Ialah Nada, begitu juga semua orang memanggil namanya. Orangtua Nada mengatakan bahwa arti nama Nada adalah 'harapan.'
Nada adalah gadis yang biasa saja, tidak ada hal yang membanggakan dari dirinya, semua nilai pelajaran di sekolahnya bisa dibilang tidak terlalu jelek juga bahkan buruk.
Hingga suatu ketika Nada melihat teman-temannya yang memiliki prestasi sangat baik, seperti di bidang olah raga, Seni, akademik umum dan lain sebagainya. Rasa iri akhirnya tumbuh di dalam diri Nada. Ia membandingkan dengan yang lainnya, menyalahkan diri bahwa ia tidak memiliki apapun yang disebut itu bakat.
Dan datanglah sebuah kejadian yang membuat hidup Nada berubah 180°, Ia bertemu seekor burung pipit berwarna kuning dengan membawa kantung yang di lingkarkan pada leher kecil burung itu, kantung yang ia bawa berisikan cukup banyak kacang, yang bentuknya seperti kacang hijau.
Nada merasa janggal dengal burung itu, burung kecil itu bisa berbicara kepadanya. Menjelaskan bahwa ia meminta maaf atas tindakannya saat Nada akan dilahirkan ke dunia. Burung itu berkata, bahwa setiap anak yang akan lahir, diberikan satu kacang kepada mereka masing-masing. Ya, itulah kacang yang akan tumbuh di dalam diri mereka, yang biasa manusia sebut adalah bakat. Sementara Nada, saat ia akan akan pergi ke dunia, burung kecil itu salah memberikan biji kacang bakat yang malah ia memberikan biji kenari, makanan favorit burung kecil itu.
Awalnya Nada tidak percaya dengan ucapan burung kecil itu, bahkan Nada berfikir ia sudah gila karena mendengar burung yang dapat berbicara ngelantur seperti itu.
...
Di sekolah Nada, diadakan acara tahunan. Dimana semua murid yang tertarik mengikuti lomba dengan kategori tertentu, juga sebagai ajang pentas dan bakat.
Nada mencoba membuktikan ucapan si burung kecil itu. Nada berencana untuk mengikuti lomba bermain piano. Jelas Nada tidak bisa bermain piano dan bahkan ia belum pernah menyentuh piano sekalipun. Musik yang akan ia mainkan adalah lagu lama yang dibuat oleh Viktor Young, yang berjudul Around The World.
Burung kecil itu mencari-cari ke dalam kantung yang ia bawa, Lalu mengambil biji kacang yang diberikan kepada Nada. Nada segera memakannya, merasakan bahwa rasa kacang itu hambar dan lembek. Tidak ada rasa apapun pada dirinya, Ia tidak yakin. Lalu ia segera membuka musik set yang akan ia mainkan, Aneh rasanya ia merasa dapat membaca dan menghafalkan note musik itu dengan mudah. Ia sedikit berfikir, bahwa sepertinya biji kacang bakat itu bereaksi pada dirinya.
Diatas panggung pentas, dengan tiga juri yang menilai performa para peserta. Nada merasa percaya diri sekali, entah dari mana perasaan itu muncul. Ia segera memainkan piano yang berada di hadapannya, disaksikan oleh banyak orang. Nada begitu rileks dan santai memainkan piano. Orang-orang yang menonton terkesima dengan performa Nada. Saat selesai, suara tepuk tangan memeriahkan suasana. Untuk pertama kalinya Nada mendapatkan momen seperti itu, ia merasa bangga dan senang. Juga, ia merasa kacang yang diberikan burung kecil itu sungguh dapat memberikan bakat yang sebelumnya ia tidak miliki.
Nada Semakin penasaran dan haus akan banyak hal. Dengan menggunakan kacang bakat, ia mengikuti beberapa kontes, seperti memasak, bulu tangkis, lukis, matematika, bernyanyi dan lain-lainnya. Hasil dari itu semua membuat Nada, seakan tenggelam dalam ketenaran.
Burung kecil itu menjelaskan bahwa Nada harus memiliki bakatnya sendiri. Nada begitu spesial karena mencoba banyak kacang bakat yang diberikan. Benar apa yang di katakan burung kecil itu, fikir Nada. Seandainya jika burung kecil itu tidak bersama Nada lagi. Semua hal yang telah ia lakukan, begitupun pandangan orang kepadanya, akan segera berubah. Bahwa semua bakat yang ia tunjukan, bukanlah berasal dari dirinya sendiri.
Nada sadar dan semakin sadar, bahwa tindakannya ialah salah, membuktikan jelas bahwa ia tidak mempercayai dirinya dan tidak menyukai dirinya sendiri apa adanya. Dengan hormat Nada menolak semua tawaran yang ia dapatkan karena ketenarannya. Ia menjelaskan kepada burung itu bahwa, apa Nada memiliki kacang bakat yang seharusnya ia miliki?
Burung kecil itu mengeluarkan satu kacang, terlihat agak hijau kecoklatan, tanpa ragu ia memakan kacang itu. Tidak seperti kacang yang lain, rasanya hambar dan lembek, kacang kali ini rasanya pahit dan agak keras. Nada memutar kembali ingatannya, saat pertama kali ia mencoba kacang bakat. Bermain piano kala itu begitu menentramkan hati Nada, seakan perasaannya bersatu dengan musik yang ia mainkan melalui sebuah piano.
Ia mulai belajar memainkan piano, meski perkembangannya sedikit lebih lama, tetapi pasti. Ia sekarang dapat memainkan beberapa musik, walau terkadang intonasinya masih belum cukup baik.
Burung kecil itu selalu menemani Nada kemanapun Nada pergi, sebagai teman baiknya. Hingga suatu hari saat ia terbangun dari tidurnya di pagi yang cerah. Burung kecil itu tidak nampak lagi, Nada sadar bahwa waktu bersamanya telah habis, ia berfikir bahwa Burung kecil itu telah kembali ke tempat ia seharusnya berada.
Tahun demi tahun berlalu, Seorang wanita hebat berdiri diantara banyak penonton, diatas panggung pertunjukan musik klasik, Ya, dialah Nada yang sekarang menjadi pianis terkenal. Ia sadar bahwa ia tidak perlu memiliki banyak bakat, ia merasa cukup hanya memiliki satu bakat terbaik di dalam dirinya. Bukan hanya karena kacang ajaib, melainkan rasa dimana ia belajar akan hasil sebuah kerja keras yang ia tekuni.
Tamat.
Terima kasih untuk yang telah menyempatkan waktunya, membaca tulisanku ^^