Pernak-pernik gantungan kunci memancar tepat mengenai mata bulat jernih milik Aina—gadis desa yang sedang mengerjakan tugasnya. Ia mengerjap-ngerjap, dengan napas tercekat menghampiri mainan kunci berbentuk moto yang menggantung di jendela kamarnya.
Angin menyapu wajahnya saat ia baru saja tiba di dekat jendela yang berpalangan kayu sebesar jempol kaki. Dedaunan yang berjatuhan dari pohon mangga sebelah rumahnya, berhambur di depan wajahnya.
“Anginnya kenceng banget,” monolognya sembari menutup sedikit jendela yang terbuat dari kayu jati.
Aina, gadis yang baru naik ke kelas IX. Meraih ponsel jadulnya yang terletak di atas meja bundar buatan sang ayah. Memutuskan untuk menelepon ayahnya yang sedang berada di ujung pulau, bersama para nelayan lainnya.
Dia seorang gadis piatu, ibunya sudah lama pergi—ketika dia baru saja tamat dari Sekolah Dasar. Sekarang, dia hanya tinggal berdua dengan ayahnya, yang hanya seorang nelayan. Walaupun bergaji hanya separuh dari gaji pekerja kalangan atas, tak memutuskan semangat pria paruh baya itu untuk membahagiakan anak satu-satunya.
Kadang kala, Aina hanya tinggal di rumah sendiri, sebab, ayahnya jarang pulang jika harus mengumpulkan banyak ikan untuk di jual ke juragan kampung ini.
Tut Tut
“Maaf, pulsa Anda tidak cukup. Tekan 1 untuk—“
Aina langsung melemparkan ponselnya ke ranjang. Dia beringsut duduk di sudut lemari, pikirannya sedang kacau sekarang.
SPP sekolahnya sudah hampir sepuluh bulan belum dibayar, sedangkan ayahnya belum juga kembali dari laut. Guru yang bertugas sebagai bendahara sekolah sudah menegurnya berkali-kali untuk segera membayar. Namun, tak ada yang Aina bisa lakukan, ia tergantung pada ayah.
Dia bersekolah di SMP Pancung Jaya. Sekolah swasta yang dekat dengan rumahnya. Sebenarnya dia ingin bersekolah di SMP Negeri, tapi karena jaraknya yang cukup jauh, sang ayah tidak menginzinkan, dan memilih memasukkan di SMP Pancung Jaya.
Sebenarnya faktor utamanya adalah hujan, sang ayah harus banyak libur karena tidak bisa mencari ikan, disebabkan air pasang. Hingga SPP bulanan itu jadi terbengkalai dan kini membuat pusing Aina.
Aina beranjak ke dapur. Sudah hampir sore dan dia harus memasak untuk makan malam. Walaupun hanya singkong dan daunnya saja, Aina tetap bisa menggunakan bahan itu untuk makanan yang dapat masuk ke dalam perutnya dan ayah, jika lelaki itu kembali.
Saat baru ingin membalik daun singkong yang ada di kuali, tiba-tiba dia mendengar suara pintu diketuk. Dengan gegas dia meninggalkan spatula, dan cepat berlari menuju pintu.
“Wa’alaikum salam, ada apa ya Pak RT?” Aina menatap heran pria paruh baya yang menjabat sebagai RT di kampungnya. Beliau berdiri dengan sedikit lunglai, dan matanya terlihat sayu saat menatap Aina.
“Kedatangan saya ke sini, untuk mengabarkan. Kapal yang ditumpangi ayahmu, tenggelam, diterjang ombak,”
Lunglai. Tubuh kurus milik Aina jatuh ke tanah. Air matanya sudah mengalir deras. Tak ia pungkiri, semua ini akan terjadi. Padahal kemarin ayahnya baru saja berkata, bahwa ia akan kembali dan segera menemui dirinya.
“Ayah ....” Suara Aina tertahan, dia berlari menuju penangkaran ikan di bibir laut.
Berteriak. Aina terus berteriak menyebut nama ayahnya, berharap lelaki yang ia tunggu-tunggu segera datang dan memeluknya dengan erat. Sembari mengatakan, bahwa semua ini hanya mimpi.
Kenyataan yang harus Aina terima, ayahnya tak akan kembali. Bersujud di pasir, Aina kembali menangis sambil terus berteriak tanpa henti.
**
Keputusan berat yang harus diambil. Aina tengah menggenggam tas besar berisi baju-baju. Ia sudah memutuskan pergi ke kota untuk mengubah hidup. Di sini, ia tak bisa berbuat apa-apa. Sekolah? Bahkan ia tak punya uang untuk membayar bulanannya.
Kemarin dia mendapat telepon dari bibi adik ayahnya yang sedang mengubah nasib di kota, menyuruh agar dirinya juga ikut bekerja di kota orang.
Dengan berat hati Aina menerima tawaran itu. Dia sudah memutuskan untuk berhenti sekolah dan pergi ke Jakarta, mencari uang untuk biaya hidup. Dia tidak bisa bergantung pada orang lain, sebab di kampung ini dia hanya tinggal bersama ayah saja.