Semilir angin menerbangkan rambut sepunggungku yang tergerai saat ini. Memang menurut ramalan cuaca, hari ini akan terjadi badai. Namun walau badai menghadang, aku harus tetap pergi ke kampus untuk bertemu dengan dosen. Saat ini aku berada di semester delapan dan tengah disibukkan oleh bimbingan bersama dengan dosen pembimbing.
“Rian!” panggil sebuah suara yang sudah sangat familiar dipendengaranku.
Aku mendengus mendengar panggilannya itu, kupercepat langkahku tanpa mempedulikannya. Sebuah tepukan di bahu yang cukup keras hampir saja membuatku tersungkur.
“Rian, dipanggil kok nggak noleh sih?” tanyanya menggembungkan pipinya.
Aku menatap datar pada cowok di depanku ini. Dia tidak satu kelas denganku, kami bertemu ketika itu di saat yang tidak terduga. Namanya Aaron, jangan salah sangka. Walau namanya macho, tapi tingkah Aaron sedikit kemayu. Aku saja heran bagaimana bisa berteman dengan cowok itu.
“Udah gue bilang, jangan panggil gue Rian!” seruku menatap sebal padanya.
“Emang gue salah? Nama lo, kan, Rian Na,” jawab Aaron dengan seenak udelnya memenggal namaku.
“Panggil Ana, kayak anak- anak yang lain.”
“Nggak mau, Rian panggilan kesayangan dari gue.”
Blush!
Aku merutuk dalam hati melihat respon tubuhku yang mendengar ungkapan Aaron. Memang tidak ada yang spesial dari ungkapan cowok itu, bagi Aaron. Namun, berbeda denganku yang diam-diam menyukainya sejak pertama kali bertemu dengannya.
“Ckck, udahlah gue mau nemuin Pak Sapto. Kalo gue telat bisa- bisa di ghosting lagi nanti.”
Aku berjalan meninggalkan Aaron yang masih berdiri di belakangku. Ternyaat dia tidak membuntutiku lagi.
“Nanti pulang bareng gue, ya?”
Aku hanya mengacungkan jempolku tanpa menoleh dan mempercepat langkahku menuju ruang dosen yang sudah berada di depan mata.
“Dasar lo lemah, An,” gumamku merutuk.
Namun, aku terdiam kala teringat kembali bagaimana pertemuanku dengan Aaron sekitar satu tahun yang lalu.
💙💙💙
Aku berjalan tergesa melewati lorong- lorong kampus yang sudah sepi. Langit juga sudah gelap karena memang hari sudah sore, ditambah mendung serta angin yang berhembus cukup kencang. Hari ini aku pulang terlambat karena dosen yang betah sekali mengoceh. Aku masih bisa maklum jika dosen itu mengoceh tentang mata kuliah yang bersangkutan, tetapi beda lagi jika yang diocehkan hanya seputar aktivitasnya sehari- hari. Sialnya lagi, tidak ada yang berani menegur dosen itu karena nilai taruhannya.
“Yaah, hujan,” ucapku mendesah kecewa melihat rintikan air yang mulai jatuh ke bumi.
Akhirnya aku menunggu sampai hujan reda di depan kelas yang berada di gedung DKV. Memang di saat hujan begini paling enak adalah melamun. Aku melamun dengan berbagai pikiran di kepala, sempat beberapa kali menguap juga. Namun, mulutku yang terbuka lebar berhenti dengan posisi seperti itu ketika indera pendengaranku mendengar sebuah suara dari dalam salah satu kelas yang ada di gedung ini.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutku, sebenarnya aku bukan orang yang penakut dengan hal- hal berbau mistis. Aku pun berjalan menghampiri sumber suara. Suara cekikikan yang entah milik siapa makin jelas terdengar saat langkahku menuju salah satu kelas dengan pintu yang terbuka separuh. Kulongokkan kepala ke dalam melihat sekeliling kelas yang sudah sepi.
Namun, netraku melihat sosok yang duduk membelakangiku. Penasaran, aku berjalan masuk. Menyiapkan ponsel dan membuka aplikasi kamera. Kalau benar- benar sosok itu hantu, aku berniat merekamnya.
‘Lumayan, bisa viral nanti,’ batinku.
Aku mulai merekan dan berjalan mendekat. Namun, betapa terkejutnya aku saat tiba- tiba sosok di depanku ini menoleh dan ponsel yang kupegang tidak sengaja terlempar.
PRAK!
“Aaaaa, siapa lo?”
Suara nyaring benda jatuh dibarengi dengan suara nyaring sosok di depanku. Aku terdiam, pandanganku menatap ponsel yang tergeletak mengenaskan di lantai.
“L… lo bukan hantu, kan?” tanyanya.
“Lo sendiri makhluk apa?” tanyaku balik menatap seorang cowok yang duduk di depanku.
“Gue manusia,” jawab cowok itu polos.
“Ya udah kalo manusia,” ucapku mendengus, lalu aku memungut ponsel di lantai.
Hembusan napas keluar dari hidungku ketika melihat layar ponsel yang retak. Aku menatap cowok yang ternyata juga sedang menatapku. Sebenarnya ingin minta ganti rugi, tetapi aku segera sadar jika hal ini juga bukan salahnya. Lagipula cowok itu pasti akan beralibi.
“HP lo rusak?” tanya cowok itu tiba- tiba.
“Hmm, nanti bisa gue benerin,” jawabku menunjukkan layar ponsel padanya.
“Gue bayarin jasa servisnya nanti. Walau gimana pun salah gue juga nyenggol HP lo tadi.”
Mendengar hal itu mataku langsung berbinar, tapi cepat- cepat aku mengubah ekspresi. Wajah yang dibuat- buat merasa tidak enak.
“Nggak perlu. Lagipula masih bisa nyala, nih. Mahal kalo mau servis.”
Cowok itu menggelengkan kepalanya. “Gue akan tetep ganti kerusakannya. Maaf, ya?”
Aku berdehem. “Ya udah kalo maksa.”
Suara petir yang menyambar membuatku dan cowok yang sampai sekarang belum kuketahui namanya terkejut. Namun, aku lebih terkejut lagi saat cowok itu memekik.
“Mama!” pekiknya, tapi dia langsung berdehem. “Kaget gue,” lanjutnya.
Aku berusaha menahan tawa yang ingin menyembur keluar. Pandanganku spontan teralihkan saat melihat sebuah tablet di meja.
“Lo lagi apa?” tanyaku penasaran. “Lo yang gambar itu?”
Namun, reaksi yang ditunjukkan cowok itu tidak terduga. Tangannya langsung menutupi layar tablet yang menyala. Kernyitan di dahiku muncul, memangnya ada yang salah dengan pertanyaanku?
“Bukan apa- apa,” jawabnya cepat. “Ah, hujannya udah reda gue balik dulu.”
Cowok itu langsung membereskan barang- barangnya dan pergi dari sana, meninggalkanku yang masih bengong.
“Lho? Katanya mau tanggung jawab?” tanyaku melotot, aku pun segera mengejar cowok itu. Namun nihil, dia sudah menghilang entah kemana.
💙💙💙
Aku terkekeh geli saat teringat kembali bagaimana pertemuan pertama kami. Kukira Aaron akan lupa dengan janjinya memperbaiki ponselku, tetapi tanpa diduga ternyata dia mencariku untuk memberi uang itu. Semenjak saat itu kami menjadi dekat.
“Kenapa lo cekikikan?” tanya Aaron menoleh sekilas padaku. Saat ini kami sedang dalam perjalanan menuju café untuk nongkrong.
“Tiba- tiba inget pertemuan kita dulu,” jawabku tersenyum. “Bener- bener anugerah ketemu sama lo,” lanjutku menampilkan senyum semanis mungkin.
“Nggak, bagi gue musibah.”
Senyumku seketika luntur, padahal tadi jantungku sudah berdetak sangat cepat. Kata- kataku barusan merupakan sebuah pengakuan yang tersirat untuknya.
“Ah ya, lupa gue. belahan jiwa lo, kan, si Sakura-chan,” ucapku meledek.
Tangan kiri Aaron langsung membekapku dan matanya melotot. Padahal di dalam mobil ini hanya ada kami berdua. Aku menurunkan tangan besarnya dan mendengus kesal. Namun, selanjutnya senyumku mengembang. Senyum meledek yang kutujukan untuk cowok di sebelahku ini.
‘Sepertinya gue masih harus lebih berusaha buat lo peka,’ batinku menatap wajah Aaron yang masih terlihat sangat kesal.
💙💙💙