Divta Gabriel Tania, seorang gadis berusia 16 tahun saat itu. Sangat cantik. Membuat semua lelaki jatuh hati padanya. Tapi dia tidak menghiraukan semua pria yang mengejarnya.
Arius Felix Lionardi, pintar namun nakal. Berusia 16 tahun. Ganteng. Dia membuat semua wanita patah hati terhadap sikapnya yang cuek.
Suatu hari, saat memasuki kelas, Arius melihat Divta yang duduk sendiri di bangku paling ujung belakang. Hati Arius bergetar melihat kecantikan Divta. Namun sifat Divta yang cuek tersebut membuat dia tidak menghiraukan Arius.
***
Saat istirahat
'Brukk! Dukk!'
"Aduh!" Divta mengeluh
"Duh! Maaf! Aku tidak sengaja." Ucap Arius tulus
"Hati-hati dong!" Bentak Divta
"Iya! Maaf ya. Aku tidak sengaja." Jawab Arius
Arius membantu Divta berdiri, namun dengan angkuhnya, Divta menolak pertolongan Arius. Dia berjalan pergi meninggalkan Arius.
'Siapakah gadis itu? Cantik sekali!' Batin Arius dalam hati
Dengan hati bergetar, Arius kembali ke kelas. Saat itu dia bengong memikirkan Divta.
"Ri? Hoi! Ri! AAARRRIIUUUSSS!!" Panggil Hesti melambai-lambaikan tangannya
"Eh! Oh, Hesti! Ada apa?" Ucap Arius tersadar dari lamunannya
"Sedang apa sih kamu? Pasti lagi mikirin aku ya?" Tanya Hesti PeDe
"PeDe banget kamu! Aku lagi mikirin cewek yang duduk di bangku sebelah sana tuh!" Ucap Arius ketus sambil menunjuk tempat duduk Divta
"Oh, dia. Pantes aja kamu tersenyum gembira gitu." Timpal Hesti cemburu
"Aku ingin tahu siapa namanya." Ucap Arius
"Divta! Namanya Divta! Aku pergi dulu ya. Ada urusan yang harus aku selesaikan." Jawab Hesti ketus
"Oh jadi namanya Divta. Lho, Hesti! Hes, mau kemana kamu? Hesti!" Ujar Arius
'Hesti kenapa ya? Kok mukanya jadi cemberut gitu? Akh sudahla! Yang penting aku sudah tahu kalok namanya adalah Divta.' Batin Arius
Sementara itu di luar kelas.
'Ri, apakah aku sedikitpun tak ada di hatimu? Kapan kamu akan membuka hatimu untukku?' Batin Hesti
Sebenarnya Hesti tak kalah cantik dengan Divta. Rambutnya yang hitam dibiarkan lurus terurai. Wajahnya yang putih dan cantik terlihat menarik bagi lelaki lain. Namun dia tidak mau mengkhianati cintanya terhadap Arius.
***
3 tahun berlalu,
Saat ini mereka sudah memasuki masa akhir SMA.
Divta, Hesti dan Arius sama-sama sudah berusia 19 tahun sekarang. Divta terlihat makin cantik dengan rambut hitam coklatnya yang panjang sepunggung dan dibiarkan terurai. Semakin hari, cinta Arius kepada Divta makin besar. Dan Arius terus memikirkan berbagai cara untuk mendekati Divta. Hesti makin cemburu.
"Hei, Ri kamu serius cinta sama Divta?" Tanya Yoko
"Tentu saja! Siapa yang tidak tertarik padanya. Dia cantik, pintar dan ceria." Jawab Arius
(Sebenarnya Divta tidak ceria. Saat bilang begitu, Arius sengaja mengatakannya keras-keras agar didengar oleh Divta.)
"Lalu Hesti?" Tanya Yoko lagi
"Emang dia kenapa?" Tanya Arius balik
"Dia mencintaimu. Apakah kamu mau mengkhianatinya?" Tanya Yoko dengan nada tinggi(sengaja agar didengar oleh Divta.)
"Trus kenapa? Aku tidak mencintainya! Jika kita pacaran, tentu dia akan kecewa." Jawab Arius tegas
"Tapi setidaknya bukalah sedikit hatimu untuknya!" Ucap Yoko mulai kesal
"Aku curiga!" Tembak Arius
"Hah? Curiga? Maksud kamu?" Tanya Yoko tidak ngerti
"Kamu menyukai Hesti ya?" Tanya Arius yang kontan membuat wajah Yoko memerah
"A~aku tidak m~menyukainya! A~aku hanya i~ingin membantunya! Itu saja!" Jawab Yoko terbata-bata
"Hahaha! Jawaban kamu aja udah kayak gitu! Udahla jujur aja sama perasaan kamu! Seperti aku yang jujur sama perasaanku yang mencintai Divta." Ucap Arius
(Divta hanya menanggapinya dengan senyum.)
"Pikirkanlah, sobat! Aku ijin cabut dulu!" Lanjut Arius
Lalu, Arius pergi meninggalkan sahabatnya yang sedang berperang dengan perasaannya.
'Benarkah aku menyukai Hesti? Akh! Aku bingung!' Batin Yoko
***
Lapangan basket sekolah
Arius terlihat sedang berjalan sendirian di lapangan basket tersebut. Divta yang melihat Arius berjalan mendekatinya.
"Hey!" Sapa Divta
"Oh, Hey!" Balas Arius
"Sendirian? Teman-teman kamu mana?" Tanya Divta
"Oh mereka lagi di kelas. Biasa berbicara yang gak penting." Jawab Arius(sebenarnya Arius sangat deg-degan. Karena untuk pertama kalinya dia berbicara dengan Divta.)
"Trus kenapa kamu ga gabung bareng mereka?" Tanya Divta lagi
"Buat apa? Apa yang mereka bicarakan membuatku bosan!" Jawab Arius
"Hahaha! Kamu lucu deh!" Timpal Divta tertawa
(Untuk pertama kalinya, Arius melihat Divta tertawa lepas.)
"Kamu sendiri, kenapa bisa ada disini?" Tanya Arius
"Aku merasa bosan aja! Makanya aku keliling." Jawab Divta(Divta berbohong.)
"Akh masa? Dari sekian banyaknya siswa, kamu ga mau berteman dengan mereka?" Tanya Arius heran
"Buat apa? Aku tidak butuh mereka! Aku hanya ingin bersamamu!" Jawab Divta keceplosan
Mendengar perkataan Divta, Arius terkejut.
"A~apa yang barusan kamu katakan?" Tanya Arius terheran
"Ah! Tidak apa-apa! Hehehe! Sudah dulu ya! Aku ada pr yang belum dikerjakan!" Pamit Divta
Wajah Divta terlihat memerah. Namun dia menyembunyikannya dari Arius.
Hesti yang melihat mereka dari kejauhan hanya mampu menahan sakit hatinya.
'Ternyata aku memang tidak ada di hatinya.' Batin Hesti
Tanpa sadar, dia meneteskan air matanya.
***
Pulang sekolah
Di dalam mobilnya, Arius masih mengenang perkataan Divta.
'Buat apa? Aku tidak mau berteman dengan mereka! Aku hanya ingin bersamamu!'
'Apakah dia? Ah tidak mungkin!' Batin Arius
Kemudian, Arius mengemudikan mobilnya untuk meninggalkan parkiran. Tiba-tiba...
'CITTTT!' Arius menginjak remnya tiba-tiba. Emosinya sudah memuncak namun ditahannya setelah melihat siapa yang menghentikan mobilnya.
'JDUK! BRAAK!' Suara pintu mobil
"Ada apa?" Tanya Arius setelah keluar dari mobilnya
"Anu.. Jemputanku hari ini tidak bisa datang. Aku boleh nebeng gak?" Tanya Hesti
"Hmm.. Sebenarnya sih aku sudah mau pulang. Tapi ya, okelah!" Jawab Arius
"Benarkah? Terima kasih!" Ucap Hesti bahagia
Lalu, Hesti pun masuk ke dalam mobil Arius.
***
Dalam perjalanan pulang, Hesti dan Arius hanya diam. Arius hanya sesekali bertanya pada Hesti. Itupun hanya menanyakan arah jalan ke rumah Hesti. Meskipun begitu, Hesti sudah amat bahagia.
Tak lama kemudian, Arius telah mengantarkan Hesti ke rumahnya.
"Emm.. Mau mampir sebentar? Biar kubuatkan teh." Tawar Hesti
"Tidak perlu! Aku masih ada urusan lain!" Jawab Arius menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Hesti
Sejujurnya dia sedih juga bahagia karena sudah bisa dekat dan bicara dengan Arius.
Di perjalanan pulangnya, Arius membelokkan mobilnya ke sebuah kafe.
'Aku hanya ingin bersamamu!' Kata itu terngiang kembali di pikirannya
'Apa maksudnya? Apakah dia mulai menyukaiku?' Batin Arius
Sebenarnya Arius senang mendengar pernyataan dari Divta. Tapi dia masih bingung maksud perkataannya.
***
Kini mereka telah kuliah dan telah memasuki usia 20. Usia yang boleh dibilang cukup dewasa. Divta dan Arius terlihat makin dekat. Bahkan terkesan mereka seperti telah jadian. Dan Hesti? Ya! Dia makin cemburu. Dia tidak suka melihat kedekatannya dengan Divta. Dia pun memikirkan sebuah rencana jahat.
Dia pun mempunyai ide untuk memisahkan kedua pasangan ini. Padahal sebenarnya, Divta dan Arius belum sepenuhnya jadian. Mereka cuma semakin dekat saja.
Malamnya, dia pun menyewa sebuah hotel. Dia mengambil gunting yang telah disiapkan di tasnya dan menggunting pakaiannya. Kemudian, dia menelpon Arius dan mengatakan kalau dia telah diperkosa. Arius yang tidak tahu jebakan ini pun percaya akan laporan Hesti. Dia pun bergegas menuju hotel yang telah diberitahukan oleh Hesti. Bersamaan dengan itu, Hesti juga menelpon Divta. Divta juga percaya dengan laporan Hesti.
Tak lama kemudian, Arius telah sampai dan berjalan menuju kamar Hesti yang telah diberitahukan.
"Hesti! Ya ampun! Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?" Tanya Arius panik
"Arius! Huhuhu! Aku dibohongi seorang pria! Aku dibawa kesini dan diperkosa! Huhuhu!" Jawab Hesti 'pura-pura' terisak memeluk Arius
"Tidak apa-apa! Aku disini! Aku disini! Tidak perlu takut!" Ucap Arius menenangkan Hesti dan tanpa sadar membalas pelukan Hesti
Divta juga telah sampai dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak dapat menahan kesedihannya. Divta pun menangis dan meninggalkan hotel tersebut. Hesti yang mengetahui bahwa Divta telah melihat kejadian ini pun tersenyum. Dalam hatinya bersorak.
"Sudah tidak apa-apa! Pakailah ini. Aku akan mengantarmu pulang!" Ucap Arius memberikan jaket untuk menutupi tubuh Hesti.
***
Di dalam perjalanan, Arius terus menenangkan Hesti yang menangis tersedu-sedu(pura-pura. Caper biar dikasih perhatian.)
Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah Hesti. Arius membawa Hesti ke dalam rumahnya. Saat akan beranjak kembali ke mobilnya, Hesti mencegah Arius.
"Arius, aku takut pria itu akan kembali dan melakukan hal yang sama terhadapku. Jangan tinggalkan aku! Aku takut!" Mohon Hesti
Arius berpikir sejenak. Dan memutuskan untuk menemani Hesti.
***
Sementara itu Divta yang dilanda sakit hati dan galau berusaha menelpon Arius. Karena berkali-kali telpon Arius tidak aktif, maka Divta pun mengirim pesan singkat kepada Arius.
'Aku akan ke Singapura besok! Jangan mencariku lagi! Sebab aku tidak ingin menemuimu! Aku mendoakan kebahagiaanmu!'
Setelah mengirim pesan singkat tersebut, Divta mengangis terseduh. Dia mulai menunjukkan perasaannya pada Arius sejak SMA (percakapan mereka di lapangan basket.) Dan dia sama sekali tidak menyangka bahwa Arius mengkhianatinya.
***
Keesokan harinya
Bandara Soekarno-Hatta
Sekali lagi, Divta kembali mengambil telponnya dan menelpon Arius. Lagi, telpon Arius tidak ada jawaban membuat Divta kembali sedih.
Dia kembali mengirimkan pesan kepada Arius.
'Aku akan berangkat ke Singapura hari ini. Jika kamu benar mencintaiku, susulah aku dan kita bertemu disana 5 tahun lagi!'
Setelah mengirimkan pesan tersebut, dia pun berjalan dan menaiki pesawat. Sesaat kemudian, pesawat hilang dari langit Jakarta.
Disisi lain, Arius telah bangun tidur. Ditatapnya Hesti yang masih terlelap. Dia tersenyum sesaat. Arius mengambil ponselnya dan melihat 45 panggilan tak terjawab di ponselnya. Dilihatnya panggilan dari Divta. Dan 2 pesan mendarat di ponselnya.
'Divta! Dia ke Singapura? Aku harus menyusulnya!' Batin Arius
Segera dia menancapkan mobilnya ke arah bandara berharap dirinya belum terlambat.
Arius mengambil ponselnya dan menelpon Divta. Namun sia-sia. Tidak ada jawaban dari Divta setelah berkali-kali di telpon.
'Semoga aku belum telat!' Batin Arius mempercepat laju mobilnya.
***
Sesampainya di bandara, Arius berkeliling mencari Divta dan hasilnya sia-sia. Divta tidak ditemukan. Arius sangat sedih.
'Divta, haruskah perjumpaan kita berakhir sampai sini? 5 tahun, terlalu lama bagiku.' Batin Arius
Karena kelelahan, Arius pun duduk di bangku tunggu bandara. Dia menundukkan kepalanya dan menangis.
***
5 tahun kemudian...
Arius, Yoko dan Hesti serta mahasiswa lainnya telah lulus dan sedang menikmati masa kelulusan mereka. Semuanya bersenang-senang. Hanya Arius yang terlihat galau.
Yoko menghampirinya.
"Ri, kenapa kamu?" Tanya Yoko menepuk pundak Arius
"Aku memikirkan Divta. Aku khawatir dengan keadaannya." Jawab Arius
"Aku juga mengkhawatirkannya. Aku tahu, kau sangat mencintainya." Hibur Yoko
"5 tahun. Kenapa harus 5 tahun? Tidak bisakah hanya 2 atau 3 tahun?" Isak Arius
"Mungkin karena dia ingin menyelesaikan studynya di Singapura." Hibur Yoko lagi
Hesti mendengar percakapan Yoko dan Arius. Dia berjalan mendekati mereka berdua.
"Maaf aku mengganggu." Ucap Hesti
"Hesti! Kamu kenapa ada disini?" Tanya Yoko
"Aku ingin mengklarifikasikan kepergian Divta ke Singapura. Sebenarnya itu semua adalah perbuatanku." Ucap Hesti
"Maksud kamu?" Tanya Arius tidak ngerti
"Ya! Akulah penyebab hubungan kalian menjadi berpisah! Aku merekayasa lapora bahwa aku diperkosa di hotel. Saat itu aku juga menyuruh Divta untuk datang ke hotel. Aku jugalah sebelumnya yang memberikan tiket pesawat ke Singapura." Jawab Hesti
"Kau! Kenapa kau bisa sejahat itu pada mereka, Hesti!" Bentak Yoko
"Itu karena, aku mencintai Arius! Aku mencintaimu! Aku tidak ingin kau jatuh ke tangan gadis lain!" Jawab Hesti
Arius sangat marah terhadap penjelasan Hesti. Dengan emosi yang memuncak, dia berjalan mendekati Hesti dan menatapnya.
"Cintailah orang yang benar-benar mencintaimu! Kau telah keterlaluan!" Hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Arius dan beranjak pergi
"Kau tidak bisa mengelak Arius! Aku hamil! Dan bayi di dalam kandunganku ini adalah anakmu!" Teriak Hesti
"Bayi? Sejak kapan aku menghamilimu?!" Tanya Arius membentak
"Kau masih ingat saat kau mengantarku pulang dari hotel dan kau tidur di rumahku dan sekamar denganku!" Jawab Hesti
"Kau yang memaksaku untuk tidak pulang! Aku telah berbuat baik tapi malah kau jatuhkan harga diriku! Perempuan macam apa kau!" Bentak Arius pergi meninggalkan auditorium
"Arius! Arius!" Teriak Hesti
"Kau tetap disini! Aku akan membuat perhitungan padamu setelah kembali nanti!" Bentak Yoko
***
Lapangan kampus
Arius terlihat berjalan dengan sedih. Teringat bagaimana momen-momen indah yang dilewati olehnya dan Divta. Hingga teriakan Yoko membuyarkan segalanya.
"Arius! Jangan menanggapi terlalu serius ucapan Hesti. Dia memang perempuan pembawa masalah." Hibur Yoko
"Tidak apa-apa. Aku pantas dicela olehnya." Balas Arius
"Kau ingin menyusul Divta?" Tanya Yoko
"Ntahlah! Aku tidak yakin dia ingin menemuiku." Awab Arius lemas
"Pergilah!" Ucap Yoko sambil menyerahkan tiket pesawar untuk Arius
"Ini...?" Tanya Arius tidak mengerti
"Kau lebih membutuhkannya daripada aku." Jawab Yoko tersenyum
Arius merasa senang dengan hadiah dari sahabatnya ini. Dipeluknya Yoko sebagai pelukan sahabat.
Setelah mengucapkan beberapa kata perpisahan, Arius pun berangkat keesokan harinya.
***
Singapura, negeri yang tentram, bersih dan juga indah. Arius tidak percaya dia berada disini sekarang. Dia berjalan berkeliling Singapura untuk mencari Divta.
3 hari sudah Arius berada di Singapura dan 3 hari jugalah pencariannya sia-sia. Suatu hari, ada seorang gadis cantik memberinya sepucuk surat. Setelah mengucapkan terima kasih kepada gadis tersebut, Arius membaca isi surat itu.
'Aku ada di MP. Kita berjumpa disana!'
'MP? Belum pernah aku dengar tempat itu di Singapura. Apakah mungkin?' Batin Arius
Arius meneruskan perjalanannya.
Di setiap perjalanannya, dia mendapatkan sepucuk surat yang isinya sama. Dia semakin bingung.
Sampai akhirnya dia menyerah dan berhenti di Merlion Park untuk beristirahat sejenak. Sebotol air mineral berada di genggaman tangannya.
'Dimanakah kau, Divta? Aku telah membuktikan cintaku dengan menyusulmu ke sini. Kenapa kau masih tidak menunjukkan dirimu?' Batin Arius sedih
Saat itulah, seorang pria tua kembali memberinya sepucuk surat. Namun kali ini, suratnya berbeda.
'Kau telah menunjukkan ketulusan cintamu. Tunggulah! Aku akan menghampirimu! Aku merindukan dirimu!' Begitulah isi surat tersebut
Arius masih bingung siapa yang mengirimkan surat itu. Lalu...
"Hai!" Sapa suara tersebut
Arius merasa kenal dengan suara tersebut. Dia mendongakkan kepalanya dan...
"Divta!" Ujar Arius
"Kamu datang juga." Ucap Divta
Wajah cantik Divta tidak berubah meski sudah berusia 25 tahun.
Arius pun berdiri.
"Aku.. Merindukanmu!" Ucap Arius
"Benarkah? Bukannya kamu sudah jadian dengan Hesti?" Tanya Divta menguji
"Tidak! Walaupun ada seribu wanita didunia ini, cintaku padamu tidak akan pernah luntur!" Timpal Arius
Divta tersenyum.
"Benarkah kau mencintaiku?" Tanya Divta lagi
"Ya! Cintaku tulus dan murni! Tidak ada yang bisa mengalahkannya!" Jawab Arius menggenggam tangan Divta
"Aku masih tidak percaya!" Ucap Divta dengan senyumnya
"Akan kubuktikan!" Ucap Arius mantap
Arius mencium kening Divta sebagai tanda cintanya.
"Sekarang kamu percaya kan?" Tanya Arius
"Hahahaha! Lucu akh! Iya deh, aku percaya!" Balas Divta
Setelah bertatapan mesra, keduanya pun berpelukan.
"Kita tidak akan berpisah lagi kan?" Tanya Arius di tengah-tengah pelukannya
"Hmm! Tidak akan penah!" Jawab Divta
"Aku mencintaimu!" Ucap Arius
"Aku juga mencintaimu!" Divta membalas
Keramaian Merlion Park tidak mereka hiraukan lagi. Saat ini, dunia seperti milik mereka berdua.
***
2 tahun kemudian
Arius dan Divta melangsungkan pernikahan megah mereka di kota Jakarta. Acara yang dihadiri oleh kerabat serta teman mereka pun sangat meriah. Mereka tampak bahagia.
"Semoga kita akan tetap begini sampai selamanya." Ucap Arius
"Ya! Dan tidak ada kata perpisahan lagi diantara kita!" Balas Divta
Mereka berpelukan dan saling membisikkan kata cinta.
Di penghujung acara, mereka berfoto bersama-sama dengan teman mereka. Dan foto itu menjadi pajangan didinding kamar mereka.
***