Baca dan jangan lupa kritiknya, ya. Jangan pedas-pedas nanti mules.
Siang itu Rahmat mengajak putranya--Saiful ke sungai. Mereka akan memancing ikan sembari mencari kayu bakar di hutan.
"Saiful. Kita ke sungai, yuk!" Ajak Rahmat kepada putranya yang sedang asyik memotong sayuran.
"Iya, Pak. Sebentar ya, Saiful nyayur dulu." Saiful hobi memasak ditambah ia sudah tak memiliki seorang ibu. Ibunya meninggal dunia ketika melahirkan adiknya namun selang satu jam sang adik pun meninggal.
"Ya wes, kalau gitu, Bapak tunggu," sahut Rahmat sambil menganyam bambu.
"Nanti sekalian nyari kayu bakar ya, Le. Biar banyak kayunya. Kalau masak, nggak repot-repot nyari lagi." Rahmat menghisap dalam-dalam rokok yang ada di tangannya. "Untuk besok malam juga. Pasti bakalan ramai," ucapnya lagi.
Saiful menoleh ke arah rahmat ia bingung karena 40 hari ibunya sudah lewat satu minggu yang lalu.
"Bukannya 40 hari Mama sudah selesai ya, Pak?"
Rahmat tak menyahutnya. Tangannya telah lihai menganyam bambu. Sejak muda dulu Rahmat menganyam bambu membuat perabotan rumah dan ia akan menjualnya ke warga-warga.
Saiful telah selesai memasak dan mereka bersantap menikmati masakan Saiful.
Disela makan Rahmat berkata, "Nanti Bapak dijemput, Le. Kamu sendirian nggak, apa-apa kan?"
Saiful menghentikan makannya dan menatap Rahmat.
"Emangnya, bapak mau ke mana, Pak?Kita kan mau ke sungai," kata Saiful heran. Saiful berpikir mungkin bapaknya merindukan mendiang ibunya sehingga ia ngelantur.
"Bapak mau pergi."
"Mau pergi kemana, Pak?"
"Enggak tahu pokoknya Bapak perginya jauh nanti juga ada yang jemput kok, kamu tenang wae, Le. Ingat pesan Bapak, ya."
Saiful semakin bingung baru kali ini Rahmat ingin berpergian dan tak mengajak Saiful.
*
*
*
Saiful dan Rahmat berangkat ke sungai memancing dan mencari kayu bakar.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Rahmat menggandeng tangan putranya itu. Takut jatuh tersandung katanya.
Ketika mereka sampai di sungai ....
Rahmat dan Saiful memancing ikan terlebih dahulu.
"Tumben dapat ikan banyak." Saiful membatin.
Satu jam berlalu Saiful dan rahmat mendapat ikan yang banyak. Lalu, Rahmat pun mengajak Saiful masuk ke hutan terdekat untuk mencari kayu bakar.
Saiful dan rahmat membawa golok dan memotong-motong tangkai ataupun dahan-dahan kering yang jatuh dari pohon. Dikumpulkan satu persatu kemudian diikat menjadi beberapa gulungan kayu bakar.
"Dikumpulkan di situ dulu aja, Le. Besok bisa kamu ambil atau nyuruh orang lain kalau nggak, kuat." Rahmat membuka topinya dan dikipas-kipaskan ke arah wajahnya yang letih dan keringat bercucuran.
"Iya, Pak. Nyari kayunya sudah pak. Ini sudah lebih dari cukup," ujar Saiful.
*
*
*
Hari menjelang senja Rahmat mengajak Saiful untuk pulang.
Rahmat memanggul satu gulungan kayu bakar begitu juga dengan Saiful. Tak lupa juga membawa hasil pancingan mereka.
Keduanya nampak terlihat kelelahan nafasnya berat dan ngos-ngosan. Keringat membasahi tubuh Rahmat dan Saiful.
Saiful berada di depan Rahmat mereka melewati jalan setapak.
Sesekali Saiful menengok ke belakang untuk melihat sang ayah.
"Kalau capek kita istirahat dulu saja, Pak." Saiful menunggu langkah sang ayah yang tertinggal jauh.
"Terus aja, tanggung sedikit lagi juga sampai!" Rahmat sedikit berteriak pada anak laki-lakinya.
Bruk!
Saiful menjatuhkan satu gulungan kayu bakar yang ada di pundaknya. Lalu ia duduk di atas kayu tersebut.
"Kok, berhenti Le. Cepat dilanjut, Bapak sudah ada yang mau menjemput," ucap Rahmat seraya melewati Saiful yang sedang duduk.
Saiful pun berdiri langkahnya sedikit mengejar Rahmat di depan.
Saiful tertinggal jauh sejauh 5 meter dari Rahmat.
Tiba-tiba ada segerombolan gajah berlawanan arah dengan Saiful dan Rahmat. Sayangnya jarak antara gajah dan Rahmat itu dekat. Rahmat pun panik kalang kabut untuk menyelamatkan diri Ia takut terinjak oleh kawanan gajah.
Saiful pun terkejut setengah mati ia membanting gulungan kayu yang ia bawa kemudian Saiful naik ke salah satu pohon yang tak jauh berada di sekitarnya.
Rahmat berlari kearah pohon di mana Saiful berada.
Naas Rahmat tersandung akar dan terjatuh lalu tersungkur.
Gajah berukuran besar menginjak tubuh Rahmat.
Krek!
Rahmat tak bisa berdiri ia lemas dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Rahmat berusaha berdiri dengan sisa-sisa tenaganya akan tetapi kawanan gajah menginjak kembali tubuh renta itu.
Krek!
Saiful yang melihatnya berteriak histeris ia tak mampu menolong sang ayah karena kawanan gajah itu sudah mendekati pohon yang ia naiki.
Kemudian ada gajah lagi yang menginjak tubuh Rahmat. Tubuh itu sudah tak bergerak lagi. Rahmat sudah tak bernyawa ia menghembuskan nafas terakhirnya di tempat kejadian.
Saiful menangis di atas pohon melihat Rahmat sudah kehilangan nyawanya.
"Bapak! Huhuhu ...,"
Saiful tak juga turun dari pohon tinggi itu sebab kawanan gajah masih melintas.
Sekitar 20 menit gajah tak lagi lewat. Saiful turun dari pohon Ia berlari mendekati tubuh sang ayah yang sudah remuk.
Saiful memeluk, mencium dan berusaha membangunkan sang ayah. Kemudian Saiful membalik tubuh Rahmat.
"Bapak ... Bangun, Pak."
Bocah 15 tahun itu menangis pilu. Tiada lagi orang yang ia sayangi. Tinggallah kenangan.
"Pak, jangan tinggalkan Saiful!"
Saiful bangkit sekuat tenaga dan menggendong tubuh ayahnya itu. Jasad Rahmat ia taruh di atas pundak. Langkahnya terseok-seok tak beraturan.
Sampai di desanya ia berteriak-teriak memanggil para tetangga dan meminta bantuan.
Namun, Saiful limbung tak sadarkan diri karena lelah juga kepedihan yang melanda jiwanya.
Mungkin kah ini yang dimaksud Rahmat. Bahwa ia dijemput? Seorang tamu yaitu malaikat?
"Benar kata bapak. Bapak dijemput dan malam ini sudah ramai di rumah kita. Ramai melayat bapak." Batin Saiful rapuh.
Selesai