Kebutaan Sementara
Takdir, siapa sih yang bisa mengetahuinya. Kita hanya perlu berusaha untuk membuat takdir kita menjadi lebih baik. Dengan bantuan Tuhan tentunya.
Manusia makhluk yang paling sempurna diantara makhluk yang telah diciptakan oleh Tuhan. Harusnya bagaimana manusia bersikap? Tentu kalian bisa tahu jawabannya. Manusia itu lemah karena diciptakan dari tanah.
Aku seorang perempuan muda yang bekerja di laboratorium. Karena aku suka meneliti aku sangat suka pekerjaanku yang sekarang. Yah, walupun kadang harus begadang untuk menyelesaikan elemen yang salah, namun bekerja di laboratorium sangat menyenangkan.
Aku membuka buku catatan yang usang dan melihat perkembangan tanaman di hadapanku. Di dalam buku catatan terdapat berbagai kisah tentang kehidupanku. Aku menulis semua kegiatan yang aku lakukan tidak lupa kesalahan kecil yang tak sengaja aku perbuat.
"Aria, apa yang sedang kamu lakukan," seorang laki-laki mudah datang menghampiriku.
"Aku sedang melihat perkembangan bunga yang unik, lihatlah saat menerima cahaya bunga ini berkilau seperti berlian," sahutku saat menyinari bunga dengan senter.
"Aku tidak pernah melihat bunga ini, apakah ini jenis baru?"
"Kurasa begitu, sebenarnya aku tidak sengaja menemukan bunga ini di gunung waktu kita mendaki," jawabku sambil menyentuh kuncup bunga.
"Kurasa bunga ini akan menjadi bunga yang paling cantik diantara bunga yang kamu rawat," sahutnya.
Hari demi hari aku merawat bunga ini dengan kasih sayang. Aku tidak sabar melihat kuncup bunga ini mekar. Jika bunga ini belum memiliki nama apakah aku bisa memberikan nama tengahku untuknya? perasaan senang mulai membuat otakku traveling.
"Aria," teriak seorang wanita berbaju putih "Aria sini cepat! Ada masalah dengan serum yang kamu racik," sahutnya membuatku buru-buru mengecek serum tersebut.
Aku memakai alat pelindung dan memasuki ruang laboratorium. Di dalam sudah terdapat asap putih pekat yang memenuhi ruangan. Aku menyalakan penyaring udara dan menunggu sampai kabutnya hilang. Karena lama menunggu aku memutuskan untuk mengambil tanaman unik dan berencana membawanya ke dalam ruang laboratorium.
"Aria kenapa kamu membawa bunga itu?" tanya kepala profesor.
"Saya sangat menyukai bunga ini prof, jadi saya ingin selalu mengawasinya," ucapku sambil tersenyum.
"Oke, tapi kenapa kamu tidak masuk?".
"A-eh, itu prof, serum yang saya kembangkan gagal dan mengakibatkan ada banyak asap di dalam," sahutku canggung.
"Lain kali hati-hati, kalau udaranya sudah bersih tolong panggil professor," sahutnya meninggalkan diriku.
Aku tersenyum dan menyentuh kuncup bunga. Bunga ini memiliki daun seperti mawar, memiliki kuncup berwarna ungu dan merah muda, dan yang paling unik adalah dia bisa berkilau. Wah, tenyata bunga ini sangat halus seperti sutra.
"Ah, tenyata kabutnya sudah hilang," ucapku saat melihat udara di dalam sudah jernih.
Saat aku membuka pintu. Dar...tiba-tiba gelas-gelas kaca yang tersusun rapi pecah. Karena belum siap menghindar beberapa serpihan kaca menancap di tubuhku. Saat aku melindungi bunga, ledakan yang kedua kembali dan membuatku pingsan di tempat.
Entahlah berapa lama aku tidur. Aku mencoba untuk membuka mata namun kain kasa sudah terpasang di mataku. Aku mencoba memanggil suster ataupun orang yang lainnya. Sudah beberapa menit aku berbicara namun tidak ada satupun orang yang datang.
"Aria kamu sudah sadar?" suara lembut ibu membuat hangat.
"Ibu berapa lama Aria pingsan?"
"Kamu sudah pingsan selama 3 bulan dan kata dokter nanti kamu diperbolehkan melepas perbannya," sahut ibu hangat.
Aku sangat senang mendengar suara ibu yang mengoceh untuk kebaikanku. Yah ini suatu hal positif karena aku bisa berbicara dengan ibu dan hal negatif karena aku tidak bisa berhati-hati. Sekarang aku menanamkan rasa waspada dan berhati-hati untuk menjalani aktivitas di laboratorium.
Ceklek suara pintu terbuka. Aku juga mendengar beberapa suara langkah kaki menuju kamar rawat inap.
"Aria sudah sadar?" tanya profesor dengan suara bergetar.
"Aria sudah sadar pak, terimakasih atas bantuan yang bapak berikan kepada Aria," ucap ibu.
"Tidak justru saya yang harus meminta maaf karena kecerobohan dari anak didik saya yang lain membuat Aria terluka," Jawa profesor dengan suara lirih.
"Profesor Aria baik-baik saja kok, lihatlah nanti Aria akan berlari dihadapan profesor," ucapku membuat semua orang tertawa.
Saat dokter membuka perban rasanya begitu segar. Dokter memintaku untuk melakukan senam mata lalu menyuruh perlahan-lahan membuka mata. Rasanya begitu khawatir, entahlah aku juga tidak tahu darimana rasa khawatir ini muncul.
"Eh," ucapku saat melihat semuanya menjadi hitam.
"Apakah kamu bisa melihat ini angkat berapa?" tanya dokter membuatku semakin bingung.
"Aku tidak bisa melihat, hanya warna hitam yang sekarang menemaniku," ucapku membuat ruangan ini menjadi hening.
"Aria jangan bercanda," kata temanku Edmund.
"Kalau kamu bercanda lagi aku akan memukulmu," ucap Bu Melisa.
"Nak apa kamu bisa melihat ibu?" tanya ibu khawatir.
"Tolong semua tenang, aku memang tidak bisa melihat kalian, pemandangan yang aku lihat hanyalah hitam pekat," jawabku pasti.
"Nak, kenapa kamu tidak panik? Kenapa reaksi kamu datar," sahut ibu marah.
"Kenapa aku harus panik ibu, aku memang baik-baik saja," memang yah ucapan tidak bisa membohongi hatiku. Padahal aku sudah menahan untuk tidak menangis namun air mata yang ku bendung telah menetes.
"Huahhhh, Aria takut gelap ibu, Aria takut jika Aria tidak bisa melihat lagi," aku menangis dengan tersedu-sedu. Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan. Aku hanya mau menangis karena nanti aku harus menjadi kuat. Karena lelah aku tertidur sangat pulas.
Beberapa hari berlalu meskipun tidak bisa melihat aku masih sering berkeliling di laboratorium. Aku juga tidak melupakan tanaman kesayanganku. Dengan sedikit gila aku menceritakan keluh kesah ku.
Setelah puas aku bergegas untuk keluar karena akan ada penyiraman tanaman. Jika tidak segera keluar bisa-bisa tubuhku menjadi basah. Bruk...aku terjatuh karena lupa kalau ada satu pembatas menonjol.
"Yaampun Aria, kamu kenapa?" ucap Bilqis sambil membopong tubuhku.
Aku tertawa dan menjelaskan semua yang aku lakukan sampai saat aku terjatuh.
"Ayo aku antar ke ruangan profesor," sahutnya sambil memapah ku.
"Sebentar tolong bawa tanaman yang berwarna ungu itu," sahutku sambil menunjuk tempat tanaman unik itu berada.
Setelah sampai di ruangan profesor aku tidak merasakan kehadirannya. Artinya profesor masih berada di luar. Karena bosan aku bermain dengan tanaman unik.
Baru saja menyentuh daunnya entah aku berhalusinasi atau tidak sekarang aku melihat cahaya yang bersinar terang tepat di depanku. Saat aku membuka mata aku sudah bisa melihat sekelilingku. Karena belum percaya aku memutuskan untuk berlari, mencubit tanganku, dan menjatuhkan pulpen profesor.
"Aku bisa melihat lagi," teriakku senang.
Aku memeluk tanaman unik yang masih bersinar namun hanya sedikit. Saat aku menemui mereka kulihat raut wajah mereka senang dan ada juga yang sampai menangis. Aku sangat beruntung karena kebutaan ini hanya bersifat sementara.