Riana berlari di sepanjang koridor kampus. Dirinya tadi mendapat chat dari Aaron, cowok itu sakit dan sedang terbaring lemas di kamar kos. Jadi setelah kelas berakhir, Riana langsung melesat menuju kos Aaron. Entah sakit apa cowok itu. Tadi Aaron hanya mengatakan jika seharian belum makan apapun karena tidak sanggup bangun dari tempat tidur. Beruntung jarak kos dengan kampus tidak terlalu jauh, hingga Riana bisa berjalan dan tidak perlu mengeluarkan recehannya untuk naik angkutan umum.
“Oh iya, beli makan dulu buat dia,” gumam Riana.
Kaki Riana pun berbelok pada seorang penjual bubur ayam yang kebetulan mangkal di dekat situ. Sebenarnya Riana sangsi apakah bubur itu masih ada, berhubung hari sudah siang.
“Pak, buburnya masih ada?” tanya Riana pada sang penjual bubur.
“Masih, Neng. Mau berapa porsi? Tapi maaf, buburnya dingin.”
“Dua porsi, Pak. Tidak apa- apa nanti bisa saya panaskan di rumah.”
Penjual itu mengangguk dan segera meracik bubur untuk Riana. Beberapa saat kemudian dua porsi bubur itu telah jadi. Setelah membayar, Riana kembali melanjutkan langkahnya menuju kos Aaron yang sudah nampak.
Riana mengetuk pintu kos milik Aaron, tidak ada jawaban dari dalam sana. Tentu hal itu membuat Riana overthinking. Dia menggedor lebih keras bak penagih hutang. Wajah panik Riana terlihat sangat kentara.
“Aaron! Lo masih hidup, kan? Ini gue, bukain pintunya!” teriak Riana.
“Masuk aja, nggak dikunci,” jawab suara dari dalam.
“Ngobrol kalo nggak dikunci pintunya,” ucap Riana kesal dan menjeblak pintu kamar kos Aaron.
Namun, rasa kesal itu mendadak lenyap saat melihat wajah kumal Aaron yang terbaring di tempat tidur berukuran king size itu.
“Jadi lo beneran sakit?” tanya Riana dengan wajah sedih.
“Gue laper, lo bawa makanan?”
“Ada bubur nih, bentar gue panasin dulu.”
Riana pun segera bangkit dari sana dan menuju dapur kecil di sana. Tempat kos Aaron tergolong mewah. Kebanyakan yang tinggal di kos ini anak sultan, salah satunya adalah cowok yang terbaring di tempat tidur itu. Aaron merupakan anak dari pasangan pengusaha dan pejabat di kota sebelah.
Riana sudah sering datang kemari, bahkan dia sudah menganggap kamar kos Aaron juga kamarnya. Tiap sudut tempat ini sudah sangat Riana hapal. Beberapa menit kemudian bubur yang tadi dibelinya sudah siap untuk disantap.
“Nih makan. Lagian kok lo bisa sakit? Perasaan kemarin masih segar bugar.”
“Ya bisalah, sakit mana bisa direncanain? Kenapa lo beli dua bubur?”
“Yang satu…”
“Pas banget gue bener- bener kelaparan,” potong Aaron dan mengambil dua mangkok berisi bubur itu.
Riana mendengus, padahal dirinya juga lapar. Namun, melihat Aaron yang terlihat menikmati bubur itu membuatnya mengalah.
‘Nanti gue bisa beli makanan di luar,’ batin Riana.
“Lo udah minum obat?” tanya Riana.
“Nggak perlu minum obat, besok gue juga baikan.”
“Ya… ya… ya, terserah lo.”
Riana pun bangkit dari duduknya dan mencuci peralatan makan bekas Aaron tadi. setelah selesai, dia kembali pada cowok itu. Ternyata Aaron sudah kembali berbaring. Melihat wajah lusuh itu membuat Riana tak tega meninggalkannya sendiri.
Akhirnya Riana memutuskan untuk menemani cowok itu hingga malam nanti. Aaron saat ini sedang tidur, suara dengkuran halusnya memecah kesunyian ruangan ini. Mata Riana menjelajah seisi kamar. Dinding- dinding banyak sekali poster bergambar Sakura, salah satu tokoh anime kesayangan Aaron. Namun tidak hanya poster, ada juga action figure dan banyak pernak- pernik dengan wajah Sakura.
“Apa menariknya si Sakura,” gumam Riana mendengus.
Bahkan selimut yang dipakai Aaron saat ini bergambarkan Sakura, termasuk guling yang dipeluk cowok itu. Riana menatap iri pada guling Sakura itu. Jam yang ada di dinding kamar milik Aaron sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Riana pun berniat hendak pulang, tapi sebelumnya dia ingin berpamitan pada sang pemilik kamar. Sore tadi Riana kembali menjadi babu cowok itu untuk di suruh membeli makan malam. Seperti siang tadi, setelah makan cowok itu kembali terlelap.
“Ron, gue balik, ya? Lo nggak apa- apa gue tinggal sendiri?” tanya Riana menguncang lengan Aaron dengan perlahan.
Tidak ada jawaban dari cowok itu, hanya lenguhan yang keluar dari mulutnya. Keringat juga mengucur dari dahi cowok itu. Tentu hal itu membuat Riana bingung, tangannya menyentuh dahi cowok itu.
“Panas,” ucap Riana terkejut.
Riana mengurungkan niatnya untuk pulang. Dia kini merawat Aaron yang mendadak demam tinggi. Riana membuat kompres air hangat untuk menurunkan demam cowok itu. Ia duduk di sebelah empat tidur Aaron dan menunggu cowok itu. Terkadang dia kembali membasahi kain yang digunakan untuk mengompres, atau mengganti air jika sudah tidak hangat lagi.
“Lo nggak ke rumah sakit aja?” tanya Riana.
“Gue nggak mau ke rumah sakit,” jawab Aaron lirih.
“Lah gue kira lo tidur.”
Namun, tidak ada jawaban dari cowok itu. Riana menghembuskan napas pasrahnya, dengan telaten dia merawat Aaron. Baru kali ini Riana merawat orang yang sakit, benar- benar merawatnya. Ada perasaan sesak melihat Aaron terbaring lemah seperti ini.
“Cepet sembuh, Ron,” ucap Riana lirih, tangannya menyeka dahi cowok itu yang basah oleh keringat.
💙💙💙
Entah berapa lama Riana tertidur. Dia bahkan tidak sadar jika jatuh tertidur. Semalaman ia terus merawat Aaron. Sebuah guncangan Riana rasakan pada bahunya. Perlahan gadis itu membuka matanya dan melihat wajah Aaron yang sudah nampak lebih segar, tidak lusuh seperti kemarin. Wajah cowok itu sudah kembali tampan. Sempat merasa berbunga- bunga karena saat membuka mata, hal pertama yang netranya tangkap adalah wajah tampan milik Aaron.
“Lo semalam nggak pulang?” tanya Aaron.
Riana menguap lebar sebelum menjawab. “Mana tega gue tinggalin lo sendiri dalam keadaan demam tinggi.”
“Makasih, Rian, lo udah mau rawat gue.”
“Lo udah berani ngajak berantem, udah sembuh berarti,” ucap Riana dengan wajah dongkol.
“Sebenernya gue galau,” kata Aaron dengan ekspresi murung.
“Galau kenapa? Lo punya pacar?” tanya Riana.
Ekspresi Riana mendadak berubah, dia takut jika benar Aaron mempunyai kekasih. Dirinya pasti akan sangat patah hati. Kalah sebelum dia berjuang dan sempat menyatakan perasaannya.
“Gue galau karena kemarin Sakura ditolak sama Sasuke,” ucap Aaron dengan wajah sedih, bahkan air mata hampir keluar dari kedua bola mata cowok itu.
Riana menoleh pada Aaron. Suasana di kamar ini mendadak menjadi panas, hal itu yang dirasakan Aaron. Dia meraih remot pendingin ruangan dan menyalakannya.
“Jadi gara- gara Sakura ditolak Sasuke lo jadi sakit?” tanya Riana memastikan lagi.
“Iya, gue sebel sama Sasuke. Sok ganteng banget jadi orang,” jawab Aaron polos.
💙💙💙