Perjalananku akan segera dimulai dalam beberapa menit lagi. Saat ini aku masih menunggu kedatangan bus di sebuah agen bus di Kota T. Sore ini aku akan kembali ke kampung halamanku di Kota K. Kurang lebih selama tiga tahun aku mengadu nasib di Kota T ini, ada rasa rindu yang membuncah sehingga aku memutuskan untuk pulang.
Baru tadi pagi aku mengakhiri masa kerjaku di sebuah rumah sakit bersalin dan sore harinya aku langsung membeli tiket untuk pulang. Ada suatu alasan mengapa aku cepat- cepat pulang, padahal teman- teman kerjaku meminta agar aku pulang beberapa hari lagi. Mereka masih ingin menghabiskan waktu bersamaku, seperti itu kata mereka. Selama tiga tahun itu belum pernah sekalipun aku pulang, hanya sebagian uang dari gajiku saja yang kutransfer untuk orang tua di sana.
“Bus sudah sampai terminal, sepuluh menit lagi akan datang. Silahkan periksa kembali barang bawaan anda,” ucap karyawan yang bekerja di agen bus ini memberi pengumuman.
Mendengar pengumuman itu aku memutuskan untuk pergi ke kamar kecil sebelum nanti naik ke bus. Aku tidak mau jika dalam perjalanan nanti kebelet. Napas lega keluar dari mulutku, merasa sangat lega setelah membuang kotoran yang bisa menjadi penyakit jika tidak dibuang. Aku kembali duduk di kursiku tadi bersama dengan satu tas besar berisi semua pakaian serta perlengkapan sehari- hari.
Benar saja, tidak berselang lama suara klakson bus terdengar dan bus yang akan aku naiki datang, berhenti tepat di depan bangunan agen bus. Aku bersama penumpang lain pun bergegas masuk ke dalam bus. Namun, sebelumnya aku memasukkan tas besarku di dalam bagasi bersama dengan tas atau koper penumpang lain. Aku memasuki bus dan mencari di mana kursiku. Berbekal tiket yang kupegang aku mencari kursi yang tadi telah ditentukan. Di dalam bus ini sudah ada beberapa penumpang walau bus belum penuh.
“Permisi, ini kursi saya,” ucapku pada seorang penumpang yang sepertinya sedang tertidur. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup dengan topi.
Orang itu terlihat terkejut, dia menatapku sebentar dan segera menyingkir. Membiarkanku melewatinya. Aku duduk di dekat jendela, sangat beruntung karena aku bisa leluasa melihat pemandangan di luar sana selama perjalanan nanti.
Bus mulai melaju menjauh dari agen bus. Suara bising dari para penumpang sedikit menggangguku. Namun, aku juga tidak bisa melarang mereka untuk diam. Semenjak bus melaju, diputar lagu- lagu lawas yang terasa tak asing dipendengaranku. Walaupun aku lahir di era akhir sembilanpuluhan, aku masih cukup akrab dengan lagu- lagu lawas itu. Ibu yang sering memutar atau menyanyikan lagu itu di rumah, jadi tidak heran jika aku merasa tidak asing.
“Mau permen, Mbak?” tanya seseorang di sebelahku.
“Terima kasih,” jawabku menerima permen yang diberikannya.
“Mau ke mana, Mbak?” tanyanya memulai percakapan.
“Saya mau ke Kota K. Kalau Masnya ke mana?”
“Saya dari Kota C mau ke Kota S,” jawabnya.
Aku hanya mengangguk, tidak ada lagi yang ingin aku tanyakan. Juga aku merasa tidak nyaman jika terlalu banyak bertanya, padahal kami belum saling kenal.
“Kenalkan, saya Angga,” ucapnya tiba- tiba memperkenalkan diri.
“Saya Sarah,” kataku.
Kukira, aku akan merasa canggung. Namun, ternyata dugaanku salah. Hanya membutuhkan waktu sebentar kami menjadi akrab dan berbicara banyak hal. Bahkan rintik air di luar sana tidak terlalu aku pedulikan. Aku hanya fokus pada Mas Angga yang masih menceritakan pengalamannya.
“Jadi, Mas Angga juga baru resign? Kenapa resign, Mas?” tanyaku penasaran.
“Aku hanya merasa sudah cukup waktu bekerja di sana. Aku ingin kembali ke kampung halaman, di sana aku berencana membuka usaha.”
“Semoga lancar usahanya, Mas,” ucapku memberinya doa.
“Terima kasih. Ah ya, maaf, bisa sedikit kecilkan pendinginnya? Udara makin dingin karena hujan turun.”
“Oh iya, Mas. Silahkan.”
Hari sudah mulai gelap dan hujan makin deras. Perjalanan yang kutempuh ini sepertinya membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama. Bus kami terjebak macet bersama dengan ribuan kendaraan lain. Tidak ada lagi percakapan setelahnya. Aku sedikit melirik pada Mas Angga yang ternyata kembali tidur. Kualihkan pandangan keluar jendela. Jendela sudah basah oleh air hujan juga buram karena cuaca yang dingin.
“Kamu mau pinjam jaketku?” tanya Mas Angga tiba- tiba membuka matanya.
“Tidak perlu, saya tidak merasa dingin,” jawabku.
“Oke, bilang saja nanti kalau kamu merasa kedinginan. Perjalanan masih jauh ternyata, kita baru sampai Kota P.”
Aku mengangguk membenarkan. Memang perjalanan kali ini terasa sangat lama, seharusnya waktu yang ditempuh hanya 3 jam saja. Namun, karena macet harus memerlukan waktu yang sedikit lebih lama.
Suara lagu yang masih diputar menemani perjalanan ala mini. Lagu yang sangat cocok dengan suasana saat ini. Mendadak suasana di dalam bus juga tidak sebising tadi. sepertinya beberapa penumpang tengah tertidur. Namun, aku masih asyik memandang keluar jendela. Menatap air yang mengalir dari balik jendela. Kusenderkan kepalaku di jendela, mataku terpejam menikmati bait demi bait lagu yang sangat kukenal.
Hujan semakin deras
Di malam ini
Aku sendiri dalam kedinginan
Tanpa hangat api
Hanyalah dirimu yang bermain di dalam khayalanku
Tak sanggup aku melupakan
Aku tak sanggup~~
Tanpa sadar aku bersenandung lirih. Memang di kala hujan seperti ini sangat cocok untuk memikirkan kenangan- kenangan yang kita miliki. Entah itu kenangan buruk atau kenangan indah. Aku semakin larut dalam kenangan itu, ada senyum getir terpatri di bibirku.
🚌🚌🚌
Perjalananku kali ini harus berakhir dan aku harus berpisah dengan Mas Angga yang masih harus melanjutkan perjalanannya. Perjalanan selama kurang lebih empat jam, tidak terlalu lama memang. Perjalanan yang singkat tapi berkesan, itulah yang terbesit dalam pikiranku saat ini. Aku turun dari bus membawa tas besar.
Hujan sudah reda dan langit juga cerah, begitu pun perasaanku. Bau petrichor yang menenangkan tercium dari inedera penciumanku. Aku masih menatap bus yang tadi kutumpangi yang makin lama makin menjauh. Lalu aku beralih pada jaket yang kukenakan. Ada senyum terbit di bibirku dan aku melangkah memasuki gang di mana rumahku berada.
Kini setelah perjalanan itu, aku akan menanti. Menanti janji Mas Angga yang akan datang mengambil kembali jaketnya yang dia pinjamkan.
🚌🚌🚌