Aku menemukan cara agar matematika hilang dari dunia. Tak ada lagi angka, rumus, maupun sususan soal memuakkan yang membuat gila. Tapi..
***
"Sin, besok ulangan matematika kan?" Tanya Johanna.
Sindi mengangguk, ia meminum secangkir teh yang ku sediakan.
"Pusing diriku, lelah, letoy, pengen meninggoy. Tapi sayang sama hidup," Ocehanku yang tak jelas ini seolah meminta untuk tak usah di dengar,
Namun Regina menyaut, "Andai matematika ilang dari dunia. Asik kali, ya."
"Iya... Asik."
Johanna menyembur, "Ga usah ngehalu kali. Ga mungkin"
Meletakkan cangkir teh, Sindi ikut membuka suaranya. "Barang kali bisa"
"Noh, barang kali bisa"
"Halah"
Mereka semua adalah sahabat sekolahku, kami sama-sama membenci pelajaran matematika. Sebuah pelajaran yang hanya membuat mual, pusing, dan menjengkelkan.
Aku beranjak dari tempat dudukku, "Mau pergi ke perpus dulu deh, nenangin diri. Ohh, sekalian baca novel, duluan yak"
"Yo, dadah~"
Namaku Manda, seorang pelajar biasa yang ga pintar-pintar amat.
Ku buka pintu perpustakaan, mengambil salah satu buku, kini aku duduk di kursi dekat sana.
"Haa.. Baca buku emang paling terbaik, sih"
Mataku mulai siap untuk membaca kata perkata tanpa sepotong gambar, namun tiba-tiba kesiapan itu hancur karena lembaran kertas terjatuh dari buku.
"Ha?"
Lembaran aneh.
"Cara menghilangkan matematika dari dunia, tahun 1997 SM.... Hah, apaan sih?"
Sebuah tulisan tulisan aneh, membuatku begitu tertarik. Seolah terdapat magnet yang memaksaku untuk membaca lembaran itu.
Ada sebuah kalimat, "leípoun mathimatiká apó ton kósmo, abracadabra!"
WUUUSHHHHHH
Sebuah angin kencang mengguncang daerah sekitarku secara lekas, jantungku berdetak kencang.
Ada apa?
Kenapa?
Sekali lagi, ada apa?!
Guncangan itu berhenti, semuanya kembali seperti semula seolah tak terjadi apa-apa.
"Uhm?"
Aku melangkah keluar dari perpustakaan, hendak memastikan keadaan para sahabatku.
"Man?" Sindi, datang dengan cangkir kopi yang sama.
Aku menghadapnya, "Sin! Kamu ngga apa-apa kan?"
"Eh, emangnya ada apa?"
"Itu.. Sekitar tiga menit yang lalu, kayak ada gempa" Aku berujar was-was.
Sindi mengernyit, "Tiga menit yang lalu.. Itu jam berapa?"
Eh, kenapa Sindi berlagak seperti ini? Bukannya ia paling pandai matematika di antara kami..
Aku menggeleng berusaha meninggalkan lamunan, "Yaa.. Sekarang jam 11.27 berarti 3 menit yang lalu, hanya perlu di kurangkan aja kan"
"Hah? Kamu ngomong apa sih?"
Maksudnya? Kenapa dia bersikap tidak tahu begini?
"Eum.. Yang lain kemana?"
Sindi menunjuk ke belakang, "Lagi minum juga. Kayanya mereka lagi linglung, aku juga sih.. Kenapa, ya"
Jangan-jangan..
"GUYS!!" Aku berteriak membuat mereka semua berpaling.
Regina, "Apaan?"
"1+1 berapa?!"
"Hah?"
"1+1, ya ampun.."
Johanna terdiam, "Kamu ngomong apa sih?"
Bersambung