"Bagaimana bisa begitu, kalau seperti itu kita gak bisa dapat untung Gas!" tegasku.
"Dengerin dulu, jangan ngegas dulu." ucap Bagas.
"Ama." teriak Zevan.
"Eh, apa sayang?" Kutatap dia.
"Ama..." ucapnya.
"Dia mau turun kali bos." ucap Bayu.
"Bener kata Bayu, bos kecil capek kali duduk diiket gitu." ucap Aldo.
"Ama..." Zevan mulai ngamuk.
"Iya sayang, mau turun ya." Aku menurunkan dia.
"Sini bos kecil sama om Aldo." Aldo menggendongnya.
"Ao." kulihat Zevan berontak.
"Oh mau turun ya, duh sama cakepnya ni sama om." ucap Aldo.
Kuliat anakku begitu riang lari kesana kemari ditemani Aldo. Aku membawanya karena di rumah tak ada orang yang menjaganya.
"Bagai mana bos, diel seperti itu?" tanya Bayu.
"Ya, sementara kita jalankan seperti itu." jawabku.
"Bos gawat, bos kecil." Aldo kembali dengan panik.
"Kenapa?” tanyaku.
"Anu...bos." Aldo bingung.
"Lo gak buang bos kecilkan Al?" ucap Bayu.
"Jaga mulut Lo Bay. Lo pikir Gue apa." Kesal Aldo.
"Gue tanya diman Zevan?" aku menatap Aldo.
"Itu...disana." kulihat arah jari Aldo menunjuk.
"Deg, pemandangan apa itu? Siapa wanita itu? Kenapa anakku begitu akrab dengannya?" batinku.
Aldo duduk dan kudengarkan ceritanya dengan seksama, dari interaksi keduanya kulihat mereka udah saling kenal. Kuliat dia menghujani ciuman di wajah anakku, dan anakku juga menerimanya dengan sangat senang.
Jadi, kalau menurut cerita Aldo. Zevan lari kesana kemari karena mencari wanita itu yang tiba tiba hilang dari pandangannya, dan begitu menemukannya Zevan langsung lari ke arahnya dan wanita itu juga menerimanya dengan tangan terbuka.
"Ya ampun lucu sekali anaknya mbak" ucap seorang ibu ibu, "Eh. dia malu." Ibu ibu itu tersenyum.
"Sayang, ayo disapa, halo pada tante" ucapnya.
"Ao ate." ucap Zevan.
"Sapa namanya sayang?"
"Emmm, Boy." jawab wanita yang tak kutau siapa.
Kulihat wanita yang menyapa itu mencium putraku, tapi langsung diusap pipinya.
"Ama." Zevan menyusup pada leher wanita yang memangkunya.
Aku tersenyum melihatnya. Andai aku memberi keluarga yang utuh untuk putraku, dia pasti bahagia.
"Paaaa." Zevan memanggilku.
"Sayang." kuusap kepala putraku.
"Eh, maaf saya tidak tau, dari tadi saya bingung Boy kesini sama siapa."
"Boy?"
"Maaf saya gak tau siapa namanya, jadi saya panggil Boy." wanita itu menjelaskan.
"Sayang ayo sama papa." kuambil Zevan.
"Gak au." dia menolakku.
"Sayang jangan ganggu tante. ayo sama Papa." aku mengambil paksa dan Zevan langsung nangis.
"Bos, mungkin bos kecil masih kangen sama nona ini. Biarin aja, gimana kalo kita gabungin aja meja kita, biar bos kecil bisa melepas kangennya." saran Gilang.
"Bener tuh yang dibilang Gilang, menurutmu gimana Gas, Do?" ucap Bayu.
"Mas...tolong gabungkan meja kami." pintaku pada pegawai restoran.
"Baik pak, tunggu sebentar." pewagai itu pun menggabungkan meja kami.
Tak terasa aku tersenyum melihat interaksi dua orang ini. Bagaimana bisa anakku begitu akrab dengannya. Kulihat dia menyuapi putraku dengan telaten dan mengajarinya makan sendiri dengan sendok. Mereka berdua seperti sedang berada dalam dunia mereka sendiri.
Kulihat putraku terlelap dalam pelukan wanita itu, dia menyusupkan kepalanya didada wanita itu dengan sangat nyaman. Saat jam sudah menujukkan pukul sepuluh malam, aku pun ijin pulang.
Dalam perjalanan pulang kulihat wajah anakku yang terlelap, dia terlihat begitu tenang dan damai.
"Sepertinya anakmu begitu akrab dengan wanita tadi Za. Sungguh aneh, padahal mereka baru ketemu hari ini. Anakmu itu paling susah didekati orang baru, sama Hana aja dia gak mau dipegang." ucap Gilang.
"Kau benar, aku juga merasa aneh." jawabku.
***
Setelah nyampek rumah, kuceritakan semua kejadian di kafe tadi pada mamaku. Mama bilang tak mengenal wanita siapapun. Alhasil aku dan mama sama bingungnya. Namun semua telah kembali seperti semula, Zevan sulit didekati orang lain yang belum dikenalnya.
Mama menyarankan untuk memasukkan Zevan ke sekolah play grub agar dia memiliki teman dan bisa bersosialisasi dengan orang lain. Setelah jalan tiga bulan tiba tiba Zevan gak mau dipanggil dengan namanya dan ingin dipanggil Jeje. Melihat tingkah lucu dan menggemaskannya rasa khawatirku pun hilang, namun dia tetep tak mau dekat dengan orang yang baru.
Satu tahun berlalu. Aku berniat ingin mengadakan pesta ulangtahun Zevan, karena dia sekarang udah pandai bicara dan menulis walau tulisannya masih ke kanan ke kiri.
***
Brrrtt brrrt
"Halo Ma, ada apa?"
"Reza. Zevan Za."
"Zevan kenapa Ma?"
"Dia masuk RS Za, maafin Mama."
Kudengar Mama menangis dan terus menangis, membuatku semakin panik.
"Lang, tolong gantiin rapat hari ini, aku harus ke RS anakku dirawat disana sekarang." pintaku pada Galang.
"Oke, hati hati bos." balas Galang.
***
Sesampai di RS aku mendengar cerita dari Mama dan adikku Rara. Kalau Zevan jatuh dari tangga. Aku meminta pada Aldo untuk melakukan pemeriksaan lengkap pada anakku, namun katanya semua normal hanya luka sobek dikeningnya, tapi katanya gak bahaya, bengkaknya akan sembuh sendiri.
Kulihat wajah anakku yang sedang tertidur, kudekap dia dalam pelukanku dan betapa terkejutnya aku. Dalam tidurnya anakku berguman memanggil Mamanya. Ini salahku yang begitu bodoh dan egois, andai aku gak marah dan menurunkan Wilda ditengah jalan, andai aku mengangkat teleponnya waktu itu. Mungkin kecelakaan itu tak akan terjadi, dan nyawanya bisa tertolong. Namun aku baru menyadari saat di rumah. Rasa penyesalanku tak bisa mengembalikan Wilda yang udah pergi meninggalkanku untuk selamanya dan memaksa putraku lahir belum waktunya.
"Maafin Papa sayang." kukecup puncak kepala putraku.
Udah tiga hari putraku dirawat di RS dan besok udah boleh pulang kata Aldo. Selama tiga hari kulihat raut wajah putraku selalu murung, walau banyak yang mengunjunginya dia tetap murung dan lebih banyak diam.
Krauk.
"Ah!" seketika aku terbangun dan kulihat putraku terkekeh. Keras sekali dia menggigitku, saat kutanya kenapa dia menggigitku, dia bilang Mama nyuruh gigit kalau aku susah dibangunin. Aku bingung dengan ucapanya, tapi saat ku edarkan pandanganku sepertinya baru aja ada yang datang karena ada mawar putih di atas meja.
***
Mendekati hari pesta ulang tahunnya, kulihat putraku sunggu sangat bahagia. Dia menulis satu nama dikertas undangan itu dengan kata Mama, aku tersenyum dan mengelus kepalanya.
Hari H pesta tiba tiba putraku jadi sangat rewel, bahkan siapapun tak sanggup membujuknya. Namun saat Aldo mendekat dan membisikkan sesuatu dia tiba tiba meniup lilinnya dan saat semua orang tepuk tangan dia malah memeluk leherku sangat kuat dan menangis histeris. Aku bingung apa yang terjadi, saat kutatap tajam Aldo dia hanya mengangkat bahunya tanda tak tau.
Tangisnya semakin pecah seolah ada rasa sesak, sakit, marah dan kesal dalam hatinya yang tak bisa dia ungkapkan.
Tangannya semakin erat memeluk leherku dan terus memanggilku Papa, semua orang terdiam. Hatiku sangat sakit melihat keadaan putraku saat ini, andai aku bisa mengerti apa isi hatinya. Aku pun memeluknya erat dan tanpa sadar air mataku pun berjatuhan, penyesalan dalam hatiku sangat dalam. "Maafkan Papa sayang. Papa sungguh egois memisahkanmu dengan Mamamu."
Suara seorang wanita yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun terdengar dari arah luar dan semakin mendekat.
Tangis putraku berhenti saat dengar suara nyanyian orang itu dengan pengeras suara, kulihat dia mengedarkan pandanganya untuk mencari sumber suara, dan raut wajahnya yang sendu penuh luka tadi berubah bagai matahari yang sangat cerah. Akupun mengikuti arah pandang putraku, tak jauh dari pintu masuk kulihat seorang wanita berdiri dengan membawa buket mawar putih dan pengeras suara. Satu kalimat yang terucap dari wanita itu bikin aku terkejut, aku tak percaya kalau nama itu pemberiannya.
"Selamat ulang tahun sayangku, Jeje."
"Mamaaaaa!" putraku lari dan memeluknya.
Adegan yang terjadi antara putraku dan wanita itu membuatku dan Mamaku terpaku di tempat. Kulihat putraku menghambur dalam pelukan wanita itu dan disambut dengan pelukan serta dihujani ciuman yang bertubi tubi.
Prok prok pok. (tepuk tangan semua orang)
Wanita itu berjalan mendekati kue ulangtahun sambil menggendong putraku. Dia membisikkan sesuatu di telinganya, lalu mendekatkan pengeras suara dan, "Terima kasih semuanya." ucap putraku.
Dia membisikinya lagi dan mendekatkan pengeras suara ke putraku. Lalu, "Selamat menikmati pestanya semuanya."
***
Hari ulangtahunku diadakan bersamaan dengan pesta perusahaan. Semua undangan dan rekan kerja datang, namun para sahabatku belum ada yang datang. Zevan turun dari pangkuanku, dia mengedarkan pandangan seolah sedang mencari sesuatu, tiba tiba dia lari. Saat aku mengejarnya aku disapa rekan bisnisku.
"Biar Mama yang jaga."
"Maafkan aku untuk semua hadirin yang hadir malam ini,” ucap Mamaku, “aku Amita Ratna, istri alm. Rengga Wijaya meminta waktu untuk mengenalkan orang penting. Kuharap kalian akan menghormatinya seperti kalian menghormati putraku Reza Atma Wijaya. Tolong beri tepuk tangan yang meriah untuk calon menantuku Aisya Azzahra."
Kulihat seorang wanita yang menggendong putraku berjalan maju mendekati Mamaku.
"Jadi, namanya Aisya Azzahra, cantik sesuai dengan orangnya." gumamku.
Ada debaran yang kurasakan, sepertinya aku sudah jatuh hati padanya saat pertama kali kulihat interaksinya dengan putraku di kafe itu.
Kebahagianku terasa komplit dengan kehadiran Aisya dalam keluargaku dan hidupku. Setiap hari seluruh sudut rumah dihiasi oleh canda tawanya, amaranya, teriakannya karena ulah yang dilakukan oleh putraku. Dan aku juga jadi terbiasa dengan omelannya yang selalu menyuruhku bangun pagi dan cepat mandi.
"Terima kasih putraku, kau telah memberiku kado terindah tahun ini. Kalian harta yang berharga untukku, aku akan menjaga kalian dengan baik hingga akhir hayatku. Aku janji.”