Suatu hari, seorang pria buta dan pasangannya sedang berjalan di sebuah taman. Si pria tersebut berencana untuk melamar pasangannya yang telah dipacarinya selama 3 tahun.
Dengan berbekal sebuah cincin pemberian almarhum ibunya, sang pria itupun memantapkan dirinya.
"Sayang, aku buta dan tidak bisa melihat apapun. Tapi, aku bisa melihat cintamu yang tulus terhadapku." Ucap pria tersebut.
"S.. sayang, kamu tidak apa-apa kan?" Tanya sang kekasih bingung.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan, will you marry me?" Ucap pria tersebut.
Sang kekasih pun kaget dan menutup mulutnya. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa pria yang dicintainya bisa melamar dia dengan seromantis ini.
"Tapi... Aku tidak bisa." Jawab sang kekasih.
"Kenapa tidak bisa? Apa karena diriku cacat?!" Tanya sang pria tegas.
"Bu.. bukan itu. Tapi..." Ucapan wanita terpotong.
"Akh sudahlah! Semua wanita itu sama saja! Selalu memandang fisik!" Bentak pria tersebut berjalan pergi.
Wanita tersebut hanya mampu berdiri dan menangis terisak.
***
Beberapa bulan kemudian...
"Kanker anda sudah memasuki stadium akhir, nona." Tegas sang dokter.
"Trus aku harus bagaimana dok?" Tanya wanita tersebut.
"Satu-satunya jalan adalah kemoterapi. Itu juga jika nona bersedia." Jawab sang dokter.
Wanita tersebut berpikir sejenak sebelum akhirnya mengatakan siap dengan mantap.
***
Setelah selesai berkonsultasi, wanita tersebut berjalan keluar dari ruangan dokter dan melihat seseorang yang kemudian disadari bahwa itu adalah ayah dari mantan pacarnya.
Terlihat ayah dari sang pria sangat gelisah, wanita tersebut pun berjalan mendekati ayah dari si pria.
"Pak, ada apa? Sepertinya Bapak terlihat sedih." Tanya wanita itu.
"Eh, kamu. Bapak tidak apa-apa kok." Jawab ayah dari sang pria.
"Gimana Pak, sudah dapat pendonor mata untuk anak Bapak?" Tanya sang wanita lagi.
"Bapak sudah cari kemana-mana tapi tidak ada yang rela mendonorkan mata mereka." Jawab ayah dari sang pria terisak.
Wanita tersebut terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Pak, aku akan membantu. Tapi bisakah Bapak penuhi permintaanku?"
Sang ayah dari si pria hanya mengangguk mendengar permintaan dari wanita tersebut.
***
Setelah sang wanita pulang, ayah dari pria tersebut menghampiri dokter dan menyampaikan apa yang disampaikan oleh sanh wanita. Dokter hanya mengangguk tanda setuju dan menemui sang pria.
"Tuan, ada yang bersedia mendonorkan matanya untukmu." Ucap sang dokter.
Sang pria akhirnya mendapatkan pendonor mata.
'Aku akan bisa melihat lagi.' Batin pria tersebut.
Setelah melewati beberapa proses, akhirnya operasi pun dilaksanakan.
Dan operasi pun berjalan dengan lancar. Si pria akhirnya bisa melihat lagi.
"Pa, aku bisa melihat lagi. Aku sangat senang!" Ujar pria tersebut.
"Papa turut senang nak." Timpal sang ayah.
"Aku ingin tau siapa orang berbaik hati yang mendonorkan matanya untukku." Ucap pria tersebut.
"Kamu beneran ingin tau siapa yang mendonorkan matanya untukmu?" Tanya sang ayah.
Si pria hanya menganggukkan kepalanya.
"Ikutlah dengan papa jika kamu ingin tahu siapa pendonor mata kamu." Ucap sang ayah.
***
Pemakaman umum...
"Pa, ini kan pemakaman umum. Kok, kita kemari sih?" Tanya si pria.
"Karena disinilah pendonor mata kamu berada." Jawab sang ayah.
"Benarkah? Dimana dia? Aku ingin berterima kasih kepadanya." Ucap si pria senang.
"Dia tepat berada di depanmu." Jawab sang ayah.
"Di depanku? Di depanku tidak ada siapa-siapa, Pa." Balas si pria.
"Tundukkan kepalamu." Perintah sang ayah.
Si pria menururi perintah ayahnya.
Dan betapa terkejutnya dia melihat nama yang tertera di nisan. Si pria langsung jatuh terduduk di depan nisan sang wanita kekasihnya dulu.
Si pria tidak dapat menahan kesedihannya. Dia menangis terisak saat itu juga.
"Mata yang ada di kamu sekarang adalah mata wanita yang sangat mencintaimu apa adanya. Karena dia juga memiliki kekurangan yang sama denganmu. Yaitu, penyakit kankernya." Lanjut sang ayah kemudian.
Si pria memeluk nisan tersebut erat-erat dan tidak ingin melepaskannya.
***