Aku adalah orang biasa yang bekerja sebagai pegawai kantor di sebuah perusahaan. Gajiku memang tidak besar, tapi cukup untuk kehidupan sehari- hariku. Aku memiliki seorang kekasih yang sangat cantik dan pintar. Jenny namanya, seorang dari keluarga kaya raya di kota ini. Sebenarnya aku sedikit minder dengan keluarga Jenny.
Aku yang bersatus seorang pegawai biasa bersanding dengan keluarga terhormat Jenny. Walau begitu, Jenny tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Kami sudah menjalin hubungan selama lima tahun dan aku berencana hendak melamarnya dalam waktu dekat. Selama bertahun- tahun lamanya aku menabung untuk biaya pernikahan kami nanti.
Malam ini selepas pulang dari bekerja, aku berkunjung ke rumah orang tua Jenny. Bermaksud menyampaikan hendak melamar Jenny. Malam ini aku belum membawa kedua orang tuaku yang tinggal di desa. Namun, aku sudah memberitahu rencanaku saat ini. Kedua orang tuaku sangat mendukung.
Aku sangat gugup saat ini, berkali- kali aku mematut diri di depan cermin. Kalau- kalau masih ada yang kurang dari penampilanku. Dering ponsel yang berada di atas meja mengejutkanku. Ternyata Jenny menghubungiku, senyum mengembang di bibir.
“Halo? Aku sudah siap. Iya, seharusnya kamu tidak perlu menjemput. Aku bisa datang ke rumah orang tuamu sendiri, aku sudah pernah melewati rumah orang tuamu. Aku masih hapal jalannya.”
Benar, aku belum pernah sekali pun datang ke rumah orang tua Jenny. Bertemu dengan mereka saja hanya satu kali. Pertemuan singkat yang harus terpotong dengan panggilan telpon dari ponsel masing- masing. Orang tua Jenny memang orang yang sangat sibuk. Bahkan sepertinya mereka tidak terlalu memperhatikanku saat itu.
Aku segera masuk ke dalam mobil yang dikendarai Jenny. Malam ini penampilan Jenny sangat cantik, walau biasanya juga terlihat cantik. Ada senyum merekah dari bibir Jenny. Gadis itu memelukku, meluapkan rasa rindu di antara kami. Beberapa hari memang kami tidak bertemu karena kesibukan masing- masing. Sebenarnya aku tidak terlalu sibuk dan masih dapat meluangkan waktu untuk bertemu. Namun, berbeda dengan Jenny yang sekarang juga ikut membantu perusahaan milik orang tuanya.
“Biar aku saja yang menyetir,” ucapku menawarkan diri.
Jenny mengangguk dan keluar dari mobil untuk bertukar tempat duduk. Mobil yang kukendarai berjalan mulus di jalan raya. Hari belum begitu larut dan banyak kendaraan yang hilir mudik silih berganti.
“Mas Dino sudah makan?” tanya Jenny.
“Belum, bahkan aku tidak berselera makan karena menantikan hari ini.”
“Jangan terlalu dipikirkan, Mas. Aku tidak mau kamu sakit,” ucap Jenny menggenggam tanganku yang bebas.
Jarak rumah orang tua Jenny dengan kontrakan yang aku tinggali lumayan jauh, ditambah tadi kami sempat terjebak macet. Hingga akhirnya kami sampai sudah cukup larut. Aku merasa bersalah karena seharusnya kami berangkat sore tadi.
“Nggak apa- apa, Mas. Jam segini Papi sama Mami belum tidur. Ayo turun sekarang.”
Aku mengangguk dan mengikuti Jenny yang sudah turun terlebih dulu. Netraku membulat melihat rumah megah bak istana milik orang tua Jenny. Rasa tidak percaya diri itu kembali muncul, mendadak nyaliku menjadi ciut. Namun, genggaman tangan Jenny serta senyum manis gadis di sampingku ini mampu memberi kekuatan. Kami berjalan masuk, lampu- lampu menyala menandakan sang penghuni masih terjaga.
“Mbak, Papi sama Mami kemana?” tanya Jenny pada seorang pelayan di rumah ini.
“Beliau sedang berada di ruang kerja masing- masing, Non.”
Jenny mengangguk. “Mas, tunggu di sini sebentar. Aku mau memanggil Papi dan Mami dulu.”
Aku mengangguk dan duduk di ruang tamu ini. Sementara pelayan tadi berlalu setelah menawariku minuman. Sembari menunggu aku memperhatikan ruang tamu ini. Banyak guci serta vas bunga yang kuyakini harganya sangat mahal. Juga ada beberapa lukisan yang pasti berharga sangat mahal.
Suara langkah kaki disertai sayup- sayup perbincangan beberapa orang mampir ke indera pendengaranku. Tidak lama tiga orang hadir di hadapanku membuatku spontan berdiri dari dudukku.
“Pap, Mam, kenalkan ini Mas Doni,” ucap Jenny memperkenalkanku dengan semangat.
“Saya Doni, Pak, Bu,” kataku mengulurkan tangan.
“Dia siapa, Jen?” tanya Mami Jenny.
“Calon suami Jenny, Mam,” jawab Jenny tersenyum dengan pipi merona.
“Calon suami?” tanya Papi Jenny dengan kernyitan dahi.
“Iya. Ah, ayo duduk dulu. Masa’ kita ngobrol sambil berdiri.”
Kami pun duduk. Entah mengapa perasaanku terasa tidak enak. Ekspresi orang tua Jenny terlihat tak bersahabat.
“Kenapa kamu baru bilang jika sudah punya calon suami? Kalian pacaran berapa lama?”
“Kurang lebih sudah lima tahun. Maaf, karena Jenny tidak memberitahu Papi dan Mami.”
“Lalu bagaimana dengan Stevent?” tanya Mami Jenny, ekspresinya benar- benar tak bersahabat saat ini.
Suasana menjadi tegang di dalam rumah ini. Orang tua Jenny dan Jenny sedang bertengkar, sementara aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku memang sudah mempersiapkan semua hal yang mungkin terjadi, juga aku sadar diri. Aku bukanlah siapa- siapa, sangat berbeda dengan keluarga Jenny. Bagaikan langit dan bumi, kurang lebih seperti itu perumpamaannya.
“Jenny tetap akan menikahi Mas Doni apapun yang terjadi. Jenny tidak menyukai Stevent, dia jahat.”
“Kamu ngomong apa, hah? Memang apa bagusnya dia? Keluarganya tidak jelas asal usulnya, sudah bagus Mami kenalkan kamu pada Stevent yang sudah jelas asal usulnya.”
“Jenny tidak mau menikah dengan Stevent. Silahkan usir Jenny seperti yang tadi Mami katakan, Jenny dengan senang hati akan pergi dari rumah ini.”
“Jen, jangan seperti itu,” ucapku mencoba meredakan amarah gadis di sampingku. Walau bagaimana pun mereka masih orang tua Jenny dan tidak baik bertengkar seperti ini.
“Mas Doni mau merelakanku begitu saja? Bagaimana dengan perjuangan kita selama ini, Mas?”
“Aku bukannya mau menyerah, aku akan tetap memperjuangkanmu. Maaf, Pak, Bu, jika saya lancing berbicara seperti ini. Walau harta saya tidak melimpah dan hanya hidup pas- pasan, tetapi saya masih mampu untuk menghidupi putri Bapak dan Ibu,” ucapku memberanikan diri.
“Berapa gaji kamu?”
“Mam!” bentak Jenny. “Ayo, Mas. Kita pergi dari sini!”
Jenny menarikku untuk keluar dari rumah megah ini. Masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana. Jenny tidak memperbolehkanku menyetir. Namun, aku juga takut dengan emosi Jenny masih masih meluap- luap. Mobil berhenti di pinggir jalan dan Jenny keluar dari mobil, aku pun mengikutinya.
“Ayo kita kawin lari, Mas.”
Aku membulatkan mata mendengar penuturan yang terlontar dari mulut Jenny. “Jangan bodoh, Jen. Sabar, pasti ada cara agar dapat meluluhkan hati kedua orang tuamu. Aku akan berusaha.”
“Mereka tidak akan luluh, Mas. Hanya harta yang dapat meluluhkan mereka. Ak… aku tidak mau berpisah denganmu dan harus menikahi pria laknat itu. Lebih baik mati jika harus menikah dengannya.”
“Jen, jangan bebricara seperti itu…”
“Benar, lebih baik mati daripada menuruti keinginan mereka,” ucap Jenny tidak mengiraukan ucapanku.
Aku membulatkan mata saat Jenny berlari ke tengah jalan raya. Segera aku mengejar, benar- benar di luar dugaanku Jenny dapat berbuat nekat seperti ini. Aku mendorong tubuh Jenny sekuat tenaga saat ada sebuah truk melaju cukup kencang.
BRAK!
Aku merasakan tubuhku melayang. Hanya suara teriakan yang bahkan terdengar samar di telingaku. Sekujur tubuhku kaku tidak bisa bergerak, ada rasa hangat yang membasahi wajahku saat ini. Samar- samar aku melihat sosok berdiri di sebelahku, entah siapa itu. Sosok itu berkata datang untuk menjemputku, entah akan diajak kemana aku saat ini. Namun, aku hanya menurut. Lalu gelaplah yang menyapa indera penglihatanku.
🖤🖤🖤