Hai, hai mampir ayok, like dan komen yah 🤭
___________________$$___________________$$_____
Seorang wanita cantik berumur 24 tahun yang di paksa menikah dengan seorang pria yang tidak di kenalnya. Dia bernama Clara, sungguh ia sangat murka saat itu namun mau bagaimana lagi ia tidak mungkin menjadi anak durhaka hanya karena perjodohan itu. Dengan perasaan berat akhirnya ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban setuju.
Sudah dua bulan pernikahan Clara dengan suaminya bernama Dimas yang berumur lebih dua tahun darinya itu berarti Dimas lebih tua. Dan sampai saat ini Clara masih belum menerima suaminya sekalipun suaminya sangatlah baik juga perhatian. Dimas bekerja sebagai seorang guru di salah satu sekolah swasta sedangkan Clara ia menjadi kepala manager di sebuah perusahaan ternama.
Seperti pagi ini Dimas sudah menyiapkan sarapan untuk dirinya juga istrinya sekalipun Clara sudah melarangnya untuk tidak perlu memasak namun Dimas tetap bersikeras.
"Semoga kamu suka nasi gorengnya terlihat sangat sederhana namun terselip cinta di masakanku itu di jamin rasanya sangat enak dan perlahan-lahan cinta akan tumbuh di hatimu" jelas Dimas tersenyum manis sembari menyodorkan sepiring nasi goreng dengan telur ceplok.
Clara menatap malas pada sepiring nasi goreng itu... Ia kembali mengarah atensinya pada sosok pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.
"Sudah ku katakan jangan membuat sarapan! apa kau mau aku menjadi istri yang durhaka dan orang tuaku serta kedua ayah dan ibumu akan mencemoohku!" bukannya berterima kasih malah berkata pedas pada suaminya.
"Aku membuatnya tulus untukmu... lagipula itu tidak ada unsur paksaan kok" jawab Dimas lembut.
"Lain kali tidak boleh memasak lagi! aku sudah telat dan habiskan makananku... aku akan sarapan di kantor" Clara segera beranjak dan langsung pergi begitu saja tanpa salim pada suaminya. Dimas hanya mematung menatap dalam punggung istrinya.
"Padahal aku sangat berharap kau bisa mencicipinya..." batin Dimas tersenyum kecut. Ia menarik piring yang berisi nasi goreng untuk Clara memakannya dengan lahap.
"Aku akan berusaha agar kau bisa menerima keberadanku istriku" bisik Dimas dalam hati. Bertekad kuat untuk menjadi suami yang dapat di andalkan. Ia tahu bahwa istrinya adalah seorang wanita karier yang ingin agar suaminya kaya maka ia akan mengumpulkan uang gajianya untuk keperluan istrinya biarlah keperluannya sendiri ia akan mencari pekerjaan sampingan.
Di perusahaan Efron, Clara dan teman-temannya sedang bersantai di Kantin perusahaan mereka memesan makanan untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan. Karena waktu jam makan siang sudah tiba makanya para karyawan berbondong-bondong ke Kantin.
"Clara, aku tidak tahu jika suamimu adalah seorang guru di sekolah swasta... Heh! sangat tidak level denganmu padahal kan kau adalah manager di perusahaan ternama" sindir seorang teman Clara yang duduk di depan Clara.
Clara hanya diam saja, jika membantah bukankah dirinya munafik karena yang di katakan temannya adalah benar. Ia sungguh membenci suaminya karena dirinya ia harus mendengar komentar tak mengenakkan.
"Menurutku pekerjaan apapun tidak masalah, selagi dia baik dan bertanggung jawab aku bisa menerimanya" sahut salah satu temannya.
"Heh! uang adalah segalanya sekalipun dia baik tapi kalau miskin untuk apa" sanggahnya lagi tidak terima.
"Tidak masalah, asalkan dia baik juga perhatian. Daripada kaya namun membuat kasar untuk apa"
BRAAAAK
"Cukup! aku ingin makan dengan tenang jangan membuatku marah!" bentak Clara menggebrak meja membuat di sana terkejut sembari melirik ke arah Clara. Sedang dua orang sahabatnya langsung terdiam. Mereka kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
"Aku benar-benar membencinya!" batin Clara dengan mata menatap tajam.
*
*
*
*
Hari sudah malam namun Clara belum juga pulang sedangkan Dimas sudah duduk santai di meja makan. Terlihat beberapa makanan sudah tersedia di meja makan. Sesekali Dimas melirik ke arah arlojinya waktu sudah pukul 8 malam dan sang istri belum juga terlihat batang hidungnya membuat Dimas sedikit cemas.
"Kenapa belum pulang juga" ujar Dimas khawatir.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dengan cepat Dimas berdiri dan melihat siapakah yang datang.
"Sayang sudah pulang, aku sudah memasak untuk makan malam kita... kenapa hari ini pulang telat?" tanya Dimas saat sudah di depan Clara. Clara hanya menatap malas suaminya tanpa menjawab kakinya melangkah masuk ke dalam.
"Sayang..." ucapan Dimas terpotong.
"aku capek, dan yah aku sudah makan di restoran... kau makanlah aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku" jawab Clara melenggang masuk ke dalam kamarnya. Lagi-lagi Dimas mendapat penolakan namun tidak membuat pria tampan itu menyerah.
"Sudahlah pekerjannya pasti sangat sulit" Dimas kembali ke tempat duduknya ia makan dalam diam sesekali menatap ke arah kamarnya karena posisi kamarnya tidak jauh dari ruang makan hingga membuatnya mudah terlihat.
Selesai makan Dimas membawa piring kotor ke dapur dan langsung mencucinya setelah itu ia masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya masih duduk di depan benda persegi bernama laptop.
"Sayang, sudah malam lebih baik kerjakan besok saja" tutur Dimas yang tidak tega pada istrinya.
"Kau duluan saja, jangan menggangguku!" ketus Clara tanpa mengalihkan atensinya. Dimas hanya bisa menghela napas.
"Aku akan menunggumu" tolaknya dan Clara hanya acuh padanya. Dimas duduk di sofa di samping istrinya menyandarkan kepalanya. Karena terlalu lama menunggu akhirnya Dimas tertidur juga. Clara menatap malas pada pria di sampingnya.
"Merepotkan sekali!" gumamnya pelan. Ia segera menutup laptopnya walaupun belum selesai tapi ia merasa kasihan pada suaminya juga.
"Hey bangun!" Clara menggoyang-goyangkan bahu Dimas. Pria itu lantas mengerjap-ngerjapkan matanya sedikit buram namun ia paksakan.
"Hoaaam, apa sudah selesai" tanya Dimas.
"Belum tapi kau sungguh menggangguku, ayo tidur" ajak Clara ketus dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dimas tersenyum mendengar itu. Ia ikut merebahkan tubuhnya dan ikut tertidur.
*
*
*
*
*
Hari-hari terus berlanjut dan Dimas masih perhatian pada istrinya walaupun dirinya selalu mendapat penolakan namun semangatnya tidak pernah pudar untuk mendapatkan cinta istrinya. Sedangkan Clara masih saja sama walaupun sudah ada sedikit perasaan aneh tapi ia terus menyangkalnya.
Malam ini Dimas ingin mengajak Clara jalan-jalan lebih tepatnya kencan. Ia berharap istrinya bisa membuka hatinya entah kenapa ia begitu yakin bahwa Clara sudah menaruh hati padanya sekalipun masih sedikit ketus padanya.
"Clara, bolehkah kau menemaniku jalan-jalan, entah kenapa aku sangat ingin jalan-jalan denganmu" ujar Dimas di hadapan Clara.
"Aku sibuk. Jika kau ingin jalan-jalan maka pergilah aku masih mau menyelesaikan pekerjaanku" jawab Clara tanpa melihat ke arah sang suami.
"Please kali ini saja. Kau selalu menolakku tapi jangan kali ini... aku mohon" pintanya berharap. Dengan perasaan kesal Clara pun mengangguk. Ia berdiri dan menutup laptopnya.
"Tapi ingat jangan lama-lama!" ketusnya menatap tajam ke arah Dimas sedang yang di tatap hanya tersenyum lebar.
Dan malam itu adalah malam yang sangat istimewa bagi Dimas karena sejak penikahannya yang sudah memasuki empat bulan baru kali ini dirinya bisa berjalan berdua dengan istrinya. Hatinya tidak bisa di gambarkan rasa bahagianya tidak dapat di jelaskan dengan kata-kata.
Dimas membawa motor Beatnya dengan Clara duduk di belakangnya.
Terlihat senyum tipis terukir di bibir Clara dan hal itu tak luput dari pandangan Dimas.
"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku istriku" batin Dimas.
"Sepertinya aku akan mencoba membuka hatiku, Dimas adalah suamiku tidak sepantasnya aku memperlakukannya dengan kasar... malam ini aku akan meminta maaf padanya" bisik Clara dalam hati. Perlahan-lahan tangannya mulai terulur memeluk pinggang suaminya ia sungguh malu saat ini bahkan pipinya sampai memerah.
"Terima kasih istriku" teriak Dimas.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Clara berteriak karena angin yang sedikit kencang membuatnya sulit mendengar.
"Karena sudah memelukku" batin Dimas. Ia tidak menjawab hanya senyum yang mengembang di bibirnya sedangkan Clara tidak pusing ia menikamati kencannya dengan suaminya.
"Aku tidak tahu jika tubuh suamiku begitu kekar dan berotot" batin Clara meraba perut sixpack Dimas sedang sang empu hanya terkekeh lucu.
Tiba-tiba Dimas berhenti di pinggir jalan membuat Clara melepas pelukannya.
"Kamu tunggu di sini aku ada kejutan untukmu" ujar Dimas menatap dalam manik mata Clara.
"Hati-hati" jawab Clara tersenyum tipis. Dengan penuh semangat Dimas berjalan menyebrangi jalan menuju sebuah tokoh yang menjual bunga. Clara melihatnya dari jauh pandangannya tidak pernah lepas dari Dimas.
"Apakah dia akan membeli bunga untukku?" tanya Clara tersenyum malu. Dimas membawa bunga di tangannya itu ada bunga Lili berwarna merah juga berwarna putih senyum manis tidak pernah hilang dari bibir Dimas. Dimas kembali menyebrangi jalan yang tidak terlalu ramai saat sudah di dekat Clara terdengar teriakkan dari sebrang.
"Tolong anakku!" teriak seorang wanita. Dimas yang penasaran lantas menengok ke belakang matanya membulat sempurna. Kala melihat seorang anak kecil berumur 5 tahun berdiri di depan jalan sedang dari arah Utara ada mobil melaju dengan sangat kencang.
Dimas membuang bunga di tangannya berlari menolong anak kecil itu dan...
BUGH
"Tidaakkkk" teriak Clara histeris tangisnya pecah seketika melihat suaminya terpental jauh dengan darah bersimbah.
"Tidaakkkk!! Dimas!" Clara berlari ke arah Dimas yang sudah terbatuk-batuk mengeluarkan darah segar. Dengan cepat ia memangkunya menatap penuh sedih wajah suaminya.
"Tolong jangan seperti ini sayang, jangan tinggalkan aku... aku belum mengatakan perasaanku, hiks, hiks, hiks" Dimas terkekeh kecil. Akhirnya usahanya tidak sia-sia dan istrinya sudah mencintainya ia sangat bahagia saat ini.
"Uhuk, uhuk, a-aku ba-bahagia kau menerimaku is-istriku, a-aku me-mencintai-mu" ujar Dimas terbata-bata membuat Clara menggeleng.
"Please jangan tinggalin aku Dimas, aku salah jangan hukum aku seperti ini, hiks..." Clara memeluk erat tubuh suaminya. Tiba-tiba napas Dimas tersendat-sendat darah terus keluar dari mulut juga hidungnya membuatnya sulit bernapas.
"Uhuk, uhuk,"
"Sayang, suamiku" Clara berteriak histeris kala mendapati suaminya sudah tidak bernyawa. Hujan deras mulai turun membasahi bumi... di bawa langit yang gelap serta suara Guntur yang menggelegar terdapat seorang wanita yang sungguh menyesali perbuatannya.
"Tidaakkkk Dimas!"
"Hosh, hosh, hosh," Clara terbangun dari mimpi buruknya keringat dingin bercucuran di sekujur tubuhnya, di luar sedang hujan deras, rupanya Clara tertidur hingga sore hari.
CEKLEK
Dimas masuk ke dalam rumah dengan kondisi basah kuyup. Clara yang melihatnya segera berlari dan memeluk tubuh suaminya erat ia kembali menangis mengingat mimpi buruk yang di alaminya. Sungguh itu sangat menakutkan baginya.
"Jangan tinggalkan aku, maafkan aku, please tetaplah di sisiku" lirih Clara sesenggukan.
"Hey, kamu kenapa sayang?" Dimas melerai pelukannya namun Clara memeluknya erat seakan takut mimpi buruknya menjadi kenyataan.
"Jangan tinggalkan aku" lirihnya lagi dengan suara tangisan pilu. Dimas membalas pelukan istrinya merengkuh tubuh ramping Clara erat mengelus punggungnya untuk menenangkannya.
"Aku mencintaimu jangan tinggalkan aku suamiku" ungkapan Clara membuat Dimas mematung. Ia berharap ini bukanlah mimpi. Jika ini adalah mimpi ia berharap untuk tidak bangun untuk selama-lamanya.
.
.
.
.
.
TAMAT.
Capek banget 😴😴😴