihat sekelilingnya. Mereka kini sedang dalam perjalanan entah kemana, Naga masih terus bungkam di sebelahnya. Sesekali Anneth memperhatikan Naga yang sedang fokus menyetir, lalu matanya beralih pada lengan pria itu. Ada banyak sisik di sana. Gadis itu mengerutkan keningnya melihat sisik yang ada di tubuh Naga semakin banyak tiap harinya.
“Apa Ayah baik- baik saja?” tanya Anneth hendak menyentuh lengan Naga.
Namun, bukan sambutan baik yang Naga berikan. Pria itu menepis kasar tangan Anneth, hanya lirikan tajam yang pria itu berikan pada gadis di sebelahnya. Sementara Anneth menunduk takut. Bukan satu dua kali dia diperlakukan dengan kasar, bahkan Anneth pernah berpikir jika Naga bukan ayah kandungnya. Namun, gadis itu segera menepis pikiran ngawur itu.
Mobil yang dikendarai Naga berhenti di bibir sebuah hutan. Anneth melihat sekelilingnya, perasaan takut kembali menghinggapinya. Namun, dia juga tidak bisa menolak saat Naga memintanya turun dari mobil.
“Mengapa kita di sini, Yah?” tanya Anneth masih memperhatikan sekitar.
“Aku terpaksa harus mengeluarkannya sekarang. Jika aku terlambat, kondisi akan semakin memburuk,” ucap Naga tanpa mempedulikan pertanyaan Anneth.
Anneth terkejut ketika tiba- tiba Naga menarik tangannya dengan paksa dan menyeretnya memasuki hutan yang terlihat sangat menyeramkan. Pepohonan tumbuh menjulang tinggi, sangat angkuh bagaikan menantang langit. Anneth berusaha mengimbangi langkah lebar Naga, hingga dirinya harus beberapa kali tersandung akar pepohonan yang mencuat keluar dari tanah. Naga sama sekali tidak peduli, dia terus menyeret gadis itu menuju tempat di mana dahulu orang tua Anneth membuat perjanjian dengannya.
Anneth merintih merasakan sakit di kedua kakinya. Gaun yang dipakainya sudah robek di sana- sini akibat kayu pepohonan yang tadi mereka lewati. Kaki gadis malang itu berlumuran darah. Sebenarnya dia sudah tidak sanggup untuk berjalan lagi, sudah berjalan cukup jauh tempat tujuan mereka belum juga sampai.
Entah sampai kapan mereka akan terus berjalan tanpa istirahat. Bereda dengan Anneth yang sudah bermandikan peluh, Naga masih terlihat segar bugar tanpa cela. Pakaian yang dikenakan pria itu masih bersih dan rapi. Semakin mereka berjalan ke tengah hutan, makin gelap dan mencekam suasana di sini.
“Sampai,” gumam Naga, dia menoleh ke belakang untuk melihat keadaan Anneth saat ini.
Gadis itu terlihat sangat menyedihkan dengan gaun yang robek dan wajah Anneth sangat berantakan. Jangan lupakan luka hampir di sekujur tubuhnya akibat goresan ranting- ranting pohon serta duri pohon selama perjalanan ke tempat ini.
“Sial,” umpat Naga melihat Anneth yang terlihat makin lemah.
Rasa lapar dan haus, dua hal itu yang Anneth rasakan saat ini. Tenaganya benar- benar habis, tubuhnya sudah kaku dan dalam hitungan detik tubuhnya akan ambruk. Beruntung Naga dengan cepat menangkap tubuh mungil itu. Pria itu menidurkan Anneth di sebuah batu pipih di dalam gua yang gelap dan dingin. Tangan Naga kembali menyentuh perut Anneth.
“Maaf, aku harus mengambilnya sekarang juga.”
Tangan Naga sudah berada tepat di depan perut Anneth yang masih memejamkan matanya. Perlahan tangan yang hampir semuanya dipenuhi sisik menusuk perut itu. Darah keluar dari sana, menyembur keluar. Membuat Anneth memekik merasa sakit di tubuhnya.
“Ap… apa yang Ayah lakukan?” tanya Anneth terbata- bata.
Naga tidak menghiraukan pertanyaan Anneth, dia terus menusuk perut gadis malang itu. Retina Naga juga perlahan berubah, berubah seperti mata seekor ular. Anneth yang melihat hal itu membulatkan matanya dan menangis ketakutan.
Darah makin banyak menyembur keluar dan bersamaan dengan Anneth yang tewas seketika. Naga masih berusaha mengeluarkan batu naganya, walau dia tahu kondisi batu itu hampir tidak terselamatkan. Dia masih ingin berusaha mengeluarkan batu itu. Apapun yang terjadi dia harus tetap hidup.
“Sial!” rutuk Naga murka.
Batu itu pecah sebelum sempat keluar dari dalam perut Anneth. Padahal sebentar lagi dia berhasil. Suara gemuruh dari luar gua menambah suasana mencekam di tempat ini. Tidak lma badai datang bersamaan dengan tubuh Naga yang mulai hancur demi perlahan. Ada air mata yang keluar dari mata itu. Entah penyesalan yang mana saat ini Naga rasakan. Namun, semuanya telah terlambat. Tubuhnya sudah hancur menjadi abu tepat di sebelah mayat Anneth.
🐲🐲🐲