Hujan. Berapa banyak gambaran tentang seberapa berkesannya ketika hujan datang padamu? Dia, kau dan aku. Banyak kenangan yang terlintas dalam pikiran kita, saat mendengar kata hujan.
Dia yang hanya merindu akan hal yang jelas mustahil terjadi, berangan-angan dalam lebatnya hujan. Sementara kau bisa saja sedang meratapi hal yang sebenarnya perlu kau lepaskan. Melankoli sebutanya.
Aku? Menikmati suara hujan. Ditemani teh, aku duduk diam dalam kegelapan. Sengaja, agar aku dapat menerima kesan yang tenang. Sedikit demi sedikit, menyeruput teh dan menatap hujan sambil berpikir apa aku hujan-hujanan saja atau tidak.
Coba tebak, apa yang aku lihat di tengah hujan sampai-sampai aku tersenyum karenanya? Sepasang kekasih melintas begitu saja didepan rumahku dengan payung kuning. Aku tidak tahu siapa dan apa wujud mereka itu. Hanya warna dari pakaian mereka yang samar-samar dapat kulihat dalam hujan itu sendiri. Jendela yang penuh dengan air hujan tak akan mengaburkan warna yang aku lihat saat itu.
Aku sudah tahu bahwa mereka memang seperti ini. Tunanganku, Sebaiknya tak perlu kau sembunyikan apa yang kau simpan seperti ini. Agar aku dapat meluruskan semua ini dan tidak mendendam padamu. Atau aku memang paranoid dan menganggap bahwa dia adalah tunanganku.
Lalu apa? Sakit hati? Sangat sulit. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Sejak dulu, lama sekali, aku tak bisa merasakan apa yang sebenarnya aku rasakan. Bahkan sampai saat ini aku penasaran dengan wajahku yang melebarkan senyuman ketika melihat hal yang tidak lazim di depan mataku.
Mereka berciuman. Entah kenapa tanganku terasa sakit dan gatal. Dadaku serasa di dorong. Baru saja aku kecewa dengan karirku. Bertengkar hebat dengannya aku yang kekanakan. Setelah apa yang aku lihat, aku hanya duduk santai. Aku telah memenangkan sebuah tebakan yang ada dalam kepalaku selama ini.
Mereka pergi. Hujan semakin lebat. Aku tak bisa melihat mereka lagi melalui jendela karena mereka menjauh secepat kilat. Hanya duduk tenang dan berharap apa yang aku lihat adalah kesalahpahaman. Aku tahu itu naif, tapi aku tak perlu tahu sejauh mana tebakanku benar seluruhnya.
Aku mulai berdiri dan membereskan meja. Berjalan melalui pintu dan membawa payung transparan milikku. Aroma tanah yang sangat aku rindukan. Untuk sejenak air mataku jatuh sesekali. Aku tidak tahu mengapa.
"Ayo, kita hilangkan air mata itu dan berjalan saja." Kataku pada diriku sendiri.
Berjalan melewati keramaian yang penuh dengan wajah murung. Lalu, melihat tunanganku bersama dengan dia di kafe terlihat sangat mesra. Walau awalnya tampak seperti sahabat tapi... ah, sudahlah.
Lalu aku mulai berlari dan merasakan hujan. Bercak lumpur bukan jadi masalah bagiku.
Payungku adalah teman yang sabar.
Kecewa sekaligus bahagia.
Ada beberapa yang membuatmu mencintai hujan.
Pertama, kau bisa menenangkan dirimu dari sibuknya hari. Kedua, aroma tanah yang kau rindukan telah datang. Ketiga, suasana romantis, terkadang kita selalu melihatnya. Keempat, kau berjalan dengan riang setelah hujan. Kelima, selalu ada cahaya memukau setelah badai. Mungkin, pelangi?
Aku tidak tahu apa ini benar atau tidak. Itu akan menjadi keputusanmu sendiri mengenai opini yang aku ajukan pada kalian.
"Hahaha... tebakanku benar. Lalu apa selanjutnya?" Aku tertawa sembari berlari menjauhi kerumunan yang tidak peduli dengan teriakkanku.
"Mari kita lihat apakah ada harapan dibalik badai? Atau... akulah cahaya itu sendiri... untukku sendiri?" Tanyaku pada diriku sendiri.
Andai dia laki-laki, maka aku akan mewajarkan hubungan mereka. Apa kalian mengerti apa yang aku maksud?
Iya tahu. Lebih baik jauh-jauh dari pria ini. Sebenarnya dia sudah gila.🤥