"Uuh.."
Aku membuka mataku yang sepertinya sudah lama terpejam. Aku mencoba untuk bangun dari posisi rebahanku, tetapi tidak bisa. Badanku sakit semua. Aku tidak ingat, kejadian apa yang terjadi sebelum aku tertidur lama.
#Zrasshh~. Suara arus laut yang lembut dan membuat resah.
Sebenarnya dimana aku?
Aku melihat sekeliling. Sepertinya aku ada di dalam goa. Aku coba menguatkan diri untuk berjalan.
Tap tap. Aku berjalan perlahan ke arah mulut goa. Angin kencang tertiup ke arahku, yang mengakibatkan kelilipan di kedua mataku. Aku menggosok-gosok pelan kedua mataku, dan membukanya.
Lautan yang luas, sangat indah, namun mengerikan.
Ayah? Ibu? Kalian dimana? Siapapun..
Tiba-tiba terdengar suara dengkuran di belakangku. Sontak aku menoleh ke belakang. Sosok yang ku lihat di atas goa, berhasil membuat kedua kakiku gemetar lemas.
I-itu.. tidak mungkin.. . Na-naga asli..?!!
Naga besar yang tengah tertidur. Warna sisiknya yang cantik, memantulkan sinar matahari. Gigi taring yang terlihat begitu besar.. .
Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan.. . A-apa aku akan di makan..?
#Sruk. Aku terduduk lemas di tempat, sambil terus menatap naga itu dengan perasaan takut yang luar biasa.
Naga itu terlihat sudah mulai membuka matanya. Mata emas yang menawan, benar-benar berkilauan. Naga itu menguap, membuka mulutnya lebar-lebar seperti akan melahap sesuatu. Tiba-tiba saja naga laut itu menoleh ke arahku, memberikanku tatapan tajam.
Aku yang ngeri melihatnya, tanpa sadar menyeret badanku ke pinggir bebatuan dan hampir menyelakakan diriku sendiri. Namun baiknya, naga yang terlihat mengerikan itu menahanku dengan ekornya yang panjang. Aku tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Naga itu terlihat mengibas-ngibaskan ekornya.
Aku berjalan mengendap-endap, mendekatkan diri kepada naga itu. Mencoba say "hello" kepadanya, tetapi naga itu tidak merespon. Dan malah melanjutkan tidurnya. Sepertinya dia kelelahan.. .
***
#Kruyuuk~.
Aku lapar. Anak kecil seperti ku, yang tidak pernah di ajarkan berburu di lautan lepas, bagaimana bisa bertahan hidup dengan kondisiku yang seperti ini..? Aku melirik naga itu. Dia tidak menyerang ku dari tadi, sampai malam tiba. Sepertinya dia tidak sejahat yang aku kira.. .
Dari 5 menit yang lalu, naga itu terus-menerus menatap ke arah lautan kosong. Entah apa yang di pikirnya, aku tidak peduli. Aku hanya ingin makan. Kalau seperti ini terus, aku bisa mati.. .
#JRASH!! Tiba-tiba naga itu melompat ke dalam lautan dengan sangat cepat dan membuatku terkejut.
Naga itu keluar dari dalam laut dengan membawa sesuatu di dalam mulutnya. Ia memuntahkannya tepat di hadapanku yang sedang terduduk lemas ini. Tampak ikan besar sedang menggelepar di depan mataku.
Apakah naga itu memberikan ikan besar ini untukku..?
Aku melirik naga itu. Dia meletakkan kepalanya di atas bebatuan yang ada di depanku sambil terus menatapku. Aku mengalihkan penglihatan, dan melihat ikan besar yang masih menggelepar ini. Tidak tahu bagaimana cara memakannya, apakah aku harus memakan ini hidup-hidup? Tidak, itu mustahil. Ini terlihat menjijikan, dan kasihan.
Seperti memahami isi pikiranku saja. Tiba-tiba naga itu mengambil ikan besar ini dengan mulutnya lalu menggigitnya. Ikan itu mati dan menjadi potongan kecil-kecil. Yah, ini lebih baik sih walaupun mentah. Aku memakan ikan itu dengan lahap, rasanya lumayan juga untuk menghilangkan rasa lapar ini.
***
Perut kenyang, membuatku mengantuk. Akan sulit bagiku yang biasa tidur di kasur ini, tiba-tiba mau tidak mau harus tidur di atas batu yang keras dan tidak nyaman ini. Naga itu terlihat seperti sedang membuat bentuk setengah lingkaran dengan badannya. Di lihat dari pergerakannya, seolah menyuruhku untuk tidur di tengah" lingkaran itu. Aku mencoba mendekatinya pelan-pelan.
Dia tidak akan menikamku, kan? Tidak kan? Pasti tidak, kalau dia ingin memakanku seharusnya ia lakukan saja dari tadi. Ya, kan?
Aku merebahkan sedikit tubuhku di depan perut sang naga itu. Hangat dan nyaman. Rasanya seperti aku tidur bersama orang yang aku sayangi dan orang itu juga menyayangiku. Aku tertidur pulas dengan menyandar di perutnya. Begitu juga dengan naga itu, dia tidur sambil melingkari ku, seakan dia berusaha membuatku tetap dalam kondisi hangat dan nyaman.
***
Hari demi hari berlalu. Aku melalui beberapa Minggu ini bersama naga yang awalnya ku anggap mengerikan itu. Ternyata dia naga yang sangat penyayang. Aku selalu nyaman dan aman jika berada di dekatnya. Dia sudah seperti ayahku. Aku sangat menyayanginya. Aku harap kami tidak akan berpisah selamanya. Iya kan, tuan naga?
***
Aku di besarkan oleh tuan naga yang ku panggil "Tuan Lunc less", sampai sekarang aku sudah menginjak usia yang sekiranya 18 tahun. Apakah aku sudah bisa di anggap sebagai orang dewasa? Kami sudah tidak lagi tinggal di goa yang sempit itu. Kini kami tinggal di suatu pulau terpencil. Tapi rasanya, aku seperti mengenal tempat ini entah bagaimana. Rasanya begitu familiar.
Menurut ku, ini bisa di bilang cukup luas untuk di sebut dengan pulau terpencil. Sudah hampir setengah tahun kami berada di pulau ini. Tidak ada tanda" kehidupan manusia disini.
"Tuan Lunch, saya pergi berburu ikan di tepi pulau dulu sebentar ya~" Yah, mungkin bagi sebagian orang aku ini aneh karena berbicara bahasa manusia kepada naga. Tapi menurutku dia bisa memahaminya, hehe.
Aku menatap fokus ke air laut biru yang luas ini.
#ZRAT
Aku menembakkan tombak kayu buatanku ke arah laut. Ikan kecil tertancap di ujung tombak ku. Hasil ini kurang memuaskan. Aku kembali fokus ke arah air laut untuk melemparkan kembali tombakku ke arah ikan yang ku lihat. Aku sudah mencobanya berulang kali, tetapi tidak ada hasil satupun kecuali ikan kecil barusan. Sepertinya hari ini kurang beruntung.
Tiba-tiba Terdengar suara tawa dari arah belakang ku.
Ha? Tuan naga bisa tertawa?!
Aku menoleh ke arah belakang. Aku di kejutkan dengan sosok manusia yang sedang tersenyum ke arahku. Aku langsung menghadapkan tombakku ke arahnya untuk melindungi diri bila-bila akan terjadi sesuatu.
"Wowowow~ tenangkan dirimu, aku tidak akan menyakitimu."
Aku mengacuhkannya. Aku berlari ke arahnya dan menyerangnya menggunakan tombak runcingku. Dengan sigap, manusia itu menghindari kibasan tombakku yang seharusnya cepat ini. Dengan sekejap, manusia itu berhasil melumpuhkan ku dengan menendang pergelangan kakiku.
#SRARAK
Aku terjatuh di atas pasir putih ini. Mataku sakit karena pasir yang tanpa sengaja masuk ke mataku. Aku tidak bisa melihat apa". Tiba-tiba air asin mengguyur tubuhku. Sepertinya itu kelakuan dari manusia sialan itu. Aku mulai bisa membuka mataku sedikit. Wajah manusia itu perlahan terlihat tepat di depan mataku. Aku menyeret tubuhku ke belakang menjauhi diri darinya.
Aku berdiri sempoyongan. Berusaha mengembalikan keseimbangan tubuhku. Aku kembali menggunakan pose siap menyerang. Aku menggeram kepadanya seperti yang di ajarkan Tuan Naga Lunc kepadaku dulu.
"Anak ini. Hei, aku tidak pernah melihat mu di pulau ini. Apakah kau terbawa oleh arus air dari pulau lain?"
Ha? Bukankah dia yang tersesat sampai di pulau ini? Yang menemukan pulau ini kan jelas-jelas aku dan Tuan Lunc!
"Apakah pertanyaan mu harus saya jawab?" Ucapku dengan nada benci.
"... Kau terlihat seperti ikan badut. Ayo, ikutlah aku menuju desa kami. Di sana banyak bersediaan makanan, mungkin kau bisa di ijinkan oleh mereka."
Manusia itu berjalan membelakangi ku. Sebenarnya aku ragu, tapi.. jika aku tidak mengikutinya, Tuan Lunc dan aku akan kelaparan. Aku mengikutinya dengan memberi jarak 1 meter di antara kami.
Kami berjalan melewati semak-semak belukar. Entah sudah berapa menit kami berjalan dihutan belantara yang luas ini. Aku jadi semakin ragu terhadapnya.
"Hei, kau-"
"Kita sudah sampai."
I-ini.. tidak mungkin.. .
Aku melihat puluhan orang tepat di depan mataku. Pemandangan ini benar-benar sulit untuk di percaya. Sudah bertahun-tahun aku tidak melihat mereka. Air mata hampir mengalir ke pipiku. Manusia yang barusan mengantar ku ke tempat ini, menyuruhku untuk memasuki tempat yang di sebutnya desa. Aku melangkahkan kakiku perlahan. Aku melihat-lihat sekeliling, ini bukan mimpi.
"Lewat sini kalau kau ingin mengambil bahan makanan."
Kalau di perhatikan lagi, manusia ini sangat tinggi dan aneh. Dia tidak memiliki dada yang bulat. Apakah dia kelainan? Beberapa manusia yang ada di sini juga sama seperti dia. Apakah keturunan?
Kami tiba di sebuah tempat yang biasa di bilang gubuk. Manusia itu membuka pintu gubuk yang dari bambu itu. Terlihat jelas, banyak sekali makanan di dalamnya. Rasanya aku ingin segera melahap semua makanan ini. Tapi kalau misalkan aku berperilaku lancang, lalu di bunuh oleh mereka, bagaimana? Baiklah, aku tahan.
"Ambillah secukupnya. Aku akan ke gubuk sebelah dulu untuk menyiapkan alat-alat berburu."
"Sa-saya boleh mengambilnya..?"
Manusia itu hanya menatapku dan pergi meninggalkan ku begitu saja. Yah, ku anggap itu berarti iya. Ada banyak sekali makanan. Aku bingung harus mengambil yang mana. Aku teringat akan Tuan Lunc. Dia sangat menyukai daging babi hutan besar. Aku ingat dengan jelas bagaimana aroma daging mentah itu.
Aku mengendus beberapa daging yang tersedia di situ. Aku menemukan beberapa daging babi di tempat paling atas. Aku kesusahan dalam mengambilnya. Aku memanjat kayu" pipih yang di gunakan untuk menaruh makanan ini supaya aku bisa lebih mudah mengambil daging babi yang tampak segar itu. Sedikit lagi..
#BRAK! BRAK! PRAAANGG!!
Kayu yang ku naiki tiba-tiba saja ambruk. Membuatku dan seluruh makanan yang ada di sini berjatuhan ke tanah.
Sial, bagaimana ini. Apakah mereka akan marah? Apakah mereka akan membunuh dan memakanku?
-BERSAMBUNG-
Catatan Penulis:
Gomen mentemen, ceritanya bersambung, soalnya kalo misal kepanjangan jadi kek ga menarik aja gitu:v
makasih dah mampir, moga suka.
ga tau kapan update lanjutannya 🗿✨
maap jika ada kesalahan