Ardi adalah seorang karyawan baru yang belum lama ini bekerja di Jogja. Dia bekerja di perusahaan iklan selama enam bulan terakhir.
Ardi ini juga merupakan anak rumahan yang dari kecil kegiatannya hanya rumah – sekolah – pulang. Tidak ada yang istimewa.
Sejak SD, dia selalu kalah dalam permainan fisik. Kasti, basket, lari, tidak pernah ada prestasi yang didapat Ardi.
Sampai pada SMA sebuah aplikasi desain mengubah hidupnya. Ardi seperti menemukan bongkahan emas yang dia dapat setelah melakukan perjalanan jauh.
Semenjak mengenal aplikasi desain hidup adi seperti siput, yang hanya bergerak lambat memandang komputer.
Bahkan, dia juga jadi jarang bertemu dengan tetangga dekatnya yang hanya berjarak 10 meter dari rumah.
“Ardi ayo keluar kamar,” kata dari ayahnya ini yang menjadi pengingat Ardi, seperti alaram yang membangunkannya dari tidur panjang.
Ayahnya tidak pernah mengekang Ardi, apa saja hobinya dipersilahkan untuk dilakoni, asal tidak mencuri.
Wajar Ardi disayang, karena dia seorang anak tunggal dari keluarga PNS. Tapi Ardi tidak pernah mau menjadi PNS.
Dia mau berkarya di jalur swasta, menurut dia hal itu jauh lebih keren.
Alhasil, setelah 4 tahun menyelesaikan kuliahnya. Dia memutuskan bekerja menjadi desainer iklan.
Karyanya banyak terpampang di billboard Kawasan Jogja. Tempat dia bekerja mencari ilmu saat ini.
*******
Setelah bekerja di luar daerah, Ardi yang anak semata wayang keluarga Suprapto ini jarang pulang.
Ayahnya Suprapto, bekerja sebagai PNS sudah puluhan tahun. Tapi keluarga itu cukup sederhana. Ayah Ardi hanya naik sepeda motor bebek.
Bahkan untuk beli motor baru, mereka memilih menunggu menang arisan motor.
Semua biaya keluarganya diberikan untuk Pendidikan Ardi, jadi dalam benak Ardi juga ada beban untuk membahagiakan orang tuanya.
Karena tekanan membahagiakan keluarga itu, Ardi memiliki obsesi membelikan mobil ayahnya, Suprapto.
Maklum, karena keluarganya belum pernah merasakan memiliki kendaraan roda empat itu.
“Ardi ayo madang,” ajak teman kantor Ardi. Kata madang ini artinya makan.
“Enggak,” kata Ardi. Dia memilih memakan bekal yang dia bawa dari indekosnya.
Cukup tempe dan sayur, demi impian memberikan mobil untuk ayahnya Suprapto.
Lebaran tahun depan rencananya Ardi ingin memberikan kejutan untuk ayahnya, membawa mobil pulang.
Setengah bekerja hari itu, Jumat (17/9/2021) dia teringat sang ayah, lalu menelpon ke rumah.
“Hallo pak” kata Ardi dengan suara pelan.
Dia kecilkan suara musik dari speakernya, lagu Ojo Nangis milik ndar boy genk itu jadi semakin lirih terdengar.
Ardi saat itu benar-benar ingin mendengar suara ayahnya.
“Iya le” sambut bapaknya.
“Gimana kabarmu le” belum sempat Ardi menjawab. Ayahnya kembali menimpali.
“Sehat pak,” jawab Ardi.
Seketika suasana hening, mereka bingung membicarakan apa.
“Bapak juga sehat to,” kata Ardi memecah keheningan.
“Alhamdullilah le, kamu kerjaan lancar kan,”
“Lancar Pak,”
“Jaga pola makan mu ya nak,”
“Iya Pak”
“Ya sudah kalau begitu, lanjut kerja sana,” tutup bapak Ardi.
******
Dua tahun sejak saat itu, jelang dua bulan lebaran, senyum lebar dari mulut Ardi sudah seperti mau merobek pipinya.
Dia seperti ikan air tawar yang lolos dari pancingan pemancing.
Ardi berdiri di depan dealer mobil, impiannya sudah dekat. Memberikan kendaraan roda empat untuk bapaknya Suprapto.
“Saya ingin mobil ini,”
“Siap Bapak,” kata sales mobil dengan ramah.
“Nanti diatasnamakan Suprapto bisa,”
“Bisa bapak”
Setelah selesai administrasi, sebuah mobil merek mentereng dibawa pulang Ardi, kerja keras menahan lapar dan makan apa adanya selama dua tahun terbayar.
Uangnya cukup membeli mobil untuk bapaknya.
******
Hari penantian tiba, Ardi akhirnya pulang ke rumah tepat hari pertama lebaran, setelah dia salat Id dari Jogja.
Senyumnya tak terbendung. Jalanan rumahnya yang mirip sirkuit balap itu dilewatinya.
Suasana hijau persawahan terlihat, rumahnya yang berada di gang kecil sudah menyambut.
Namun, saat belokan hendak sampai ke rumahnya, Ardi tertegun.
Dia melihat bendera merah tertempel di tiang listrik dekat rumahnya.
Suara lantunan Al-quran membuatnya diam makin dalam.
Senyumnya menghilang.
Tubunya lemas, siapa yang meninggal. Tanya Ardi dalam hati.
Dilepasnya tas di punggunnya.
Mobil hadiah untuk bapaknya Suprapto dia parkir di depan rumah di samping tenda yang berdiri.
Warga kampung yang melihat Ardi pulang hanya terdiam.
“Buk..Buk” teriak Ardi.
“Bapak mana Buk,”
Ibu Ardi juga menangis, dia tidak bisa berkata-kata.
Di ruang tengah rumahnya sudah ada peti yang ditutup kain.
Ardi makin bingung, masih mencari Suprapto bapak yang sudah seperti pahlawan baginya.
Saat Ardi membuka peti mati, tiba-tiba dunianya menghitam, dia tak sadar.
Dia jatuh dalam penyesalan, kenapa tidak memilih pulang rutin melihat orang tuanya.
Ardi juga bertanya kenapa tidak ada yang mengabarinya kalau Ayahnya sakit.
Setelah terbangun, Ardi sudah ada dipankuan ibunya.
“Bapakmu itu pesan, tidak boleh kasih tahu kamu kalau dia sakit,”
Bahkan sebelum meninggal, bapaknya berpesan untuk tidak membebani pikiran dan hati anak semata wayang tersebut.
Kejutan yang dibuat Ardi gagal. Ayahnya pergi dengan tenang meninggalkannya untuk selamanya.