“Mah..aku berangkat dulu..dah mamah. Doain Ika ya semoga keterima kerjanya.” seru Ika seraya bergegas meneguk segelas susu yang ada dimeja makan. Ika perempuan berbadan mungil dengan rambut hitam sepundak dan kulit putih berpipi bakpau. Dia baru saja mendapat gelar sarjana Matematika di suatu Univertas di Jakarta.
“Pak..angkot.” teriak Ika sambil melambaikan tangan kearah angkot yang datang. "Ke kantor cakrawala ya Pak.” tambahnya setelah duduk didalam angkot.
Hari ini, Ika ada sesi interview melamar kerja di kantor Cakrawala. Dia melamar menjadi analisis keuangan di perusahaan tersebut.
Setelah 30 menit, Ika sampai dikantor dan langsung menuju ke ruang interview yang ternyata sudah banyak orang yang menunggu untuk interview juga. Selesai interview, Ika tidak sengaja menabrak seorang laki-laki berbadan tinggi, berkulit sawo matang dengan rambut berponi.
“Eh,,maaf maaf.”
“Eh,,iya.Namamu Aritmatika?” Tanya laki-laki yang tidak sengaja ditabrak Ika.
“Kok tau nama saya?”
“Kenalin Teo, Teorema Aji Maulana. Tadi aku dengar petugas interview manggil nama kamu.” (sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan)
“Kenalin juga Ika, Aritmatika Dwi Sasmitha. Wah..nama kita sama-sama berhungan dengan matematika ya..” seeru Ika sambil tertawa lirih.
“Haha iya,,makannya aku mau kenalan sama kamu dari tadi.Soalnya namanya lucu..Aritmatika..” sambil terkekeh-kekeh.
“Kenapa namamu Teorema? Kalo aku dikasih nama Aritmatika karena papahku suka banget sama hal-hal yang berbau angka terutama matematika. Sampe nama adekku Logaritma dan abangku Geometri.”
“Iya..serius?Hahaha segitunya papahmu sama matematika, (tawanya langsung meledak seketika). Kalau aku dikasih nama Teorema itu dari kisah cintanya orang tua ku. Yang ketemu di seminar Teorema.”
“Ohh..gitu (sambil tertawa pelan).”
“Ayo semua berkumpul, hasil peserta interview yang lolos akan segera ditempel dimading kantor.” seru seorang laki-laki yang baru saja keluar dari ruangan interview.
“Hanya ada 10 orang yang akan lolos dari 50 peserta interview. Untuk yang lolos bisa langsung menempati divisi yang dibutuhkan.” tambah laki-laki itu, sambil menuju mading dan menempelkan sebuah kertas hasil pengumuman.
Aku dan Teo segera melihat kertas yang ditempelkan.” Yesss…akhirnya perjuagan ku gak sia sia.” teriak ku setelah melihat kertas dimading yang mencantumkan namaku menjadi divisi analisis keuangan.
“Alhamdulillah..(sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya). Ika, aku lolos jadi divisi analisis investasi.Yeahh..” girang Teo setelah melihat mading sambil menarik tanganku untuk tos bersama.
Hari demi hari berlalu, kedekatan kami dari awal interview semakin dekat. Meskipun kami berbeda divisi, kami selalu sering bertemu dan bertegur sapa. Tak kusangka setelah bekerja selama 3 tahun, dia akhirnya melamarku. Padahal kami tidak pernah berpacaran, bahkan untuk chattingan saja hanya untuk masalah pekerjaan. Dia tiba-tiba datang kerumahku disaat libur bekerja dan menemui kedua orangtua secara langsung.
Setelah itu, akhirnya kami menikah. Teo adalah laki-laki yang sederhana, humoris, sopan, dan pekerja keras tapi sangat sayang dengan keluarga. Setelah 10 tahun menikah, kami dikaruniai 3 orang anak yang bernama Aksioma Cahya Pelita, Aljabar Fauzi Mahardika, dan Muhammad Gradien Ferara.