Tidak ada pagi yang seindah ini bagi Aska, anak kedua dari keluarga Samsul.
Dia mendapatkan momen langka dalam hidup, bertemu dengan Indah, gadis incarannya sejak kelas satu SMA.
Sudah tiga tahun, Aska memendam perasaannya. Tahun berganti, waktu berlalu, Aska hanya bisa memandang Indah dari kejauhan.
Tapi tidak pagi ini. Dia bisa melihat paras cantik Indah dari jarak 5 meter.
Kalian tahu bagaimana wajah indah, mirip Natasha Wilona. Dari samping lebih mirip lagi.
Hidungnya mancung, rambutnya lurus, dan cukup tinggi untuk ukuran perempuan Indonesia.
Tak ada lagi wanita lain di Sekolah yang dikagumi Aska selain Indah.
‘Hei’ Indah menyapa halus. Aska langsung kebingungan tak bisa menutup rasa canggungnya.
Dia pura-pura mengeluarkan bolpoin dari tasnya lalu menggambar.
Aska hanya mengangguk menjawab sapaan Indah.
Hatinya jedag-jedug seperti kendang dalam lagu Los Dol milik Denny Cak Nan.
‘Besok ikut pelajaran tambahan lagi’ Aska memberanikan diri menyapa Indah.
‘iya jam 6 pagi juga’
‘Sama’ jawab Aska lirih.
Pertemuan Aska dan Indah di ruang kelas 3 pagi itu selalu membekas, khususnya dibenak Aska.
Apalagi Aska tidak pernah memiliki pengalaman dalam dunia percintaan.
Ajaran di keluarga Aska, pacaran terbaik adalah dengan buku.
Wanita terbaik adalah matematika.
Aska tidak memiliki banyak teman, hanya Ridho yang diterima di keluarganya.
Mereka berdua sudah berteman sejak kecil, Pak Samsul dan Ayahnya Ridho adalah teman di masa kuliah yang masih berhubungan sampai mereka tua.
Begitu juga dengan Aska dan Ridho yang sudah akrab sejak kecil.
******
Tempat nongkrong terbaik Aska dan Ridho ada di Warmindo, warung yang menjual mie instan, nasi berbagai macam lauk dan bubur.
Bahkan, Warmindo sudah seperti rumah kedua bagi mereka.
Saat itu, terdengar suara siaran berita dari televisi, mereka mengobrol sambil ditemani mie rebus, teh hangat, dan gorengan yang setengah layu.
Anak muda lain di sekitarnya masih asyik bermain handphone.
‘Dho’
‘Apa’ Ridho menjawab sambil menyeruput teh.
Dari senyum Aska, Ridho tahu ada sesuatu yang menyenangkan akan dia ceritakan.
Mereka yang bersahabat sejak kecil sudah hafal sifat masing-masing.
Bahkan, ekspresi Aska yang mau buang air besar, Ridho tahu.
‘Aku tadi pagi satu kelas sama Indah, anak 3 B’ Aska bercerita menggebu.
Ridho masih asyik menyantap tempe goreng sambil mengangguk.
‘Terus’
‘Ya gitu, dia tadi menyapa aku’
‘Sayang gak berani minta nomornya’
Bagi Aska, wanita memang adalah hal yang langka. Dia jarang berinteraksi dengan wanita kecuali kakak perempuan dan ibunya.
Jadi menurut Ridho, Aska sudah mau mengobrol dengan Indah adalah hal yang berprestasi.
*****
Aska dan Ridho memang sudah berteman sejak kecil, namun kepribadian keduanya berbeda.
Putra Pak Samsul, Aska banyak menghabiskan waktunya dengan buku dan komputer.
Sementara, Ridho jago basket dan bela diri. Dari hitungan ini, Ridho memang lebih populer dibanding Aska.
Keduanya memang beda sekolah. Tapi Ridho sering mengalah dan selalu menjemput Aska ke sekolahnya.
Jadi Ridho juga banyak memiliki teman dari sekolahnya Aska.
Bahkan, ada satu momen Ridho langsung populer di Sekolahnya Aska. Itu terjadi saat pertandingan basket antar sekolah.
Penampilan Ridho memukau banyak wanita termasuk Indah, sang dewi yang dipuja Aska.
Waktu itu, setelah pertandingan basket yang membuat nama Ridho naik. Indah datang menemui Ridho.
Mereka bertemu di parkiran sekolah, tanpa sepengetahuan Aska.
Indah duduk di jok motor matic, tangannya sambil memegangi helm.
‘Boleh kenalan’
‘Iya Jawab Ridho’
‘Sekalian aku minta nomor hp mu ya’ Indah memberanikan diri.
Setelah pertemuan itu, keduanya sering berhubungan melalui telepon.
Namun, keduanya juga belum memutuskan untuk berpasangan sebagai kekasih.
*****
Hari ini pengumuman kelulusan, Ridho dan Aska tersenyum bahagia karena lulus dengan nilai yang bagus.
‘Dho kamu lulus’ tanya Aska lewat sambungan telepon.
‘Luluslah’ jawab Ridho mantap.
‘Baguslah, nanti malam kita rayakan di rumah ku’
‘Eh matematikamu berapa’ tanya Aska lagi sebelum menutup telepon.
‘Enam haha,’ Ridho mengakui kekalahannya.
Setelah menutup telepon, Aska lalu bergegas mengambil motor dari parkiran.
Dia ingin pergi ke Sekolah Ridho memberikan kejutan.
Motor Matic keluaran terbaru tahun 2021 dibawanya melewati 4 lampu merah menuju Sekolah Ridho.
Saat itu gerimis, tapi Aska tak mau memakai jas hujan, dia menganggap kehujanan adalah perayaan kelulusan.
Dia tidak mau seragam sekolahnya dicorat-coret untuk euforia.
Hujan makin deras, Aska sampai di Sekolah Ridho.
Tapi ternyata ada pemandangan yang menyayat hatinya.
Ridho Bersama dengan Indah. Berteduh di toko klontong di saping tumpukan tali rafia.
Keduanya terlihat bahagia, benar-benar seperti dunia milik berdua.
Rintik hujan yang jatuh seperti menghujam Aska.
Dia putar balik, tak kuat melihat sang dewi tersenyum bersama sahabatnya.
Rasa cemburu membakar hatinya, dia menganggap Ridho sebagai penghianat.
Aska juga bertanya-tanya, kapan mereka bisa berkenalan.
Kenapa Ridho tidak pernah cerita soal pertemuannya dengan Indah.
******
Perayaan kelulusan di rumah Aska mendadak suram.
Aska tak tersenyum malam itu.
Padahal, Pak Samsul sudah mengundang keluarga Ridho untuk datang ke rumah mereka.
Pertemuan malam itu menjadi hal yang berbeda bagi Ridho, Aska yang biasanya cerewet hanya diam sambil menyantap ayam goreng kecap.
‘Aska tolong itu dong, sayur’ Ridho menunjuk ca kangkung yang ada di meja makan.
Aska hanya melirik, dia merasa berat hati memberikan sayur untuk si penghianat.
Anak kedua Pak Samsul itu sudah tidak bisa berfikir jernih. Apalagi setelah melihat Indah dan Ridho di toko klontong sekolah siang tadi.
Ridho paham, ada yang salah dengan sikap Aska.
Dia tak menghabiskan makannya dan izin untuk keluar rumah.
‘Om aku kenyang nih, keluar sebentar’ Ridho izin ke Pak Samsul.
Dia kemudian memberikan kode kedipan pada Aska untuk keluar rumah.
‘Males aku’ Aska langsung menjawab kode kedipan Ridho.
Ridho lalu menarik Aska keluar dengan paksa.
‘Ayo temani aku’
‘Sana Ka temani Ridho’ Pak Samsul menimpali.
Akhirnya mereka berdua keluar dari jamuan yang suram itu.
Setelah keluar rumah, Aska masih terdiam.
‘Kenapa’ Tanya Ridho.
Aska tak menjawab. Dia memalingkan muka. Ridho sudah hafal betul anak ini sedang marah.
‘Ya kalau mau marah terus gak apa-apa’
‘Apa aku pulang aja’
Aska mereda, dia memandang Ridho. Sahabatnya yang sudah lama bersama. Momen disaat mereka terjatuh dari motor, saat sandal Aska putus di pameran muncul kembali.
Emosi Aska mereda, dia lalu bertanya soal hubugan Ridho dan Indah.
‘Sejak kapan sama Indah’ tanya Aska.
‘Indah siapa’
‘Udah jangan bohong, aku tadi lihat kalian di toko klontong sekolah kamu,’
‘Lah itu neduh nyet,” Ridho mencoba bercanda.
‘Gak usah bercanda dho’ suara Aska meninggi.
‘Sst jangan teriak-teriak bapak mu dengar nanti’ Ridho mengingatkan.
Suara jangkrik memecah keheningan mereka.
‘Gini Ka, aku memang sudah lama mengenal Indah’
‘Setahun lalu, waktu ada pertandingan basket’
‘Dia datengin aku, ngajak kenalan, tapi aku tahu dia itu dewimu’
Aska mengangguk, dia menggaruk hidung.
‘Tadi, di warung dia nembak aku’ mata Aska terbelalak mendengar pernyataan Ridho.
Pujaan hati yang dikejarnya tiga tahun, ternyata menyukai sahabat baiknya.
Pikiran Aska entah kemana, belum bisa menerima kenyataan.
‘Tapi tenang, aku tolak,’ Aska memandang Ridho.
‘Maksudnya Dho’ Tanya Aska.
‘Aku tahu, dia itu wanita yang selalu kamu ceritakan di Warmindo, wanita yang kamu jadikan dewi, makannya aku tolak’
‘Beneran Dho,’ Aska meyakinkan.
Dia menghela nafas, merasa bersalah dengan Ridho.
‘Maaf ya dho’ Aska menunduk.
‘Udahlah, lagi pula kamu kalau ada apa-apa tanya dulu, jangan menyimpulkan’
‘Aku juga gak pernah bilang ke Indah, kalau kita sahabatan,’
‘Makasih dho’
Aska akhirnya paham, kalau Ridho benar-benar sahabat yang baik, dia rela mengalah demi teman dan tidak merusak perhabatan karena cinta. (*)