Setiap manusia punya persoalan dan beban hidup yang berbeda-beda. Cara menghadapi juga selalu berbeda, kepribadian dan karakter setiap orang juga berbeda. Cara berpikir semua berbeda, setiap manusia selalu unik. Kita punya cara kerja sendiri, meskipun di mata orang lain cara kerja kita di anggap tidak efektif atau mungkin tidak akan membuahkan hasil yang baik, tapi yg terpenting adalah apakah kamu bahagia saat mengerjakannya dan apakah kamu akan menyesal karena tidak mencoba "hanya karena komentar orang lain!?". Pandangan orang itu penting, tapi kenyamanan dan kebahagiaanmu jauh lebih penting lagi, karena jalan yg kamu ambil kamu sendiri yang menjalani bukan orang lain.
Setiap hari selalu harus bangun pagi, berangkat sekolah, duduk mendengarkan, pulang, mendengar ocehan teriakan, pergi les, pulang, pekerjaan rumah yang menumpuk dan tuntutan orang tua akan nilai setiap semester. Rutinitas yang membosankan dan melelahkan. Gw gatau gimana kehidupan anak-anak seusia lainnya, tapi inilah kehidupan gw dari sejak mulai masuk ke taman kanak-kanak sampai SMK.
Di mata orang lain hidup gw sangat enak, seolah-olah tidak ada beban karena tidak perlu membuat pilih ke arah mana gw akan berjalan karena setiap pilihan yg hrs gw pilih sudah dipilihkan oleh kedua orang tua gw. Sebenarnya itulah beban dan permasalahan hidup gw, semua sudah di aturkan atas kehendak kedua orang tua gw dan gw hrs menjalankannya, baik gw suka atau tidak, karena gw sudah tidak ada pilihan lain lagi selain menjalani jalan yg sudah di pilihkan itu. Gw tau mereka melakukan itu demi kebaikan dan masa depan gw, tapi mereka lupa kalau mereka tidak bisa mendampingi gw seumur hidup dan lupa kalau yg menjalani jalan itu hanya gw sendiri.
Sejak TK segalanya sudah dipilihkan tanpa adanya diskusi dengan gw ( orang yg akan melakukan perjalanan di jalur yg mereka pilih itu). Semua selalu gw lakukan sesuai keinginan mereka, sampai saat SMP kelas dua. Gw mulai kenal dengan yang namanya bersosialisasi dengan Dunia luar, mulai mengenal yang namanya android, mulai mengenal yang namanya sosmed dll. Saat anak-anak yang lain mulai memiliki smartphone saling bertukar kontak, gw hanya bisa bengong dan melihat dari jauh. Gw mulai dijauhi teman-teman, perlahan- lahan jadi seorang diri. Saat itu gw mulai bertekad untuk berubah, memberanikan diri mengungkapkan pemikiran gw pada kedua orang tua gw dan semua di tolak mentah-mentah. Alasan klasik hampir semua orang tua " ga punya duit / ga usah ikut- ikut temen / ( pura-pura tidak ingat)", ok ga masalah mungkin yang mereka katakan benar, mungkin memang sedang mengalami krisis keuangan. Saat itu juga gw mulai nabung buat beli smartphone, dalam waktu dua tahun gw ngerasa uang yg gw tabung udah cukup buat beli smartphone. Saat yang pas, lulus SMP. Gw pikir bisa memulai kehidupan baru yang mirip seperti remaja umumnya, buka sosmed, upload foto bareng temen, tukaran kontak dll. Pada akhirnya itu hanya khayalan gw doang, meski sudah ada uang nya saat meminta mereka untuk bawa gw beli smartphone, mereka juga tidak mau membawa gw pergi untuk beli smartphone. Seolah-olah gw ga pernah minta mereka bawa gw buat beli smartphone.
Hari pendaftaran SMK pun tiba, sudah bisa ditebak, jurusan yang bakal gw pelajari sudah dipilihkan yaitu, AKUNTANSI KEUANGAN. Gw menolak tapi tidak pernah dihiraukan, saat itu bisa kalian bayangkan bagaimana rasanya saat kamu dipaksa mempelajari pelajaran yang gak kamu suka ( matematika, Inggris). Tidak berdaya, hanya bisa mengalir dan mengikuti arus saja.
Hari pertama pengenalan lingkungan sekolah, disaat murid yg lain saling bertukar nomor WhatsApp gw cuma bisa berdiri di pojokan. Saat ada yg menghampiri gw buat minta kontak, gw ga punya ( rasa malu, sedih, marah kecewa dll semua bercampur jadi satu). Pada akhirnya dijauhi oleh anak-anak lain juga selama tiga tahun sekolah, gak punya temen buat di ajak ngobrol, bertanya, buat nemenin makan siang, ga ada yang nemenin di UKS pas lagi ga enak badan, saat dapat tugas kelompok ga ada yg bersedia sekelompok dll. Kehidupan yg menyedihkan, rasa kesepian yg mendalam yg mungkin orang tua gw ga akan pernah tahu. Semua berawal dari hal sepele, berawal dari pilihan kecil yang mereka buat, berawal dari gw yang ga punya smartphone. Dan karena hal ini gw jadi kalem, dingin, menyendiri di perpustakaan sekolah yang kumuh karena tidak terawat, menjadi tidak bersahabat, menjadi tidak dapat diajak berdiskusi dll. Meski Dimata guru sifat kalem gw sangat baik, tapi tetap saja nilai kerja sama gw paling rendah diantara ratusan murid.
Tiga tahun sekolah sudah selesai tinggal menunggu hari pengumuman kelulusan. Masing-masing kelas membuat perpisahan sendiri foto-foto, makan-makan, liburan dll. Semua murid berpartisipasi, Hanya Gw yg ga ikut (menyedihkan!!!). Bahkan gw gatau kapan dan dimana pastinya acara perpisahan kelas gw bakal dirayain. Gw berusaha berpikir positif, "Gpp, semua udah selesai tiga tahun itu singkat, ga kerasa karena waktu berjalan cepat, semua udah selesai dan sebentar lagi hari yg baru akan di mulai!".
Gw (lulus)
Selanjutnya semua ditangan gw, gw bakal lewati hari seperti yang gw inginkan. Sayang sekali itu hanya khayalan bodoh gw ಥ‿ಥ. Setelah lulus selama dua tahun gw coba mencari pekerjaan dan diterima di sebuah tokoh kecil ಠ‿ಠ , tidak masalah tetap bersyukur . Gw kerja disana hanya sekitar empat bulan lebih beberapa hari, gw berhenti. Ternyata meski sudah lulus sekolah dan usia sudah mencapai 20th tetap tidak punya hak untuk membuat pilihan. Gw bakal dikirim keluar negeri untuk mengulang SMK. Saat itu gw rasa itu hal yang cukup baik, gw bisa memilih ulang jurusan yg gw minati. Namun apa daya, ekspetasi selalu dihancurkan kenyataan. Kali ini jurusan sekolah di tetapkan lagi sama orang tua gw, jurusan TATA BOGA. Kenapa setiap kali selalu jurusan yang gw ga suka atau gw benci? kenapa?. Tidak ada jawaban, saat bertanya pada mereka hanya satu jawaban mereka " DEMI KEBAIKANMU!!!". Gw hanya bisa terima nasib, perlawanan apapun yg gw lakukan ga ad gunanya, trik dan cara apa pun itu tidak akan berefek.
Sekarang gw hanya bisa menunggu hari keberangkatan tiba. Karena perlakuan dan sikap kedua orang tua gw, sampai detik ini gw belum bisa membuat keputusan sendiri bahkan untuk memilih menu makan siang harus mengikuti orang lain agar bisa memutuskan apa yang akan di makan.
Gw yakin saat gw sudah berada diluar, gw bisa mulai belajar cara membuat keputusan. Jalan apa yang hendak gw lewati, makanan apa yg hendak gw mkn dll, karena mereka tidak dapat mengontrol gw kayak gw masih seatap dengan mereka, mereka juga tidak bisa mengancam gw kayak gw msh seatap dengan mereka. Sebentar lagi Senja Tiba, pemandangan indah akan muncul meski hanya sesaat. Saat keindahan langit senja hilang akan berganti indahnya langit malam, dalam waktu yang singkat matahari juga akan terbit dan memperlihatkan keindahan langit yg mirip dengan senja.
💌 Buat para orang tua atau calon orang tua yg melihat tulisan saya, saya tidak bermaksud memojokkan atau menyalahkan cara (orang tua) melindungi anaknya. Tapi ada baiknya jika membiarkan anak belajar mengambil keputusan untuk jalannya sendiri, meski kita rasa itu yg terbaik dan paling tepat tapi di mata anak itu akan jadi berbeda, jika memang salah maka bimbing mereka kembali ke jalan yang benar, sebelum membuat keputusan akhir coba tanyakan apa pendapat anak. Jika semua di paksa dengan ke hendak ( orang tua) kemungkinan anak ini akan memberontak, bahkan yg lebih parah anak bisa mengalami depresi berat karena semua selalu di kekang dan di tekan dengan kehendak orang tua nya ( karakter setiap anak berbeda dan cara pikir mereka juga berbeda-beda).
Cerita ini adalah kisah nyata dari seorang anak yang satu sekolah dengan saya. Karena hal ini, dia mengalami depresi ringan dan gangguan tidur dan mengharuskan dia untuk minum obat tidur setiap harinya ( orang tuanya tidak mengetahui perihal depresi dan obat tidurnya, dia merasa tidak perlu memberitahukan kepada orang tuanya karena jika memberitahukan masalah ini kemungkinan akan menambah beban pikirannya dan menyebabkan masalah).