Terlihat dari bilik kamar seorang ibu paruh baya yang telah berkemas untuk mengikuti suatu pelatihan umkm di sebuah hotel. Sembari ibuku berkemas aku putuskan untuk melanjutkan pembuatan banner untuk acara nanti yang sudah mendekati deadline namun karena kesibukan membuat tanggung jawabku sedikit terbengkalai.
“Ayud .. ibu pamit iya, mobilnya sudah datang” kata ibuku
“iya ibu, hati-hati di jalan iya” ucapku sembari mencium punggung tangan ibuku
Setelah kepergian ibu, aku kini hanya berdua dengan addikku di rumah. Oh iya, aku adalah ayudia carissa ismail dan memiliki seorang adik laki-laki bernama syamsul arif ismail yang akrab disapa dengan syam.
Selang beberapa menit setelah aku berkutik dengan desainku, tiba-tiba dering hp ku berbunyi dan kuhentikan sejenak aktivitasku untuk mengecek siapa yang tengah menelpon. Namun yang nampak di layar hpku hanya nomor yang tidak aku kenal. Kini pikiran negatifku mengenai mimpi ku terputar kembali, Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan ibu.. Kurasakan ada air yang mulai tergenang di pelupuk mataku namun dengan sebisa mungkin aku menahannya karena aku tidak ingin adikku bertanya apa yang terjadi denganku.
Hpku kemabali berdering dan membuatku tersadar dari pikiran-pikiranku yang negatif dan bergegas untuk mengambil hp yang kuletakkan di atas nakas tadi
“Halo, assalamualaikum”, sapaku dengn sedikit gemetaran
“Waalaikum salam, apa benar ini dengan ayudia carissa ismail”? Tanyanya di seberang sana
“ii…iya oak dengan saya sendiri. Maaf pak, ini dengan siapa iya dan ada apa pak”? Tanyaku setelah ku iyakan pertanyaannya
“saya mau mengabarkan kalau saya sedang di jalan menuju arah rumah kamu” ucapnya yang seakan menggantung
Aku terdiam, dan pikiranku mulai terngiang kembali.. ohh tuhan semoaga ibu tidak kenapa-kenapa ucapku dalam hati
“jadi gini,, ada kiriman paket atas nama ayudia namun alamatnya kurang jelas jadi sebaiknya kamu keluar iya” sambungnya lagi sebelum sambungan telpon ditutup
Haaah Aku menarik nafas panjang, bersyukur itu bukan kabar dari ibuku. Ehh tapi katanya paket, aku tidak memesan apapun bahkan untuk paket hasil lomba kemarin sudah aku terima, siapa yang memberiku paket. Biasanya jika ada kiriman pasti pengirimnya aku tau dan konfirmasi lebih awal kalau mau kirim paket.. mmm mungkin ini hanya orang iseng
Aku bergegas untuk menganakan jilbaku sebelum keluar ruma, kebiasaanku ini dimulai semenjak aku beranjak dewasa dan ayahku memberi nasehat kalau sebaik-baiknya perempuan dia adalah yang mampu menjaga auratnya dari pandangan laki-laki yang bukan mahromnya dengan begitu terjagalah dia dari pikiran kotor dari seorang laki-laki.
Sekitar 5 menit aku berdiri di pinggir jalan dekat rumahku, tiba-tiba seorang pengendara motor berhenti di depanku dan menanyakan nama ayudia. Setelah kujawab pertanyaannya pengenadara itu mengambil sebuah kotak dari dalam tasnya. Aku bingung dan dalam hatiku kenapa ada kurir sperti ini, kenapa gak seperti kurir pada umumnya. tiba-tiba dia menyodorkan paket itu kepadaku namun aku masih saja diam
“hey kok diam aja, ini buat kamu” katanya dan mampu membuatku terkejut
“maaf, kok bapak tidak seperti kurir pada umumnya”? tanyaku
“bapak, bapak. Enak aja, aku belum tua tau. Jadi gini, sebenrnya aku bukan kurir, tapi aku temannya ikhsan. Ikhsan menitipkan ini untukmu katanya sebagai kado ulang tahunmu yang ke 22 tahun” tuturnya
“ikhsan kemana kak, kok bukan dia yang antarkan langsung padahal dia sudah jani kalau kita bakalan ketemu sebelum dia pergi ke luar kota” tanyaku
“di dalam kotak itu, katanya ada sebuah surat, mungkin ada jawaban atas pertanyaanmu” penjelasannya disertai dengan lengkungan tipis pada bibirnya
Setelah pembawa paket yang kukenal adalah temannya ikhsan kian berlalu, aku kembali ke rumahku namun kotak yang ada di genggamanku sekarang aku hanya simpan di meja dan memutuskan untuk membacanya malam nanti sebab desainku tak lagi selesai.
Kini senja mulai menghilang dan menyisahkan cahaya bulan ditemani sang bintang-bintang untuk memancarkan gemerlapnya dikeheningan malam. Semua aktivitasku telah aku selesaikan, Namun aku ingat kejadian tadi siang hingga membuatku bernjak ke meja untuk menga,bil kotak titipan ikhsan.
Sembari membuka satu demi satu kertas kado yang tertata rapi, ada hal yang aku sesalkan sebab seharusnya dihari yang spesial ini aku bertemu dengan ikhsan, seseorang yang 2 tahun terkahir dengan sabar untuk memberiku motivasi di saat aku mengerjakan skripsi. Namun yang aku sadari kita sebagai manusia hanya mampu merencanakan, namun yang menjadi penentu hanyalah sang pencipta.
Di tanganku tidak adalagi kertas yang tersisa, aku memberanikan diri membuka secara perlahan dan kutemukan sebuah mushaf dan tasbih yang tergeletak di dalamnya. Air mataku tiba-tiba mengalir, rasa haru dalam hatiku mendapatkan kado yang sederhana namun punya andil besar dalam hidupku. Aku membuka mushaf berwarna pink dan terdapat sepucuk surat yang bertuliskan untukku. Rasa penasaran dalam diriku ingin segera membuka surat ini.. ku perbaiki posisi dudukku dan mulai membaca kata demi kata yang terangkai
Teruntuk Ayudia
Selamat ulang tahun iya nok, semoga dengan umur yang sekarang kamu mampu menjadi manusia yang lebih baik lagi(
Aku minta maaf karena bukan aku yang secara langsung mengantarkan hadiah ini untukmu, setelah aku memutuskan untuk lebih memilih mendonorkan ginjalku untuk saudara kecilku, kini sudah saatnya aku berada di penghujung hidupku, sebelum tuhan memanggilku ada satu hal yang ingin kusampaikan untukmu, kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu dan kita punya rencana untuk segera bersatu dalam sebuah ikatan yang sah namun tuhan berkata lain, kini aku ingin melihatmu bahagia bersama orang lain, lelaki terbaik yang dipilihkan tuhan untukmu.
aku tau kamu sedang menangis tapi aku berharap kamu mampu menghapus jejka air mata yang mengalir dari pipimu, dan jangan pernah menangis karena mengingat semua kenangan yang kita pernah lalui.
Dengan mushaf ini, berikanlah untaian doa terbaikmu untukku.Selamat tinngal nok
Ikshan
Hatiku seolah teriris membaca surat ini, air di pelupuk mataku seakan mengalir deras, ini bukan kado yang aku dambakan, jika aku bisa memilih aku tidak akan pernah mau menjadi dewasa dan berumur 23 tahun.
Penulis : Isra Novianti