Dor
"Aaa ... Azura, kamu di mana?!" teriak seorang gadis kecil, sambil berlari menyusuri hutan yang lebat.
"Cepat, cari dua bocah itu! Jangan sampai lolos!" titah seorang pria, pada anak buahnya yang berbadan kekar dan banyak tato.
"Siap, bos!" ucap mereka serentak.
Dan mulai berpencar mencari kedua gadis kembar, di hutan yang lebat itu.
"Aku harus sembunyi, tapi Azira. Dia di mana?" gumam gadis kecil tersebut, yang mirip wajahnya seperti gadis kecil sebelumnya.
Mereka adalah dua bocah kembar, yang bernama Azura Putri Mafendra dan Azira Putri Mafendra.
Kedua orang tua Azura dan Azira, sudah di bunuh secara sadis di depan mereka sendiri.
Di rumah megah bak istana, nampak sunyi senyap. Karena pemilik rumah, sudah terbaring kaku di lantai dengan ceceran darah yang banyak.
Arman Mafendra, merupakan adik sepupu Randi Mafendra, yang merupakan ayah Azura dan Azira.
Arman ingin mendapatkan kekayaan yang dimiliki Randi, seluruh rencananya yang ia susun tidak berjalan lancar.
Hingga akhirnya, tak ada pilihan lain, selain membunuh keluarga kecil tersebut.
~Flashback on~
"Kenapa bisa gagal? Apa aku membayar kalian untuk kegagalan?" bentak Arman pada anak buahnya, yang menyamar menjadi pegawai kantor Randi untuk mengkorupsi.
"Maaf, bos. Tapi saya hampir di tangk--" ucapan anak buahnya terpotong, karena Arman langsung menghadiahi bongeman mentah.
"Tak berguna!" teriak Arman penuh amarah.
~End~
"Itu, dia!" teriak salah satu segerombolan anak buah Arman, ketika melihat Azira yang sedang bingung ingin lari kemana. Karena di depannya adalah jurang, ingin kabur tapi dia sudah di kepung.
"Aku mohon, paman. Jangan sakiti aku," lirih Azira dengan deraian air mata.
"Hahah ... mau lari kemana, kamu!" tawa mereka menggelegar, yang membuat bulu roma Azira meremang.
"Azira, kamu di mana?" gumam Azura sambil berjalan dengan pincang, karena tadi terjatuh akibat berlari dari kejaran para penjahat.
"Aku mohon, paman," ucap Azira lagi, sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada.
Samar-samar, Azura mendengar suara memohon Azira yang nampak tak jauh dari dirinya berjalan.
"Oh gak bisa, mau lari? Coba lari, kamu sudah di kepung!" ucap orang itu lagi.
Akibat terlalu takut dan panik, Azira lupa dengan jurang yang di belakangnya.
Ia terus saja berjalan mundur, dengan cepat Azura berlari, walau kakinya sakit, dirinya terus memaksa berlari.
Di balik pohon besar dan rimbun, Azura melihat Azira dari jarak yang tak terlalu jauh, tengah di kepung oleh beberapa orang.
Azura ingin menyelamatkan kembarannya, tapi jika ia kesana, bisa-bisa mereka berdua tertangkap dan di bunuh oleh pamannya yang kejam itu.
Apalah daya, Azura hanya menatap nanar pada kembarannya dengan merapalkan do'a.
"Aku, mohon, paman. Aku mohon," ucap Azira yang terus berjalan mundur.
Tanpa sengaja, kakinya terkilir dan membuat tubuhnya linglung. Seketika Azira terguling-guling jauh, ke dalam jurang.
"Azira," lirih Azura sambil menutup mulutnya tak percaya, dengan air mata yang kembali jatuh berderai.
Hanya Azira yang ia miliki setelah kedua orang tuanya di bunuh, dan sekarang ia harus menelan pahitnya kehidupan, bahwa keluarga satu-satunya telah tiada.
"Azira." Azura terduduk lemas di bawah pohon besar nan rimbun itu, untuk para sekelompok orang yang berbadan kekar, kini telah pergi meninggalkan tempat itu.