Inikah takdir yang kau tuliskan untukku, Tuhan?.
***
"Bunuh dia, Zelen!" teriak seekor naga yang berdiri disamping Zelen, lelaki berusia dua puluh tujuh tahun itu kini sedang berada dalam kondisi di mana ia merasa dilema.
"Aku tidak bisa membunuhnya!" Zelen melemparkan pedang yang ia pegang.
"Mengapa? Apa kau ingin mati? Kau perlu makan, bod*h!".
"Aku tahu aku perlu makan! Tapi bukan dengan daging manusia! Cukup untuk semua ini! Lama-lama aku muak dengan kelakuanmu yang selalu menyuruhku untuk membunuh gadis tidak tahu apa-apa!".
"Berani kau membantahku?!!".
"Berani! Kenapa memangnya?! Walaupun kau sudah membesarkanku, tapi bukan berarti aku akan menuruti semua keinginan jahatmu! Aku akan berterima kasih padamu dengan cara lain!".
Zelen menghampiri gadis yang tadinya hendak dia bunuh kemudian mengajaknya berlari menjauh dari naga jahat tadi.
Awalnya, si naga yang kata Zelen sudah membesarkannya selama ini, hanya menyuruhnya membunuh hewan-hewan di hutan saja, namun waktu demi waktu.. Naga tersebut memintanya untuk membunuh manusia, terutama seorang gadis. Awalnya dia menerima, dengan pikiran bahwa ia akan membuat naga tersebut bahagia dengan membunuh seorang gadis, lama kelamaan ia sadar dan memutuskan untuk melakukan hal barusan.
Setelah cukup lama berlari, Zelen berhenti diikuti gadis dibelakangnya, ia mendudukan gadis tersebut diatas sebuah batu.
"Apa lukanya sangat sakit? Aku tidak tahu tumbuhan apa dan hewan apa untuk mengobati lukamu, maafkan aku..." ucap Zelen.
"Sudahlah, tidak apa. Sebaiknya kini kau carikan daun binahong lalu tumbuk hingga halus dan olesi lukaku dengan itu" Zelen mengangguk dan bergegas melakukan apa yang gadis itu perintahkan.
"Namaku Amora, panggil saja Mor" Zelen mengangguk.
"Aku Zelen, panggil saja Ze" Mor kini mengangguk.
"Naga tadi Ver kan? Naga terjahat sepenjuru negara ini, dia harus dibasmi, sebelum ia menurunkan kekuatannya pada manusia pilihannya" ucap Mor.
"Caranya?".
"Hanya satu manusia yang bisa mengalahkannya, manusia tersebut memilik kelebihan khusus yang sangat dibenci dan mampu membunuh naga, kemampuan manusia tersebut juga tersembunyi. Tidak dapat dideteksi apapun, dan hanya bisa keluar jika tuannya meminta. Sampai saat ini, kami masih berusaha mencari orang tersebut".
"Sebentar, kamu Mor anggota squad keamanan negara ya?" Mor tersenyum seraya mengangguk.
"Wahhhh... Senang sekali bisa bertemu denganmu, nona".
"Santailah, ini bukan di markas" Zelen mengangguk senang.
"Coba kau ucapkan "Silver Flow"" perintah Mor. Zelen mengikutinya dan tiba-tiba dari tubuhnya terpancar cahaya berwarna silver atau perak yang kemudian menyambung menjadi seperti air yang mengalir dan mengelilingi tubuh Zelen.
"Kau..!! Kau manusia yang selama ini kami cari!! Ikut aku ke markas!!".
"Oh maaf, aku baru ingat, kau tidak mungkin berjalan dengan kondisi kekuatanmu yang terbuka. Kau coba bilang "Closed"" Zelen kembali mengikutinya dan "Silver Flow" yang memutari tubuhnya menghilang. Mor bergegas membawa Zelen menuju markas dan menjelaskan semuanya, penyusunan rencana pembasmian naga pun dilaksanakan.
"Cepat ucapkan "Silver Flow", lalu tombak, meluncur, dan kunci sasaranmu" bisik Mor.
"Aku ragu" sahut Zelen.
"Jangan ragu".
Zelen manarik nafas sepanjang-panjangnya dan menghembuskannya perlahan.
"Silver Flow!".
"Tombak!".
"Meluncur!".
"Naga Ver, sasaran terkunci!".
Teriak Zelen berturut-turut, seketika sebuah tombak dari aliran silver di tubuhnya meluncur menancap di dada naga Ver.
"Terima kasih selama ini sudah mengasuhku, maafkan aku.. Maafkan aku.."
End.
Yoo...!! Seperti biasa, jangan lupakan dua protokol wajib setelah membaca cerpen Li, jika anda menyukainya.
-Jangan lupa like!
-Jangan lupa komentar!
Baca cerpen, "Dia Idolaku" yuk❣️🌹