"Perkenalkan nama saya Shafa Carlina Putri saya pindahan dari SMA Berlian Nusantara". Semua murid tampak cuek saat Shafa memperkenalkan diri. Bahkan beberapa dari mereka masih asik mengobrol. Guru mempersilahkan Shafa duduk di sebelah Raymond.
Terdengar dua anak perempuan berbisik "Lo lihat deh, rambutnya udah kayak sarang lebah di taman belakang sekolah Cupu banget deh" Kata Laura ketua Genk yang populer karena cantik dan memiliki body goals. "Ra, lo liat deh bajunya kusam banget ih. Gue rasa itu baju turun-temurun tuh" Kata Tania.
Shafa sosok yang cuek dan tampil apa adanya. Dia tidak mempedulikan omongan Laura dan Tania. Shafa duduk di sebelah Raymond yang tetap fokus ke depan.
"Ra,Tan. Nanti malam ada DJ Capung di Club biasa" Kata Xena. Membuat Laura dan Tania heboh. DJ Capung termasuk DJ paling terkenal dan misterius karena penampilannya yang tidak ingin di ketahui orang. "Yuk, nanti malam kita ketemuan di Club Infinity jam 11" Ucap Laura.
Malam harinya Laura, Tania dan Xena pergi ke Club. Saat baru memasuki Club Tania mengalihkan pandangannya. "Eh ra, perasaan tadi gue liat si cupu deh. Mana ya?" kata Tania. Laura tersenyum dan berkata "Lo lagi mikirin si Cupu ya? Sampai orang lain saja lo kira si Cupu."
Mereka menikmati alunan musik. "Tadi gue ngajak Raymond sama teman-temannya." kata Laura. "Qian ikut juga tidak ya?" tanya Xena. Raymond dan teman-temannya pun datang menghampiri Laura and the genk. Andrew bukannya ikut teman-temannya ia malah menghampiri DJ Capung yang terlihat Body goals banget.
Shafa yang menyadari adanya Andrew sedikit menjaga jarak. "Aduh, mampus gue. Kenapa ada mereka sih disini?" batin Shafa. Topeng yang di pakai Shafa terlepas saat Andrew menatap ke arah Shafa. Andrew mengenali wajah Shafa walau terlihat dari samping. Shafa tetap profesional memainkan alat DJ sambil memegangi topengnya. "Cap, Lo mirip sama Cewek Cupu di kelas gue deh," Kata Andrew.
Penampilan DJ Capung berakhir "Hanya sekedar mirip saja kan?" Balas DJ Capung. "Tapi lo lebih cantik kok daripada si Cupu di kelas gue" Ucap Andrew. DJ Capung segera pergi meninggalkan panggung.
"Eh, tadi kan gue di dekat DJ Capung ya, Topengnya pas kebuka gue lihat dia mirip sama si Cupu tahu." kata Andrew.
"Lo kayaknya jodoh deh sama Tania. Dia juga tadi gitu katanya dia sempat lihat si Cupu," Kata Laura.
*** Di Sekolah ***
Terdengar suara merdu seorang cewek dari dalam ruangan paduan suara. Raymond yang terpesona dengan suara indah itu langsung mencari sumber suaranya. Dia mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Ternyata suara itu adalah suara Shafa yang sedang bernyanyi di iringi dengan dentingan piano.
Setelah bernyanyi Shafa kembali ke kelasnya. Terlihat sebotol air mineral berada di atas mejanya dan ada selembar kertas yang berisi "Lo pasti lelah setelah bernyanyi. Ternyata lo punya suara yang indah banget. Gue suka," Shafa tersenyum sendiri. Raymond yang melihat Shafa tersenyum berbisik "Lo itu sudah Cupu, gila juga ya? Senyum-senyum sendiri." Shafa menghiraukan perkataan Raymond.
Sore hari Shafa berjalan ke tengah kota sambil membawa kotak Gitarnya. Ia membuka kotak tersebut dan melantunkan nyanyian di tengah kota. Beberapa orang menaruh uangnya di kotak gitar Shafa yang terbuka. Laura and The Genk melihat Shafa yang sedang bernyanyi dengan penampilannya yang cupu. "Eh, kalian lihat deh itukan si Cupu. Ternyata dia pengamen jalanan ya. Kita rekam yuk, terus kita sebarkan ke teman-teman sekolah," Kata Laura. Mereka menghampiri Shafa yang sedang bernyanyi sambil merekam.
Shafa tidak ingin berlama-lama. Dia membereskan peralatannya dan pergi. "Huh, Syukurlah masih dapat walau tidak banyak seperti biasa. Coba saja kalau Laura dan teman-temannya tidak datang dan merekam." Shafa ngedumel sendiri.
Setelah matahari terbenam, Shafa segera ke Club Infinity dan berdandan untuk perform. Saat perform Shafa melihat Raymond yang sedang duduk sendirian di depan bar sambil melihat ponselnya. Shafa menghampiri Raymond dengan penampilan ala DJ Capung. "Suka suaranya atau orangnya?" kata DJ Capung sambil melihat video yang di putar Raymond. "Suka keduanya" kata Raymond yang membuat DJ Capung mematung terdiam. Bahkan lagi-lagi ia tidak menyadari bahwa pengikat topengnya terbuka lagi sehingga membuat celah kecil. Raymond melirik ke arah DJ Capung. Raymond melihat wajah DJ Capung dari celah yang terbuka. "Talinya putus. Sini gue yang ikat," Sambil membantu mengikat tali topengnya. DJ Capung menangkis tangan Raymond dan pergi.
*** Di Sekolah ***
"Haduh, bagaimana ini? Kita kekurangan orang. Padahal besok sudah mulai pentas drama." Kata Ketua Ekskul Teater.
Shafa yang mendengar itu menawarkan diri untuk mengisi peran. Namun, Ketua Ekskul sempat meragukan penampilan Shafa. Karena Peran yang kosong adalah pemeran utama. Seseorang mengizinkan Shafa untuk menggantikan pemeran utamanya. "Sudah, terima saja. Dia juga setuju kok kalau si Cupu ini jadi pemeran utamanya. Lagipula suaranya juga bagus. Untuk penampilan bisalah nanti di make over." Kata Andrew. Ketua Ekskul akhirnya menerima Shafa "Ya sudah, kamu saya terima. Besok kita sudah tampil, hari ini adalah hari terakhir kita latihan. Semoga kamu bisa menghafal dialog kamu dengan cepat. Jangan sampai penampilan kita berantakan karena kamu." kata Ketua Ekskul sambil memberikan naskah dramanya.
Shafa menyendiri di pojok ruang teater sambil membaca dialog. Setelah waktu istirahat selesai semua menempatkan posisi masing-masing sesuai dengan peran mereka. Sempat terjadi beberapa kesalahan sehingga membuat mereka kesal dan down. "Bagaimana kita bisa tampil dengan baik jika dia selalu membuat kesalahan?" kata Ketua Ekskul.
"Sudah kita fokus sama peran kita masing-masing saja." kata Andrew sambil menepuk pundak Ketua Ekskul.
"Lagipula baru kali ini si Raymond merasa langsung cocok. Biasanya banyak banget persyaratan ini itu," Sambung Andrew.
**Keesokan Harinya**
"Ini, ganti pakaianmu sekarang." Kata Ketua Ekskul.
"Andrew, kamu bantu Shafa mempersiapkan penampilannya." sambung Ketua Ekskul.
Andrew melongo melihat penampilan Shafa. "Ini lo cup?" Kata Andrew sambil memastikan bahwa di ruangan itu hanya ada Shafa dan dirinya. Begitu Andrew melihat dari sisi sebelahnya, Andrew teringat dengan wajah DJ Capung.
Shafa keluar dari ruangan itu dan bergabung dengan pemeran lainnya. Merekapun memasuki panggung dan menempati posisinya masing-masing. Begitu lampu sorot memancarkan cahayanya ke Shafa semua pemain terpesona dengan penampilan Shafa. Begitu juga pada Raymond. Saat Shafa harus berakting sambil bernyanyi semua penonton terpesona termasuk para juri.
"Mirip seperti DJ Capung," Batin Raymond.
Di sisi lain, hari sudah sore Shafa memilih pergi untuk menghasilkan dolar. "Aku pamit duluan ya. Masih ada urusan." kata Shafa ke ketua Ekskul. "Tunggu, kamu belum mendengar keputusan juri." Teriak Ketua Ekskul pada Shafa yang sudah lari. Raymond ikut pergi.
Di kumpulan penonton "Itu tadi yang nyanyi siapa ya? Gue gak pernah lihat dia. Cantik parah" Kata Xena.
"Lebih cantik juga gue" balas Laura tidak mau ada yang menyaingi kecantikannya.
Disaat Shafa menikmati petikan Gitarnya, di tempat lain ada mereka yang masih berdebar menunggu hasil dari juri.
MC membacakan pemenang nominasi satu persatu sebelum membacakan pemenang utama.
Raymond berdiri di depan Shafa menyaksikan Shafa bernyanyi. Shafa tersenyum pada Raymond.
Di tengah ramainya orang yang menonton sambil merekam Shafa berkata "Kali ini Shafa ingin menyanyikan lagu spesial yang Shafa ciptakan untuk seseorang yang spesial".
Mendengar hal itu Raymond berbalik badan dan pergi. "Oh, ternyata dia sudah memiliki seorang yang spesial," Batin Raymond. Shafa yang melihat Raymond pergi berpikir bahwa ternyata Raymond tidak sungguh-sungguh menyukainya atau mungkin Raymond tidak suka jika Shafa memiliki perasaan yang sama padanya. Setelah bernyanyi Shafa merapikan peralatannya dan pergi ke Club.
Di Club Shafa berpapasan dengan Laura and The Genk. "Cupu!" Teriak Laura sambil memegang tangan Shafa.
"Ngapain lo kesini? Oh, pasti lo OB disini ya?" sambung Laura.
"Sudah ra, lepasin saja dia. Kasihan nanti kalau terlambat dia bisa di pecat dan tidak bisa sekolah lagi" Kata Xena.
Shafa pergi masuk ke dalam. Shafa langsung menaiki panggung dengan Penampilan ala DJ Capung. Saat perform lagi-lagi dia melihat Raymond menyendiri di depan bar. Setelah perform DJ Capung menghampiri Raymond.
"Kenapa lagi?" kata DJ Capung.
"Ternyata dia sudah punya orang yang spesial di hatinya," kata Raymond membuat DJ Capung tersenyum.
"Memang lo suka banget sama cewek itu?" tanya DJ Capung.
"Ya, walaupun di culun. Tapi gue kagum dengan dia. Dia pintar dalam akademik, pintar berakting, pintar bernyanyi bahkan dia pintar memikat hati gue," jawab Raymond lirih.
"Kalau lo serius cinta sama dia ya lo ungkapin dong. Walau kata lo dia sudah punya seorang yang spesial di hatinya. Siapa tahu orang itu lo," kata DJ Capung.
**Di Sekolah**
"Shafa" Andrew memanggil.
"Lo di cari sama Ketua Ekskul Teater" sambungnya.
Shafa bertanya-tanya dalam hati. Saat sampai di ruang Teater semua pemain berkumpul.
Beberapa orang berbisik "Ternyata di balik penampilannya yang cupu ada penampilan angel yang memancarkan sinarnya."
"Ada apa ya kak?" tanya Shafa.
"Kamu sudah ikut serta dalam pentas kemarin dan kamu berhak mendapatkan hasil penampilan kamu kemarin." Sambil memberikan piala nominasi pemeran perempuan terbaik.
"Dan ini piala pemenang utama. Karena hanya ada satu jadi ada baiknya kita abadikan bersama." Sambung Ketua Ekskul.
Setelah menerima pialanya Shafa keluar dan kembali ke kelasnya. Raymond juga kembali ke kelasnya mengikuti Shafa.
"Shafa, tunggu." Raymond menghentikan langkah Shafa.
"Ada yang mau gue omongin sama lo" kata Raymond di depan pintu kelas.
Shafa melihat sekelilingnya.
"Ada apa ya?" kata Shafa.
"Gue suka sama lo. Gue tahu di hati lo sudah ada seorang yang spesial. Tapi setidaknya gue sudah menyatakan isi hati gue," kata Raymond.
Shafa berbisik di telinga Raymond "Lagu yang gue nyanyiin kemarin itu untuk lo dan lo orang yang spesial di hati gue".
Shafa langsung masuk ke kelas sambil tersenyum.
"Ih ra, lihat si Cupu kesurupan apa tuh senyum-senyum sendiri" kata Tania.
"Eh si Cupu itu kesayangan gue!" kata Raymond yang membuat Laura and The Genk terkejut.
Penampilan terakhir DJ Capung di Club Infinity sebelum ia berpindah ke kota besar lainnya.
Laura and The Geng sudah berada di dalam bersama Raymond dan teman-temannya.
"Gue yakin banget kalo si DJ Capung itu si Cupu. Gue pernah lihat wajahnya. Ya, walau hanya dari samping," kata Andrew.
"Eh si Cupu tuh cuma jadi OB tahu disini. Gue pernah berpapasan dengan dia.
DJ Capung melewati di tengah-tengah mereka.
"Itu DJ Capung! DJ Capung!" Teriak Laura.
DJ Capung melewati mereka dan berhenti di depan Raymond sambil berbisik "Selamat ya".
MC pun naik dan memberi pengumuman.
"Halo guys, karena ini adalah hari terakhir DJ Capung di Kota ini. Bagaimana jika kita minta DJ Capung untuk membuka topengnya? Setuju?". Para penonton bersorak setuju.
"Sebelumnya saya berterimakasih kepada mereka yang terlibat dalam keseharian saya selama disini dan untuk orang yang spesial di hati saya. Saya berharap kita akan tetap bersama walau jarak memisahkan kita. Satu musik terakhir dari saya untuk kalian nikmati," kata DJ Capung. Raymond mengenali sekali suara DJ Capung. "Shafa" Ucap Raymond.
"Mana dia? Gue mau lihat dia dengan seragam OB" kata Laura.
Raymond menunjuk ke arah DJ Capung.
"Yang benar lo Ray?" kata Andrew.
"Iya, Kita lihat saja nanti setelah dia membuka topengnya" kata Raymond.
Setelah penampilan terakhirnya DJ Capung bersiap untuk membuka topengnya yang selama ini menutupi wajahnya. Detik-detik menegangkan saat DJ Capung mencoba membuka Topengnya.
Setelah terbuka. Sebelum DJ Capung berbalik badan MC dan seluruh penonton menghitung mundur.
Dan DJ Capung pun berbalik badan sambil menyemprotkan sebotol soda.
"Shafa?" Andrew sambil terkejut.
"Benar Shafa Ray" sambung Andrew.
Laura and The Genk terkejut melihat penampilan Shafa yang luar biasa cantiknya.
Raymond menghampiri DJ Capung dan berbisik "Benar dugaan aku selama ini. Saat aku melihatmu dari celah yang terbuka saat topeng itu lepas".
"Aku mohon tetaplah disini menemaniku." Raymond memohon di atas panggung.
"Maaf Ray, Aku harus pergi. Tapi aku akan tetap sering-sering kesini," kata Shafa.
"Ini nomorku. Kita akan tetap berkomunikasi selama aku berada di luar kota." sambung Shafa.
Sejak saat itu Shafa mengundurkan diri dari sekolahannya dan melanjutkan perjalanan karirnya. Hubungan Raymond dengan Shafa tetap berjalan. Hingga saat Raymond bekerja di perusahaan ternama dan melamar Shafa.
_TAMAT_