Karya M.Karollina21
Hai namaku Senja dan ini ceritaku,
Waktu itu keadaan kami sekeluarga serba kekurangan ditambah lagi Kak Winda yang melanjutkan untuk kuliah kebidanan atas anjuran dari paman ku yang ada di Samarinda ibu dan ayahku pun setuju dengan ide itu dan berangkatlah Kak Winda ke Samarinda untuk kuliah di sana. Kami tahu bahwa untuk biaya kuliah dalam bidang kesehatan itu sangat mahal tapi ibuku tidak mau menyerah beliau tetap berusaha agar kuliah Kak Winda tetap berjalan hingga sampai nantinya wisuda. Saat memasuki perkuliahan mungkin sekitar semester pertama akhir ada pertukaran mahasiswa kebidanan ke Bekasi ternyata kakakku dan satu lagi temannya dapat kesempatan untuk bisa berkuliah di luar pulau Kalimantan tepatnya di Bekasi. Setelah mengurus segala keperluan untuk berangkat ke sana atas persetujuan ayah dan ibuku Kak Winda pun berangkat dan saat itulah cerita sedih ini dimulai.
Pada hari selasa tahun 2010 di mana kakak ku Winda menelpon meminta uang untuk biaya kuliah ia tahu ibu dan ayah pasti juga kesulitan mencari uang tapi mau tidak mau itu harus di bayar juga . Malam itu ibu ke sana kemari mencari pinjaman ke orang di kampung ku dari rumah ke rumah ibu kunjungi sambil membawa surat tanah milik kami untuk di gadai kan. Tiap rumah yang ibu kunjungi semuanya menjawab tidak bisa membantu, namun ibu tetap tidak menyerah dia tetap berusaha mendatangi satu persatu rumah orang yang dia kenal di kampung. Hingga sampailah ia di rumah seorang temannya yang juga ku kenal karena ibu tahu orang itu cukup berada mungkin dia mau berbelas kasih meminjami ibu uang beberapa juta, dengan langkah pasti ibu berjalan menuju rumah itu dan sampailah iya di depan pintu rumah temannya itu, ibu menarik napas dalam dengan sedikit keraguan ibu mengetuk pintu beberapa kali sampai orang rumah itu pun keluar.
“ iya sebentar “ (sahut orang rumah)
Pintu pun terbuka “oh ibu Rumi mari masuk bu” kata suami teman ibuku itu sembari mempersilahkan ibu masuk. “ iya pak Indra ini saya “, lalu ibu dipersilahkan duduk dan mulailah ibu membicarakan niatnya berkunjung ke rumah temannya itu malam-malam.
“begini Pak Indra Bu Maya kedatangan saya kemari ingin meminjam uang untuk biaya kuliah anak saya Winda yang kuliah di Bekasi. Saya minta tolong dengan kalian untuk dapat membantu. ini ada surat tanah kami jika nanti kami tidak dapat melunasi uang itu”. Begitulah ibu berbicara panjang lebar di depan pasangan suami istri itu. Keheningan mulai terasa untuk beberapa menit sampai Pak Indra pun berbicara kepada istrinya “gimana menurut ibu, bapak sih gak keberatan terserah ibu saja”. tidak ada jawaban sepatah kata pun keluar dari mulut ibu Maya dan tiba-tiba ia malah beranjak dari tempat duduknya tanpa berpamitan kepada suami maupun ibuku yang ada di situ, ia berlalu menuju ke dapur dengan wajah biasa saja tanpa rasa iba atau pun kasian kepada ibu ku. Melihat hal yang seperti itu ibuku pun sudah mengetahui jawabannya adalah tidak dengan rasa kecewa ibuku pergi dari rumah itu
“oh baiklah sepertinya kalian tidak bisa membantu ya Pak Indra Bu Maya kalo begitu saya permisi pulang, selamat malam”. Tanpa ada yang menghiraukan ucapan dari ibu ku, tidak Pak Indra yang menyambut ibuku dengan ramah awalnya tidak juga Bu Maya yang sedari awal memang terlihat tidak peduli. Ibu pun bergegas pulang ke rumah dengan perasaan yang sedih dan kecewa padahal temannya itu ya bisa dibilang berkecukupan tapi tidak mau membantu malah menolak dengan tidak sopan tanpa memikirkan perasaan ibuku. Sesampainya ibu dirumah tepat pukul 22;23 dengan langkah lemah ibu berjalan membuka pintu dan langsung terduduk di lantai aku dan Kak Risky pun menghampiri ibu.
“Bu gimana sudah dapat uangnya “ ucapku dengan sedikit ragu
Ibu mulai menangis dan bercerita kejadian tadi saat di rumah Pak Indra dan Bu Maya bagaimana ibu di perlakukan seperti angin yang terasa tapi tak terlihat menyuguhkan air minum pun tidak, selayaknya tuan rumah memperlakukan tamu tapi ibu malah di abaikan.
Aku dan Kak Risky yang mendengar cerita ibu pun ikut menangis betapa ibu rela menahan malu, dan lelah berjalan menyusuri kampung bertamu ke satu persatu rumah penduduk tapi tidak mendapat satupun pinjaman.
Malam itu aku, Kak Risky menangis di rangkulan ibu saling menguatkan hati sembari berdoa dalam isak tangis memohon kepada TUHAN memberikan jalan terbaik dalam masalah kami ini.
~SELESAI~
“Catatan dari saya sebagai penulis : cerita ini terinspirasi dari pengalaman yang pernah ibu ku alami. Terimakasih telah membaca 🤗🙏