Taevin Radiputra adalah pemuda pentakilan pada umumnya. Satu dua hal yang membuatnya sedikit—iya, hanya sedikit—berbeda hanya paras tampan dan jumlah digit dalam kartu debitnya.
Selebihnya? Narsis, menyebalkan, tidak peka, kekanak-kanakan, bahkan jorok juga jadi sifat alamiahnya.
Apalagi di depan Seana. Pemuda jangkung itu seringkali sengaja salah memanggilnya sauna. Padahal jelas sekali orangtua Seana memberi nama untuknya dengan harpan dan doa yang baik-baik.
Yang lebih menyebalkan, bukan hanya harus bertemu dengan pemuda itu sepanjang siang hari di sekolah, faktanya rumah mereka juga bersebelahan. Lebih-lebih, balkon kamar mereka berdua saling berhadapan.
Tentu saja kekacauan yang dibuat Taevin di balkon seberang jelas sering menganggu waktu berharga Seana. Seana susah mengerjakan PR, susah teleponan dengan teman-temannya, bahkan susah untuk mencari jodoh sebab suara tetangga sangat berisik dan terdengar menembus sampai ke sambungan telepon.
Satu waktu Seana pernah bertanya pada Taevin, mengapa sifatnya itu ditimpakan pada Seana. Dengan ogah-ogahan Taevin asal nyeletuk, "Ya.. memang kenapa? Lagipula itu bukan tindakan kriminal."
Jelas bukan, sih. Jadi selanjutnya, Seana malas mendebat.
Tapi, sumpah, teruntuk Taevin, kapabilitas berpikir Seana jelas sedang menjadi taruhan. Gadis itu seringkali berpikir, barangkali—mungkin saja, mungkin, hanya mungkin—sebenarnya otak Taevin hanya sebesar biji jangung.
Sebab tingkah konyol dan ucapan absurd pemuda itu seringkali melewati level sudah tidak tertolong. Seana sampai capek mengingatkan diri sendiri kalau sang tetangga tampannya itu manusia, bukan makhluk purba apalagi makhluk tak kasat mata.
Apa jangan-jangan Taevin sebenarnya jelmaan makhluk luar angkasa? Apakah Taevin adalah alien yang sedang menyamar untuk misi survei rahasia sebelum melancarkan invasi bumi secara besar-besaran?
Oh, tidak. Sepertinya Seana mulai tertular berpikiran aneh. Jangan sampai Taevin mengetahui hal yang baru saja ia pikirkan. Bisa-bisa pemuda itu akan bangga dan merekrut Seana sebagai murid dadakan.
Atau bisa saja Taevin akan menertawakan dirinya dan menuduh Seana sudah tidak sengaja membentur kepala ke tiang listrik depan rumah. Ah, tidak-tidak. Jangan sampai.
Terus terang saja, Seana jadi bisa memahami sedikit banyaknya jalan pikiran Taevin. Sebab mereka sudah hidup bersisian sejak mereka sudah bisa berjalan.
Tapi, kembali pada praduganya, teori alien itu benar-benar terasa masuk akal. Apalagi kalau nama Taevin digabungkan dengan—
"Sauna!"
"Taelien!"
Taevin memiringkan kepala. Harusnya disini dirinya yang mengagetkan sang sahabat. Kenapa ujung-ujungnya Seana yang membuat otaknya berpikir kebingungan? "Sauna, kenapa? Taelien apa?"
Seana menggeleng panik. Aduh, dirinya tidak sudi jika Taevin sampai merajuk. Hidupnya dalam 3 hari 3 malam kedepan akan terancam tidak tenang sebab Taevin yang dalam mode merajuk akan semakin gencar membuat hidupnya tidak tentram. Taevin anaknya pendendam.
Seana menjelaskan gugup, "K-kau tahu? I-itu semacam.. um.. ya.. s-seperti saat kau memanggilku sauna. Kau mengerti maksudku?"
Taevin terdiam mencerna kalimat Seana. Sedang Seana sudah bersiap dengan pikiran genjatan senjata dengan Taevin, atau minimal berusaha keras membujuk pemuda itu.
Namun, alih-alih mendapat tatapan kesal dengan wajah masam, Taevin justru menatapnya dengan senyum cerah nan menawan efek wajah tampan bawaan lahirnya.
"Jadi, sekarang Sauna juga sudah punya nama panggilan sayang khusus untukku?"
Seana bersyukur setidaknya Taevin tidak marah. Akan tetapi, rasanya Seana menemukan kejanggalan dalam kalimat Taevin. Seana berpikir keras. Apa yang janggal?
Sesaat Seana ingin mengumpat manakala menyadari maksud kalimat Taevin. Jadi selama ini, Taevin naksir padanya?!
End.
Terimakasih untuk yang sudah menyempatkan diri mampir, baca, like, lebih-lebih tebar daun lewat komen 💕