Allahu akbar Allahu akbar......(tanda adzan subuh berkumandang)
Aku terbangun dari lelap tidurku dan meninggalkan mimpiku bertemu Lee Min Ho di Negeri Ginseng sana. Mengucek-ngucek mata sembari sesekali menguap. Melipat selimut dan membenahi sprei yang berantakan akibat polah tidurku yang tak beraturan. Berjalan sembari mengucir rambut sebahuku. Seperti biasa melihat pintu di dapur yang sudah terbuka, itu artinya ibu sudah mengeluarkan jurus memasaknya. Melihatnya mengusap mata dengan celemek karena mengiris bawang dan sembari melihatku berjalan yang belum begitu sadar yang hampir menabrak tembok kamar mandi.
“Nek mlaku ki ngeti dalan to ndug, kulino ....(kalau jalan ngga lihat-lihat, kebiasaan)
Kuusap-usap jidatku yang sedikit sakit karena terbentur tembok. Kemudian langsung masuk kamar mandi.
“Bar shalat langsung rene ya, gantian ibuk arep shalat. (Habis shalat langsung kesini ya, gantian ibuk mau shalat).
“Nggih buk ...(iya buk).
Sebelum masuk kamar, terlihat bapak yang menutup pintu depan. “Wis shalat ndug?” (Udah shalat?)
“Ini baru mau shalat ....”
“Ya udah ... bapak tak ke kandang dulu ya...”
“Nggih pak.” Jawabku.
Rutinitas bapak setiap habis shalat subuh di masjid langsung ke kandang untuk memberi makan sapi-sapinya yang berjumlah 3 ekor. Yaa bapak adalah peternak sapi sekaligus mantri sapi. Beliau merawat sapi-sapinya sendiri di kandang kelompok desa yang letaknya di tepi sungai. Di sana tidak Cuma sapi bapak, tapi ada beberapa sapi warga lain di sana.
“Rin ..... Rini” Panggil ibuk dari dapur.
“Dalem buk ....” Aku langsung melipat mukena dan menaruhnya lagi di tempatnya. Berjalan ke dapur menghampiri ibu yang memanggilku.
“Kamu beli tahu di depan ya, itu sudah lewat kayaknya.”
Aku langsung keluar menghampiri penjual tahu yang juga tetanggaku sendiri. Namanya Lek Tini. “Tumbas tahu putih 5ribu ya lek.” (Beli tahu 5ribu ya tante)
“Ibuk’e panen ya mbak?” Katanya sambil memasukkan tahu ke kantong plastik putih.
“Iya lek, Lek Tini udah panen?” Tanyaku.
“Uwis.... hmmmm tapi yo ngono lah Rin, ora payu. Soale pariku kena serangan hama.” (Ya begitulah Rin nggak laku, soalnya padiku kena serangan hama).
Aku pun manggut-manggut mendengarkan curhatnya tentang panen sawahnya yang kurang bagus hasilnya.
Sampai di dapur aku langsung membuat bumbu kemudian menggoreng tahu yang sudah kubumbui. Oyaaa.... aku belum cerita. Namaku Rini Wulandari, anak pertama dari tiga bersaudara. Aku punya dua adik perempuan yang pertama namanya Resti kelas 1 SMA, dan yang kedua namanya Risa masih kelas 1 SMP. Aku masih menunggu pengumuman SNMPTN. Cita-citaku sih ingin kuliah di Solo aja yang deket rumah. Tapi entahlah, tapi aku juga mendaftar di kampus Jogja dan Jakarta. Di mana pun aku kuliah nanti, aku hanya ingin orang tuaku bangga denganku. Aku ingin membuktikan pada semua orang kalau anak kampung bisa kok kuliah.
Setelah semua masakan selesai, ibu memintaku mengantarnya ke sawah. Aku mengantar makanan ke sawah dengan sepeda. Di jalan aku ketemu dengan teman SD ku, namanya Agus.
“Katanya mau kuliah, kok malah ke sawah?” Katanya dengan muka yang sedikit menyindir.
“Kan masih nunggu pengumuman, yo gpp to bantuin orang tua dulu di rumah. Kamu, katanya mau kerja di Jakarta kok belum berangkat?”
“Nanti siang aku berangkat bareng sama pakdheku, ..... eh tak kasih tau ya, kalau mimpi jangan tinggi-tinggi, jatuh sakit, nangis deh akhirnya ..... wkwkwkwkwkwk.” Katanya sambi tertawa terbahakk-bahak.
“Sak karepmu!!!” (Terserah kamu!!!)
Aku langsung menancap pedal dengan kekuatan ekstra. Aku paling benci diremehkan orang lain seperti itu.
Sampai di sawah aku memanggil Lek Tarjo untuk ngasih makanan yang sudah dibuat ibuk tadi. Lek Tarjo melihatku dengan keheranan.
“Kamu kenapa to Rin, kok wajahe mendung banget. Biasane nggak gini lho. Ada apa? Mbok cerita sama Lek Tarjo. Gini-gini aku juga lulusan Jakarta lho.” Kata Lek Tarjo bangga.
Aku pun terkejut dengan ucapan Lek Tarjo,”Serius Lek?”
“Lulusan kuli bangunan Jakarta.” Katanya dengan tawa.
“Kirain ....” gumamku.
Aku kemudian pergi meninggalkan Lek Tarjo, lek Tarjo pun memanggilku namun tak aku gubris. Aku tahu dia hanya suka bercanda.
Kukayuh sepedaku dengan cepat, tak melihat kiri kanan, melaju dengan kencang. Hingga akhirnya .....gedubrakkkkkk.
“Aduh .....” ucapku sambil berusaha bangun dan melihat lututku sedikit luka dan berdarah. Kemudian dia datang menghampiriku.
“Kamu nggak apa-apa?” Katanya.
Aku melihat orang yang bertanya padaku tadi, betapa terkejutnya aku setelah menoleh. Dia orang yang kulihat, apa aku mimpi. Rasanya tidak mungkin dia kembali ke kampung ini lagi. Orang yang selama ini kukagumi. Orang yang sudah meninggalkan kampung ini selama tiga tahun ini. Aku terkejut dia masih mengenaliku.
Aku langsung berdiri meski kakiku masih terasa sakit dan kembali menatapnya. Ada apa ini? Kenapa jantung ini kencang sekali detaknya. Kenapa rasa ini muncul lagi? Aku pun segera menggelengkan kepalaku.
“Maaf aku nggak sengaja, kamu nggak apa-apa?” Tanyaku.
Dia malah tersenyum padaku, dan ya ampun... kenapa senyumnya begitu manis dan tidak berubah.
“Rini... Rini ... ternyata kamu masih sama ya. Kamu lihat diri kamu, kamu yang terluka, aku nggak apa-apa. Ayok aku bantu, kita menepi dulu.”Katanya dengan lembut sembari membantu menuntun sepedaku.
Yaa... dia Aryo, lelaki yang aku kagumi sejak kelas 1 SMA. Orang paling tampan dan paling cerdas di kampung ini. Apalagi dia sangat sholeh. Bagaimana aku tidak kagum padanya, mendengar suaranya saja aku sudah meleleh seperti ini. Apalagi bisa menatapnya begini. Dia pergi dari kampung ini sudah tiga tahun lamanya. Dia pergi ke Jakarta untuk kuliah. Bagaimana aku bisa lupa dengannya, dia yang pertama kali membuat mataku berbinar, senyumku mengembang, hingga aku berambisi untuk menjadi pintar sepertinya.Meski sampai sekarang dia tak pernah mengetahui perasaanku padanya.
“Mas Aryo kapan pulang?” tanyaku.
“Baru kemarin sore, ... sini aku obati dulu lukamu.” Katanya.
“Udah mas nggak apa-apa, nanti biar Rini bersihkan di rumah saja.” Kataku karena aku malu kalau dia membersihkan luka di lututku.
“Udah, sini aku bersihin. Kalau nunggu nanti malah iritasi.” Katanya.
Aku pun tak bisa menolak lagi. Aku terdiam dan terus memandang wajahnya. Wajah yang selama ini kurindu, wajah yang selama ini menghiasi mimpi-mimpiku. Perih pun berusaha aku tahan, tak apa asalkan aku tetap bisa memandang wajahnya.
“Udah... kenapa kamu tadi seperti terburu-buru?” Tanyanya.
“Ohhh ...eee...itu mas, tadi aku habis ngantar makanan ke sawah. Terus tadi aku seperti sakit perut. ...(dengan reflek aku menutup mulutku, kenapa aku malah berbohong seperti ini.)
Mas Aryo malah tertawa terbahak-bahak. Mungkin dia pikiar aku sakit perut karena mau buang air kali ya.
“Ya udah .... kamu sekarang ke WC dulu deh.”Katanya sambil menahan tawa.
Malu-maluin banget sih kamu Rin, masa di depan cowok yang kamu kagumi malah bilang kayak gitu, dasar Rini. “Bukan mas, ini udah enggak kok.” Aku berusaha menepis kebohongan lagi.
“Serius?” Tanyanya.
Aku pun mengangguk sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal ini akibat salah tingkah.
“Oya, kamu udah lulus SMA Kan? Ini mau lanjutin kerja atau kuliah dulu?” tanyanya.
“Eeee... kuliah dulu mas, ini Rini masih nunggu pengumuman.” Kataku masih sedikit gelagapan karena belum terlalu percaya diri untuk ngobrol sama mas Aryo sedekat ini.
“Wahh... bagus dong. Aku yakin pasti bisa. Kamu mau ambil jurusan apa?” Tanyanya.
“Rini ambil S1 Manajemen Bisnis mas.”Kataku lugu.
“Bagus dong, kamu mau jadi pengusaha ya?” tanyanya.
Aku hanya tersenyum dan kembali menggaruk kepala. Kemudian aku teringat dia yang ambil jurusan hukum.
“Oya, Mas Aryo ambil jurusan hukum ya, wahhh setahun lagi lulus dong.” Aku berusaha mencairkan suasana.
“Doakan ya Rin, semoga bisa lulus cepet ya Rin. Soalnya aku juga sambil kerja di sana.” Katanya.
“Wah, mas Aryo hebat ya bisa kuliah sambil kerja. Bisa bagi waktu dengan baik. Rini boleh dong minta tips dan triknya gimana manajemen waktunya.” Aku pun dengan semangat mengutarakan itu.
“Nanti kalau kamu udah ngalamin masa itu, kamu pasti akan bisa bagi waktu kamu sendiri.” Katanya santai.
“Ngomong-ngomong mas Aryo kerja apa?” Tanyaku penasaran.
“Kerja parttime di coffe Shop aja .... ya lumayanlah hasilnya bisa buat beli buku.”
Aku semakin kagum sama dia, lelaki yang dari dulu tidak berubah. Tetap santun dan ramah pada semua orang. Ya Allah, rasa ini semakin kuat padanya. Apa yang harus aku lakukan. Menyatakannya padanya itu hal tak mungkin, aku tak punya kepercayaan diri tinggi untuk itu.
“Oya Rin,, kamu mau kuantar pulang?” Tanyanya.
“Nggak usah mas, Rini bisa sendiri kok.” Jawabku singkat. Apa kata ibuku kalau diantar mas Aryo pulang. Bisa distrap seminggu dirumah nggak boleh keluar. Bisa gila aku.
“Ya udah, aku pulang dulu ya. Kamu hati-hati ya.” Katanya ramah kemudian beranjak pergi.
***
Waktu menunjukkan pukul 21.00 aku masuk kamar dan mengambil novel kesayanganku yang kubeli waktu ikut bapak ke kota. Novel ini bercerita tentang harapan seorang wanita pada kekasihnya. Sangat menyentuh dan aku sampai menangis haru membacanya. Di tengah-tengah membaca aku merasa gerah sekali. Kubuka jendela kamarku. Aku melihat mas Aryo berjalan. Aku tersenyum melihatnya. Wajah yang tampan dan berkarisma yang membuatku terpesona. Ingin kupanggil dia, tapi kuurungkan niatku. Aku melihat mas Aryo menyapa bapak. Aku melihat mereka sedang ngobrol di depan rumah. Aku pun dengan semangat langsung berlari keluar kamar dan mengintip mereka. Tiba-tiba adikku resti mengagetkanku dari belakang.
“Hayyooo .... lagi ngapain mbak?” Katanya dengan nada menggoda.
“Apa sih, udah masuk kamar sana. Udah malem, besok sekolah kan.” Kataku yang nggak mau diganggu.
Dia sedikit cemberut, kemudian dia ikut mengintip di jendela.”Itu bukannya mas Aryo ya, yang dulu ngajarin aku ngaji di masjid?”
“Iya.... dia baru pulang dari Jakarta.” Kataku singkat sambil masih mengintip.
“Dia tambah ganteng ya mbak....” Katanya sambil senyum-senyum nggak jelas.
Aku yang merasa tidak suka orang yang kukagumi dikagumi orang lain, meskipun adikku sendiri aku langsung mencemesnya dengan kata-kata manis tapi keras.
“Hah, ganteng? Udah ya, masuk sekarang tidur, besok sekolah. Nggak ada ganteng-gantengan.” Aku langsung mendorongnya untuk segera pergi ke kamarnya. Tapi kita malah seperti orang berantem yang dorong-dorongan, wajarlah namanya juga kakak adik. Sampai ibuk pun datang melerai.
“Kalian ki ngapain to malam-malam kok ribut aja lho.” Kata ibuk.
Resti membela diri dan ingin mengatakan kalau aku mengintip mas Aryo. Aku langsung membungkam mulutnya dengan tanganku.
“Ini lho buk, tadi aku nyuruh dia tidur udah malem, malah ngajak main ni anak.” Kataku dengan tangan masih membekap mulut Resti.
“Yowis...Resti, tidur sana besok sekolah. Rini tolong buatin minum buat bapak dan nak Aryo. Ibuk mau buatin mie goreng.” Ibuk langsung melangkah ke dapur.
Betapa senangnya aku diberi kesempatan untuk ketemu mas Aryo lagi. Dan demi apa mas Aryo datang kesini, apakah dia mau melamarku? Ah.... Rini... Rini jangan ngelangtur kamu ini. Dia Cuma lewat dan kebetulan ketemu bapak di luar.
Dengan hai-hati aku membawa 2 cangkir teh untuk mas Aryo dan bapak.
“Nah, nak Aryo masih ingat Rini, anak bapak yang pertama. Sekarang dia sudah mau kuliah tinggal nunggu pengumuman saja.” Bapak menjelaskan.
“Masih pak, tadi pagi sempet ketemu sama Rini di jalan.” Kata mas Aryo santai.
“Wah.... kebetulan ya. Rini ini sepertinya juga berharap keterima kuliah di Jakarta. Dia ini anaknya suka tantangan nak Aryo. Nggak bisa diem....” Kata bapak bersemangat menceritakan anak sulungnya ini.
Aku hanya tersenyum malu dan salah tingkah ketika bapak menceritakan pribadiku di depan mas Aryo. Sementara Mas Aryo nampak begitu santai menanggapi pernyataan dari bapak.
Tak lama kemudian, mas Aryo pamit pulang. Dia mencium tangan bapak, tapi tak bersalaman padaku hanya pamit pulang saja. Dan aku hanya mengangguk. Ahhh... rasanya tak ingin secepat ini dia pulang. Masih ingin banyak dan banyak lagi melihatnya. Apalagi melihat dia tersenyum padaku. Itu merupakan magnet yang membuatku selalu ingin bertemu dengannya. Aku masih terdiam menatap mas Aryo berjalan jauh meninggalkan rumahku. Bapak yang berdehem hingga mengeraskan dehemnya membuatku kaget.
“Ada rasa sama nak Aryo, Rin?” Tanya bapak penasaran.
“Bapak ngomong apa sih?” aku salah tingkah menjawab pertanyaan bapak.
“Iya juga nggak apa-apa.” Kata bapak membuatku berbunga-bunga. Seperti mendapat lampu hijau dari bapak jika aku menyukai mas Aryo.
“Enggak pak .... “Kataku sambil berjalan masuk ke rumah dan bapak masih geleng-geleng kepala melihat tingkahku.
Entah mimpi apa aku semalam ya Allah.... Engkau berikan hari bahagia hari ini. Seperti mimpi aku kembali bertemu dengan mas Aryo, lelaki yang kukagumi dengan diam selama ini. Dan dia masih begitu perhatian sama seperti dulu meskipun dia lama di Jakarta. Dia terlalu santai dan biasa saja bertemu denganku tanpa aku melihat ada sisi dia juga menyukaiku. Sementara aku, setiap bertemu dengannya selalu salah tingkah dan entah polah apa lagi yang membuatku mati gaya di hadapannya. Mungkin aku mengagumi dalam diam merupakan jalan yang tepat saat ini. Tidak mungkin aku mengutarakan perasaanku yang sesungguhnya padanya. Malu rasanya jika dia tahu, sementara mungkin dia tak ada rasa denganku. Mungkin sikapnya memang seperti itu kepada semua orang. Aku hanya terlalu percaya diri saja kalau dia juga menyukaiku.
Perasaan yang selalu tertutup ini, aku berharap dapat terbalaskan suatu saat nanti. Aku berharap ini bukan hanya perasaan yang bertepuk sebelah tangan saja. Dan aku masih belum tahu apakah aku benar-benar ada rasa cinta padanya atau aku hanya mengaguminya saja. Sementara, aku tidak tahu di Jakarta sana, mungkin dia sudah punya pasangan. Apalagi anak Jakarta banyak yang cantik dan modis. Sementara aku, hanya anak kampung yang sama sekali belum tersentuh oleh make-up.
***
Hari ini hari Senin, tepat dimana hari yang kunanti. Aku bersama temanku Heni bersama-sama mengayuh sepeda ke kota. Mencari warnet untuk melihat pengumuman. Dengan mengucap bismillah aku memencet tombol enter setelah mengetikkan nomor peserta. Betapa senangnya aku, aku diterima di kuliah di Universitas negeri di Jakarta. Aku meneteskan air mata bahagia melihat jerih payahku terbayarkan. Heni pun sama, dia juga diterima di Jakarta di jurusan Farmasi. Meskipun berbeda jurusan tapi kita masih satu kampus. Minimal aku ada teman ketika tinggal Di Jakarta nanti. Orang pertama yang ingin kuberitahu selain bapak dan ibuk adalah mas Aryo. Tapi, aku mengurungkan niatku. Buat apa aku ngasih tahu dia, sedangkan aku dan mas Aryo nggak ada hubungan apa-apa.
Heni memelukku, dia sangat bahagia. Aku pun juga demikian. Aku dan Heni akhirnya pulang dengan semangat. Aku ingin membeli roti untuk bapak ibuk dan juga adik-adikku untuk yahhhh mungkin untuk menunjukkan rasa syukurku karena diterima di universitas yang aku inginkan.
Dari kejauhan aku melihat seperti mas Aryo sedang bersama perempuan. Aku tidak pernah melihat perempuan itu apalagi mengenalnya. Mereka berhenti di depan toko yang sama denganku dan juga Heni.
“Rini...” dia menyapaku.
Aku hanya berbasa-basi tersenyum, meskipun aku masih bertanya-tanya siapa perempuan ini. Dia cantik, rambutnya panjang, kulitnya putih, dan wangi. Aku melihat diriku, mungkin hanya angka 1 dari 10 angka. Sedangkan dia 10 dari 10.
“Rin....” tanyanya.
“Iya mas?” tanyaku.
“Ngapain di sini, ini Heni kan?” ternyata dia juga mengingat Heni. Heni pun menganggukan dan menjawab singkat pertanyaan mas Aryo.
“Kita habis dari warnet mas, liat pengumuman.” Kataku.
“Terus gimana, keterima?” Tanyanya.
“Alhamdulillah mas.” Jawabku singkat.
“Wah... selamat ya, kalian memang hebat. Oya, kenalin ini Ayu adik sepupuku dari yang tinggal di seberang sekolah kita dulu. Dia juga habis liat pengumuman dan keterima di Jogja.” Katanya santai.
Entah kenapa hatiku langsung lega mendengar kata adik sepupu. Sepertinya aku tak rela jika dia ada hubungan dengan perempuan lain. Tapi lagi-lagi aku terpatahkan dengan status ini. Siapa aku, berani-beraninya tak suka dengan hubungannya dengan perempuan lain. Sadar Rini, kamu ini Cuma pengagum bukan yang berhak memiliki mas Hendra.
Mas Hendra pun mengajakku dan Heni untuk sama-sama masuk ke toko roti. Saat aku dan Heni membayar mas Aryo tiba-tiba memberikan uangnya pada kasir.
“Biar saya saja mbak yang bayar semuanya.” Katanya.
“Ehhh jangan mas, ....” Kataku menolak.
“Nggak apa-apa, sekali-kali aku nraktir kalian. Anggap aja ini hadiah buat kalian karena kalian udah keterima kuliah.” Katanya dengan lembut.
Aku dan Heni tak bisa menolak lagi. Kami hanya bisa mengucapkan terima kasih. Malah mas Aryo menambahkan beberapa roti pada kami. Sebenarnya aku tak enak hati, tapi bagaimana lagi tidak baik juga menerima rejeki. Sementara Heni begitu senang mendapat traktiran dari mas Aryo. Mas Aryo baik banget, mungkin dia memang baik sama semua orang bukan Cuma padaku saja.
Sebelum kami pulang, mas Aryo bilang padaku.” Nanti kalau kalian butuh apa-apa di Jakarta bilang aku ya. Kita di kampus yang sama kok. Nanti aku bantuin cari kost di sana.”
Aku dan Heni mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Mas Aryo dan sepupunya kemudian pergi dengan motornya. Aku dan Heni kemudian pulang ke rumah dengan hati senang.
Sampai di rumah aku langsung berteriak” bapak ..... ibuk .... Rini keterima ....”
“Alhamdulillah.....” kata ibuk lalu memelukku.
Bapak mencium keningku dan mengusap kepalaku.”Bapak bangga sama kamu Rin.” Katanya.
Sementara Resti dan Risa memberikan jempol mereka padaku. Kemudian aku memberikan roti yang kubawa untuk dimakan bersama-sama. Bapak kemudian berinisiatif untuk memotong ayam sebagai rasa syukurnya untuk dimakan bersama nanti malam. Dan ibuk dengan semangat untuk memasaknya. Senang sekali rasanya bisa membuat mereka bahagia.
Malam pun tiba, aku dan keluargaku berkumpul di meja makan untuk menyantap hidangan yang sudah dimasak ibukku tadi. Banyak sekali makanan malam ini, tak seperti baiasanya. Adik-adikku juga sangat senang. Mungkin kebersamaan ini yang akan kurindukan ketika nanti aku sudah hidup di Jakarta.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan mengucap salam di depan. Ketika aku ingin membuka pintu, bapak beranjak dari tempat duduknya dan berkata “Biar bapak saja, kamu bantu ibukmu menyiapkan minumnya.” Aku mengangguk lalu beranjak membantu ibuk membuat teh. Kemudian bapak masuk dan siapa tamu yang mengetuk pintu tadi. Sebuah kejutan yang tak terduga, ternyata mas Aryo datang membawa buah-buah dan beberapa makanan yang dimasak budhe Umi, ibunya mas Aryo.
“Sini nak Aryo, kita makan bareng-bareng.” Kata bapak kemudian mempersilakan mas Aryo duduk.
Aku begitu gugup melihat mas Aryo duduk. Mas Aryo bercerita kalau tadi dia cerita pada orang tuanya kalau aku keterima di universitas yang sama dengannya. Kemudian orang tua mas Aryo menyuruhnya membawakan banyak makanan ini untuk keluarga kami sebagai ucapan selamat. Mereka tak bisa ikut karena ada undangan di desa sebelah. Maklum bapak mas Aryo adalah kepala desa di kampungku.
Aku mencuri pandang padanya. Entah mimpi apa ini, kami bisa sedekat ini dan satu meja makan dengannya. Hal yang tak pernah aku impikan sebelumnya.
“Nak Aryo, nanti bapak minta tolong bantu Rini ya nak pas di Jakarta. Bapak sekalian titip anak bapak. Maklum, dia belum pernah sekalipun ke Jakarta. Meskipun anaknya pemberani, dia masih butuh bimbingan dari nak Aryo yang sudah berpengalaman ini.” Ungkap bapak.
“Iya pak, insyaAllah Aryo akan bantu sebisa Aryo. Aryo juga masih belajar pak.” Jawabnya dengan tenang.
Rendah hati sekali dia, kata-katanya tak ada satupun yang negatif. Itu semakin menambah poin plus untuknya dariku.
Setelah selesai makan, ketika aku mau mencuci piring. Bapak memanggilku dan menyuruh Resti dan Risa yang membantu ibuk.
“Bawakan cemilan dan kopi ke depan. Buat teman ngobrol bapak sama nak Aryo.” Kata bapak. Dan aku mengangguk mendengar perintah bapak.
Setelah menyuguhkan kopi dan cemilan bapak menyuruhku duduk. Bapak bercerita banyak dengan mas Aryo. Mas Aryo pun menceritakan kehidupan di Jakarta seperti apa pada bapak. Bapak sepertinya juga kagum sama mas Aryo. Menurutku mas Aryo adalah laki-laki pertama yang bisa sedekat ini sama bapak.
“Pak Wawan.... “ Sapa pak RT kepada bapakku. Lalu berjalan menghampiri kami.
“Iya pak RT ... tumben ini, ada apa?” Tanya bapak.
“Mau bilang selamat sama Rini yang keterima kuliah di Jakarta.” Katanya dengan semangat. Pak RT ini adalah bapaknya Heni teman baikku yang akan satu kampus denganku juga nanti.
“Matur suwun pak RT, saya juga mengucapkan selamat buat Nak Heni. Mereka satu kampus yang sama pak.” Kata bapak bersemangat.
“Ada nak Aryo juga, oya nak Aryo. Mumpung ketemu di sini, saya titip anak saya Heni ya, tolong nanti dibantu pas di Jakarta.” Titah pak RT pada Mas Aryo.
“Baik pak, insyaAllah semampu saya nanti akan saya bantu.” Jawabnya dengan begitu lembut dan juga sopan.
“Oya, mari pak Wawan kita sama-sama ke pos ronda. Ini jadwal kita ronda lho pak, tidak lupa kan?” Tanya pak Aryo.
“Oiya, sampai lupa saya. Saya ambil senter sama sarung dulu ya pak RT. Tunggu sebentar.” Kata bapak langsung masuk rumah ambil sarung dan senter.
Setelah itu bapak, pamit ronda padaku juga mas Aryo. Meninggalkan kami berdua yang membuatku semakin gugup dan tidak percaya diri. Bingung harus memulai pembicaraan apa ini. Belum ada bahan sama sekali. Dan seperti susah untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutku. Rini....Rini .... ada apa dengan kamu, seorang yang juara lomba debat antarsekolah terdiam gugup menghadapi situasi seperti ini. Ahhhh .....rasanya ini bukan kamu. Baiklah mari kita mulai dengan membicarakan bagaimana situasi kampus disana.
Tanpa disadari aku dan mas Aryo berbarengan ingin bicara. Kami terdiam sekejap kemudian mas Aryo mempersilakan aku untuk bicara terlebih dulu. Tapi, karena kau orangnya nggak enakan aku ingin mas Aryo bicara dulu. Dia akhirnya mengawali ngobrol kami berdua malam ini.
Setelah ngobrol panjang lebar mas Aryo menanyakan sesuatu yang membuatku super terkejut dan deg-degan.
“Kamu sudah punya pacar?” Tanyanya santai.
Aku dengan wajah terkejut dan entah bagaimana menjawabnya. Aku belum pernah pacaran dan Cuma menanti mas Aryo. Tapi apa kekuatanku, tak ada keberanian sama sekali mengatakan itu.
“Rin?....” Mas Aryo membuyarkan lamunanku tadi. “Maaf kalau aku menanyakan privasimu. Aku nggak bermaksud ....”
“Belum ....” Jawabku cepat dengan memotong kata-katanya tadi. Betapa tidak sopannya aku mengatakan itu dengan lantang dan cepat. Bagaimana responnya nanti. Aku sedikit menutup mulutku dengan tanganku.
Aku melihatnya tersenyum lebar.”Syukurlah .... aku berharap kamu mempertahankan itu. Karena kuliah itu perlu konsentrasi yang lebih. Tidak seperti waktu SMA.” Ucapnya yang membuatku hanya bilang .....ohh. Aku terlalu percaya diri dengan pertanyaan mas Aryo tadi. Berharap dengan harapan tak pasti. Tidak mungkin juga mas Aryo mengungkapkan hal yang mustahil itu.
“Ya udah... aku pulang dulu ya. Salam buat ibuk sama adik-adikmu. Makasih banyak untuk makan malamnya.” Katanya sambil bangkit dari tempat duduknya dan aku mengangguk sambil tersenyum.
Dia berjalan dan aku mengantarnya sampai depan rumah.
“Oya ... Rin. Jaga hati kamu ya ...” katanya sambil tersenyum lalu pergi.
Apalagi ini, kenapa kata-katanya begitu memberikan harapan padaku. Atau Cuma hanya untuk menyenangkanku saja. Seperti yang ia katakan tadi. Kali ini aku tak mau berharap lebih darinya. Aku takut ini hanya kata-kata manisnya saja. Tapi aku sangat berharap lebih dari kata-katanya itu. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan kali ini. Mengubur perasaanku atau aku terus berharap dengan penantian tak pasti padanya. Aku pun pusing sendiri dengan kondisi saat ini. Aku mengacak-acak rambutku lalu masuk rumah. Masuk kamar dan menutup kepalaku dengan bantal agar aku bisa tidur nyenyak. Tapi kepalaku masih terngiang-ngiang dengan ucapannya tadi. “jaga hati kamu ya ...” Ahhhh .... aku benar-benar tidak akan bisa tidur malam ini.
***
Sampailah saatnya aku berangkat ke Jakarta untuk memulai mimpi-mimpiku. Aku di antar bapak, ibuk, dan juga adik-adikku. Heni juga diantar orang tuanya dan juga kakaknya. Aku melihat mas Aryo datang bersama orang tuanya yang juga mengantarkannya. Kami saling berpamitan pada orang tua kami masing-masing. Aku pun menangis ketika dipeluk bapak dan ibuk. Begitu juga dengan Heni. Orang tua kami menitipkan kami pada mas Aryo. Mas Aryo pun mengangguk menerima permintaan orang tua kami.
Aku duduk di sebalah Heni. Sedangkan mas Aryo duduk di kursi seberangku. Dalam perjalanan Heni lebih banyak tidur. Sedangkan aku, seperti biasa aku menikmati setiap perjalananku. Mas Aryo memberikanku sebuah coklat.
“Makasih mas...” Ucapku. Dan dia hanya tersenyum tak banyak bicara.
Menurutku AC bis ini terlalu dingin meskipun aku sudah memakai jaket. Melihat tingkahnya yang kedinginan, mas Aryo berdiri kemudian menyelimutiku dengan jaketnya. Bagaimana aku tidak hanyut dengan perhatiannya ini. Bagaimana aku tidak merasa dia ada rasa juga padaku dengan sikapnya ini. Tapi dia emang baik sama semua orang Rini. Aku harus bagaimana ini. Saat tiba tempat makan, kami semua segera turun untuk makan. Heni tiba-tiba meninggalkan kami karena sudah tidak tahan ingin ke toilet. Dan kami menunggunya makan di dalam.
“Gimana perasaanmu sekarang Rin?” tanya mas Aryo.
“Maksudnya mas?” Tanyaku bingung.
“Ya... perasaanmu yang baru jauh dari orang tua saat ini.” Katanya menerangkan.
“Sedih sih pasti, tapi aku nggak boleh terlarut dalam kesedihan. Karena apa yang aku jalani saat ini tujuannya Cuma ingin membuat mereka bangga. Jadi ya memang harus dijalani ...” kataku.
“Aku bangga sama kamu ... kamu perempuan hebat dan kuat. Kamu sangat bersemangat dalam segala hal. Kamu juga cantik ...” Katanya dengan senyum khasnya yang membuatku terus meleleh. Aku tersipu malu dengan ucapannya dan nggak bisa berkata apa-apa lagi.
“Kamu sekarang sudah semakin dewasa, dan pemikiran kamu juga sudah matang. Kamu bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk buat kamu. Mungkin, nanti di Jakarta aku nggak bisa jagain kamu 24 jam. Aku harap kamu tetap mempertahankan prinsipmu itu ya.” Katanya dengan lembut.
“iya mas, maaf ya mas Rini udah banyak ngrepotin mas Aryo.”Kataku sambil menunduk karena aku merasa memang banyak merepotkan dia apalagi orang tuaku dan Rini menitipkan tanggung jawab besar padanya.
“Enggak kok Rin, kamu nggak ngrepotin. Aku malah senang bisa bantu kamu. Apalagi bisa bantu kamu mewujudkan cita-citamu. Aku juga seneng bisa sedekat ini sama kamu.” Jantungku rasanya seperti berhenti ketika dia mengatakanku itu. Kepalaku seperti dipenuhi bunga-bunga mekar karena terlalu bahagia. Rasanya aku ingin teriak aku sangat bahagia.
“Aku pikir dulu kamu orangnya pendiam, terus nggak mau ngobrol banyak sama laki-laki. Ternyata kamu orangnya sangat menyenangkan.” Pujinya.
Aku masih terbang dengan perasaanku padanya. Dia sangat pandai membuatku bahagia meskipun hanya lewat kata-katanya.
“Tetap jaga hati kamu ya....ucapnya lagi.
Aku memberanikan diri untuk menjawabnya,”Aku akan selalu menjaga hatiku untuk orang yang akan memberanikan hatinya dengan tulus dan memperlakukanku dengan baik.”
Entah keberanian darimana aku mampu mengucapkan kata-kata itu. Mas Aryo tersenyum mendengar ucapanku tadi.
“Kamu pasti akan mendapatkan semua itu,aku yakin. Akan ada laki-laki yang akan langsung datang pada orang tuamu dan memintamu untuk menjadi pendampingnya dan menjadikanmu ratu dalam hidupnya.” Ucapnya yakin.
Haruskah aku bilang bahwa kamulah orang yang aku tunggu selama ini. Tapi, lagi-lagi aku tak punya keberanian untuk itu. Hanya dalam hatilah aku bisa bicara padanya, tak lebih dari itu saat ini.
“Oya mas, emangnya pacarnya mas Aryo nggak marah kalau mas Aryo banyak bantuin aku sama Heni? Aku takut pacar mas Aryo bakal marah sama mas Aryo, nanti dia bakal mikir macem-macem gimana?” Tanyaku seolah aku ingin tahu kalau dia belum punya pasangan, dan itu harapanku.
Mas Aryo tersenyum mendengar ucapanku,”Rini...Rini ... apa wajahku iki ada stempel pacar orang? Aku belum berani pacaran saat ini Rin.”
“Ah mana mungkin? Seorang mas Aryo Setya Nugraha nggak punya pacar? Apalagi di Jakarta kan banyak cewek-cewek cantik mas, putih bersih, wangi beda sama cewek-cewek kampung kayak aku.” Kataku dengan penuh keberanian mengatakan itu, seperti tak terencanakan mengatakan itu.
Mas Aryo terdiam sesaat, aku malah merasa bersalah mengatakan itu. Tapi, kemudian dia berkata.”
Rini, dengerin mas ya. Aku ini buka tipe lelaki yang mudah untuk suka sama orang apalagi jatuh cinta. Jujur, baru sekali aku menaruh hati pada seorang perempuan dan itu sudah lama. Bagiku dia sangat spesial, dia cantik, energik, dan sangat keras kepala tapi dia sangat baik.”
Putus sudah harapanku, hatiku seperti retak mendengar yang dia ucapkan. Ahhh... rasanya aku menyesal mengatakan itu tadi. Harusnya aku tidak bicara seperti itu.
“Siapa mas?” Aku penasaran dengan arang yang mas Aryo ceritakan.
Dia kembali tersenyum, “Suatu saat kamu bakal tahu siapa dia.” Lagi-lagi aku tertunduk lesu mendengar jawabannya. Dan lagi-lagi aku menyesal menanyakan itu padanya. Heni kemudian datang dan langsung minum air putih di depanku. Dan dia minta maaf karena terlalu lama di toilet.
“Kenapa kamu Rin?” Tanya Heni.
“Enggak ... aku ke toilet dulu. Cepatan makannya keburu ketinggalan bis.” Kataku langsung lari ke toilet. Aku menangis merasa hancur karena orang yang aku suka sudah menyukai orang lain dan terlihat sangat dalam. Setelah puas mengeluarkan air mata. Aku kaget melihat mas Aryo menunggu di depan toilet.
“Kamu habis nangis?” Tanyanya.
“Enggak ... cu...cuci muka tadi.” Kataku terbata-bata takut ketahuan kalau aku emang beneran habis nangis. Menangisi keadaan orang yang kusuka sudah jatuh hati pada orang lain.
“Ayo, bisnya mau berangkat.” Katanya dengan sopan.
“Kenapa mas Aryo kesini?” Tanyaku sedikit ketus dan penasaran.
“Aku takut terjadi apa-apa sama kamu, jadi aku samperin kamu kesini.”Katanya dengan begitu lembut.
“Aku nggak apa-apa kok, mas Aryo kan bisa telpon aja nggak perlu caek-capek nyamperin aku ke sini.” Ngedumelku sambil jalan. Tiba-tiba mas Aryo berhenti di depanku.
“Kamu marah sama aku?” tanyany.
“Enggak ..... buat apa aku marah sama Mas Aryo?” Jawabku tegas. Aku berusaha berjalan mendahuluinya. Tiba-tiba dia menarik tanganku. Aku melihatnya kaget, kemudian dia minta maaf dan melepaskannya. Aku lalu berjalan mendahuluinya. Rini ..Rini ... apa ini, ini bukan kamu yang dengan terang-terangan nggak suka sama orang setelah apa yang diucapkan orang itu. Setan apa yang merasukimu saat ini.
Sampai di dalam bis aku Heni, sudah sangat khawatir denganku. Dan aku hanya nggak bilang nggak apa-apa. Aku duduk, kemudian mengembalikan jaket mas Aryo. Rasanya aku tak perlu jaket itu lagi. Aku tak mau mengotori jaket milik orang lain dengan perasaanku.
“Pakai aja Rin, masih 3 jam perjalanan. Semakin malam akan semakin dingin.” Ucapnya dengan lirih dan sopan.
“Udahlah Rin, pake aja kenapa sih. Kayak kamu kuat dingin aja, kamu kan paling nggak kuat dingin, kalau kedinginan paling nanti kamu juga meler.” Ucap Heni santai.
Ini anak nggak tahu temannya lagi perang dunia malah dengan santainya ngomong gitu.
“Mas Aryo, boleh tukeran tempat nggak. Aku capek kalau tidur sambil duduk terus.” Kata Heni santai, karena mas Aryo memang sendiri duduknya.
“Boleh, yang penting Rini nggak terganggung.” Ucapnya.
“Nggaklah mas, Rini bakal seneng banget kalau perjalanan kayak gini dia punya teman ngobrol. Udah geser Rin.” Katanya sambil berjalan melaluiku dan tiduran di kursi mas Aryo.
“Hen ....” Panggilku lirih.
Mas Aryo menatapku, karena aku tak kunjung geser ke samping.”Boleh?” Tanyanya. Aku pun tak menjawab, aku hanya bergeser saja tanda aku memperbolehkannya duduk di sampingku.
Keadaan apa lagi ini, mau pura-pura tidur juga bisa karena udah terlanjur nggak bisa tidur kalau perjalanan. Aku harus ngapain ini. Aku terlanjur tidak suka dengan keaadan ini setelah pengakuannya.
“Kalau kamu nggak nyaman aku duduk di sini, biar aku duduk di belakang aja.” Katanya.
“Enggak mas, aku biasa aja kok.” Ucapku seperti tak mau membiarkannya pergi meskipun aku merasa berbeda. Keadaan pun menjadi canggung, mungkin mas Aryo bingung dengan sikapku yang sekarang. Tapi aku nggak tahu harus bersikap seperti apa, sangat susah menyembunyikan rasa yang aku terima saat ini.
Mas Aryo mencoba menyelimutiku dengan jaketnya tadi, aku berusaha menolak tapi dia tetap memberikannya.
“Jangan sampai kamu sakit, aku nggak mau orang tuamu khawatir jika kamu sakit.” Ucapnya. “Aku tahu kamu saat ini sedang marah atau kecewa sama aku, tapi aku nggak tau apa yang membuatmu seperti itu. Aku akan merasa bersyukur kalau kamu mau memberitahuku.” Lanjutnya.
“Aku enggak apa-apa mas, mungkin aku lagi PMS, jadi situasi hatiku sedang nggak stabil. Maaf ya mas.” Kataku bohong. Namun mas Aryo mengangguk mengerti ucapanku.
Sesampainya di Jakarta, aku di antar ke rumah saudara mas Aryo sebelum kami mendapatkan kost untuk kami tinggal. Mas Aryo pun juga ikut menginap di sana. Saudara mas Aryo sangat baik, beliau juga kenal dengan bapak. Beliau adalah adik dari bapaknya mas Aryo.
Keesokan paginya, mas Aryo mengantarku juga Heni mencari kost yang dekat dengan kampus. Beberapa kost cewek kami datangi hingga kami menemukan yang cocok. Akhirnya kami menemukan kost yang cocok untuk aku dan Heni. Ternyata dekat dengan kost mas Aryo dan berhadapan.
“Wah seneng ya, bisa dekat dengan kost mas Aryo. Jadi, sewaktu-waktu butuh bantuin bisa cepet deh.” Kata Heni polos.
“Heni ... kita harus mandiri, nggak boleh ngrepotin mas Aryo terus. Mas Aryo kan tentunya juga punya kesibukan.” Kataku.
“Enggak apa-apa kok, kalau kapan-kapan butuh bantuan langsung telpon aja atau ketuk aja pintunya, insyaAllah aku siap direpotin.” Kata mas Aryo sopan dan lembut banget.
“Tuh kan, mas Aryo aja nggak apa-apa kok. Ya udah aku mindahin koper dulu ya mas, makasih banyak ya mas Aryo.” Kata Heni sambil mengangkat koper ke kamar.
“Iya sama-sama,..”
Ketika aku mengambil koperku, mas Aryo langsung dengan sigap mengambil koperku dan berniat ingin membantuku.
“Nggak apa-apa kok mas, aku bisa sendiri.” Kataku karena tak ingin merepotkannya lagi.
“Biarkan aku ngebantuin kamu Rin, ...” Ucapnya seperti memohon.
Tanpa sepertujuanku, dia langsung menarik koperku masuk ke dalam. Aku berpikir jika dia seperti ini terus aku akan semakin dihantui oleh perasaanku sendiri. Aku nggak mau itu, aku harus bersama orang yang hatinya sudah bertaut dengan yang lain. Apa ini yang dinamakan mendua? Rasanya tak adil jika orang yang yang mas Aryo suka tahu akan hal ini. Aku akan menjadi orang ketiga dalam hubungannya. Aku akan menyakiti hati orang tersebut. Aku nggak mau orang lain terluka karena aku.
“Nanti, kalau butuh apa-apa hubungi aku ya?” pinta mas Aryo.
Aku Cuma mengangguk dan Heni dengan semangat mengucap terima kasih. Mas Aryo pun keluar dari pintu, tapi beberapa detik lagi kembali.
“Oya, jangan lupa kunci pintu kalau mau tidur.” Ucapnya sambil menatapku.
“Oke mas...” Ucap Heni lagi.
Mas Aryo keluar dan beberapa detik lagi kembali.
“kenapa lagi mas?” tanya Heni.
“Eeee ,.... itu, kalau besok mau belanja buat keperluan kost aku anter.” Kata mas Aryo.
“Siap mas, Jam 10 aja ya mas biar nggak panas.”kata Heni bersemangat.
“Heni ... nggak apa-apa kok mas, kita bisa sendiri.” Jawabku karena merasa tidak enak merepotkannya terus.
“Kita kan belum tau daerah ini Rin, besok minta dianter mas Aryo dulu sebelum kita masuk kuliah.” Katany.
Mas Aryo tersenyum dan mengacungkan jempolnya untuk Heni dan aku, aku hanya bisa terdiam melihat mas Aryo pergi. Kini teringat masih memakai jaket mas Aryo, aku pun keluar dan memanggil namanya. Dia sudah di luar kost dan mau masuk kosnya yang khusus untuk laki-laki.
“Mas Aryo ....” Panggilku.
Dia menoleh dan tersenyum padaku.
Aku berjalan mengampirinya dan saat ini kami saling berhadapan.
“ini jaket mas Aryo, makasih ya mas.” Ucapku dan sebelum dia menjawab, aku berbalik dan sebelum melangkah mas Aryo kembali menarik tanganku.
“Tunggu....” aku terkejut, dan aku berbalik padanya.
“Maaf ... “katanya lalu melepas tanganku. “Aku ada sesuatu buat kamu, Rin. Tunggu di sini sebentar ...” katanya lalu dia masuk ke kamar kostnya dan beberapa detik kemudian keluar dengan membawa saesuatu.
“Buat kamu ....”Katanya dengan memberikan kotak coklat padaku.
“Apa ini mas?” tanyaku.
“Buka saja nanti, ...” katanya lalu dia mendekat aku sangat senang hari ini, terima kasih untuk hari ini lalu mengusap lembut kepalaku.” Lalu dia mundur satu langkah dan aku Cuma terdiam menatapnya.
“Masuk gih ... udah malem.” Katanya.
Dan aku hanya terdiam lalu berbalik dan bejalan menuju kostku. Sementara terlihat dari ekor mataku mas Aryo masih melihatku berjalan.
Aku berjalan menuju kamar dan menyembunyikan pemberian mas Aryo lalu memasukkannya ke dalam tasku. Aku akan membukanya kalau Heni sudah tidur.
Dan satu jam kemudian, Heni pun tertidur. Aku baru berani membuka kotak coklat yang diberikan mas Aryo tadi di kamar mandi. Ternyata dia memberikan kotak musik yang terdapat sepasang laki-laki dan perempuan berputar bak menari didalamnya. Aku bingung dengan sikap mas Aryo, di sisi lain aku senang dia bersikap seperti ini padaku. Tapi, jika memang dia sudah menjatuhkan hatinya pada perempuann lain kenapa dia bersikap seperti ini padaku.
***
Keesokan harinya mas Aryo mengantarku dan Heni untuk keliling di daerah sekitar kampus dan mengantar kami belanja untuk keperluan sehari-hari. Heni sangat senang bisa berkeliling Jakarta, mas Aryo pun dengan sangat sabar mengantarkan kami. Sampai kami berjalan-jalan di taman kampus. Heni bertemu dengan saudara jauhnya. Mereka tidak saling tahu kalau kuliah di tempat yang sama. Heni berpamitan ingin bersama saudaranya yang namanya Laras. Aku pun ditinggal berdua dengan mas Aryo. Rasa canggung pun kembali menghampiriku.
“Kamu sudah buka pemberianku kemarin, Rin?” Tanyanya.
“Sudah ...” jawabku singkat sambil mengangguk.
“Suka?” Tanyanya lagi. Aku pun menngangguk.
Mas Aryo mengajakku duduk di tepi kolam taman, dia banyak bercerita tentang kampus ini. Lagi-lagi fakultasku dan fakultasnya berdekatan. Entah skenario apa yang Tuhan berikan padaku saat ini. Mendekatkanku dengan orang yang sudah menaruh hatinya pada orang lain.
“Kenapa kamu sekarang sedikit berbeda setelah pembicaraan kita malam itu, Rin?” Tanya mas Aryo tiba-tiba. Aku tertegun lalu menatapnya, dan mata kami saling bertemu. Kemudian aku membuang pandanganku ke bawah.
“Aku nggak apa-apa kok mas, mungkin aku Cuma .....” belum sempat aku melanjutkan ucapanku ada beberapa orang datang menghampiri kami dan memanggil mas Aryo.
“Aryo .... di sini Lu, balik kapan Lu?” Tanya salah seorang laki-laki dengan rambut sedikit pirang berbaju kotak-kotak yang namanya Galang.
“Kemarin, oyaa sory gue lupa ngasih tau. Oya, ini berkas-berkas buat ospek nanti. Gue udah siapin semuanya.
“Siapa nih Yo? Cewek Lu?” tanya salah seorang perempuan berambut panjang sedikit pirang bernama Mika.
“Ini Rina, Rin kenalin teman-teman aku.”Aku pun berkenalan dengan yang mas Aryo sebut dengan teman-temannya.
“Aku? Kamu? Duduk berdua sama cewek kayak gini, kayaknya bukan Lu banget deh Yo. Gue kenal Lu udah tiga tahun, dan ini kayak bukan Lu. Ini beneran cewek Lu?” Tanya Mika lagi.
“Bukan mbak .... saya cuma tetangga mas Aryo dari kampung. Tadi ke sini sama teman saya juga, mas Aryo Cuma nganterin saya dan teman saya keliling kampus ini aja kok mbak.” Jelasku panjang lebar dan Aryo menatapku dengan senyum kecil di wajahnya.
Mika melihat Aryo dengan sedikit heran, lalu menatapku,”Mbak? Lu pikir gue mbak-mbak penjual sayur keliling? Gue Mikayla Anastasya. Panggil gue Mika. Nggak usah panggil mbak.” Kedua temannya pun tertawa ketika aku memanggil Mika dengan sebutan Mbak.
“Iya maaf kak Mika ...”
“ohhh ... jadi tetangga Lu dari kampung Yo, pantes aja. Gayanya kampungan banget. Lagian juga nggak pantes sama Lu.”Ucap Mika dengan judes.
“Mika, ... kamu nggak boleh ngomong kayak gitu sama Rini.” Mas Aryo mencoba membelaku.
“Lah kenapa, gue kan Cuma ngomong apa adanya Yo, emang dari kampung kan, dia sendiri yang bilang.” Jawab Mika membela diri.
“Tapi ....” Mas Aryo ingin lagi mematahkan argumen Mika tapi aku melarangnya.
“Udah mas nggak apa-apa, semua orang berhak kok memberikan penilaiannya terhadap orang lain. Makasih ya mas udah nganterin aku keliling. Aku balik ke kost dulu, permisi kak.”Ucapku lalu pergi meninggalkan mereka karena nggak mau terlalu lama berdebat. Mas Aryo pun mengejarku ... namun Mika terus memanggil mas Aryo dengan kesal. Mas Aryo menarik tanganku.
“Tunggu Rin....maafin teman-teman mas ya. Mereka memang seperti itu, tapi mereka nggak bermaksud begitu, mungkin maksudnya Cuma bercanda.” Katanya menjelaskan agar aku tak terluka.
Aku pun menyingkirkan tangannya dari tanganku,”Nggak apa-apa kok mas, aku juga nggak marah. Aku Cuma nggak mau terus berdebat dengan orang yang baru aku kenal. Dan kayaknya mereka saat ini lagi butuh mas Aryo. Aku balik ke kost dulu ya mas.” Ucapku.
“Aku antar ...” Katanya.
“Aku udah hafal jalan ke kost kok mas, terima kasih ya ....” Aku pun berjalan pergi meninggalkanna.
Dia pun memanggilku lagi, tapi aku tak menoleh. Hanya berhenti sebentar ....”Hati-hati Rin ... kabari aku kalau sudah sampai kost.” Katanya dan aku hanya mengangguk tanpa melihatnya.
Seperti tercabik-cabik hatiku mendengar ucapan Mika tadi. Aku berusaha melupakan kata-katanya tadi. Sesampainya di kost mas Aryo mengirimiku pesan menanyakan aku sudah sampai kost belum. Aku tak membalasnya, dia terus menelponku. Jika dia terus-terusan seperti ini aku bisa salah mengartikan perhatiannya padaku. Aku pun mematikan Hp-ku.
Satu jam kemudian ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku pikir itu Heni yang udah pulang. Aku pun membukanya. Ternyata mas Aryo. Dia langsung memelukku. Aku terdiam dan kaget dengan apa yang dia ucapkan. Kemudian melepaskan pelukannya.
“Kenapa kamu nggak ngabarin aku kalau sudah sampai, kenapa nggak angkat telponku Rin, kenapa kamu nggak bisa dihubungi? Aku khawatir Rin .... aku takut terjadi apa-apa sama kamu.” Katanya seperti orang ketakutan.
Aku langsung masuk ke kamar dan menutup kamarku. Aku meneteskan air mata, kenapa perlakuan mas Aryo terus begini padaku jika dia sudah ada yang lain. Aku nggak mau terus sakit jika seperti ini terus.
Mas Aryo mengetuk pintu kamarku dan memanggil namaku. Aku berjalan mengambil kotak musik yang dia berikan padaku kemarin lalu membuka pintu kamar lagi dia pun tersenyum melihatku.
“Aku nggak bisa terima ini mas, maaf.” Lalu kembali ke kamar lagi menangis di belakang pintu.
Mas Aryo tampak begitu sedih dan menungguku di halaman kost.
Heni pun datang dan menanyakan ada apa pada mas Aryo. Mas Aryo menjelaskan semuanya. Heni pun mengerti. Heni diberikan sebuah buku oleh mas Aryo, yang katanya adalah buku harian mas Aryo.
“Rin, kamu kalau ada masalah cerita sama aku.” Katanya.
“Enggak kok, aku nggak apa-apa.” Jawabku singkat sambil memeluk guling.
“ini aku dapat titipan dari mas Aryo, kamu suruh baca buku ini. Katanya semua jawabannya ada di buku ini.” Heni memberikan buku itu padaku aku menerimanya lalu menaruhnya di meja tak ingin membacanya.
Beberapa hari aku tak pernah mau bertemu dengan mas Aryo. Bahkan ketika ospek aku sakit pun aku tak mau bertemu dengannya. Aku tak tahu ada apa dengan hatiku. Mungkin aku terlalu naif atau akau tak mau terlalu lama menyakiti perasaanku dengan rasa yang ada saat ini.
Hingga habis semester pertama, aku mencari pekerjaan partime. Aku mendapatkan pekerjaan di sebagai pelayan kafe, yang menurutku lumayan gajinya. Sedangkan Heni, dia sibuk dengan acara di fakultasnya.
Saat aku menerima pesanan orderan dari aplikasi online, tiba-tiba ada seseorang yang datang. Ya...dia adalah mas Aryo. Aku kaget dengan kedatangannya. Aku pun secara profesional melayaninya sebagai pelanggan.
Dia memesan kopi latte kemudian memberiku secarik kertas tanpa bicara apapun. Kemudian dia memilih duduk di dekat jendela kaca yang pemandangannya langsung ke jalan.
“Tapi aku ....” ucapku tapi dia berlalu begitu saja.
Aku tak perduli dia menunggu lama di sana, aku ingin menghabiskan jamku hingga pekerjaanku selesai. Ternyata dia sesabar itu menunggu di sana. Akhirnya aku menemuinya juga. Aku datang ke mejanya, dia tersenyum melihat kedatanganku. Senyum itu tidak berubah tetaplah sama.
Aku duduk tanpa bicara sepatah katapun. Dia kemudian memulai bicaranya. “Apa kabar kamu Rin?”
“Alhamdulillah baik mas.” Jawabku sambil tetap menunduk.
“Aku dengar IPK kamu bagus, aku bangga sama kamu.” Katanya memuji namun hanya aku balas dengan anggukan saja.
“Rin, kamu masih marah sama aku?” Tanyanya langsung tanpa basa-basi.
“Jika aku masih ada salah sama kamu, aku minta maaf. Dia mengeluarkan benda kotak dari tas ranselnya. Yaa.... benda kotak cokelat itu adalah kotak musik yang pernah dia berikan padaku waktu itu tapi aku mengembalikannya karena keegoisanku. Aku tak mengerti kenapa dia memberikannya lagi padaku.
“Aku berharap kamu masih mau menyimpan ini Rin, benda ini aku sudah menyimpannya lama. Aku membelinya waktu aku KKN di Kalimantan dulu. Jujur, aku membeli benda ini untukmu. Entah kenapa waktu itu aku langsung teringat kamu waktu melihat benda ini. Maaf kalau aku mengganggu waktumu, aku cuma mau pamit, nanti sore aku mau ke pulang dulu ke kampung. Aku mau menjemput bapak ibuk untuk wisudaku minggu depan.” Katanya.
Ya... mas Aryo memang mahasiswa yang cerdas, dia mampu menyelesaikan kuliahnya hanya dengan waktu 3,5 tahun saja. Aku nggak ngerti harus bilang apa lagi. Lidahku seperti kaku tak bisa berkata, tenggorokanku rasanya kering ketika mendengar dirinya sudah lulus. Sudah tidak akan ada lagi orang yang menungguiku pulang kuliah malam. Meskipun dalam diam dia melakukannya, tapi aku mengetahuinya. Aku tahu bapak dan ibuk menitipkanku padanya, tapi mengapa harus sejauh itu. Bagaimana dengan perempuan yang dia berikan hatinya, bukankah itu akan menyakitinya.
“Apa kamu mau nitip sesuatu untuk orang tuamu Rin?” Tanyanya lagi.
“Enggak mas, kemarin aku sudah mengirim nilaiku ke kampung.” Kataku singkat.
“Aku berharap, kamu bisa jaga diri baik-baik selama aku udah nggak di kampus ini lagi, jaga kesehatanmu. Tapi, aku berharap misal kamu butuh bantuan akulah orang pertama yang kamu cari.” Katanya membuat dadaku semakin sesak.
“Cukup mas, kenapa mas Aryo melakukan semua ini pada aku mas? Aku tahu bapak ibuk menitipkan aku sama mas Aryo, tapi tidak sejauh ini mas. Mas nggak mikiran pasangan mas Aryo, mas Aryo nggak mikirin gimana sakit hatinya perempuan yang mas sayang melihat mas Aryo begitu peduli dengan perempuan lain. Bukankah itu akan membuatnya salah paham? Jadi, menurutku cukup mas Aryo terlalu perduli padaku.” Kataku panjang lebar dan membuatnya tercengang dan akhirnya dia tersenyum.
“Jadi, semua itu yang jadi alasanmu menghindariku selama ini? Kamu sudah baca buku yang kutitipan pada Heni buatmu? Semua jawabannya ada di situ Rin mengapa selama ini aku begini.” katanya lembut.
Aku lupa aku belum membaca buku itu, karena dulu aku terlalu malas untuk membacanya. Mas Aryo kemudian pamit dan tentu saja dia mengusap kepalaku dengan lembut. Aku begitu penasaran dengan isi buku itu. Setelah melihat mas Aryo pergi dengan motornya aku pun berlari menuju kostku untuk mencari buku itu.
Aku melihatnya di tengah-tengah rak buku kuliahku. Aku segera membuka dan membacanya. Halaman pertama diawali dengan namanya Aryo Setya Nugraha. Halaman kedua aku membaca ketika dia pertama kali pindah ke kampungku. Waktu itu dia masih kelas 1 SMA dan aku kelas 1 SMP. Dia ingat betul pertemuan pertamanya denganku di lapangan sepak bola. Lalu kami sama-sama ikut acara ramadhan di kampung, ikut acara 17n di kampung dengan penuh suka cita, hingga akhirnya aku kelas 1 SMA dan dia kuliah di Jakarta. Cerita itu dimulai, dia selalu mengingatku dimanapun aku berada. Dia tak ada keberanian untuk menyatakan perasaannya padaku karena dia melihat aku harus fokus dengan sekolahku dulu. Dia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga hatinya untukku. Meskipun banyak sekali teman-teman perempuannya yang mendekatinya. Menaruh hati padanya. aku ingat, pernah ada temannya yang bilang Cuma aku perempuan yang bisa sedekat ini sama mas Aryo, nggak ada perempuan lain.
Di halaman terakhir, dia menuliskan dia sangat bahagia ketika bertemu denganku lagi. Meskipun dengan situasi yang nggak seperti, melihatku jatuh dari sepeda. Dia sangat ingat tanggal dan jamnya. Lalu dia menuliskan dia sangat bahagia mendengar aku lolos dan diterima di kampus yang sama dengannya. Dia juga sangat senang mendapat amanah dari orang tuaku untuk selalu menjagaku saat di Jakarta nanti. Dan dia juga menuliskan bagaimana senangnya dia bisa menikmati perjalanan ke Jakarta denganku.
Kau tahu Rin, aku mencintaimu dalam diam selama ini. Baru kali aku sanggup untuk mengatakannya padamu. Orang yang aku ceritakan malam itu ke kamu, adalah kamu Rini Wulandari. Gadis cantik yang energik dan selalu bersemangat dalam apapun. Aku mencintaimu .....
Aku menangis sejadi-jadinya. Kenapa selama ini aku bodoh tidak menyadari bahwa mas Aryo menaruh hati padaku. Aku menangis dan kemudian berlari ke kost mas Aryo. Dan temannya bilang mas Aryo sudah berangkat ke terminal. Aku pun terus berlari mencari bis untu sampai di terminal. Aku masih menangis hingga orang-orang dalam bis melihatku keheranan. Sampai di terminal aku langsung mencari bis yang ditumpangi mas Aryo, aku tak menemukan keberadaannya. Aku mengira mungkin bisnya sudah jalan. Hingga ada orang yang menepuk pundakku. Aku berbalik dan betapa terkejutnya aku, aku melihat orang yang aku cari. Aku langsung memeluknya menangis sejadi-jadinya di pelukannya. Aku melepas pelukanku dan meminta maaf padanya. Mas Aryo pun menghapus air mata di pipiku. Dia tersenyum, dan berkata,”kamu sudah baca?” dan aku mengangguk.
“Maafkan aku mas, aku nggak tau kalau selama ini mas Aryo ....” belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku. Mas Aryo memintaku untuk cukup. Mas Aryo juga minta maaf kalau dia juga tidak punya keberanian untuk mengatakan perasaannya padaku. Sungguh aku sangat bahagia hari ini, meskipun harus menunggu mas Aryo lama. Tapi aku ikhlas, aku mendapatkannya. Ternyata dia jatuh hati padaku jauh sebelum aku jatuh hati padanya.