DUA DUNIA
Author: ZMU
Di dalam rumah.
Maira membuka sepatu, menyimpan tasnya. Membuka seluruh bajunya dan memasukkannya ke dalam mesin cuci, kemudian ia ke kamar mandi. Melihat luka di hidung dan dahinya pada kaca wastafel. Ia menghela nafas, kesal bercampur geram. Ia tak sadar kalau ternyata pria itu menjebaknya dan telah menguntitnya sejak keluar café. Ia pun yakin foto dan data yang berada di Tinder itu adalah semua palsu! Ia tak akan bisa mencarinya. Habis sudah sisa uang terakhir di saldonya. Setelah itu Maira menyalakan shower untuk menyiram kepalanya, lalu berteriak, “Tommy sialan!”
--------------------------
Taufan melempar sepatunya ke sembarang arah, juga melempar tasnya ke atas sofa lusuhnya seraya berdecak kesal dan mengacak-ngacak rambutnya. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Berkaca pada wastafel, menatap wajahnya sendiri yang tampak lelah. Berapa banyak kegagalan dan penolakan yang harus dilaluinya lagi. Gagal lagi, gagal lagi, sial! Makinya dalam hati. Kenapa segala sesuatunya begitu sulit bagi dirinya tapi begitu mudah untuk orang lain? Ia menyalakan shower untuk menyiram kepalanya. Capek, gue capek! Batin Taufan. “Arrrggghh!” teriaknya.
***
Selesai mandi.
Maira membuat susu jahe sachetan dan membawanya naik ke loteng melalui sebuah tangga kecil dekat dapur. Loteng yang dipergunakan untuk menjemur pakaian, tetapi juga menjadi tempat favorit bagi Maira untuk menikmati udara malam dan menenangkan pikiran. Ia berdiri di pinggir loteng, melempar jauh pandangan pada kegelapan malam dan lampu-lampu rumah tetangga. Hanya itu, tidak ada gemerlap lampu gedung-gedung pencakar langit karena rumah petaknya tidaklah berada di kawasan elit yang memiliki view metropolis. Angin malam menghembus membuat rambutnya bergoyang, Maira memejamkan matanya, menikmati sejuknya desir angin sekaligus regukan susu jahenya. Ini bukan kehidupan yang sempurna, bukan kehidupan yang diimpikannya saat ia kecil dulu.
--------------------------
Taufan melempar tubuhnya ke atas sofa lusuhnya. Ia menatap kosong langit-langit ruang. Berpikir dan berpikir, apa yang harus dilakukannya lagi. Ia tak boleh menyerah, tak boleh menyerah, Taufan mengulangi kata-kata itu terus hingga perlahan matanya terpejam. Rasa kantuk bercampur lelahnya pikiran memberinya dosis pas untuk tidur nyenyak. Tak lama kemudian Taufan pun mendengkur.
***
Di atas loteng.
Maira melihat sebuah cahaya panjang di langit malam. “Wah apa itu? Kapal terbang? Tapi kok seperti meteor? Atau bintang jatuh?” gumamnya sendiri. Ia terpukau melihatnya. Cahaya itu semakin lama semakin terang. “Hmmm apakah aku harus mengucapkan harapan? Kata orang kalau melihat bintang jatuh, katakan harapanmu, nanti akan terwujud, masa sih,” gumam Maira sendiri. Cahaya itu semakin dekat dan bertambah terang. Maira mengerutkan keningnya, “Kok arah jatuhnya kayak kesini ya?”
Tiba-tiba Maira merasakan guncangan seperti gempa bersamaan dengan datangnya cahaya itu menerpa dirinya. Maira menjadi panik hingga cangkir susu jahenya lepas dari tangan dan jatuh pecah.
--------------------------
Taufan terbangun merasakan guncangan itu. Ia menggaruk-garuk perutnya tak mengerti. Ia melihat sekeliling ruangan yang bergoyang-goyang dan dinding-dinding rumahnya yang bergerak. “Gempa? Mimpi … hoaaeemm,” gumamnya masih terkantuk. Ia menarik bantal untuk menutupi wajahnya lalu melanjutkan tidurnya lagi.
***
Matahari pagi bersinar.
Maira membuka matanya, sinar matahari itu membuatnya silau karena tepat jatuh di atas wajahnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar. Hah, gue ketiduran atau pingsan ya di loteng? Tanyanya bingung dalam hati. Ia melihat cangkir susu jahenya yang pecah. “Ya ampun, berarti semalam itu gue ga mimpi! Gempa dan cahaya itu betulan! Tapi cahaya apa? Gempa kenapa?” Maira bertanya-tanya sendiri. Ia berdiri melihat sekelilingnya. Tidak ada kerusakan apa pun. Logikanya kalau cahaya itu meteor atau bintang jatuh pasti sudah merusak rumahnya juga rumah tetangganya, dan dirinya pun pasti sudah jadi abu, tidak ada di sini lagi.
Maira menggaruk-garuk kepalanya bingung lalu bergegas turun dari lotengnya.
--------------------------
Taufan mengucek-ngucek matanya dan menggeliat. Ia bangun dari sofa lusuhnya menuju dapur. Matanya masih mengantuk tapi ia harus bangun pagi untuk pergi mencari pinjaman modal untuk proyek impiannya itu. Untuk menghilangkan kantuknya ia menyeduh kopi. Mengambil toples gula yang ternyata kosong. Taufan mendengus kesal, lalu langsung saja mereguk kopinya tanpa gula. Terasa pahit, tapi bagi Taufan, pahit kopi itu tidak seberapa dibanding kepahitan hidupnya. Pahit kopi juga menyadarkan otaknya dan membuat matanya terbuka. Perutnya berbunyi, Taufan teringat ia belum makan dari semalam. Ia mencari-cari makanan di dalam lemari.
“Hey! Apa yang anda lakukan di rumah dan dapur saya?! Siapa anda?!”
Taufan terkejut mendengar suara bentakan itu. Ia mendongakkan kepalanya dari balik pintu lemari dan melihat seorang perempuan sedang memegang sapu di tangan kanan dan pisau dapur di tangan kiri. “Wowow … tunggu, tunggu … saya Taufan, saya yang harusnya bertanya, anda siapa? Kenapa anda turun dari loteng saya?” tanya balik Taufan.
“Saya Maira! Dan ini rumah saya, anda jangan macam-macam! Tadi waktu saya turun dari loteng, saya melihat anda sedang membuka lemari makan, anda mau maling ya?! Keluar dari rumah saya sekarang juga!!” teriak Maira. Taufan mengerutkan keningnya, “Hey, anda yang masuk ke rumah saya melalui loteng, anda pasti maling perempuan ‘kan? Itu buktinya jidat dan hidung anda bengkak, abis dimassa ya?”
Maira mendengus dan mendekat dengan wajah marah seraya menyabetkan pisaunya.
“Hey! Jangan main-main dengan pisau itu! Bahaya!” pekik Taufan bergerak mundur. “Apa yang anda cari di dapur dan rumah saya ini hah?! Apakah anda temannya si Tommy? Ngomong! Atau saya akan teriak lebih kencang lagi supaya tetangga pada datang untuk mengeroyok anda!” ancam Maira.
“Tommy? Tommy siapa? Yang saya tahu Tommy Soeharto,” kilah Taufan, Maira mengerutkan keningnya, “anda tidak tahu Tommy Soeharto?”
Maira menyabetkan pisaunya lagi, “Jangan banyak omong!!”
“Ok, ok … Nona Maira … dengar, anda salah, kalau saya mau maling ngapain saya buka lemari makan? Seharusnya saya membongkar lemari baju anda bukan? Mencari perhiasan? Lalu ini rumah saya, ini juga dapur saya … saya ada di rumah saya sendiri, sepertinya anda yang salah masuk rumah,” terang Taufan lalu melihat ke sekeliling dapurnya dan itu membuatnya tercengang.
“Hey kenapa anda melongo begitu! Sekali lagi, ini rumah saya, dapur saya!” seru Maira lagi.
“Bentar, bentar … sesuatu yang aneh terjadi sama dapur saya … lihat,” tunjuk Taufan pada dindingnya. Maira pun menoleh, memperhatikan dan terkejut, “Loh … itu dinding dapur saya kok setengahnya jadi beda warna catnya?”
“Yang setengahnya lagi itu, yang berwarna biru, itu dinding dapur saya,” sahut Taufan, “sepertinya dinding rumah anda dan dinding rumah saya menyatu … dan ga dinding aja, barang-barangnya juga … lihat!”
Maira menggeleng tak percaya, “Ya Tuhan apa yang terjadi, kenapa bisa begini?”
Taufan bergegas ke ruang depan, lalu ke kamar tidur dan kamar mandinya. “Ga hanya dapur tapi seluruh ruangan pun dindingnya bergeser dan menyatu, jadi setengah adalah rumah anda, setengahnya lagi rumah saya!” cetus Taufan menggaruk-garuk kepalanya tak mengerti. Maira hanya bisa tercengang lalu duduk di sofa.
Apa yang dilihat Taufan dan Maira sungguh tak masuk akal.
Dinding rumah mereka bergeser dan saling menyatu membuat sebagian pajangan dan perabotan rumah tangga hancur berantakan, meski terdapat beberapa benda yang malah ikut menyatu juga. Seperti sofa yang diduduki Maira, setengahnya berwarna merah muda milik Maira dan setengahnya lagi sofa lusuh milik Taufan.
“Maaf … maafkan aku tadi membentak-bentak anda,” ucap Maira, “ternyata ini rumah anda juga.”
“Ga apa-apa, itu reaksi wajar kalau melihat ada orang asing di rumah kita,” balas Taufan, “bagaimana kalau kita berkenalan dari awal lagi saja untuk meluruskan kesalahpahaman ini, aku Taufan, panggil saja Taufan.”
Maira mengangguk, “Halo Taufan … kamu sudah tahu namaku tadi, Maira.”
Taufan mengangguk, “Lalu kira-kira, menurutmu apa ya yang menyebabkan semua ini?”
Tak lama mata Maira membesar, ia teringat kejadian semalam saat di loteng. “Apakah ini ada hubungannya dengan gempa dan cahaya yang datang semalam?” lontar Maira. “Hah, gempa? Jadi gempa yang semalam itu bukan mimpi? Aku pikir aku bermimpi!” sahut Taufan. Maira menggeleng, “Ga, aku merasakannya, karena semalam aku sedang di loteng … aku harus menceknya di gogel, pasti ada info soal gempa dan cahaya semalam!”
Maira segera berlari ke dalam kamar, ia sempat tercengang melihat tempat tidurnya yang menyatu dengan tempat tidur kayu milik Taufan, tapi ia kembali ke tujuan awalnya ke kamar yaitu untuk mengambil laptop dan telepon genggamnya.
Maira kembali duduk di sofa, meletakkan laptopnya di meja lalu menekan tombol power-nya, sambil menunggu laptopnya aktif, Maira menyalakan telepon genggamnya. Taufan yang memperhatikan itu semua menjadi tercengang bukan kepalang.
“Wowow … itu ... itu yang kamu pegang … apakah itu telepon nirkabel?” seru Taufan histeris. Maira menoleh pada Taufan lalu menoleh pada telepon genggamnya. “Maksudmu ini?” tanya Maira sambil menggoyang-goyangkan telepon genggamnya. Taufan mengangguk –ngangguk cepat.
“Ya betul sih telepon nirkabel tapi ini disebutnya hape atau handphone,” jelas Maira.
Taufan melihat telepon genggam itu dari dekat dan semakin tercengang. “Tipis sekali, dan ukurannya tidak besar … kesingnya pun bagus,” gumam Taufan dengan mata menelusuri telepon genggam di tangan Maira. Maira mengerutkan keningnya melihat kelakuan Taufan.
“Ya, dan kesingnya juga bisa diganti-ganti,” tambah Maira.
“Wowow! Betulan?” kaget Taufan.
Maira mengangguk, ”Emang kamu ga tau kalau kesing hape bisa diganti-ganti?”
Taufan menggeleng, “Telepon nirkabel sulit untuk ganti-ganti kesing … ini apa tadi kamu bilang, hape ya? Ternyata hape sudah masuk sini, setauku teknologinya masih uji coba di Batam tahun ini.”
“Hah?” desis Maira tak mengerti.
“Kamu dapat dari mana hape ini?” tanya Taufan penasaran.
“Banyak … di pasar, mall, di mana-mana,” jawab Maira.
Taufan melotot terkejut, “Ya ampun, sudah di mana-mana, berarti aku ketinggalan info!”
Laptop Maira pun menyala. Maira membuka Goggle dan mengetik kata pencarian; bintang jatuh. Taufan kini tercengang melihat laptop Maira. Ia mengelus-ngelus laptopnya. “Apa yang sedang kamu lakukan Taufan?” heran Maira.
“Ini … ini laptopnya canggih banget, keluaran tahun berapa ini? Pasti laptop baru dirilis tahun ini ya … dan laptop ini ringan, wow!” gumam Taufan seraya mengangkat dan menimbang-nimbang berat laptop Maira. Maira mengerutkan kening serta mengelus-ngelus dagunya sambil memperhatikan Taufan.
“Memang laptop yang kamu tahu apa Fan?” tanya Maira.
“Paling canggih di tahun ini adalah IBM Thinkpad!” cetus Taufan.
“Hah?” cengang Maira. Itu ‘kan laptop tahun sembilan puluhan, batin Maira.
Di layar laptop, tampak banyak artikel mengenai bintang jatuh, kemudian Maira membuka tab baru, dan mengetik kata “gempa” di pencarian Goggle. “Apakah yang sedang kamu lakukan ini sedang mencari informasi dan berita?” tanya Taufan ingin tahu. Maira menatap aneh pada Taufan tapi ia mengangguk.
“Apakah itu artinya kita bisa mencari informasi apa pun di situ?” tanya Taufan lagi dengan mata terus menatap laptop Maira.
“Hmm-mm,” jawab Maira.
“Wowow, hebat! Ini terobosan tahun ini!” seru Taufan. Maira memperhatikan Taufan, ia merasa ada yang aneh dengan pria itu. “Mai, aku harus keluar dulu mencari telepon umum untuk menelpon klien, dia pasti akan menyesal karena telepon nir, eh hape, sudah datang lebih cepat dari yang aku duga,” cetus Taufan memakai kemejanya.
“Telepon umum?” gumam Maira menggaruk kepalanya lalu kembali fokus pada laptopnya. Maira mendengus tidak ada berita apa-apa yang bisa menjelaskan soal gempa, bintang jatuh atau cahaya semalam. Taufan telah berganti pakaian lalu menyelempangkan tas di bahunya.
“Aku keluar dulu Mai---“ pamit Taufan tetapi ia tercekat dan berdiri tepat di depan pintu depannya. Ternyata pintu depan pun telah menyatu dan kini memiliki dua warna. Setengah pintu berwarna putih dan setengah pintunya lagi berwarna merah muda dengan gagang pintunya masing-masing. Taufan tahu pintu berwarna putih itu adalah pintu depannya sedang yang berwarna merah muda adalah pintu depannya Maira.
“Tapi, kenapa harus ada dua pintu?” desis Taufan.
Ingin tahu, Taufan memegang pegangan pintu bercat merah muda, memutarnya, tapi belum lagi pintu itu terbuka, Taufan telah berteriak karena tubuhnya mendadak terkena setrum yang membuatnya terpelanting dua meter ke belakang.
BRAK!!
Maira terpekik kaget mendengar teriakan Taufan itu dan menoleh, tampak Taufan sedang terduduk di lantai sambil mengusap-ngusap kepalanya. “Fan! Kamu kenapa?” tanya Maira. “Coba lihat pintu keluar kita jadi dua tuh … dan waktu aku mau membuka pintumu, yang ngepink itu, tubuhku tersetrum, dan terlempar jatuh begini,” jelas Taufan.
“Hah? Masa sih?” gumam Maira.
Ia pun menghampiri pintu bercat merah muda dan membukanya.
“Bisa ah, tuh lihat,” sahut Maira seraya membuka tutup pintu.
“Coba yang pintu putih,” cetus Taufan.
Maira pun berpindah pada pintu bercat putih lalu memutar pegangan pintunya. Tiba-tiba ia menjerit, tubuhnya terpental dua meter ke belakang hingga kepalanya terantuk sofa.
Taufan tertawa, “Hahahaha, sudah kuduga!”
Maira meringis seraya memijit-mijit kepala belakangnya. Taufan mendekati pintu. “Kenapa pintumu ga bisa dibuka sama aku, dan pintuku ga bisa dibuka sama kamu ya?” heran Taufan seraya membuka pintunya. Mata Maira mendadak melotot saat melihat suasana di luar rumah melalui pintu Taufan yang terbuka itu. Ia segera bangun dan menghampiri.
“Itu … itu di luar rumah kamu tanah kosong?” tanya Maira dengan mata melihat keluar dari balik punggung Taufan. Taufan mengangguk, “Iya, kok kaget?” Maira segera membuka pintunya. “Tuh lihat, ini suasana di luar pintuku!” cetus Maira. Taufan melongok dari belakang punggung Maira, matanya terbelalak lebar. “Loh? Kok bukan tanah kosong? Sudah banyak rumah-rumah!” seru Taufan.
Mereka berdua serempak menutup pintu depan mereka.
Kemudian saling memandang.
“Kenapa suasana di luar berbeda padahal kita tinggal di satu rumah?” cetus Taufan.
“Kenapa kita ga bisa membuka pintu yang bukan pintu kita?” cetus Maira juga.
Mereka sama-sama terdiam, berpikir.
“Mai, kamu tau warung makanan sunda Raos yang di depan ga?” tanya Taufan.
“Warung? Fan itu restoran sunda gede tau,” sanggah Maira.
“Ga, ga … itu warung, kayak warung tegal gitu, yang makannya juga kebanyakan supir dan mahasiswa,” jelas Taufan.
“Bukan, tapi yang makan di situ kebanyakan bermobil dan orang kaya tau! Trus kamu tau deretan toko dan rumah-rumah mewah sebelum kamu melewati restoran Raos?” tanya Maira.
“Deretan toko? Rumah mewah? Ga ada, adanya persawahan dan rumah-rumah biasa, mana ada rumah mewah?” sanggah Taufan kemudian ia menggaruk-garuk kepalanya tak mengerti. Maira pun melakukan hal yang sama.
“Aneh, kita satu rumah tapi kok keadaan diluarnya berbeda ya … seperti ada dua dunia saja diluar itu,” gumam Taufan.
Maira berdiri terpaku mendengar kalimat Taufan itu. “Ga mungkin,” desisnya pelan. Ia mulai menduga-duga dalam benaknya apa yang sedang terjadi, tapi ia ingin lebih memastikan lagi.
“Fan, sekarang presiden negara kita siapa?” tes Maira.
“Ya Soeharto lah, semalam aku baru lihat siarannya,” jawab Taufan.
Maira terkejut memegangi kepalanya.
“Kok kaget Mai?” bingung Taufan.
“Presiden negara kita sekarang itu Jokowi!” cetus Maira.
“Ah, ngawur kamu … lagian siapa Jokowi?” kekeh Taufan.
“Fan menurutmu sekarang tahun berapa?” tes Maira lagi.
“Hehehe, kamu ngetes ya? Ya tahun sembilan belas sembilan lima lah!”
“Ya Tuhan!” pekik Maira lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Kenapa Mai? Kok kagetnya gitu?” tanya Taufan melihat Maira bereaksi seperti yang baru saja melihat hantu. “Ga mungkin, ini ga mungkin,” gumam Maira seraya kembali ke sofa dan laptopnya lalu mengetik kata-kata Warung Raos pada pencarian mesin Goggle.
“Mai, ada apa? Ngomong dong,” cetus Taufan.
Pencarian Goggle mengenai Warung Raos membuahkan hasil. Maira membacanya cepat, dan apa yang diduganya dalam benaknya ternyata benar. “Nih baca,” ucap Maira meminta Taufan untuk membaca artikel mengenai sejarah Warung Raos. Taufan membacanya hingga selesai. “Apa yang aneh Mai, sampai kalimat terakhir ga ada yang aneh ah,” ujar Taufan.
“Ya ampun kamu belum sadar juga?! Coba lihat kedua foto Raos itu,” tunjuk Maira.
Taufan melihat kedua foto itu.
“Yang sebelah kiri adalah foto Raos masih berbentuk warung, itu awal-awal saat mereka baru buka dan betul katamu kalau saat itu pelanggannya baru supir dan mahasiswa, dan foto Raos yang di sebelah kanan, itu foto Raos sekarang. Sudah sukses, sudah menjadi restoran mewah!” jelas Maira.
Dada Taufan mulai berdebar. Ia mulai mengerti maksud Maira.
“Jadi yang kamu lihat dan yang aku lihat sebetulnya tidak ada yang salah, hanya berbeda di waktunya saja! … Warung Raos yang kamu lihat itu ada di tahun sembilan belas sembilan lima! Taufan kamu mengerti maksudku? Jadi yang kamu lihat itu Warung Raos di jaman dulu. Itu artinya kamu bukan berasal dari tahun yang sama dengan yang aku jalani sekarang!” seru Maira.
Taufan terhenyak, “Memang tahun berapa yang kamu jalani sekarang?”
Maira menunjukkan telepon genggamnya.
“Ya Tuhan, dua ribu dua satu??” seru Taufan, Maira mengangguk.
Itu menjawab kenapa ia belum pernah melihat telepon genggam setipis dan secanggih itu, itu juga menjawab kenapa laptop yang dipakai Maira sangat jauh berbeda dengan laptop yang diketahuinya. “Tapi bagaimana bisa?” tanya Taufan. Maira mengangkat bahunya.
Taufan berjalan ke pintu depan, membukanya, berkata, “Jadi di luar pintuku ini adalah tahun sembilan belas sembilan lima.”
Maira pun membuka pintu depannya, menyambung perkataan Taufan, “Dan di luar pintuku ini adalah tahun dua ribu dua satu.”
Mereka terdiam sesaat lalu berkata bergantian.
“Itu artinya, aku bisa jalan-jalan ke masa depan.”
“Dan aku bisa jalan-jalan ke masa lalu.”
Lalu mereka saling pandang dan tertawa.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
TIME COLLIDE
Ramai suara orang berteriak.
Asap membumbung tinggi dari mesin mobil yang terbakar. Pecahan kaca berserakan di aspal. Pecahan kaca yang menusuk kulit serta patahan besi yang menembus daging. Darah yang menetes terlihat di mana-mana. Rintihan, jeritan dan tangisan bercampur dalam suasana riuh. Percikan-percikan bara api melayang-layang terbawa angin. Seorang gadis kecil berhasil ditarik keluar dari bangkai mobil yang penyok dengan nafas tersenggal-senggal. Terdengar lirih tangisan, seiring roda mobil ambulance berputar kencang. Gerak cepat tim dokter dan perawat yang bekerja terlihat bagai kelebatan bayang-bayang. Meja operasi, peralatan medis dan kapas-kapas yang basah darah hingga monitor grafik jantung memunculkan gambar segaris berbunyi nyaring.
Tiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttt.
***
Bola mata berwarna coklat itu berkedip-kedip.
Maira mengucek-ngucek matanya, mengusap wajahnya, ia terbangun dari tidurnya lalu melihat secangkir susu jahe dan sepotong roti berisikan selai kelapa di meja kecil samping tempat tidurnya. “Cuma tinggal satu sachet susu jahe itu yang bisa aku temukan di dapurmu dan sepotong roti dari tasku,” cengir Taufan. Maira segera membuka plastik roti tersebut dan memakannya dengan lahap. Ia teringat belum makan sedari malam.
“Mmm, ini roti kelapa dari tahunmu ya Fan?” tanya Maira dengan mulut penuh roti pada Taufan yang sedang berjalan mondar-mandir di depan kamar. “Hmm-mm,” jawab Taufan singkat. Ia terlihat sedang berpikir. “Ini enak banget, udah jarang roti kelapa model gini di tahunku,” lanjut Maira. “Kalau gitu kamu bisa ke tahunku dan membelinya sendiri,” ucap Taufan menatap serius Maira.
“Aku tahu maksud dari tatapan itu,” ucap Maira.
Taufan tersenyum, “Seperti yang kita bahas semalam bukan?”
Maira mengangguk.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semalam.
Maira duduk di atas kasurnya, memandang keluar jendela.
“Hey, aku cari-cari ke loteng ternyata kamu ada di kamar sini, Mai,” cetus Taufan. Maira segera mengusap matanya yang nyaris menitikkan air mata, seraya menyimpan foto yang baru lihatnya ke dalam kotak sepatu bekas dan menutupnya. “Eh, ada apa Mai?” kaget Taufan, “mmmm, aku boleh masuk kamar ‘kan? Secara ini masih kamarku juga?” Maira tertawa, mengangguk. Taufan melangkah masuk dan duduk di kasur kayunya sendiri.
“Apa isi kotak itu Mai?” tanya Taufan.
“Hanya foto-foto dari masa lalu,” jawab Maira lalu menyimpan kotak sepatu itu di kolong tempat tidur kemudian Maira mengusap-ngusap matanya. “Sepertinya ada yang sedang menganggu pikiranmu ya? Kalau ga keberatan kamu boleh cerita sama aku Mai,” ujar Taufan.
Maira menatap Taufan.
“Ga apa-apa Mai, kita memang baru kenal … tapi kamu boleh cerita apa aja sama aku … tenang aku ga akan ceritain ke siapa-siapa lagi, ceritamu aman sama aku, toh di tahunku siapa juga yang mau percaya dengan cerita cewek dari masa depan,” cengir Taufan. Maira tertawa. Iya juga ya, batin Maira.
Maka Maira membuka awal percakapannya dengan helaan nafas terlebih dulu, lalu ia mulai berkata, “Fan, tau ga, kalau aku ini sudah berusia tiga puluh empat tahun, single, baru dipecat dari pekerjaan dan belum kaya raya?”
“Sekarang baru tau,” cengir Taufan.
“Ya, hidup buat aku adalah sial. Semua yang kulakukan selalu berakhir apes. Aku bekerja keras seumur hidupku untuk kehidupan yang lebih baik, tapi gagal. Akhirnya aku berpikir jalan pintas untuk menipu seorang pria dari aplikasi jodoh untuk mendapatkan uang cepat, tapi sial juga, malah aku yang ditipu, tabunganku dirampoknya dan aku dianiaya,” beber Maira.
“Jadi itu mejelaskan dari mana kamu mendapatkan bengkak di jidat dan hidung?”
Maira mengangguk, “Baru mau jahat sekali aja, udah sial huffffhh … hidup baik-baik tapi gagal melulu, lihat orang-orang kayaknya hidup mereka ‘tu mudah, dapet jodoh, dapet pekerjaan yang mereka inginkan, hidup dalam gelembung mimpi bagaikan tuan putri, aku bahkan belum tau bulan depan mau bayar sewa rumah ini pakai apa?”
Taufan terdiam.
“Kenapa diam Fan? Ga ada tanggapan gitu?” cetus Maira.
“Gimana mau nanggapin orang kita sama,” sahut Taufan.
“Maksudmu?”
“Mai, aku ini sudah dua puluh lima tahun, ga punya pacar, ga punya kerjaan tetap dan sampai hari ini masih terus gagal, proyekku juga ditolak terus,” jawab Taufan, “jadi ya, hidup buatku adalah gagal, ga jauh bedalah sama kamu.”
“Oalah, jadi kita ini orang-orang gagal yang kesepian ya?” lontar Maira.
Taufan tertawa, tapi pahit.
Maira pun begitu.
“Terus, tadi kenapa kamu cari-cari aku?” lanjut Maira menyudahi sesi curhatannya. Taufan menggosok-gosok tangannya bersemangat, berkata dengan mata berbinar, “Aku punya ide, berhubungan dengan hidup kita yang penuh kesialan dan kegagalan ini Mai! Siap untuk mendengarkan?”
Maira mengangguk.
“Di depan pintu kita itu Mai, ada dua masa yang bisa membuat hidup kita berubah!”
“Hmm-mm, menarik, terus?”
“Kalau aku bisa masuk ke masamu dan kamu bisa masuk ke masaku, bayangkan apa yang bisa kita lakukan untuk merubah hidupmu sekarang dan merubah hidupku di masa lalu!”
“Bagaimana caranya? Kita bahkan terpental ketika mencoba masuk ke masa yang berbeda dengan masa kita!” sergah Maira.
Taufan manggut-manggut, “Pfffhhh … itu juga yang sedang aku pikirkan.”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Maira mereguk susu jahenya setelah selesai menghabiskan roti isi kelapanya.
“Hey Fan, saat kamu tidur semalam, semalaman aku mencari tahu di Goggle apa yang terjadi dengan rumah kita dan dengan pertemuan kita yang berbeda masa ini, aku tidak lagi mencari dengan kata pencarian ‘gempa’ atau ‘bintang jatuh’ karena itu tidak menghasilkan apa-apa, lalu aku merubah kata pencariannya dengan ‘perjalanan waktu’ atau ‘time travel’ atau kata-kata kunci yang mendekati itu … woala! Aku menemukan jurnal seorang ilmuwan dari Seattle Amerika, dan satu lagu dari seorang profesor dari Jepang, setelah aku baca, ini seperti yang tidak mungkin, tapi terjadi … coba kamu lihat dan baca sendiri apa yang kutemukan!” papar Maira menyodorkan laptopnya
Taufan menatap jurnal yang disodorkan Maira pada laptopnya untuk beberapa saat.
“Mmm, bisa kamu artikan ga apa artinya jurnal ini Mai? Aku ga terlalu ngerti Bahasa Inggris,” cengir Taufan menggaruk-garuk kepalanya. “Ya ampun, aku pikir kamu ngerti! Ngomong dong dari tadi kalau ga bisa bahasa Inggris dodol!” tukas Maira. Taufan tertawa, “Kamu aja yang jelasin, aku dengerin.”
“Jadi, menurut ilmuwan dan professor ini dalam jurnal mereka, kalau apa yang terjadi dengan kita ini biasa disebut ‘Time Collide’ atau ‘Tubrukan Waktu’. Teorinya adalah, dalam sebuah semesta yang besar ini banyak terdapat garis-garis waktu yang berjalan sesuai dengan masa masing-masing. Ketidakstabilan yang diakibatkan pergeseran alam semesta akan menggeser beberapa garis waktu tersebut keluar dari jalurnya,” jelas Maira.
Taufan mendengarkan dengan serius.
“Pada titik tertentu, garis waktu yang bergeser ini akan bersinggungan dengan garis waktu lainnya. Singgungan inilah yang akan menimbulkan gempa, memunculkan cahaya, meski ini tidak selalu … lalu menyatukan dua masa atau dua dunia, untuk membuka sebuah portal waktu!”
“Wowow … aku pikir hal ini hanya terjadi di dalam film-film saja,” cengang Taufan.
“Dan ternyata, ini sebetulnya sering terjadi loh Fan. Karena saat terjadi pergeseran lempeng bumi, atau gempa, menurut mereka, itu menandakan kalau ada di suatu tempat sebuah portal waktu yang sedang terbuka, hanya saja kita tidak tahu di mana atau mungkin tidak menyadarinya, karena area portal waktu yang terbuka itu tidak luas,” sambung Maira.
“Tapi berarti garis waktu yang akan tubrukan itu juga ga bisa diprediksi ya?” tanya Taufan.
“Menurut mereka begitu, karena ini bukan ‘time travel’ atau ‘time loop’ yang bisa diatur masa atau tahunnya, namanya tubrukan ga bisa ditebak bukan? Bisa jadi tahun dua ribu dua satu bertubrukan dengan jaman dinosaurus, atau tahun berapa aja dengan tahun berapa gitu … tergantung mana garis waktu yang tidak stabil,” jawab Maira.
“Berapa lama portal itu terbuka?” tanya Taufan lagi.
Maira menggeleng, “Sayangnya mereka tidak menjelaskan itu … jurnal ini belum selesai.”
Taufan mengangguk-ngangguk, “Baiklah, kita sekarang tahu apa penyebabnya kenapa masa kita bisa bertabrakan dan dinding rumah kita menyatu … tapi Mai, itu semua tidak menjelaskan bagaimana kita bisa saling memasuki dunia di balik pintu kita itu tanpa tersetrum dan terlempar ….”
Maira mengusap-ngusap dagunya, “Hmm … bagaimana kalau kita masuk sama-sama? Kita belum pernah mencoba itu ‘kan?”
Taufan tersenyum, “Ide bagus! Ayo!”
***
Mereka telah berdiri di depan pintu depan.
Maira telah mandi dan berganti pakaian begitu pun Taufan. Mereka saling memandang dengan wajah berbinar dan hati berdebar-debar. “Ok, siapa duluan yang mau masuk?” tanya Maira. “Aku belum pernah tahu masa depan, boleh aku duluan?” pinta Taufan. Maira tertawa, “Ok, berdiri di belakangku.” Taufan melangkah berdiri di belakang punggung Maira, menyelempangkan tasnya, mengambil nafas dan mempersiapkan dirinya.
Pintu berwarna merah muda itu terbuka.
Maira melangkah keluar diikuti Taufan. Menunggu beberapa saat lalu mereka saling pandang dan bersorak gembira. “Yes! Kita ga apa-apa! Berarti selama ada orang yang berasal dari masa tersebut, maka garis waktunya aman! Tidak ada setruman yang membuat kita terpental, hahaha … ideku berhasil!” seru Maira memeluk Taufan. Taufan terkejut dipeluk Maira, beberapa detik kemudian Maira pun baru sadar. Ia segera melepaskan pelukannya.
“Eh sori, sori Fan, aku terlalu bersemangat,” cengir Maira.
“Ga apa-apa hehehe,” kekeh Taufan.
“So Taufan, welcome in my time!” seru Maira sambil melangkah menuju jalanan, Taufan mengikutinya, “terus apa yang mau kamu lihat di masa ini Fan?”
“Aku ingin ke toko hape dan komputer!” seru Taufan.
“Hmm, kedengarannya kamu yakin banget mau kesana, ok kalau begitu, sebentar,” ujar Maira. Taufan melihat Maira yang sedang menggeser-geser layar telepon genggamnya. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Taufan. “Toko hape dan komputer itu jauh, jadi aku harus memesan taksi online dulu, semoga saja aku masih ada sisa saldo ya,” gumam Maira. “Taksi online? Jadi kamu bisa memanggil taksi lewat hape itu?” heran Taufan.
“Ya … dan bukan memesan taksi saja, aku juga bisa memesan makanan, beli kebutuhan pokok, bayar-bayar tagihan bulanan, nonton film, dengar radio, nonton televisi, baca berita, mentransfer uang, mengirim video bahkan bisa menyalakan nuklir!” urai Maira.
“Hah?” kaget Taufan.
“Tentu saja yang terakhir itu bohong hehehe … tapi dengan alat ini kamu memang bisa melakukan banyak hal!
“Wowow! … Canggih banget! Aku harus punya itu!” tandas Taufan.
“Kamu punya uang untuk membelinya?” tanya Maira, Taufan menggeleng.
“Sudah kuduga,” sahut Maira berjalan menuju taksi online yang telah tiba, “ayo, kita kesana lihat-lihat aja dulu, tapi ingat Taufan, jangan norak yaa!”
Taufan mengangguk cepat.
***
Taksi online melesat melewati gedung-gedung tinggi.
Taufan menatap gedung-gedung itu dengan kerutan di dahi.
“Ada apa dengan tatapanmu itu Fan?” tanya Maira.
“Awalnya aku pikir kota di tahun dua ribuan itu akan dipenuhi dengan mobil-mobil terbang, motor-motor listrik tanpa bensin, robot-robot berjalan di mana-mana dan mereka hidup berdampingan bersama manusia, kereta api yang relnya melingkar-lingkar di gedung-gedung tinggi itu … tapi ini kok ga jauh beda sama di masaku ya?” kecewa Taufan, “hanya gedungnya aja yang bertambah banyak, lalu lintasnya bertambah macet, padat dan ga nyaman … enak di masaku malah, lalu lintasnya lancar, udaranya pun bersih.”
“Hahaha,” tawa Maira mendengar kekecewaan Taufan, “kenyataan memang menyebalkan ya … tapi kamu ga salah sih, waktu aku kecil aku juga membayangkan masa depan itu seperti itu … ternyata zonk!”
“Padahal di masa ini teknologi hape dan laptopnya ‘kan sudah maju banget ya … kenapa kita ga membuat inovasi lain dengan teknologi itu? Seperti robot, motor listrik, mobil terbang dan lain-lain ya,” heran Taufan. “Fan, kalau di luar negeri semua teknologi itu sudah dilakukan dan dikembangkan, malah Jepang sudah bisa bikin robot Gundam yang tingginya delapan belas meter dan bisa bergerak loh,” koreksi Maira.
“Wowow! Oiya?” cengang Taufan, “trus kenapa negara kita ga bisa?”
“Di saat negara lain berinovasi dengan teknologi, di negara kita masih ribut soal politik, agama dan teori konspirasi hehehe,” sinis Maira. Taufan menggelengkan kepala, “Aku pikir di masa ini, negara kita sudah melesat menjadi negara teknologi dengan ilmuwan-ilmuwan mudanya.”
Maira tertawa, getir.
***
Beberapa saat kemudian.
Taksi online berhenti di depan sebuah gedung pusat penjualan telepon genggam dan komputer, bernama Alphacentrum. Taufan segera turun dari taksi dan berlari ke dalam gedungnya. “Wowowow!!” teriaknya di tengah-tengah gedung dengan tangan terbuka dan mata yang melebar. Ribuan telepon genggam dan laptop dengan berbagai kesing dipajang di etalase-etalase toko dalam gedung yang berlantai tiga itu. “Aku akan kaya raya!!!” teriak Taufan lagi.
Semua orang menatap Taufan aneh.
“Mai! Mai! Sini lihat semua hape ini, kamu betul, semua hapenya bisa ganti-ganti kesing! Mai!” panggil Taufan. Sedang Maira pura-pura tidak melihatnya, ia pura-pura sibuk memilih laptop. Taufan berteriak lagi, “Mai! Hey Mai sini!” Salah seorang pengunjung mall mencolek bahu Maira, berkata, “Kamu Mai bukan? Dipanggil tuh.” Maira segera menggeleng cepat, “Bukan, bukan … saya Amanda Manopo lagi nyamar hehehe.” Maira melotot pada Taufan, lalu berjingkat-jingkat pergi. “Ga kenal, maaf saya ga kenal sama ‘tu orang ya, hehehe,” cengir Maira pada orang-orang yang menatapnya.
Taufan segera menyusul Maira yang berjalan keluar gedung mencari lokasi sepi.
“Mai! Ada apa? Kok pergi?” tanya Taufan. Maira mengepalkan tangannya, memasang wajah kesal. “Hiiiiiih, ‘kan sudah kubilang jangan norak!” gemas Maira. Taufan nyengir, “Maaf Mai, aku terlalu bersemangat pas lihat kesing-kesing hape itu.” Maira menghela nafasnya, ia mencoba memahami keterkejutan Taufan atas hal ini. “Memangnya kenapa sih kamu semangat banget lihat kesing hape?” tanya Maira penasaran.
Taufan mengeluarkan dua lembar kertas perencanaan proyek pabrik kesing dari dalam tasnya, lalu menunjukkannya pada Maira, “Lihat Mai!” Maira melihat dan membacanya sebentar, lalu berkomentar, “Hmm, pantas saja bersemangat, kamu ingin punya pabrik kesing toh.” Taufan mengangguk.
“Karena di masaku, pabrik kesing untuk hape itu belum ada! Tapi lihat sekarang! Semua orang memakai hape, itu artinya semua orang membutuhkan kesing! Ini akan menjadi bisnis yang menguntungkan, itu berarti juga sense of businessku ga salah! Yes!!” serunya sambil membayangkan lelaki tua yang menolak proposal bisnisnya akan menyesal.
Maira tersenyum, “Kamu visioner juga ya, bagaimana kamu bisa tahu itu semua?” Taufan menyimpan kertas-kertas itu ke dalam tasnya lagi, “Analisa dan informasi yang bisa dipercaya Mai, aku melihat kalau era telepon umum dan telepon rumah akan tergeser dengan teknologi telepon nirkabel! Tapi tidak menyangka kalau teknologi telepon nirkabel bisa berkembang menjadi hape seperti ini! Melihat ini semua, sepertinya selain kesing, aku juga akan membangun pabrik hape.”
Tiba-tiba.
“Hey!” teriak seorang pria berbadan besar.
Maira dan Taufan menoleh. “Anda, ‘hey’ ke kami?” tanya Maira ingin memastikan. Pria itu mengangguk dan menghampiri. Taufan mendadak cemas, begitu pun Maira, melihat kedatangan pria bertubuh besar itu. “Anda yang tadi berteriak di dalam gedung ‘kan?” tanyanya tegas pada Maira. Maira menggeleng-geleng lalu menunjuk pada Taufan, “Dia nih!” Taufan menelan ludahnya. Gawat, dari perawakannya sepertinya seorang bodyguard, batin Taufan.
“Iya saya, maaf jadi bikin gaduh tadi, maafkan ya Pak,” mohon Taufan.
“Ikut saya!” tegasnya menarik Taufan.
Maira segera berdiri menghadang di hadapan pria berbadan besar itu. “Eh, eh … mau dibawa kemana temen saya ini Pak? Dia cuma tereak doang kok tadi, ga nyolong hape!” tukas Maira. “Bos Besar saya pengen ketemu!” cetusnya. Maira dan Taufan sama-sama mengerutkan keningnya. “Bos Besar? Mau ketemu? Mau ngapain? Memang siapa bosnya Pak?” tanya Maira. “Beliau pemilik gedung ini! Minggir!” sentak pria itu galak. Maira segera menuruti, ia memberi jalan pria besar itu, ia tak mau membuat pria yang memiliki tubuh sebesar bison ini marah.
“Ada apa Bos Besar mau ketemu saya Pak?” tanya Taufan. Pria itu hanya mengangkat bahu lalu menarik Taufan lagi, Maira segera mengikutinya.
Sampai di tengah gedung mereka melihat seorang pria necis berjas merah marun tengah dikelilingi para manajemen gedung juga para bodyguard-nya. Pria itu melihat kedatangan Taufan dan Maira. “Ah ternyata seorang anak muda! Lihat rekan-rekan semuanya, anak muda itulah yang tadi berdiri di tengah gedung ini dan berteriak, ‘aku akan kaya raya!’ semangat seperti itu harus menjadi contoh buat kalian, kebetulan, hari ini saat saya inspeksi gedung ini, saya mendengar teriakannya tadi, itu seperti sebuah seruan keberanian dari mimbar suci yang penuh semangat, kita semua harus menirunya,” khotbah pria itu pada tim manajemen gedungnya lalu ia menggoyangkan tangannya memberi tanda pada Taufan agar mendekat.
Semua orang tersenyum dan bertepuk tangan untuk Taufan.
Lega hati Taufan, tadinya ia mengira akan mendapatkan hukuman karena berteriak-teriak di dalam gedung, ternyata malah disambut seakan seorang motivator ulung. Maira pun ikut tersenyum. Para penjaga keamanan membuka jalan untuk Taufan. Taufan melangkah mendekati pria itu. “Apa yang dilakukan pemuda ini mengingatkan saya akan perjuangan dulu membangun Alphacentrum ini, mengingatkan saya juga akan gigihnya perjuangan----“ pria itu tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba terjadi guncangan keras yang membuat gedung bergoyang.
Semua orang terkejut dan panik.
“Gempa!!” jerit orang-orang seraya berhamburan menyelamatkan diri. Taufan mendadak merasakan setruman pada tubuhnya dan membuatnya terpental. Maira menjerit melihat Taufan berguling-guling menghantam etalase. “Selamatkan Bos!!” teriak para bodyguard yang dengan cepat melindungi pria berjas merah marun itu untuk segera membawanya keluar gedung.
Guncangan itu pun perlahan mereda.
“Apa yang terjadi Fan?!” seru Maira membantu Taufan untuk berdiri. Taufan berjalan sempoyongan dipapah Maira. “Aku … aku merasakan tersetrum dan itu membuatku terpental Mai,” terang Taufan. Maira mengerutkan kening, “Apakah rasanya sama seperti saat kita terpental dari pintu depan?” Taufan mengangguk. “Kok bisa ya,” gumam Maira.
“Mai, kamu ingat soal persinggungan garis waktu yang kamu jelaskan tadi pagi?” tanya Taufan. Maira mengangguk. “Dan bila garis waktu itu bersinggungan maka akan menimbulkan gempa?” tambah Taufan. Maira mengangguk lagi.
“Jadi maksudmu gempa tadi akibat dari ada wenya persinggungan itu? Aku pikir tadi gempa bumi alami,” ujar Maira.
“Sepertinya ada orang yang sama dari masaku, dari garis waktuku,” cetus Taufan.
“Berarti orang itu telah menemukan portal waktu juga?”
Taufan menggeleng, “Bukan Mai … bukan orang lain, tapi yang bersinggungan dengan garis waktuku adalah diriku sendiri … dari masa ini.”
“Apa?” cengang Maira.
“Aku pikir pria yang disebut ‘Bos Besar’ tadi … adalah … aku!” pungkas Taufan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
RAHASIA MASA DEPAN
Maira sedang duduk di sofa menatap Taufan.
“Sepertinya kita tidak bisa bertemu dengan diri kita sendiri di masa yang kita masuki Mai,” terang Taufan setelah apa yang dialaminya tadi.
Maira mengangguk, “Ya, itu akan membuat garis waktunya berguncang, dan membuat kita tersetrum dan terpental … tapi, apakah kamu yakin kalau Bos Besar itu kamu?”
“Kalau tidak kenapa aku tersetrum dan terpental? ” tanya balik Taufan.
Tiba-tiba Taufan tertawa kemudian ia melompat-lompat senang dan berjingkrak-jingkrak.
Maira terkejut, “Hey apa yang kamu lakukan?”
“Bergembira Mai! Karena akhirnya aku menjadi orang sukses! Aku kaya raya! Aku pemilik Alphacentrum! Hahaha … buat pak tua yang meremehkanku, hey pak tua lihat, aku juga punya bodyguard! Malah badan bodyguardku lebih gede dari pada badan bodyguardmu! Hahaha,” seru Taufan tertawa-tawa.
Maira mendengus, “Ya tapi tetap saja kamu harus bekerja keras supaya itu terwujud.”
“Iya sih hehehe … tapi bagusnya, aku jadi tau kalau kerja kerasku ga sia-sia karena akhirnya aku tau aku berhasil, yes!” sahut Taufan mengepalkan tangan.
“Iya deh … jadi, kapan kamu mau membawaku ke masamu?” tukas Maira.
“Besok pagi, ok? Malam ini aku sudah menyiapkan dua buah mie goreng rasa rendang buat kita, untuk merayakan kesuksesanku Mai! Bayangin, mie goreng rasa rendang, di masaku itu belum ada loh,” cetus Taufan.
Maira geleng-geleng dengan wajah cemberut, “Besok? Besok tanggal berapa?”
“Tanggal sepuluh, kenapa gitu Mai?”
“Aku takut melewatkan tanggal itu.”
“Ada apa dengan tanggal itu Mai?”
Maira mendesah, “Kenapa ga sekarang aja sih?”
“Ayolah Mai, hari ini, berbahagialah dulu untukku … aku si pecundang ini akhirnya bisa meraih sukses juga, plisss,” mohon Taufan. Maira menghela nafas dan akhirnya mengangguk, “Ok, ok … tapi dari mana kamu dapat mie? Bukannya di dapur sudah ga ada makanan dan kamu ga punya uang?”
“Aku beli di warung sebelah rumah sebelum kita masuk tadi Mai,” terang Taufan lalu merogoh-rogoh kantung-kantung celananya dan menunjukkannya pada Maira, “inilah salah satu enaknya pakai celana banyak kantongnya, suka ada duit recehan yang nyelip, hehehe.”
Maira tertawa.
Tak lama Taufan pun menyuguhkan dua piring mie goreng rendang instan. “Mmmmh, sedap ya baunya,” sahut Taufan seraya menghirup aroma mie tersebut kemudian mengaduk-ngaduk mie lalu menyuapnya. “Enak banget ini … tinggal pake nasi, kayak makan sama rendang deh,” sambung Taufan sambil mengunyah. Maira hanya geleng-geleng melihat Taufan, “Aku malah sudah eneg Fan, kebanyakan makan mie sebulan ini.”
“Kenapa makan mie terus?” heran Taufan.
“Ngirit duit,” cengir Maira, Taufan tertawa.
“Eh Mai, aku boleh pinjam hapemu ga?” tanya Taufan.
Maira mengerutkan kening, “Untuk apa?”
“Untuk presentasi bisnisku,” jawab Taufan.
“Bukankah katamu di masamu hape sudah ada?”
“Ya, tapi belum masuk sini. Aku ingin jadi orang pertama di kota ini yang membawa dan memproduksinya Mai … bayangin, kalau pabrikku bisa memproduksi kesing juga hapenya. Wowow! Aku bakal kaya raya!”
“Boleh, bawa aja tapi hapeku yang rusak, gimana?” tawar Maira.
“Rusak?”
“Hmm-mm, layarnya pecah dan ga bisa nyala,” terang Mai.
“Ga masalah Mai … yang penting aku punya prototipenya!” cetus Taufan senang.
“Tapi inget, kalau prersentasimu berhasil dan kalau kamu sudah kaya raya, jangan lupa aku yaaa,” pesan Maira. “Tentu tidak Mai, aku akan selalu ingat kamu!” janji Taufan. Maira manggut-manggut antara percaya dan ragu
“Fan, tapi betul ya besok aku harus masuk ke masamu,” tegas Maira.
Taufan menatap Maira, “Sepertinya mendesak sekali Mai.”
Maira mengangguk, “Ada yang harus aku lakukan.”
“Eh, apa itu?” tanya Taufan ingin tahu.
“Sesuatu yang akan merubah hidupku sekarang,” jawab Maira.
Taufan mengangguk, ia tidak berani bertanya lebih lanjut mengenai keperluan Maira tersebut. “Baiklah, apapun itu yang akan kamu lakukan besok, aku akan membantumu,” tandas Taufan.
Maira tersenyum. Taufan kembali menikmati mie gorengnya sedang Maira memperhatikan Taufan diam-diam. Wajahnya sih biasa aja, tapi seorang pria yang baik hati dan gigih dalam memperjuangkan mimpinya adalah seksi, batin Maira. Dia datang di titik kritis dalam hidupku, datang dari masa lalu melalui portal waktu, apakah dia datang memang ditugaskan untuk menyelamatkanku dari hidupku yang menyedihkan ini? Atau malah aku yang datang dari masa depan untuk menyelamatkan dia dari kehidupan seorang pecundang? Ga taulah, yang jelas aku bersyukur hal ini terjadi, batin Maira.
Sejam kemudian.
Piring-piring bekas makan mie goreng telah dicuci bersih. Percakapan telah diselesaikan, tampaknya Taufan telah tertidur lebih dulu dengan mimpi-mimpi suksesnya sebagai pengusaha kesing dan telepon genggam juga sebagai pemilik gedung Alphacentrum. Bibirnya mengulas senyum saat terlelap di sofa.
Setelah ditunggu beberapa saat, terdengar dengkuran Taufan.
Maka Maira bergegas mengambil tas Taufan, membukanya perlahan-lahan. Ia mencari-cari tanda pengenalnya dan dengan mudah ia bisa menemukan KTP Taufan di dalam dompetnya. Ia membacanya. “Nama lengkapnya Taufan Putra, umurnya baru dua puluh lima tahun … tapi kalau di tahunku sekarang berarti umurnya … lima puluh satu!” seru Maira tertahan karena tak ingin membangunkan Taufan. “Wah sudah tua juga ya,” gumam Maira.
Maira segera memasukkan kembali KTP Taufan ke dalam dompet dan menyimpannya kembali ke dalam tasnya kemudian Maira menyalakan laptopnya, setelah menyala dan internetnya menyambung maka Maira mengetikkan nama lengkap Taufan tersebut di mesin pencarian Goggle. Tak lama kemudian, tampak di layar laptop Maira data sosial media semua orang yang bernama Taufan Putra bermunculan. “Pfffhhhh, namanya pasaran amat sih, jadi banyak gini,” keluh Maira. Ia mulai mengklik satu persatu sosial media orang-orang tersebut tapi tidak ada seorang pun yang sama dengan Taufan Putra yang sedang mendengkur di sofa itu.
Malam larut semakin bergulir.
Maira mengucek-ngucek matanya, rasa kantuk mulai datang. “Ni orang ga punya sosmed apa ya, kok ga ada di mana-mana sih,” gumam Maira. Ia mengetuk-ngetuk telunjuknya di meja, berpikir. “Ah!” Maira mendapatkan ide. Ia mengetik di kata pencarian dengan kata-kata; pemilik alphacentrum. “Kalau benar si Bos Besar itu adalah dirinya, maka akan muncul fotonya si Taufan … hmmm, coba kita lihat,” desis Maira lalu menekan tombol enter. Klik!
Setelah menunggu beberapa saat, hasil pencarian itu memberikan hasil. Tampak di layar laptop artikel-artikel mengenai Alphacentrum. Maira mulai menelusuri dan membaca artikel-artikel tersebut. Ia pun mengunjungi website Alphacentrum untuk mencari struktur manajemennya. Maira terkejut. Dari struktur manajemen itu Maira menemukan profil pemilik Alphacentrum dan benar bahwa pemilik Alphacentrum adalah pria yang dipanggil “Bos Besar” dengan jas merah marun tadi tapi itu bukan Taufan! Umurmya pun jauh lebih muda dengan Taufan yang berusia 51 tahun di masa ini.
Rasa kantuk Maira menghilang.
Ia jadi penasaran ingin mencari tahu apa yang terjadi dengan Taufan Putra di tahun 2021 ini.
“Hmm, kalau si Bos Besar itu bukan Taufan di masa sekarang … lalu kenapa Taufan bisa terkena setrum dan terpental karena berdekatan sama dia?” gumam Maira.
Maira mencari tahu tentang pemilik Alphacentrum itu lebih dalam. Ia mengecek latar belakang, keluarganya juga sosial medianya hingga akhirnya Maira menemukan sebuah tautan yang membawanya pada sebuah berita yang membuatnya tercengang dan tak bisa berkata-kata.
“Ya Tuhan,” lirih Maira seraya berkali-kali mengusap wajahnya seakan tak percaya.
***
Pagi itu, Taufan sedang berada di sebuah telepon umum.
Ia sedang berbicara penuh semangat dengan seseorang di ujung telepon sana. “Betul Pak, saya Taufan … iya, saya pernah mengirimkan proposal pengajuan kerjasama kepada perusahaan Bapak, untuk pabrik kesing … iya betul kesing, semacam selubung atau penutup dari plastik untuk hape … eh maksud saya untuk telepon nirkabel … tolong beri saya waktu untuk bertemu agar saya bisa menjelaskan proposal ini dengan lebih detil, saya juga akan membawa sebuah prototipe teknologi terbaru dari masa depan!” papar Taufan dengan skill membujuk yang mumpuni.
Ia diam sebentar mendengarkan tanggapan orang di ujung telepon sana.
“Saya tidak bohong Pak … teknologi ini dan kesing telepon ini pasti akan menjadi bisnis yang menguntungkan karena di masa depan semua orang akan memakainya Pak! Saya bisa jamin … gimana Pak … oh maksud Bapak, saya tau dari mana itu semua gitu? Berdasarkan analisa, informasi yang tepat dan saya juga punya sense of business yang bagus,” senyum Taufan.
Ia mendengarkan lagi tanggapan orang di sana.
“Baik Pak … terimakasih banyak atas waktunya … saya tidak akan mengecewakan Bapak! Nanti sore saya akan ke kantor Bapak, baik Pak. Terimakasih banyak sekali lagi.”
Setelah itu Taufan menutup gagang teleponnya. Wajahnya berseri-seri. “Yessss!!” teriaknya dengan tangan mengepal mengagetkan orang yang sedang mengantri di belakangnya untuk menelepon. “Eh sori, sori” cengir Taufan pada orang itu. Orang itu hanya mendengus kesal karena terkejut dengan teriakan Taufan tadi.
Sepanjang berjalan pulang, Taufan bersiul-siul senang.
Ia menatap matahari pagi yang bersinar cerah dan ayam-ayam tetangganya yang sedang berkeliaran mencari makan di tanah kosong. Betul kata orang tua, jangan bangun siang, karena kalau bangun siang rejeki kita akan dipatok ayam. Untung saja tadi ia bangun pagi untuk menghubungi calon investornya dan betul saja ia berhasil mendapatkan rejeki sebelum dipatok ayam-ayam itu. Taufan tertawa. Inilah jalan pertamanya menuju orang sukses, untuk menjadi Taufan si pemilik Alphacentrum! seru Taufan di hatinya.
Tiba-tiba perutnya berbunyi, Taufan memegangi perutnya yang lapar, ia menyadari ia belum sarapan pagi ini. Ia pun mampir ke sebuah warung, merogoh-rogoh kantong celananya dan melihat uang recehnya yang hanya cukup untuk membeli sepotong roti isi kelapa dengan satu sachet susu jahe. Taufan teringat Maira yang suka dengan roti isi kelapa dan susu jahe. Ia pun membelikannya untuk Maira.
***
“Ayo bangun Putri Tidur ….”
Maira mengerjap-ngerjapkan matanya mendengar suara yang membangunkannya itu lalu ia membuka matanya. Di depan matanya tampak wajah Taufan dengan senyum lebarnya. “Sudah siapkah Tuan Putri untuk berpetualang ke masa lalu?” ucap Taufan dengan lembut. Maira tertawa, mengangguk, “Tentu saja.” Maira bangun dari tidurnya dan langsung tercium harum susu jahe di hidungnya. Ia pun melihat sepotong roti isi kelapa di samping cangkir susu jahe tersebut. “Waah, harumnya enak banget,” cetus Maira. Ia meraih cangkir itu, meniupinya sebentar lalu mereguknya pelan-pelan. Rasa manis dan pedas menyapa lidahnya kemudian mengaliri tenggorokannya untuk diam memberi hangat di perutnya. “Ahhhhh, sedapnyaaaa,” puji Maira.
Taufan tersenyum.
Kemudian Maira mengambil sepotong roti isi kelapa itu dan mulai mengunyahnya. “Kamu pasti pagi-pagi sekali tadi keluar ya ke masamu buat beli roti ini?” tebak Maira. Taufan mengangguk. “Thanks buat recehan di kantong celanamu itu Fan, recehanmu menyelamatkan perut kita dari busung lapar hahaha … eh kamu sudah sarapan?” tanya Maira. “Sudah dong, dan sudah mandi pula … sepertinya kamu tidur larut malam ya semalam? Ngapain Mai?” tanya Taufan balik.
Maira terdiam, berpikir sebentar, ia tak bisa mengatakan pada Taufan berita apa yang baru dilihatnya semalam, mungkin tidak sekarang, lalu Maira menjawab, “Mmmm … cari-cari info lowongan kerja ….” Taufan manggut-manggut, “Bagus itu tapi ngapain cari lowongan kerja, ngelamar aja di Alphacentrum, aku yakin, Taufan masa sekarang pasti hapal sama kamu dan ingat tentang kejadian kita ini, dia pasti akan menerima kamu Mai!”
“Eh … iya hehehe,” cengir Maira canggung, “nanti aku pikirkan, aku mandi dulu ya Fan.” Maira bergegas ke kamar mandi. Taufan menggosok-gosok tangannya, tak sabar akan membawa Maira ke masanya, menunjukkan hal-hal menarik di masanya. “Ini akan berjalan sangat baik,” ucap Taufan tersenyum.
Tak sengaja matanya melihat pada laptop Maira yang masih terbuka dalam posisi standby.
Ingin tahu, Taufan mendekat. Ia menekan tombol power-nya yang membuat layar laptop itu menyala. Pada layarnya Taufan melihat beberapa tab internet yang telah dibuka Maira. “Sepertinya Mai mencari keberadaan aku di masa ini,” gumam Taufan melihat itu semua. Ia menekan klik pada beberapa artikel tentang perusahaan Alphacentrum, membacanya. Ia juga membaca mengenai struktur manajemen perusahaan tersebut.
Dan itu membuat jantung Taufan seakan berhenti berdetak.
Tiba-tiba terdengar pintu kamar mandi yang terbuka. Maira terlihat segar setelah mandi dan terpaku diam saat melihat Taufan sedang berdiri tercenung di depan laptopnya yang sedang menyala. Maira menghela nafas karena Taufan telah mengetahui yang sebenarnya.
“Kapan kamu mau mengatakannya padaku Mai … teganya kamu membuat aku berpikir kalau aku adalah si Bos Besar ….” ucap Taufan lemah.
“Aku baru tau semalam dan aku menunggu waktu yang tepat Fan,” kilah Maira.
“Kalau bos besar itu bukan aku … lalu aku ada di mana di masa ini?” lirih Taufan.
Maira mengusap-ngusap dagunya, sedikit ragu untuk mengatakannya. Taufan menatap Maira yang terlihat gelisah itu. “Sepertinya kamu tahu ya?” selidik Taufan. Maira mengangguk pelan, dengan berat hati, ia menunjukkan sebuah berita di laptopnya. Taufan membaca berita tersebut.
“Ya Tuhan ….” desisnya terkejut.
Ia pun terduduk lemas dengan perasaan tak menentu.
“Tadinya aku ga mau ngasih tahu kamu Fan … tapi karena kamu bertanya ….” desis Maira.
“Ya aku mengerti Mai,” ujar Taufan menundukkan kepala.
“Itulah kenapa, masa depan itu harusnya menjadi sesuatu yang tetap rahasia, kita tidak perlu tahu atau ingin tahu apa yang akan terjadi dengan masa depan kita, kalau tidak siap, itu akan kena mental kita Fan,” ucap Maira.
“Takdirku jelek banget ya Mai … udah pecundang eh mati di usia muda, hehehe,” tawa pahit Taufan.
Maira duduk di samping Taufan melingkarkan tangannya di bahu Taufan, berkata, “Tapi kamu bukan pecundang kok … aku ngomong ini bukan buat menghibur kamu loh … ini buktinya, akhirnya kamu sukses dan bisa memberikan jalan, dengan bisnis yang telah kamu rintis itu, untuk anakmu sehingga ia bisa jadi pemilik Alphacentrum baik gedungnya maupun pabrik kesing dan komponen hapenya … lihat deh di websitenya, ada foto kamu di situ sebagai founder Alphacentrum … kamu hebat kok Fan.”
Taufan manggut-manggut sambil melihat website Alphacentrum di laptop.
“Jadi kemarin aku tersetrum dan terpental karena dia anakku? Masih keturunanku?” gumam Taufan, Maira mengangguk. “Yah setidaknya aku berhasil membuat keturunanku sukses ya, meskipun umurku ga sampe lima puluh tahun,” ringis Taufan.
“Tapi untuk apa juga panjang umur kalau miskin?” tandas Maira.
Taufan menatap Maira, mereka saling bertatapan lalu tertawa keras berbarengan.
“Bener juga kamu Mai, hahaha,” gelak Taufan.
“Bener kaaan? Jadi … apakah sekarang aku bisa ke masamu? Atau kalau kamu masih kaget atas berita kematianmu dan mau menenangkan pikiran dulu, kita bisa tunda besok,” ujar Maira memberikan penawaran. Taufan menatap mata Maira, “Semalam kamu bilang, kamu harus ke masaku hari ini, tidak boleh melewatkan tanggal ini bukan?”
Maira mengangguk, “Kalau gitu, kita nunggu apa lagi?”
“Ayo!” ajak Taufan menarik tangan Maira. Maira terkejut pada genggaman tangan Taufan itu. Ia merasa senang, entah kenapa. “Nah sekarang diam di belakangku, siap?” ucap Taufan. Maira mengangguk sambil terus menatap genggaman tangan Taufan.
Tetapi belum lagi Taufan membuka pintunya terjadi suara gemuruh. Taufan dan Maira terkejut. Selang beberapa detik kemudian rumah mereka berguncang keras.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
MERUBAH MASA LALU
Gempa itu datang lagi.
Tubuh Maira bergoyang-goyang mencari keseimbangan. Taufan segera menarik Maira ke dalam pelukannya.
“Apa yang terjadi??” panik Maira.
Taufan menggeleng tidak tahu. “Tapi Mai, lihat itu!” tunjuk Taufan pada dinding rumah mereka yang perlahan bergerak terpisah. Maira juga memperhatikan dinding-dinding dan benda-benda di dalam rumah mereka yang mulai kembali seperti semula. Beberapa saat kemudian guncangan itu pun berhenti tapi Taufan dan Maira masih berpelukan dalam kebingungan.
“Apakah kamu memikirkan seperti apa yang aku pikirkan Fan?” tanya Maira setelah melihat dampak dari gempa itu.
Taufan melihat isi rumah, lalu berkata pelan, “Ya. Portal waktunya akan menutup.”
“Betul sekali, dinding dan benda-bendanya mulai memisahkan diri lagi … eh ehem!” dehem Maira mencolek lengan Taufan yang sedang memeluknya. Taufan terkejut dengan pipi memerah, “Oh iya sori … gempanya udah berhenti ya, hehehe.” Taufan pun melepaskan pelukannya. Maira merasakan ada ruang kosong di perasaannya ketika Taufan melepaskan pelukannya itu tetapi ia menyimpannya dalam hati.
“Jadi, sekarang juga, bawa aku ke masamu Fan, sebelum portal itu menutup!” cetus Maira. Taufan mengangguk dan membuka pintu bercat putih. Ia melangkahkan kakinya keluar, diikuti Maira dari belakangnya. “Baiklah Mai, selamat datang di tahun----“ belum selesai Taufan dengan kalimat sambutannya, Maira sudah berlari lebih dulu meninggalkan Taufan. “Hey Mai!” seru Taufan terkejut dan mengejarnya. “Kamu mau kemana tergesa-gesa begitu?” tanya Taufan setelah behasil menyusul Maira.
“Jam berapa sekarang?” tanya Maira.
“Jam sepuluh Mai,” jawab Taufan.
“Duh! Semoga aku belum terlambat,” gumam Maira mempercepat larinya.
Setelah berlari melewati beberapa blok, Maira berhenti. Ia menatap pada sebuah rumah yang berada di seberang jalan. Jantungnya berdebar tegang. Di balik pagar tampak seorang anak perempuan kecil dengan rambut panjang yang dikepang dua sedang bernyanyi dan bermain sendiri sedang di belakangnya tampak sebuah mobil yang mesinnya sedang dipanaskan. Maira menatap anak perempuan itu.
“Untung saja, belum terlambat,” ucap Maira.
“Ada apa Mai?” bisik Taufan.
“Fan … berapa meter jaraknya supaya kita ga tersetrum dan terpental?” tanya Maira tidak mengindahkan pertanyaan Taufan tadi. Taufan mengangkat bahunya, “Entahlah, tiga meter? Atau dua meter ya? Yang jelas jangan terlalu dekat, karena kemarin itu, aku sudah terlalu dekat.” Setelah Taufan selesai bicara, Maira menyeberangi jalan menuju rumah itu. Taufan mengikuti.
Di depan pagar, Maira berhenti.
“Apa yang mau kamu lakukan Mai? Siapa anak itu?” bisik Taufan. Maira tak menjawab, ia hanya terus menatap anak perempuan yang masih asyik bermain belum menyadari kehadiran Maira dan Taufan di luar pagar rumahnya. Maira menarik nafas dalam, lalu menghelanya perlahan. Mengatur degup jantungnya yang berdebar tegang agar menjadi lebih tenang.
“Pssst … Dek …” panggil Maira pelan.
Anak perempuan itu terdiam lalu menoleh dan melihat Maira beserta Taufan yang berdiri berdampingan. Anak itu mengerutkan kening, “Siapa kalian?” tukasnya.
“Kami adalah temanmu,” jawab Maira.
Anak perempuan itu menggeleng, “Tidak! Aku tidak punya teman setua kalian!”
Taufan nyengir, “Iya juga sih.”
Maira menyikut Taufan untuk diam.
“Baiklah, kalau begitu … Kakak titip pesan aja ya,” ucap Maira.
“Titip pesan? Buat siapa?” sahut anak perempuan itu.
“Buat kamu,” tunjuk Maira pada anak perempuan itu.
“Buatku?” heran anak perempuan itu, “pesan apa?”
“Bilang sama Papah dan Mamahmu, kalau hari ini kamu tidak mau pergi ke pantai ya,” jawab Maira tersenyum. “Kenapa aku tidak boleh pergi ke pantai? Kenapa Kakak larang aku?” tangkas anak perempuan itu seraya menatap aneh pada Maira. “Cuaca di pantai sedang ga bagus,” jawab Maira sekenanya.
“Siapa Kakak datang-datang melarang aku, Papah dan Mamah untuk pergi? Pokoknya aku mau pergi ke pantai!” tolaknya.
Maira menghela nafas, bersabar.
“Jangan, mending ke taman ria atau ke bioskop aja ya,” bujuk Maira.
“Kakak siapa sih? Kok ngatur-ngatur aku?!” ketus anak perempuan itu.
“Pokoknya bilang ke Papah Mamahmu kalau kamu ga mau ke pantai, ya!” desak Maira. Anak perempuan itu mulai gelisah dan menggeleng-geleng. “Denger Kakak ya, jangan ke pantai!” cetus Maira kini dengan suara yang keras. Anak perempuan itu mulai menangis dan berteriak, ““Pah!! Ada penculik … Mah ada penculik!!” Taufan terkejut anak itu memanggil orang tuanya. “Mai, ayo kita pergi Mai,” bisik Taufan panik tapi Maira bergeming.
Tak lama keluar kedua orang tua anak perempuan itu dari dalam rumah.
Maira terpaku melihatnya.
“Ada apa Nak!?” tanya mamah dari anak itu terkejut begitu pun papahnya. Mereka segera memeluk anak mereka sedang anak itu menunjuk pada Maira dan Taufan. “Mereka itu mengganggu aku Pah!” adu anak perempuan itu. Taufan nyengir dengan wajah serba salah, berkelit, “Eh hehehe, ga gitu Pak, Bu … hehehe … kita ga ganggu anak Bapak Ibu kok.” Lalu Taufan menarik lengan Maira untuk pergi tapi Maira menepiskan tangan Taufan. Taufan terkejut dan tak mengerti melihat sikap Maira ini.
Bibir Maira bergetar, ia ingin berkata tapi tak bisa. Kedua bola mata Maira itu terus menatap orang tua si anak perempuan.
Papah dari anak itu melotot pada Maira dan Taufan. “Apa maksud kalian mengganggu anak umur delapan tahun hah?! Tidak tahu malu, cepat pergi atau saya laporkan polisi kalian ini!” ancam papah anak perempuan itu sambil berkacak pinggang.
Maira masih bergeming sedang Taufan masih berusaha membujuk Maira untuk pergi.
Mamah dari anak perempuan itu pun ikut memarahi Maira dan Taufan sedang anak perempuannya bersembunyi di belakangnya, “Heh, kalian disuruh pergi malah diam aja di situ! Jangan coba-coba mau menculik anak saya ya! Sudah Pah lapor saja ke polisi!”
Bola mata berwarna coklat itu bergetar-getar dan berkaca-kaca. Rasa rindu akhirnya pecah, sedang bibirnya membisikkan pelan nama panggilan yang membuat bola mata itu menitikkan air mata, “Pah … Mah ….”
Taufan terdiam mendengar Maira menyebut nama-nama panggilan itu dan kini ia jadi mengerti mengapa Maira tidak ingin melewatkan tanggal hari ini. Maira sedang mencoba merubah masa lalunya.
“Saya hanya ingin bilang … tolong batalkan rencana kalian untuk pergi ke pantai hari ini,” akhirnya bibir Maira yang sedari tadi hanya bisa bergetar kini bisa mengeluarkan kata-kata.
“Loh siapa anda melarang-larang liburan kami?” cetus mamah anak perempuan itu.
Maira menggelengkan kepalanya, “Tolong saya mohon, dengarkan saya---“
“Sudah! Pergi dari sini dan jangan ganggu kami lagi!” potong papah anak perempuan itu.
“Kalian ga ngerti … kalau kalian pergi ke pantai, kalian akan mati! Seorang pengemudi mabuk akan menabrak mobil kalian!” cetus Maira tak bisa menahan lagi apa yang dipendam di hatinya. Papah, mamah dan anak perempuan itu terkejut mendengar kalimat Maira. Begitu pun Taufan. “Mai apa yang kamu lakukan? Mereka ga akan percaya itu,” bisik Taufan.
“Percayalah, saya tahu … tolong jangan pergi,” mohon Maira.
“Orang gila! Memang anda Tuhan bisa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?” lontar papah anak perempuan itu menggelengkan kepalanya. “Jangan pedulikan orang gila ini Pah, ayo kita pergi saja!” tambah mamah anak perempuan itu.
“Jangaaan!” pekik Maira tapi mereka tidak memedulikannya lagi.
Maira segera berlari menyusul mereka.
“Mai! Jangan Mai!” teriak Taufan mengingatkan tapi Maira telah berlari masuk ke dalam pekarangan rumah mereka dan memegang lengan dari papah anak perempuan itu.
Tiba-tiba terjadi guncangan keras.
“Gempa! Gempa!” jerit mamah anak perempuan itu sembari memeluk melindungi anaknya.
“Saya tahu apa yang akan terjadi! Tolong jangan pergi!” teriak Maira pada papah anak perempuan itu yang terkejut dan berusaha melepaskan tangannya yang dipegangi Maira. Sedang guncangan itu semakin membuat tubuh mereka bergoyang kesana kemari. “Anda gila!” cetus papah anak perempuan itu.
“Saya bukan orang gila … saya anakmu Pah!” seru Maira seraya menahan sakit tubuhnya yang mulai tersetrum. Ia berusaha untuk tidak melepaskan cengkeraman tangannya dari pria itu. “Kamu gila, itu anak saya masih kecil … siapa kamu!?” heran dan kesal pria itu.
“Saya anakmu dari masa dep---- aaaahhhhhh!!” Maira tak bisa menyelesaikan kalimatnya, ia hanya bisa menjerit kesakitan karena sudah tak kuat lagi menahan setruman itu dan tubuhnya pun terpental jauh. Maira berguling-guling dengan tubuh mengeluarkan asap. Taufan segera berlari menghampiri Maira yang tergeletak. Sedang papah, mamah dan anak perempuannya telah berlari mencari perlindungan.
Guncangan itu masih terasa keras tak henti.
“Kita harus segera keluar dari masa ini Mai, apa yang kamu lakukan tadi membuat garis waktumu dan masa ini menjadi sangat tidak stabil … ayo Mai bangun, kita harus kembali ke rumah,” ujar Taufan seraya membangunkan Maira dan memapahnya untuk berjalan cepat. Maira berusaha bangkit meski tubuhnya terasa sakit mengeluarkan asap. “Apakah aku terbakar Fan?” lirih Maira dalam papahan Taufan. “Tidak Mai, asap ini memang dari setruman tadi, tapi tidak ada luka bakar, hanya mengenai bajumu saja, entah kalau tadi kamu mencoba bertahan lebih lama lagi,” terang Taufan.
Guncangan itu mengakibatkan keruntuhan di setiap jalan yang mereka lewati. Gedung, rumah, pohon, jalan, mobil, motor, orang-orang, semua berjatuhan. Seperti susunan balok kayu yang rontok satu persatu. Seperti gambar animasi yang terhapus, setiap lapisan-lapisan warnanya luruh lalu menghilang.
“Portalnya akan menutup Fan,” lirih Maira.
“Aku tahu itu, karena itu kita harus cepat,” balas Taufan.
Mereka berjalan cepat, Taufan terus menjadikan tubuhnya sebagai penyokong bagi tubuh Maira yang masih lemas.
Tak lama kemudian.
Mereka telah sampai di rumah. Taufan merebahkan Maira pada sofa. Ia memandang Maira tersenyum. Guncangan itu kembali menggerakkan dinding-dinding dan benda-benda di dalam rumah menjadi semakin terpisah.
“Apa … kenapa … kamu tersenyum Fan?” tanya Maira bingung.
“Lihat semua akan kembali seperti semula Mai, aku harus kembali ke masaku, kamu harus melanjutkan hidup di masamu, ini saatnya perpisahan,” jelas Taufan.
“Tidak … tidak Fan jangan pergi …” pinta Maira, “aku takut sendiri.”
Taufan tersenyum, berkata, “Kamu kuat Mai … kamu perempuan mandiri … kamu bisa melalui itu semua Mai … percayalah.”
“Fan … aku tidak bisa menyelamatkan keluargaku,” lirih Maira dengan linangan airmata.
“Tidak ada yang bisa merubah takdir meskipun kita bisa menjelajah waktu Mai … tidak apa-apa Mai … kita hanya harus bisa menerimanya dengan lapang dada … yang bisa kita lakukan hanyalah merubah nasib Mai bukan takdir,” hibur Taufan kemudian mengecup kening Maira.
Maira memejamkan matanya, ia tahu ada rasa sayang yang hilang, ada rasa rindu yang dipisahkan perjalanan waktu, ada cinta yang terpisahkan masa. Ia tak mungkin mencintai seseorang dari masa lalu, begitu pun Taufan tak mungkin menyayangi seseorang dari masa depan. Mereka akan saling hidup di masing-masing masa dalam kenangan yang tak lazim.
Taufan berbisik, berpesan, “Buat kita para orang gagal dan kesepian … jangan menyerah … teruslah hidup, teruslah bergerak … pada akhirnya kita pasti akan baik-baik saja.”
Maira memeluk Taufan dengan erat, membalasnya berbisik, “Senang sekali bisa bertemu denganmu Taufan.”
“Aku juga Mai,” senyum Taufan lalu Taufan melangkah untuk berdiri di rumahnya sendiri, sedang Maira berada di rumahnya. Rumah mereka bergerak terpisah. Dinding-dinding dan semua benda pun sudah terpisah menjadi bentuknya semula. Terakhir, perlahan-lahan dinding bata pemisah muncul di antara Maira dan Taufan. Dari bawah bergerak menumpuk ke atas satu persatu.
Taufan melambaikan tangannya, “Selamat tinggal Mai.”
“Selamat tinggal Taufan,” ucap Maira membalas lambaian tangan Taufan.
Dinding pemisah itu akhirnya menutup sempurna. Memisahkan dua dunia. Guncangan itu pun berhenti. Kini Maira hanya bisa melihat dinding rumahnya saja. Ia melihat sekelilingnya, semua telah kembali ke semula.
Maira menghela nafas seraya meringkuk sendiri di sofa.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
BUAT PARA ORANG GAGAL DAN KESEPIAN
Tampak Taufan tengah melakukan presentasi di depan seorang pemilik modal.
Taufan menjelaskan tentang teknologi di masa yang akan datang dengan perhatian penuh dari si pemilik modal. Pemilik modal kali ini memiliki visi yang sama dengan Taufan, tidak meremehkan atau mentertawakannya. Sehingga mereka terlibat percakapan yang nyambung dan intens. Taufan menjadi semakin bersemangat menjelaskan, dan saat Taufan menunjukkan sebuah telepon genggam sebagai perwujudan teknologi di masa yang akan datang membuat pemilik modal itu terkesima.
Pada akhir presentasi, mereka mencapai kata sepakat dan saling bersalaman.
Taufan bersorak senang, kemudian menatap pada telepon genggam yang pecah layarnya dan rusak itu. “Terimakasih Mai,” senyum Taufan.
***
Maira berjongkok di samping makam orang tuanya. Mengucapkan doa-doa lalu mengusap batu nisannya, menaburkan bunga-bunga cantik di atas pusaranya. Airmata yang menitik dibiarkannya jatuh membasahi kelopak bunga-bunga Forget-Me-Not yang bercampur dengan Aster putih.
“Maafkan aku Pah … Mah … aku sudah berusaha,” lirih Maira mengusap airmatanya.
Membias wajah Papah dan Mamahnya di antara bunga-bunga. Bibir mereka menyungging senyum yang memberikan rasa tenang seakan mengatakan, tidak apa-apa Nak, tidak apa-apa. Maira menumpahkan semua rindunya di pusara mereka. Menangis untuk melepaskan beban. Bercerita tentang hari-hari yang dilewati untuk menyamarkan kecewa. Untuk kemudian merebahkan kepalanya di antara bunga-bunga, merasakan hangatnya pelukan.
Ada hal-hal yang tidak bisa dirubah. Ada kesedihan yang memang harus dilalui. Ada luka yang meninggalkan bekas. Semua itu menyakitkan, tapi semua yang menyakitkan itu juga yang akan membuatmu menjadi lebih kuat.
***
Taufan turun dari mobil di depan sebuah rumah besar.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah ramah menyambutnya. “Apa kabar Pak Taufan, lama ga kesini,” sapanya. “Iya, bisnis sedang sibuk-sibuknya Bu,” senyum Taufan membalasa sapa wanita itu. “Terimakasih sekali lagi, untuk kunjungan dan donasi rutin yang Bapak berikan untuk panti asuhan kami,” ucap wanita itu seraya mengatupkan kedua tangannya di dada. Taufan pun membalasnya dengan anggukan kepala, “Sama-sama Bu, senang bisa membantu.”
Mereka pun berjalan menyusuri rumah menuju halaman belakang rumah. Di halaman belakang rumah yang luas tampak banyak anak-anak perempuan sedang bermain.
“Gimana kondisinya Bu?” tanya Taufan. “Alhamdulillah seiring berjalannya waktu, dia semakin membaik dan bisa menerima semuanya. Meski kadang masih suka menangis di tengah malam, yah namanya juga rasa kehilangan itu tidak mudah untuk diobatinya ya,” urai wanita paruh baya itu. Taufan mengangguk. “Bisa saya bertemu dengannya Bu?” pinta Taufan. Wanita itu mengangguk lalu pergi menuju sekumpulan anak yang sedang bermain lompat tali. Ia mendekati seorang anak yang sedari tadi hanya menonton dan mengajaknya menghampiri Taufan.
Taufan tersenyum melihat anak perempuan itu.
“Apa kabar Mai?” tanya Taufan ramah.
Anak perempuan yang beranjak remaja itu tersenyum.
Wanita itu meninggalkan mereka berdua untuk berbincang-bincang. Mereka duduk di bawah pohon yang teduh menghadap lapangan di mana anak-anak perempuan lainnya sedang berlarian, bermain tali atau bercanda satu sama lainnya.
“Terimakasih Om untuk hadiah ulang tahun boneka beruangnya,” ucap anak perempuan itu. Taufan tersenyum, “Sama-sama. Gimana kabarmu hari ini Mai?” Maira diam sesaat lalu menjawab, “Baik Om ….”
Kemudian ia menatap Taufan.
“Wajah Om familiar ya … aku seperti yang pernah melihatnya, tapi lupa di mana,” lanjut Maira lagi.
Taufan tertawa.
“Ya pastilah wajah ganteng kayak Rano Karno gini, kamu pasti familiar lah, ‘kan sering muncul di tivi hehehe,” kilah Taufan, membuat Maira ikut tertawa, “kamu betah di panti sini ‘kan Mai? Gimana mereka memperlakukanmu?”
“Betah Om, semua baik-baik ….” jawab Maira, Taufan tersenyum lega mendengar jawaban Maira itu.
“Mai, sebentar lagi kamu akan masuk SMA, kalau kamu butuh apa-apa bilang aja sama ibu kepala panti tadi ya, nanti Om kirim semua yang kamu minta,” ucap Taufan.
Maira mengangguk.
Kemudian Taufan mengeluarkan sebuah kotak kayu dari kantong jaketnya.
“Mai, simpan ini buat kamu. Jangan dibuka sekarang, bukalah kalau nanti kamu sudah dewasa ya,” ucap Taufan seraya menyerahkan sebuah kotak kayu. Maira menerima kotak kayu itu dan mengusap ukiran-ukirannya pada sudut-sudut kotak. “Itu ukiran khas Bali Mai, waktu Om ke Bali, Om beli kotak kayu itu,” terang Taufan, “simpan baik-baik ya.”
Maira mengangguk.
***
Bola mata berwarna coklat itu berkedip-kedip.
Maira terbangun dari tidurnya. Ia teringat pria itu. Pria yang selalu mendatanginya saat ia masih di panti asuhan dulu. Pria yang selalu menjaganya hingga ia beranjak dewasa dan kemudian tidak mendengar kabarnya lagi.
“Taufan,” bisik Maira menyebut namanya.
“Jadi selama ini adalah Taufan,” desisnya lagi.
Maira melihat boneka beruang di samping bantalnya, lalu ia turun dari ranjangnya, membuka laci-laci mejanya mencari sesuatu, tetapi tidak ditemukannya. Ia segera membuka lemari pakaiannya, mengangkat tiap helai pakaiannya seraya merogoh ke dalamnya, tapi yang dicarinya tidak ditemukannya juga. Maira mencoba mengingat-ngingat di mana ia menyimpannya. Sebuah kotak kayu dengan ukiran khas Bali itu.
Ia teringat akan kotak bekas sepatu yang disimpannya di kolong tempat tidur.
Maira menjulurkan tangannya untuk meraih kotak bekas sepatu tersebut lalu menariknya. Ia segera membukanya. Dadanya berdebar melihat sebuah kotak kayu berukiran khas Bali itu berada di dalamnya beserta foto-foto lama masa kecilnya bersama orang tuanya. Maira mengambil kotak kayu tersebut. Ia membuka kaitannya.
Di dalam kotak kayu tersebut terdapat sebuah kunci kecil terbuat dari perak asli beserta kertas kecil bertuliskan alamat sebuah bank dan deretan nomer. “Sepertinya ini kunci kotak deposit di bank tersebut,” gumam Maira. Tanpa berpikir lama-lama lagi, Maira segera merapihkan diri dan pergi menuju bank tersebut.
Beberapa saat kemudian.
Maira sampai di bank yang tertulis di kertas kecil tersebut. Seorang satpam menghampiri Maira untuk mengambil nomer antrian. Maira menunjukkan kunci kecil terbuat dari perak tersebut, “Saya hanya ingin mengambil kotak deposit dengan kunci ini, apakah harus mengantri?” tanyanya. Satpam itu melihat kunci tersebut lalu bergegas ke meja kepala cabang. Mereka berbisik melihat kunci yang dipegang Maira. Satpam itu kembali pada Maira. “Silahkan langsung ke meja kepala cabang saja Bu,” ucap satpam mempersilahkan. Maira mengangguk dan mendatangi kepala cabang tersebut yang serta merta menyambutnya.
“Selamat pagi Bu Maira … kami sudah menunggu kedatangan Ibu sejak lama,” sambutnya. Maira mengerutkan kening mendengar sambutan itu lalu ia menyerahkan kunci dan kertas nomer kotak depositnya. Kepala cabang itu menerimanya dengan sedikit membungkuk.
“Sudah menunggu saya?” tanya Maira mengulang kalimat kepala cabang itu, “dan dari mana Bapak tahu nama saya?”
Kepala cabang itu tersenyum, menjelaskan, “Pak Taufan khusus membuat kunci ini dari perak untuk Ibu Maira … sudah lama sekali … siapa yang bisa melupakan kunci unik ini … tentu saja kami tahu nama Ibu, karena kami memiliki catatan para penyewa kotak deposit, nomer kotak depositnya dan untuk siapa kotak deposit ini diperuntukkannya, sehingga meski ada pergantian manajemen di tahun-tahun sebelumnya, kami yang betugas hari ini tetap bisa mengetahuinya … kami menunggu lama untuk ini Bu Maira.”
Kepala cabang itu pun mohon diri menuju ruang penyimpanan kotak-kotak deposit untuk mengambilkan kotak deposit milik Maira. Sambil menunggu, dada Maira berdebar gugup, kakinya bergoyang-goyang tak mau diam sedari tadi. Apa isi kotak deposit itu ya? Batin Maira.
Terlintas pula pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya.
Mengapa baru sekarang ia ingat sosok Taufan yang selalu mendatanginya di panti? Padahal seingatnya selama di panti adalah ia selalu sendirian, tidak pernah ada yang menengoknya. Mengapa boneka beruang itu muncul di ranjangnya padahal sebelumnya tidak ada? Dan mengapa baru sekarang juga ia ingat pada kotak kayu berukir Bali itu? Apakah karena garis waktunya menjadi berubah sesaat setelah Taufan kembali pada masanya di hari perpisahan itu?
Tak lama, kepala cabang itu kembali dan meletakkan sebuah kotak deposit di atas meja lalu meninggalkan Maira dengan kotak depositnya. Maira menatap kotak deposit itu seraya menebak-nebak apa isinya. Perlahan ia membuka tutup kotaknya, melihat isinya. Maira tertawa. Ia mengeluarkan sebuah telepon genggam yang pernah dipinjam Taufan dulu. Telepon genggamnya yang rusak dan dikembalikan dalam kondisi masih rusak juga. Di sebelah telepon genggamnya terdapat sebuat kertas kecil yang digulung. Maira membuka gulungan kertasnya membaca apa yang tertulis di situ.
“Mai, terimakasih, hapemu menyelamatkan hidupku!”
Maira pun tertawa lagi.
Hanya itu yang terdapat di kotak depositnya.
Tidak ada apa-apa lagi,
Maira senyum-senyum sendiri teringat akan Taufan. “Maaf mengganggu sebentar Bu Maira,” ucap kepala cabang tadi. Maira menoleh, “Iya ada apa?” Kepala cabang itu menyodorkan sebuah kertas bertanda tangan resmi dan bertanya, “Pak Taufan berpesan dalam wasiatnya pada bank kami, kalau Ibu Maira datang, maka ini harus diserahkan. Jadi, apakah dana ini akan dipindahkan hari ini atau bagaimana, karena untuk memindahkan dana sebanyak ini kami butuh waktu,” sambung kepala cabang itu.
“Apakah itu cek?” tanya Maira.
“Bukan Bu, kalau cek berbatas waktu, ini adalah surat pemindahan dana yang bisa dicairkan atau dipindahkan kapan saja, dari Pak Taufan untuk Bu Maira.”
Maira mencondongkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas berapa nilai nominal yang tertulis di atas kertas tersebut. Matanya melebar, mulutnya menganga seketika ketika Maira melihat nilainya. “Ya Tuhan, itu beneran nolnya sebanyak itu?” cetus Maira. Kepala cabang itu mengangguk. Maira mengucek-ngucek matanya tak percaya.
“Bagaimana, mau hari ini atau---“
“Ya … ya tentu saja hari ini, pindahkan semua dana itu sekarang juga ke rekening saya!” potong Maira bersemangat. Kepala cabang itu pun mengangguk dan segera memerintahkan anak buahnya untuk segera mengurus pemindahan dana tersebut. “Mohon tunggu sebentar, saat kami mengurus semuanya Bu, mungkin sekitar satu atau dua jam,” ucap kepala cabang itu.
“Ok, ok … tentu saja, saya akan menunggu … satu atau dua jam sih sebentar … saya sudah menunggu tiga puluh empat tahun untuk kaya raya seperti ini aja sanggup kok,” cengir Maira. Kepala cabang itu tersenyum dan meninggalkan Maira menunggu.
Setelah kepala cabang itu pergi, Maira sudah tidak bisa menahan lagi gejolak bahagia di hatinya. Saat itu juga ia ledakkan rasa bahagianya. “Wowow! Aku kaya raya!” pekik Maira. Semua orang di dalam bank terkejut dan menatap aneh pada Maira, sebagian berbisik menganggapnya norak. Maira tidak perduli.
Hari itu senyum Maira terus mengembang.
“Terimakasih Taufan, kamu telah menyelamatkan hidupku,” ucap Maira lalu terngiang gema kalimat Taufan di gendang telinga Maira, “Buat kita para orang gagal dan kesepian … jangan menyerah … teruslah hidup, teruslah bergerak … pada akhirnya, kita pasti akan baik-baik saja.”
TAMAT