“Aku harus melindunginya!”
.
.
.
.
Hari ini terasa sepi dan sunyi. Aku melihat sekeliling lalu kembali menatap keluar jendela. Berharap Shilo akan segera datang.
Sudah sebulan, ia tidak pernah memperlihatkan batang hidungnya. Aku takut dia kenapa-kenapa.
Aku merasa bersalah akan sikapku yang terlalu berlebihan selama ini. Jadi aku memutuskan untuk meminta maaf padanya.
Dan ya! Shilo ternyata tidak masuk kuliah hari ini.
“Shilo!” Teriakku tanpa sadar.
Semua mata memandang ke arahku. Bahkan dosen sudah mengerutkan keningnya seakan hendak memarahiku.
“Sst, Ria! Jangan teriak-teriak. Kamu kenapa? Kangen ama Shilo?” Ucap Anggi sembari memukuliku pelan dengan sikunya.
Aku diam membatu dengan tubuh gemetar akibat ingatan sekilas yang muncul tiba-tiba.
Tanpa berpikir panjang, aku beranjak keluar menuju rumah Shilo segera.
Karena dalam ingatan itu, aku melihat Shilo terluka parah dan tubuhnya dipenuhi dengan anak panah.
Yang lebih menakutkan lagi adalah tentang seekor naga raksasa, membuatku seketika tersadar bahwa bumi bukanlah tempatku tinggal.
Aku terus berlari tanpa menoleh sedikitpun. Tujuanku adalah Shilo, kekasih hatiku.
“Aku harus melindunginya!”
Kurasakan seluruh tubuhku mengeluarkan energi yang kuat.
Aku memandang ke langit, memberikan tanda pada sang dewa matahari.
Lalu, lorong cahaya muncul dari antara awan-awan putih.
“Aku akan datang Shilo” Ucapku mengepakkan sayap.
SELESAI