Pagi ini, aku melakukan rutinitasku dari bangun tidur sampai berangkat sekolah. Di sekolah aku sebelum masuk ke kelas, pasti aku akan ke perpustakaan untuk belajar materi pelajaran hari ini di tempat favorit. Tapi saat ku sampai ke tempat favoritku, ternyata sudah didudukin oleh teman kelas bernama William
“Hai chris, boleh gue duduk disini kaga” Kata ku, agar dia mungkin bisa bergeser atau duduk dikursi lain.
“ Oh, Hai Emily, kaga ini tempat duduk favorit gue, udah sana jangan ganggu!” tegas William.
“ ayolah William, jahat banget sih sama gue, gini aja deh. Gue punya ide, gimana kalau gue duduk disebelah elo” ucap ku kedia. Tapi jujur aku sebenarnya tidak ingin duduk di sebelahnya, cuman karena aku males belajar pagi dikelas karena ada sekelompok anak perempuan yang menganggu ku.
“ Kalau kaga gimana?” keras dia ke aku.
Aku kesal karena tempat yang aku suka dudukin sudah ada orangnya, dan hanya tempat ini yang paling nyaman, dari tempat duduk yang suka aku dudukin. Dimulai dari posisi kursi dan meja yang menghadap ke jendela besar dan cahaya matahari yang masuk yang membuatnya bagus, lalu kursinya cuman ada 4. Disitulah aku suka tempat ini. Kalau murid-murid yang lain ini tempat ini digunakan untuk tempat foto, yang walaupun ada sebagian murid yang memanfaatkan untuk mengerjakan tugas dan belajar. Ok, balik ke masalahnya, kalau bisa gue duduk di depannya, cuman daripada bikin ribut diperpustakaan lebih baik minta izin ke orang yang lagi duduk.
“ Kok, cuman gue minta izin, gue boleh kaga duduk di sini, ayolah gue juga kaga ganggu elo. Boleh ya....” kata sambil memohon agar bisa membaca materi yang akan dibahas hari ini.
“ Hmmm...., Apa elo ngefans sama gue ? ooh atau suka sama gue? Kalau ngefans bilang aja.” Ucap William sambil memuji dirinya.
“Idih, ogak kali, ada yang lebih ganteng dari elo. Udah kelamaan gue mau duduk terserah elo mau pergi, intinya jangan ganggu gue.” Kata aku sambil menaruh tas dan buku yang tadi sempat aku ambil.
Aku pun akhirnya belajar, tapi dia ganggu aku, kaya buku yang lagi di baca ditutup, buku catatanku di jatuhin, pulpen diambil, dan hal lain. Aku kesal dan berusaha sabar karena aku cuman punya waktu 55 menit doang sebelum bel masuk. Sekitar 35 menit aku belajar, aku merasa dia kok kaga ganggu aku lagi, ternyata dia tidur, entah mengapa aku tidak tau. Mungkin karena aku belajar sambil mendengarkan musik menggunakan erphone. Sisa waktuku 10 menit sebelum bel berbunyi aku harus masuk ke kelas. Rencananya aku ingin tinggalin dia, cuman entah mengapa diriku kasihan kepadanya, akhirnya aku membangunkannya.
“ Will, bangun, bangun udah mau bel!” sontakku ke dia, agar cepat cepat bangun.
“ Eh, jam berapa ?Gue ketinduran gara-gara elo!” Ucap dia ke aku dengan agak kesal.
Dia buru buru merapikan buku dan kotak pensilnya. Lalu aku meninggalkannya, tiba-tiba.....
“ Emily mau kemana elo! Sini kaga tunggu gue.” Kata dia ke aku.
Cuman yaudah teman kelas ini, cuman aku kaga terlalu dekat dengannya, karena saat dikelas aku dan dia selalu bermusuh entah mengapa bisa terjadi, tidak angin atau hujan. Setelah selesai, kami langsung pergi ke kelas karena 5 menit lagi bel. Sebelum melewati pintu kelas aku memikirkan sesuatu.
“ Eh, William, gue boleh tanya? Tadi kenapa elo bilang ke gue, kalau gue yang bikin elo tidur ? itu maksudnya apa ya..” Rauh wajahku yang penasaran.
“ Oh, itu eh, iya karena setelah gue selesai belajar, gue memerhatikan elo yang lagi belajar” Ucap dia sambil malu-malu dan masuk ke kelas.
Disaat itu aku bego dan tiba tiba suara bel berbunyi dan aku masuk kelas dengan rasa bingung karena jawabnya ke aku.